Mycle berjalan memasuki kamarnya. Sudah lewat 1 jam lebih setelah ia pindahkan Amara ke kamarnya. Wanita itu tertidur begitu pulas. Mycle sebenarnya tidak ingin membangunkan wanita itu, tetapi saat memasuki kamar ia melihat Amara bergerak gelisah. Pelipisnya dipenuhi oleh keringat.
Mycle berjalan cepat menuju kasur miliknya, Amara masih tidak bisa tenang. Dan itu membuatnya khawatir.
"Amara??! Bangunlah sayang, apa kau bermimpi buruk??! " Ucap Mycle dengan intonasi tinggi. Agar Amara dapat mendengar suaranya. Ia terduduk di pinggir kasur dan mengangkat tubuh Amara kepangkuan ya. Amara masih memejamkan matanya mengkerut.
Tetapi kemudian wanita itu perlahan mulai membuka matanya, tangannya terangkat menutup ke depan matanya yang menyipit. Mungkin ia sedikit terkejut menerima pantulan cahaya dari kamarnya ini.
"Aku dimana??" Tanya nya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Apa kau baik baik saja, huh?? Mengapa ka bisa bermimpi buruk??!" Tanya Mycle masih panik. Amara mendongak, ia melihat wajah Mycle sedang menatapnya. Mata biru itu berkilat khawatir. Amara juga dapat merasakan kehangatan tubuh Mycle, dan dia baru menyadari saat ini tubuhnya sedang menyenderkan pada d**a bidang itu.
Amara bergerak menjauh, Mycle membantu Amara duduk dengan benar dan menyenderkan nya pada kasur.
"Aku tidak bermimpi buruk, " Jawabnya jujur. Mycle menatapnya tidak percaya. "Aku melihatmu gelisah seperti tadi, dan kau lihat. Seluruh keningmu basah dengan keringat. Aku yakin mimpimu tidak baik!"
Amara menatap Mycle melembut. Berusaha membuat pria itu yakin. "Aku sungguh tidak mimpi buruk Mycle, " Ucapnya sekali lagi. Mycle terdiam. Alisnya masih menyatu tajam, dan menatap Amara penuh.
"Aku berada dimana sekarang??" Tanya Amara yang bingung sekaligus penasaran ada dimana ia sekarang. Sebuah kamar, dengan interior yang hampir seluruhnya bewarna Dark Olive Green yang dipadukan dengan warna Gold mengkilat. Terkesan sangat mewah, terlebih dengan segala macam furniture nya yang juga bernuansa klasik. Melengkapi kesan mewah dan megah bak kamar kerajaan.
"Kau sedang berada di kamarku. Hmm ralat-lebih tepatnya rumahku, " Jawab Mycle membuat Amara menoleh terkejut. Maya hijau nya membulat. Kamar Mycle??! Bagaimana bisa??! Batinnya bertanya.
Amara langsung mengarahkan matanya kepada baju yang sedang ia pakai, tapi ternyata ia masih memakai baju yang sama seperti sebelumnya, juga tidak ada tanda tanda yang mencurigakan.
"Ya tuhan, aku bersumpah tidak menyentuh mu sama sekali, " Ucap Mycle tersenyum geli. Amara menoleh kesal. "Jika kau saja berani mencium ku terang terangan. Maka untuk melakukan hal itu padaku sangatlah mudah bagimu. Terlebih dalam keadaanku yang tertidur lelap!" Ucap Amara yang justru membuat Mycle terkekeh.
"Walaupun aku ingin sekali menyentuh mu. Aku tahu itu sudah pasti akan terjadi, aku hanya harus bersabar menunggu waktu itu tiba, sayang."
"Lagipula hanya dengan melihatmu tidur sudah membuatku merasa puas menatapi mu. Termasuk seluruh aset berhar-"
"Mycle!!" Teriak Amara memukul pelan pundak pria itu. Mycle hanya terkekeh.
"Dasar kau m***m!!" Ucap Amara kesal.
"Tetapi aku yakin kau suka, " Ucapnya tersenyum geli. Ya Tuhan, pria ini!!
Tetapi Amara tida bisa bohong jika senyum Mycle saat ini terlihat sangat menawan. Terlebih dengan jarak sedekat ini. Astaga, mata biru itu, Amara dapat melihatnya dengan jelas. Sangat indah!
"Jangan menatapku terus seperti itu jika kau tidak ingin berakhir diranjang ini dengan tubuh polos mu dan-" Belum sempat Mycle menyelesaikan kalimatnya Amara bergerak cepat turun dari atas kasur King Size itu. Mycle tertawa melihatnya. Astaga, mate nya ini benar benar menggemaskan.
"Jika kau ingin mempersiapkan dirimu. Maka persiapkanlah, aku akan beri waktu untuk itu. Setelah itu kau bisa menyusul ku kebawah. Untuk bertemu kedua orang tuaku," Ucap Mycle tiba tiba kemudian berjalan menuju pintu. Belum sempat selesai, suara Amara membuatnya berhenti melangkah.
"Kedua orang tuamu??!!" Pekik Amara terkejut sekaligus bingung. Mycle menoleh, kemudian mengangguk kecil. "Mycle, yang benar saja?? Bertemu orang tuamu??!"
"Iya sayang. Segeralah keluar, aku akan menunggumu," Mycle kembali berjalan keluar kamar bahkan sebelum Amara kembali memprotes.
Lagi lagi pria ini melakukan semuanya dengan tiba tiba!!
Amara nampak berfikir sebentar. Menatap tampilannya dari atas hingga bawah, ia merasa sangat malu bertemu dengan kedua orang tua Mycle dengan penampilan seperti mau melamar pekerjaan. Itu memalukan!
Tetapi Amara tidak perduli. Toh ini salah Mycle karena sudah membawanya tiba tiba tanpa memberitahu jika pria itu akan membawanya ke rumah ini.
Amara segera berjalan keluar kamar mengikuti Mycle. Dan saat ia membuka pintu besar kamar ini, matanya terbelalak melihat apa yang ada di depannya. Ada yang perlu diubah dari perkataan Mycle!
Dia menyebut ini rumahnya??!! Astaga ini tidak pantas disebut rumah! Bahkan seperti nya ini lebih dari mansion. Ini benar benar lebih seperti Castle!! Batin Amara memekik.
Hampir seluruh yang ada disini ter d******i oleh warna Gold Cider yang mengkilat mewah. Ada banyak ukiran ukiran kuno berkesan klasik pada dinding dan juga beberapa sudut ruangan. Juda ada beberapa hiasan seperti patung, lukisan dan lain sebagainya.
Ini semua lebih terlihat seperti istana istana kerajaan yang ada di film film Disney yang sering ia tonton sejak kecil dulu.
Amara masih mengagumi tempat ini, matanya masih berkeliaran menatap keliling. Tetapi kemudian ia terkejut saat tiba tiba saja seorang wanita dengan pakaian seragam yang khas menghampirinya. Wanita itu menunduk sopan padanya, dan Amara pun membalasnya ramah.
"Luna?? Alpha Mycle, Alpha Bov dan Luna Clora sudah menunggu anda di ruangan keluarga Culles. Saya bisa antarkan anda kesana, " Ucap wanita itu lembut dan sopan. Amara mengerutkan kening bingung.
Wanita ini memanggilnya Luna?? Astaga, namanya Amara! Batin Amara sedikit kesal. Tetapi ia mengurungkan niatnya itu untuk menegur wanita ini yang sudah salah menyebutkan namanya. Wanita itu sudah berjalan lebih dulu menuju tangga besar. Dan lagi. Mewah.
Wanita itu sudah menuruni anak tangga perlahan. Amara mengikutinya di belakang, sambil sesekali ia menatap kelilingnya. Di area tangga ini pun terlihat benar benar mewah seperti sebelumnya. Ah, mungkin kalian akan bosan dengan kata Mewah itu. Tetapi memang ini kenyataan nya!
Wanita itu berhenti, Amara menoleh bingung. Tetapi kemudian dia sadar kalau saat ini dirinya sudah berada di sebuah ruangan yang juga sama. Mewah. Dan ruangan ini bisa dibilang seperti, entahlah. Ruang bersantai, ruang keluarga, atau sejenisnya. Terdapat tungku api, sofa besar dan mewah, televisi, dll sebagainya.
Amara terdiam, ia melihat Mycle sedang terduduk di salah satu sofa besar disana. Tepat di hadapan Mycle terdapat dua pasangan yang Amara yakini adalah kedua orang tua Mycle. Terlihat dari wajah mereka yang sedikit matang. Tetapi sama sekali tidak mengurangi ketampanan da kecantikan mereka.
Clora tersenyum senang. Sehingga membuat deretan gigi putih dan bersihnya terlihat, ia menatap Amara lembut. Bangkit berdiri dan berjalan menghampiri Amara.
"Astaga! Betapa cantiknya wanita ini!" Ucap Clora kemudian mencium kening, pipi kanan dan kiri Amara dan disusul memeluk wanita itu. Amara tersenyum pasi. Ia bingung harus berbuat apa, tetapi ia membalas pelukan Clora.
Clora melepaskan pelukan mereka, masih menatap Amara lembut dengan senyum cantiknya. Dan Amara jujur. Wanita baya di depannya ini benar benar cantik, tidak ada tanda bahwa wanita ini sudah memiliki anak. Ya Tuhan, bahkan penampilannya saja sangat sederhana tetapi terkesan mewah dan glamour. Terlihat sangat elegant.
"Kau sangat cantik sekali," Ucap Amara tiba tiba. Clora terdiam menatap Amara, detik brikutnya ia terkekeh. "Ya Tuhan. Tentu lebih cantik dirimu sayang! " Balas Clora tidak mau kalah. Amara hanya tersenyum manis. "Terimakasih nyonya."
"Jangan panggil aku nyonya Amara! Panggil aku ibu!" Ucap Clora degan wajah tidak suka. Amara mengernyit. "Tetapi itu tidak sopan."
"Kau anakku sekarang! Panggilah aku ibu," Ucap Clora keukeuh.
Ternyata ibu dan anak ini sama saja. Batin Amara brbicara.
"Baiklah ibu," Ucap Amara membuat Clora tersenyum puas. Ia menuntun Amara mendekat menuju Bov dan Mycle yang sejak tadi hanya memperhatikan mereka.
"Lihatlah Bov, Luna ku ini sangat cantik bukan?? Kau sungguh beruntung Mycle bisa mendapatkan Mate secantik dirinta!!" Ucap Clora sambil mengeelus rambut juga pipi Amara, sentuhan lembutnya membuat Amara teringat dengan ibunya dirumah.
"Hmmm maaf ibu, namaku Amara bukan Luna," Ucap Amara membenarkan namanya kali ini. Sudah cukup! Hampir seluruh isi istana ini memanggilnya Luna! Namanya adalah Amara! Just Amara! Not Luna!!
Ucapan Amara barusan membuat Clora dan Bov tertawa, Amara menaikan kedua alisnya bingung, pandangan beralih ke Mycle yang juga sedang menertawakan nya.
"Kau sangat lucu Amara. Aku tahu, mungkin kau belum mengerti tentang Luna, mate dan Alpha atau sejenisnya. Tapi akan ada saatnya dimana kau mengetahui itu semua, " Ucap Clora lembut.
"Jangan berusaha untuk memikirkan itu dulu Amara. Ini kali pertama kau kesini, dan kami ingin kau menikmati nya," Kali ini Bov bersuara. Amara menoleh kearah pria baya yang tampan itu juga. Astaga, mata birunya benar benar mirip dengan Mycle. Entah mengapa mata para keluarga Culles ini begitu indah.
Amara tersenyum canggung. "Iya Mr-"
"Panggil aku tentu saja Ayah juga!" Potong Bov sebelum Amara menyelesaikan kalimatnya menyebut Mr. Culles. Bov sudah seperti mengetahuinya lebih dahulu. Clora dan Amara terkekeh. Amara mengangguk kecil. "Iya Ayah."
Sekarang Amara menoleh kearah Mycle yang masih terduduk manis disana dengan tangan yang bersimpuh pada pinggiran sofa. Menatapnya dengan senyum aneh. Dasar! Untuk apa pria itu hanya tersenyum saja sejak tadi??! Apa dia tidak waras?!!
Setelah itu Clora membawa Amara duduk disebelahnya, mereka mengobrol cukup lama diruang keluarga sampai akhirnya jam menunjukan pukul 15:25 waktu USA.
Clora dan Bov sangat merasa tidak enak karena izin lebih dahulu untuk pergi. Mereka sebelumnya memang sudah memunyai acara di salah satu pack besar. Tetapi ia berkata pada Amara bahwa dirinya akan menghadiri jamuan makan dari salah satu rekan bisnis Bov. Dan Amara mempercayai itu.
Setelah seperginya Bov dan Clora. Mycle mengajak Amara berkeliling saat ini, ia membawa wanitanya itu melewati beberapa koridor sekarang. Koridor yang panjang dan juga mewah. Benar benar terkesan kerajaan sekali. Dan selama perjalanan Mycle tidak henti hentinya menjelaskan semua seluk beluk istana ini.
"Kalau dari koridor sini, dan kau belok kekanan sedikit. Disitu akan membawamu menuju taman belakang istana, disana hanya tertanam tumbuh tumbuhan, tidak seperti taman halaman yang kau lihat sebelumnya. Disana hanya ada beberapa macam tanaman bunga tidak ada buah buahan," Ucap Mycle kepada Amara yang dibalas anggukan oleh gadis itu.
Amara mendengarkan dengan serius apa yang Mycle ceritakan atau jelaskan. Banyak cerita clasic di istana ini, juga banyak barang kuno dan antik yang ada disetiap ruangan, dan Amara mungkin sudah mulai nyaman dengan istana ini.
"Tapi Mycle, ada yang ingin aku tanyakan lagi padamu, " Ucap Amara tiba tiba membuat Mycle menoleh.
"Apa?"
"Apa maksud dari Luna, mate, Alpha dan semacamnya, apa ada sejarah dari semua nama itu? Apa itu nama panggilan untuk orang yang penting seperti di Kerajaan??"
Mycle menghentikan langkah kakinya membuat Amara juga ikut berhenti melangkah. Ditatapnya wanita cantik di depannya itu dengan senyuman diwajahnya.
"Aku tidak akan memberi tahumu sekarang sayang, aku ingin kau tahu sendiri nantinya. Dan aku ingin kau mengerti dengan sendirinya, semua itu ada saatnya. Sekarang yang perlu kau tahu, kau itu adalah miliku, aku tidak ingin kalau seseorang berusaha merebutmu dari ku, kau mengerti itu??"
Amara terdiam, bingung harus menanggapi apa. Sejak pertama mereka bertemu, Mycle tidak pernah lupa untuk mengingatkan pada dirinya. Jika dia adalah milik pria itu, benar benar Aneh.
"Alpha Mycle, aku Darvin."
"Ya Aku mendengarmu, ada apa?? "
"Alpha Thomas ingin menemuimu Alpha, dia sudah menunggumu diruang kerjamu sekarang."
"Thomas??? Mau apa dia kesini??"
"Aku tidak tahu Alpha, dia berkata bahwa dia hanya ingin menemui mu."
"Aku segera kesana!"
"Baik Alpha."
Setelah menutup mndlink, Mycle menoleh kepada Amara yang sedang celingak celinguk memandangi sekitar taman.
Mycle bingung harus izin dengan kalimat seperti apa. Ia merasa tida enak untuk meninggalkan Mate nya ini. Tetapi ia harus menemui Thomas berengsek itu. Ia tidak ingin pria itu mengetahui keberadaan mate nya disini.
"Sayang? Aku mempunyai urusan yang benar benar mendadak sekali. Aku baru mengingatnya, aku menyesal dengan ini. Tetapi aku tidak bisa melanjutkan untuk mengantar mu berkeliling. Aku akan panggil kan beberapa maid untuk menemanimu yah. Urusanku hanya sebentar, setelah itu aku akan kembali menemuimu, " Ucap Mycle membuat Almira menoleh. Kemudian menggeleng cepat.
"Tidak perlu Mycle, tida perlu menggunakan pelayan. Aku sungguh bisa sendiri berjalan jalan disini. Tidak apa kau-"
"Tidak! Tetap harus ada yang menjagamu! Aku tidak Terima bantahan!" Ucap Mycle keras. Amara menghela nafas pasrah saat melihat Mycle sudah memerintahkan sekitar 8 pelayan pria bersetelan rapih dibelakangnya.
"Jaga mate ku dengan benar! Lakukan apa yang dia inginkan! Dan bersikaplah baik padanya!" Ucap Mycle yang di iyakan oleh pria pira besar itu dengan menunduk hormat. Mycle mengangguk puas. Kemudian pria itu kembali menoleh kepadanya dan tersenyum.
Mycle memajukan wajahnya dan mencium kening Amara cukup lama, membuat Amara terdiam membeku.
"Aku pergi dulu, kau baik baiklah disini, aku akan segera kembali," Ucapnya dengan nada lembut dan segera berjalan cepat melawan arah koridor.
Amara memandang bingung punggung Mycle yang sekarang sudah menjauh darinya dan mulai hilang dari pandanganya.
Kalau boleh jujur sebenarnya Amara merasa senang dan tersanjung oleh perlakuan manis Mycle terhadapnya. Pria itu melakukannya dengan tulus, dan Amara bisa merasakan itu. Tetapi ini semua benar benar membuat otaknya ingin meledak, bertanya tanya.
Kenapa pria itu sangat perduli kepadanya? Kenapa juga pria itu sangat posesif kepadanya? Kekasih saja bukan, kenal lama sebelumnya pun juga belum, pria itu seperti mengagapnya seorang kekasih, bahkan lebih.
°°°°°°°°
"Untuk apa kau kesini??"
"Wow. Kau begitu penasaran rupanya Mr. Culles. Astaga kita mengobrol lah dulu sebentar. Aku ini tamu mu, tidak bisakah kau berbasa basi dengan menyambut ku baik??"
"Pria seperti mu tidak perlu basa basi. Aku selalu tahu tujuan mu kesini. Itu semua tidak akan pernah baik!"
"Baiklah baiklah, aku dengar, hari ini kau membawa matemu keistana, apa benar??" Tanya Thomas membuat Mycle menegang. Ia mengepalkan jemarinya kuat. Rahangnya mengeras, mata birunya berubah menjadi hitam pekat menatap pria di depannya ini.
"Itu bukan urusanmu!!"
"Jelas itu urusanku, kau ini adalah saudaraku, dan matemu juga akan menjadi saudaraku, jadi apa aku tidak boleh mengenali calon saudaraku terlebih dahulu??" Thomas memancing percikan api dalam dirinya. Mycle selalu muak jika berhadapan dengan pria satu ini.
"Saudara?? Apa kau yakin??" Tanya Mycle tersenyum sinis.
"Berhentilah membuat peperangan diantara kita Mycle. Aku sudah melupakan itu semua, dan aku berniat baik kesini!"
"Jangan kau fikir aku bodoh Thomas! Ini adalah bagian dari strategi mu untuk merebut apa yang akan menjadi miliku setelah kau meminta padaku tetapi aku tidak memberikannya padamu!"
"Apa kau tahu?? Sejak kau meminta kepadaku bagiku kau tidaklah beda dari seorang pengemis pinggiran! Aku masih menghargaimu karena Ayahmu!" Thomas menggeram marah. Ia menatap Mycle dengan mata kebencian. Mycle tersenyum puas.
"Jangan membuat keributan di istanaku dan membuatnya hancur. Hancurkan sajalah istana mu sendiri!"
Thomas tidak menjawab. Pria itu tersenyum sinis. "Aku akan kembali. Mr Culles."
Mycle menatap kepergian Thomas dari ruangannya ini dengan mata tajam. Dia benar benar tidak menyukai anjing basah satu itu!!
°°°°°°°°°
Amara menoleh saat salah satu maid wanita memanggilnya sopan.
"Ada apa?" Tanya nya bingung.
"Beta Darvin meminta Luna untuk segera keruangan pribadi Alpha Mycle, " Jawab pelayan itu. Amara menatapnya bingung. "Untuk apa aku kesana??"
"Saya tidak tahu Luna, saya hanya mengikuti perintah Beta Darvin saja, " Amara menghela nafas. Ia hanya mengangguk paham.
"Yasudah, antarkan aku kesana," Ucap Amara. Setelah itu maid itu pun dengan senang hati memimpin jalannya, ia berjalan lebih dulu menuju ruangan pribadi Mycle diikuti dengan Amara dibelakangnya.
Ternyata tidak lah jauh, maid itu sudah berhenti tepat dimana sebuah pintu besar ruangan menjulang tinggi. Maid itu membukakan pintunya untuk Amara lebar. Amara sedikit ragu untuk masuk, tetapi kemudian ia mulai melangkahkan kakinya kedalam.
Pertama kali saat memasuki ruangannya adalah, lagi lagi Amara dibuat terkagum. Ruanganya tidak beda jauh dengan kamar Mycle, banyak lukisan juga barang antik di sini, tetapi yang membuatnya berbeda adalah isi ruangan ini lebih mendominan Gold sama seperti ruangan ruangan sebelumnya. Sepertinya hanya kamar Mycle lah yang berbeda. Atau, entahlah. Amara juga belum melihat semuanya.
"Saya sudah antarkan Luna keruangan Alpha, kalau begitu saya permisi Luna, " Ucap Pelayan itu dan segera beranjak pergi meninggalkan ruangan.
Amara menoleh. Kemudian mengangguk kecil. "Terimakasih sudah mengantarkan ku- hmm, apa aku boleh tahu namamu??" Tanya Amara tiba tiba. Maid itu tersenyum ramah.
"Nama saya Alice, Luna, " Amara ber 'Oh' ria kemudian tersenyum. "Terimakasih Alice."
Alice mengangguk sopan. Kemudian kembali izin pergi. Dan Amara pun mengizinkannya. Setelah Alice menutup pintu ruangan pribadi Mycle ini, Amara kembali membalik tubuhnya menatap ruangan mewah ini.
Otaknya kembali berfikir, untuk apa pria itu menyuruhnya kemari?? Sedangkan dia sendiri pun masih dengan urusannya. Percuma saja disini Amara hanya menunggunya sendirian. Menyebalkan!
Untuk menghilangkan rasa bosan, Amara berkeliling menelusuri seisi ruangan, dilihatnya sebuah lukisan lukisan ia tahu berasal dari Yunani kuno. Dan Amara sedikit mengetahui beberapa dari itu, karena dulu sekali ayahnya juga sangat menyukai lukisan lukisan aneh macam ini. Kemudian juga terdapat pajangan pajangan antik seperti pajangan emas berbentuk bulan dan panjangan silver berbentuk pohon dan lain sebagainya.
Amara berjalan menuju sebuah meja kerja. Yang ia yakini adalah milik Mycle, terdapat banyak tumbukan buku dan map disana. Terlihat sangat tersusun rapih. Amara tersenyum melihatnya, ternyata Mycle juga typical pria yang sangat bersih juga rapih. Pria itu dengan sangat telaten menyusun semua yang ada dalam ruangan pribadinya ini.
Amara melihat lihat semua barang yang terdapat pada meja besar milik Mycle. Matanya tiba tiba saja berhenti di satu objek, dimana itu adalah sebuah kotak. Terletak di salah satu tumpukan buku, dan kotak itu berisikan kalung yang mengkilat. Amara merasa penasaran dengan itu, tangannya bergerak mencoba mengambil kalung tersebut.
Belum sempat menyentuhnya, suara berat yang sangat ia kenali itu terdengar. Amara dengan cepat membalik tubuhnya, sedikit lemas karena ternyata itu adalah Mycle. Pemilik ruangan ini, dan Amara sudah merasa bersalah hampir saja menyentuh kalung itu yang bisa saja adalah benda yang Mycle simpan pribadi. Itu sama sekali bukan hak nya. Tidak sopan!
"Sayang?"
"Kau sedang apaa, hmm??" Tanya Mycle sambil berjalan kearah Amara yang masih berdiri kaku didepan meja.
"Aaa-aku hanya sedang memperhatikan isi ruangan ini saja, " Jawabnya memaksakan senyum manisnya.
Mycle mengangguk paham. Ia menatap wajah Amara yang tersenyum manis kearahnya. Tangannya bergerak menyentuh rahang lembut Amara. "Maaf jika aku membuatmu menunggu lama," Ucap Mycle lembut. Amara gelagapan. Tidak! Bukan karena masalah sikap tidak sopan nya. Tetapi sentuhan lembut Mycle pada rahang nya.
"Tt-tidak apa apa Mycle," Jawab Amara pelan. Mycle tersenyum manis. Amara memperhatikan wajah Mycle yang menatapnya serius. Mata biru pria itu berkabut tetapi menyala, menatapnya seperti dirinya ini adalah sebuah sesuatu yang indah.
Amara membuang mukanya kearah lantai, memutuskan tatapan mata Mycle yang sedang terfokus kepadanya.
"Mengapa kau membuang wajahmu, huh??" Tanya Mycle terkekeh. Ia menarik dagu Amara untuk kembali menatapnya. "Jangan menggangguku! Aku sedang menikmati wajah cantikmu."
Dam!! Mycle berhasil membuatnya tersipu. Amara merasa sesuatu menggelitik perutnya. Dan wajahnya memanas, ia yakin saat ini merahnya kepiting rebus sedang menempel pada kulit wajahnya.
Amara ingin hendak kembali membuang mukanya lagi. Tetapi dengan satu hentakan Mycle menempelkan bibir manis pria itu pada bibirnya. Amara terkejut, tubuhnya lemas. Tangannya reflek melingkar pada leher Mycle dan menguncinya erat. Mycle pun juga begitu, ia melingkarkan tangannya pada perut kecil Amara. Membawa tubuh itu semakin dekat kepadanya.
Ciuman ini semakin lama semakin terasa panas. Mycle melakukannya dengan terburu buru, Amara merasakan bibir bawahnya baru saja digigit dan itu benar benar perih sehingga dia membuka mulutnya. Dan membuat Mycle bisa lebih dalam lagi mengakses yang ada pada mulutnya.
Ya Tuhan!! Ingin sekali rasanya Amara berteriak sekarang!! Ia tidak ingin menganggap ini nyata lebih dulu, biarkan saja untuk saat ini ia menerimanya sebagai mimpi indah!
Mycle tersenyum dalam ciumannya. "Yang terjadi adalah nyata sayang, bukan mimpi!"
°°°°°°°°
TBC!