The Lady in the Black Cloak

2848 Words
Amara masih terdiam. Bibirnya mengatup, otaknya terus berputar pada kejadian beberapa selang jam dari sekarang itu. Tepatnya di ruang pribadi milik Mycle yang sudah manjadi saksi apa yang mereka lakukan disana. Ya Tuhan, mengingatnya membuat Amara merinding. Ia masih sangat jelas merasakan bibir lembut milik Mycle menempel ada bibirnya. Bahkan saat bibir itu melumat dan- Amara cukup!! Apa kau ingin jadi gila, huh?!! Batin nya berteriak. Mycle menoleh kesamping. Lagi lagi ia hanya terkekeh melihat Amara yang terdiam, dan sesekali gadis itu tersenyum kemudian menggeleng. Melihat itu membuat Mycle merasa gemas. Ia sangat tahu apa yang ada ada otak wanita disampingnya ini. Setelah terakhir keberadaan mereka diruang pribadinya itu, Mycle pun memutuskan kembali membawa Amara pulang kerumahnya. Sudah cukup untuk membuat gadis itu mengenal istana miliknya yang akan menjadi milik Amara juga. Mycle menghentikan mobil Bugatti miliknya lagi lagi tepat di depan gang dimana rumah Amara terdapat. Selama perjalanan Mycle tida membuka suara. Membuka suara pun Amara akan menanggapinya hanya dengan anggukan atau gelengan. Jadi keadaan dalam mobilnya itu hanya hening hingga saat ini mereka sudah sampai. Amara terdiam. Ia tidak merasakan kembali mesin mobil Mycle yang menyala. Amara mengangkat kepalanya, menatap keluar jendela di depan dan disampingnya. Apa ini depan gang rumahnya?? Amara beralih menatap Mycle yang saat ini suah menatapnya lebih dulu dengan senyum manis pria itu. Ah ya Tuhan!! Pria ini lama lama bisa membuatnya gila mendadak!! Amara memalingkan wajahnya. "Apa kita suah sampai??" Tanya nya membuka suara. "Menurutmu??" Tanya Mycle tersenyum, Amara gelagapan. Mengapa ia menjadi terjebak seperti ini. Amara mengigit bibir bawahnya canggung. "Ah, kita sudah sampai. Hmm, aku sama sekali tidak merasakannya. Ini terlalu cepat, tidak seperti saat kita menuju ke istana mu, " Ucap Amara masih tidak menatap Mycle. "Itu karena mungkin kau sedang fokus kepada fikiran mu sampai tidak sadar kalau kita sudah sampai, memangnya kau memikirkan apa, huh," Tanya Mycle sambil tersenyum. Amara tahu pria ini pasti sedang menggodanya. Menyebalkan sekali ya Tuhan!! "Tt-tidaak, aku tidak memikirkan apapun, kalau begitu aku akan segera turun, " Amara buruk buru membuka pintu mobil cepat, tetapi sebelum pintu itu terbuka dengan cepat Mycle menutup kembali pintu mobilnya. Amara ingin menoleh dan hendak memprotes tetapi- Jantungnya hampir saja copot saat ini!! Lagi. Amara merasakan bibir itu menempel ada bibirnya, kali ini ini Mycle menyesap nya lembut. Membelai penuh kasih sayang. Amara membalasnya tidak kalah lembut. Setelah merasa kehabisan nafas Mycle pun melepaskan lumatan nya dari bibir Amara dan mengusap lembut bibir manis gadisnya itu. "Jaga milikku yang manis ini Amara!" Perintah Mycle berbisik lembut. Suaranya yang serak terdengar sexy. Ditambah maya birunya yang berkabut gairah, benar benar membuat Amara menelan ludahnya susah payah. Tanpa mengucapkan apapun selain "Terimakasih" Amara pun segera turun dari mobil dan berjalan memasuki gang. Aku tidak bisa berlama lama disana! Jika tidak, sudah dipastikan aku akan pingsan!! Batin Amara berteriak. Mycle memandang punggung Amara yang menjauh. Mulai masuk kedalam gang kecil itu dan menghilang dari sana. Mycle ingin menyalakan mesin mobilnya, tetapi sesuatu yang berat menahannya, entahlah. Perasaan tidak enak ini tiba tiba melanda, Mycle seperti tidak tenang meninggalkan Amara, wanitanya itu dalam dunia manusia yang berbahaya ini. Dengan perasaan berat Mycle mulai menyalakan mesin mobilnya, tapi sebelum menjalankan mobilnya Mycle merasakan suara seseorang di telinganya. "Seseorang tolo..ngg, " Suara itu seperti merintih kesakitan. Perasaan tidak tenang itu semakin membengkak. Reflek Mycle memegang dadanya yang terasa nyeri. Tidak!! Jangan untuk itu!! "Toolongg..". Doorrr... Suara tembakan. Tidak perlu aba aba apapun Mycle keluar dari mobil miliknya dan berlari cepat memasuki gang kecil itu. Mengumpat kesal saat terdapat banyak rumah kecil disini. Ia menarik nafasnya dalam dalam, mencoba mencari harum Vanila milik Amara. Mycle berjalan menuju salah satu rumah yang sangat ia yakini. Dengan sekali hentakan dirinya mampu membuat pintu rumah itu hancur. Damn!! Rasanya sesuatu yang sangat berat baru saja jatuh tepat diatas kepalanya. Tubuhnya melemas, tangannya bergetar. Bibirnya terasa keluar, urat urat ada tubuhnya yang berotot mulai tercetak jelas. Mata hitam pekatnya sudah mengeluarkan setelah cairan bening tanpa ia sadari. Mycle berlutut dan memangku kepala Amara, yang mengeluarkan darah segar sangat banyak disana, menepuk nepuk pipi Amara berulangkali berharap gadisnya itu masih mendengarnya. "Astaga Amara! Sayang?? Kau mendengar ku kan?? Bangunlah Amara!" Ucap Mycle bergetar. "BANGUNLAH AMARA!!" Teriak Mycle menggelegar. Tolong jangan seperti ini!! Batinnya memohon. "My..mycle?" Mycle bersumpah Amara memanggil namanya. Wanita itu masih membuka matanya!! Tetapi nyatanya detik berikutnya mata cantik yang selalu membuatnya terpesona itu tertutup. °°°°°°°° Gelapp... "Apa aku sudah mati?? Apa nyawaku sudah berada di alam berbeda??" Sesetes cairan bening keluar dari ujung matanya. "Atau mimpi indah itu baru saja berakhir?? Hahaha, Mycle. Aku akan mengingat namamu dengan baik disini. Aku harap kau benar benar bisa menerima ini semua." Amara tersenyum kecut. Ia terdiam, disini masih gelap. Tidak ada apapun yang bisa dilihatnya. Sssriiiiinggggg..... Tiba tiba saja cahaya yang sangat menyilaukan muncul tepat dihadapannya. Amara menutup matanya, dari balik kelopak matanya ini dia dapat merasakan cahaya itu begitu terang. Tetapi perlahan mulai meredup, dan itu membuat Amara berani kembali membuka matanya. Ia mengernyit bingung dengan penampakan yang ada di depannya ini. "Pantai??" Pantai ini sangat sepi, hanya ada suara ombak juga angin yang mendominasi seisi pantai. Amara melangkahkan kakinya pelan pelan, dia mengedarkan padangannya keseliling. Menikmati keindahan pantai yang benar benar sangat jarang sekali ia temukan di dunia nyata. Apa seperti ini kah pantai di dunia akhirat?? Amara menyipitkan matanya saat ia melihat seorang anak kecil bermain tepat dibibir pantai. Anak itu terlihat sedang asyik dengan ombak yang menerpa kaki nya lembut. Amara berucap syukur dalam hati. Kali ini ia tidak sendirian. "Heii...?" Panggil Amara mendekat kearah anak kecil itu. Sudah dekat! Amara hampir menyentuhnya, tetapi tiba tiba saja ia terkejut karena sentuhannya menembus tangan anak itu, kenapa?? Kenapa tembus?? Amara tersenyum kecut. Dirinya benar benar sudah tiada?? Sungguh?? Sesingkat ikutan kehidupannya?? Amara memandang tubuh anak itu yang sekarang sedang berlari menemui seorang wanita yang sudah membuka lebar lebar tangannya seperti ingin memeluk. "Ibuuuu!!" "Daniel. Kemari nak, " Ucap wanita itu merentangkan tangan nya hendak memeluk anak kecil itu. Anak bernama Daniel itu tertawa dan langsung menghamburkan tubuhnya pada wanita cantik di depannya itu. Amara mendekati mereka. Tidak ingin menyerah, ia kembali mencoba menyentuh seorang wanita itu. Tetapi masih sama, sentuhannya menembus. "Dimana adik mu Daniel??" Tanya wanita itu kepada anaknya. "Sedang bermain ibu." "Temui Lah adikmu itu Daniel. Kau harus menemaninya, kau harus menjaga adik perempuan mu sebagai kaka lelaki yang baik." "Baik ibu! " Ucap Daniel dan belari keujung pantai dan tiba tiba saja... Srringggg.... Ya Tuhan! Mengapa cahaya menyilaukan itu suka sekali datang tiba tiba. Dan Amara yakin, setelah cahaya ini menghilang. Ada ada tempat baru yang ia datangi. Dan benar saja. Amara menatap bingung tempat di depannya ini. Untuk apa dirinya dibawa kesini?? "Hutan??" "Jangan berlari terlalu jauh Syifana, aku capek mengejar mu terus!!" Ucap seorang lelaki yang yang Amara perkirakan umurnya masih belasan tahun, lelaki itu mengatur nafasnya karena lelah berlari untuk mengejar seorang perempuan yang tiga kali lebih kecil darinya. "Kau payah Daniel, kau ini kakak ku. Mengapa kau menjadi lebih lemah dibanding aku, huh?? Dan kau ini werewolf, itu memalukan!" Ucap perempuan itu dari jauh, Amara memperhatikan perempuan itu, dia seperti tidak asing dengan wajah gadis itu. Amara berjalan mendekat kearah gadis itu, dia tau kalau dirinya tidak akan terlihat dengan orang lain, jadi dia berjalan dan berdiri tepat di samping perempuan itu. "Apa? Kau mengatai ku lemah?? Lihat saja, sampai aku berhasil menangkap mu, kau akan aku beri hukuman!!" Ucap pria itu sambil berlari dengan cepat mengejar perempuan cantik itu. Mereka berlarian dengan sangat bahagia mengelilingi hutan, yang Amara lihat mereka berdua seperti pasangan kekasih yang sangat romantis. Tiba tiba saja datang seorang pria yang lebih tua, umurnya yang Amara perkirakan adalah sekitar tiga puluhan, pria itu seperti membawa pedang disaku nya, dia mendekat kearah Amara membuat Amara takut dan mundur selangkah menjauhinya. "Daniel, Syifana??!!!" "Iya ayah?" Jawab mereka dan segera mendekat ke pria yang mereka panggil Ayah itu. "Kalian ini, dari tadi kemana saja?? Bentar lagi sudah mau larut, kalian masih saja berkeliaran di hutan!" "Kami hanya sedang bermain saja ayah, kenapa kau kesini?? Ayolah ayah, kami ini bukan anak kecil lagi, " Ucap anak lelaki itu. "Iya ayah! Kita ini sudah besar, bahkan kita saja sudah punya wolf, benar kan Daniel??" "Iya benar." "Tapi kalian masih tetap harus berhati hati, wolf kalian masih lemah, karena umur kalian yang masih sangat muda, kau ingat Daniel, umurmu sudah 14 tahun, 3 tahun lagi kau menginjak akan menginjak 17 tahun, dan itu adalah waktu dimana kau sudah harus menemukan mate mu berada, tapi kau harus tetap ingat kepada adik mu ini kalau kau sudah punya mate lagi, jaga dia sampai dia menemukan mate nya." "Aku mengerti ayah!" "Ayah mengapa kau berbicara seperti itu!?? Aku hanya ingin terus dijaga denganmu! Bukan Daniel! Dia menyebalkan!" Ucap Syifa nama sambil memanyunkan bibirnya membuat ayahnya itu tertawa. "Kau ini sebentar lagi mulai dewasa sayang, kau harus bisa menjaga diri sendiri, dan kau akan menemukan mate mu juga, kau akan terbiasa dengan kehidupan lain nantinya." "Tidak! Aku tidak ingin!! Aku menyayangi mu ayah! " Ucap Syifana sambil memeluk ayahnya itu dengan sangat erat. "Ayah juga sangat sayang kepadamu Syifana". Tanpa sadar Amara tersenyum menyaksikan mereka yang berpelukan. Terasa sangat hangat dan nyaman. Ia dapat merasakan itu. Ggggrrrhhhh.... Tiba tiba saja suara dengkuran seperti binatang buas terdengar membuat mereka bertiga melepaskan pelukannya dan menoleh ke Seliling khawatir. "Berdirilah dibelakang ku!" Printah Ayah itu kepada dua anaknya. "Siapa kau??!" "Hahahahaha," Suara tertawa itu tiba tiba muncul membuat Syifana, Daniel dan ayahnya menoleh kebelakang. Dan munculah seorang wanita cantik, terlihat dari wajahnya walaupun dalam kegelapan. Wanita itu menggunakan lengkap dengan serba hitam dari mulai atas hingga bawah. Dia juga mengenakan tudung hitam menutupi kepalanya. Sedikit menyeramkan. "Athena??!!" Ucap pria itu terkejut. Wajahnya bertambah khawatir. Ia mundur, membawa Syifana dan Daniel kedua anak nya itu menjauh. Tawa jahat itu kembali terdengar memenuhi setiap isi hutan yang lenggang ini. Ya Tuhan, mendengarnya membuat Amara merinding. "Serahkanlah kedua anakmu itu kepadaku Garden!" Teriak wanita itu dengan senyum liciknya. "Bahkan sampai di akhir sisa nafasku aku tidak akan membiarkan kau merebutnya! Devil!" "Ah? Devil?? Benarkah?? Oh ayolah Garden. Aku ini wanita yang sangat kau cintai, aku Athena. Aku wanita yang sangat sangat kau sayangi. " "Itu karena sihir jahat mu Athena!!" "Ohya? Bukankah kau sendiri yang memilih mereject luna mu dan memilih menikahi ku??" Tanya wanita itu dengan senyum menyeramkan nya yang masih terukir. "Ayah. Aku takut," Garden menoleh panik kearah Syifana yang membuka suaranya. "Diamlah Syifana, jangan banyak bicara, kau tetaplah dibelakang ku!!" "Ohhh maniss, kau ini sangat cantik sekali seperti ibumu, kau mau ikut denganku?? Aku akan membawamu pada ibumu," Tawar Athena kepada Syifana yang masih bersembunyi dibelakang punggung Garden. "Tidak, aku tidak mau!!" Jawabnya Teriak. "Jangan mempengaruhi anakku Devil!!" "Apa kau ingin aku mempengaruhi mu lagi Garden??" Godanya. "Pergilah kau dari kehidupan kami!! Kau sudah membawa Elinor dari ku, apa kau tidak puas dengan itu???!" "TIDAK, AKU MASIH TIDAK PUAS!!" Teriak Athena kencang. "KELUARGA KALIAN, MEMILIKI KEKUATAN ABADI DEWI BULAN, ITU SEMUA TIDAK ADIL!! AKU MEMBENCI KALIAN SEMUA WEREWOLF!! AKU PASTI AKAN MENEMUI KALIAN DAN MEREBUT KALIAN HINGGA 10 TURUNAN!!" Garden menatap ngeri Athena yang benar benar sudah terlihat seperti iblis. Amara pun yang melihat itu gemetar. Wanita bertudung hitam itu benar benar menyeramkan! Sangat! Pandangan Athena kembali mengarah kepada Syifana yang masih diam dibelakang punggung ayahnya Garden. "Kauu, kesini lah sayang, aku ini ibumu, apa kau tidak kangen kepadaku Syifana??" Tanya Athena sambil membuka tangannya lebar lebar ingin segera memeluk Syifana. Syifana melihat ibunya itu, dengan senyum manis, anggun, dan sangat amat cantik itu sedang melebarkan tangannya menyambutnya, berharap dirinya akan segera memeluk wanita itu. "Ibu?" Panggil Syifana kepada Alice. "Tidak!!! Dia bukan ibumu Syifana!! Sadarlah Syifana!!" Ucap Garden berteriak. "Aku ini ibumu sayang, kemari lah" Ucap Alice sambil berjongkok. "Jangan Syifana, dia bukan ibu kita!!" Ucap Daniel kepada Syifana, Syifana hanya memandang ayah dan kakaknya itu dengan sangat datar, dia kembali menoleh ke Athena dan berlari. Dengan cepat Garden menahan lengan anak nya itu. Dan itu membuat Syifana menangis hingga menjerit kencang. "Pergilah dari sini Athena!!" Teriak Garden frustasi. Athena menatap Garden marah. Ia mengeluarkan sebuah cahaya merah dan rintangannya dan mengarahkan cahaya itu pada Garden. Amara dapat melihat jelas tubuh Garden yang terlempar sangat jauh. Hingga membentur pohon besar dengan sangat keras. "AYAH!!" Teriak Daniel sudah menangis. Berhasil.. Athena berhasil mendapatkan Syifana dalam pelukannya. "Ingat itu Garden! 10 turunan suku mu aku akan temui!" Sssriiiinggggg..... Putih.. Kemana lagi Amara akan dibawa?? Kenapa hanya putih semua?? Kenapa tidak muncul lagi disuatu tempat?? Tiba tiba saja ada cahaya hitam diujung sana, yang lama lama semakin mendekat kearah Amara dan menabrak Amara dengan sangat keras. Amara merasakan perih pada tubuhnya, tepatnya di punggungnya, kenapa malah dipunggung?? Padahal cahaya hitam itu menabrak bagian depannya keras. "Cahaya apa barusan itu??" "Kendalikan lah dirimu Amara." Tiba tiba saja suara lembut itu muncul lagi. "Sudah saatnya kau untuk pulang sekarang. Penampakan itu sudah cukup untuk membuatmu mengerti nantinya." "Tolong tunjukan lagi sosok mu!" "Pulanglah Amara." "Pulanglah." "Pulanglah." Lama lama suara itu menjadi mengecil dan.... Ah ya Tuhan. Amara memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit. Benar benar sakit, tubuhnya terasa sangat kaku untuk ia gerakan. Berbeda sekali seperti sebelumnya. Amara mengerutkan keningnya. Matanya masih belum terbuka. Hawa dingin menyambut kulitnya dengan tajam. Aroma yang khas langsung menyeruak kedalam indra penciuman miliknya. Amara memberanikan diri untuk membuka matanya perlahan. Dan itu benar benar brat, tetapi ia berusaha untuk terus mencobanya. Ketika kelopak matanya itu membuka celah, sesuatu yang sangat terang sekali menyambutnya. Amara mengumpat kecil, mengapa matanya selalu menerima cahaya yang begitu silau jika matanya ini baru sajaterbuka??! Beberapa menit kemudian matanya ini sudah terbuka sempurna. Dan yang pertama dilihat olehnya adalah sebuah atap bewarna Mocca Cream dengan lampu yang berbentuk lingkaran itu. Ia mengerutkan kening bingung. Tempat apa ini?? Batinnya bertanya. Amara menolehkan wajahnya kesamping. Dilihatnya sebuah jendela besar yang tertutup. Ruangan ini benar benar asing baginya. Amara menatap keliling ruangan ini. Dan. Apa?? Dia dirumah sakit??! Terlihat dari bangkar yang sedang ia tempati dan selang infus yang berada tepat di samping kepalanya. Juga selang oksigen pada hidungnya. Ya, Tuhan. Amara baru menyadari ini. Amara menoleh kebawah nya. Ia sedikit terkejut saat melihat seorang pria tertidur tepat menghadapnya. Tangan pria itu menggenggam tangannya erat. Amara menghangat saat ia menyadari bahwa pria itu adalah Mycle. Amara meringis melihat Mycle sekarang, pria ini benar benar terlihat sangat berbeda sekali! Rambutnya yang tebal berantakan, wajahnya yang pucat, rahang dan juga pipi nya yang dipenuhi oleh jenggot. Mycle benar benar terlihat tidak ter urus. Amara mendengar suara pintu yang terbuka. Ia menoleh, dan di sana terlihat sosok Clora yang masuk dengan wajah kusut nya. Mata wanita itu sembab. Saat mata hijau Clora menatapnya. Wanita itu terlihat sangat terkejut dengan menutup mulutnya. Clora dengan cepat berjalan mendekati Amara. Tangannya bergerak mengelus lembut rambut Dark Brown Amara. "Astaga!! Amara, kau benar bener sudah bangun, nak?!" Tanya Clora tidak percaya. Mata wanita itu terlihat berkaca kaca. Amara merinding melihatnya. Tangannya dengan lemah meraih lengan Clora. "Tenanglah ibu, aku baik baik saja, " Ucap Amara dengan suara serak nya. Clora memeluk Amara erat, menciumi pipi wanita itu penuh kasih sayang. Reaksi yang Clora berikan ternyata mampu membuat Mycle terganggu dari tidurnya. Pria itu perlahan mengangkat kepalanya yang terasa pening. Suara isak tangis yang didengarnya membuat Mycle panik. Ia bangkit berdiri dan menoleh pada Amara. Dan percaya atau tidak. Saat ini Mycle melihat wanita nya itu kembali. Mata abu yang indah itu kini menatapnya lagi, senyum manis dari bibirnya dapat ia lihat kembali sekarang. Dengan cepat Mycle bergerak memeluk Amara seerat mungkin. Menumpahkan segala rasa yang menyiksanya selama tiga bulan terakhir ini. Rasa sedih, khawatir, sepi dan berbagai macam jenis perasaan menakutkan itu dengan pelukannya. Amara dapat merasakan tubuh besar Mycle yang bergetar. Tangan kecilnya bergerak lemah memegang punggung Mycle dan membalas pelukan pria itu erat. "Aku baik baik saja Mycle," Ucap Amara dengan suara lemah nya. Mycle terdiam. Ia mendekap Amara semakin erat. Dirinya benar benar masih tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi. Saat ini yang ingin ia rasakan adalah tubuh hangat Amara, aroma Vanila wanita ini, suara lembutnya, detak jantungnya yang tenang. Itu saja! Mycle sedikit menjauhkan tubuhnya, wajahnya kini menatap wajah Amara serius. Mata birunya meneliti wajah gadis itu intens, dan Amara yang melihat itu merasa sangat bersalah, hatinya nyeri melihat wajah Mycle yang benar benar berantakan. Terlebih mata biru indah itu yang kini meredup. Dan air mata yang berlinang linang di sana. Amara mengelus rahang kokoh Mycle lembut. "Maafkan aku Mycle, " Ucapnya lirih. Mycle tersenyum, kemudian menggeleng cepat. Meraih tangan Amara yang menyentuh rahangnya, kemudian mencium telapak tangan itu lama. "Terimakasih sudah kembali! Terimakasih sudah kembali, sayangku! " Ucap Mycle lembut. Amara tersenyum senang, air matanya meluncur mulus membasahi pipinya. Mycle mendekatkan wajahnya pada Amara, melumat bibir manis wanita nya ini yang sangat ia rindukan. Mycle menyesap bibir Amara frustasi. Menumpahkan semua rasa bahagianya sekarang. Amara sama sekali tidak keberatan, terlebih ketika Mycle mengigit bibir bagian bawahnya. Kini lengannya susah melingkari leher Mycle erat. Ciuman mereka terasa semakin panas dan menuntut. Tetapi ini benar benar yang mereka tunggu tunggu. "Terimakasih sudah mendengar permintaanku Dewi Bulan!" °°°°°°°° TBC!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD