Amara merasa pasokan udara nya sudah habis. Nafasnya sudah terengah entah, Mycle yang menyadari itu melepaskan ciuman mereka. Katanya menatap bibir pink Amara yang bengkak. Ia tersenyum melihat itu, mengelus bibir itu lembut dengan ibu jarinya.
"Maaf. Aku benar benar merindukannya," Ucap Mycle pelan. Amara tersenyum manis, kemudian ia menyentuh rambut Mycle dan mengubahnya lembut. "Tidak apa apa. Aku juga merindukan-" Amara menggantung kalimatnya. Ia menggigit bibir bawahnya dengan gerakan lambat. Mycle yang melihat itu terkekeh geli.
Mereka kembali berpelukan, berkali kali Mycle mencium pipi Amara dan juga leher wanita itu. Amara membuka matanya, dan berapa terkejut nya ia kini melihat Clora yang berdiri diujung bangkar nya dengan senyum wanita itu yang jahil. Astaga Amara sampai melupakan Clora yang masih ada diruangan ini!!
"Mycle!!" Ucap Amara melepaskan pelukan mereka cepat. Mycle mengerutkan keningnya tidak suka karena Amara mendorong tubuhnya. Tetapi saat melihat mata Amara yang mengarah kebelakang nya seperti memberi sinyal, Mycle pun berbalik.
"Ibu??" Ucapnya melihat Clora berdiri disana. Ibunya itu hanya tersenyum menatapnya dan Amara bergantian.
"Oh, ayolah. Kalian tidak perlu merasa malu padaku. Aku sangat mengerti itu kok, tenanglah, " Ucap Clora membuat Amara memalingkan wajahnya malu. Sedangkan Mycle hanya tersenyum. "Jika setelah melihatnya dan kau menginginkannya juga. Maka segera minta lah pada ayah nanti, " Ucap Mycle membuat Clora tertawa. Sedangkan Amara membulatkan matanya.
Bagaimana bisa pria ini berbicara terang terangan seperti itu??! Batin Amara tidak habis fikir.
"Aku sungguh ikut merasa senang menyaksikannya nak. Sungguh! Melihatnya membuatku menjadi semakin yakin pada kalian, " Ucap Clora lembut. Tersenyum manis.
"Aku harap setelah ini tidak akan terjadi apapun yang menghalangi kalian. Dan semua berjalan dengan lancar kedepannya!"
°°°°°°°
Masih berputar di kepala nya, semua yang terjadi secepat itu. Entahlah, Amara merasa ini semua tidaklah nyata. Dengan waktu se singkat itu, membuat otaknya tidak bisa mencerna semua nya dengan baik.
Suara tembakan yang masih terdengar jelas di telinganya. Membuat Amara merasa bersalah sekaligus sedih, mengingat itu selalu membuat air matanya berdesakan keluar.
Kliknkkkk...
Suara pintu terbuka, Amara menoleh dan terlihat lah sosok Mycle disana. Pria itu sudah rapih dengan sweater barunya. Yang sebelumnya Mycle menggunakan kemeja putih miliknya yang benar benar berantakan.
Mycle berjalan menghampiri Amara, dengan senyum manis pria itu. Tangannya membawa nampan berisikan segelas s**u dan juga roti. Mycle meletakan nampan itu diatas nakas. Kemudian dia mendudukan bokongnya tepat disamping Amara.
"Apa kau sudah merasa lebih baik, sayang??" Tanya Mycle lembut. Amara menoleh, kemudian mengangguk kecil dengan senyumnya. Mycle menatapnya intens.
"Tetapi mengapa wajahmu terlihat sangat kusut, hmm??" Mycle bergerak menggenggam tangan Amara dan mencium punggung tangan itu lama. Amara mengalihkan wajahnya dari Mycle. Mulutnya terasa kelu untuk menjawab. Ia hanya bisa terdiam.
"Amara. Aku sudah pernah berkata padamu. Belajarlah untuk terbuka padaku dan jujur tentang semua yang sedang kau rasakan. Apa kau tidak bisa melakukan itu sekarang??" Tanya Mycle. Amara menoleh menatap pria itu, dan sekarang mungkin Mycle akan tahu semuanya. Terlebih melihat mata abu miliknya sudah berlinang.
"Apa ibuku akan baik baik saja??" Tanya Amara tiba tiba. Suaranya bergetar hebat, seperti tidak sanggup bertanya itu. Mycle terdiam. Dia hanya bisa memeluk Amara sekarang, dan benar saja. Amara saat ini langsung menumpahkan air matanya deras. Wanita ini menangis tersedu di d**a bidangnya. Dan itu membuat Mycle merasa tersiksa.
Mycle mengecup kening Amara lama. Penuh kasih sayang, lembut dan menghirup dalam dalam wangi shampoo Amara yang sangat ia sukai.
"Calm down, everything will be fine," Bisik Mycle menenangkan. Tetapi Amara masih sesenggukan. Wanita itu masih belum bisa meredakan tangisnya.
Dan setelah selang beberapa menit akhirnya Mycle berhasil membuat wanitanya ini tenang. Amara terdiam dalam dekapan nya, nafasnya sudah teratur.
"Kau membuatku khawatir Amara, " Ucap Mycle tiba tiba. Amara terdiam.
"Melihatmu tergeletak dengan darah sebanyak itu membuatku ingin mati saja di tempat!! Dan dunia ku hancur mendengar keadaan mu yang sangat kritis. Melihatmu dari balik kaca terbaring lemah dengan banyaknya selang dimana mana itu menyiksaku!! " Lanjut Mycle membuat Amara merinding mendengarnya. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada Mycle. Menenggelamkan jauh wajahnya pada d**a pria ini.
"Maafkan aku, Mycle, " Ucap Amara lembut. Mycle mencium puncak kepala Amara sekilas. "Tidak perlu sayangku! Sama sekali tidak ada kesalahan mu disini. Aku lah yang harusnya berminta maaf."
Amara mengangkat kepalanya menatap Mycle, kemudian menggeleng kecil. "Kalau aku malam itu turun dan ikut mengantar mu hingga rumah. Maka semua ini tidak akan terjadi!!" Mycle menyalahkan dirinya. Nadanya terdengar sangat menyesal.
Tidak!! Ini bukan kesalahan pria ini, Mycle sudah melakukan hal yang benar.
"Tidak perlu ada yang kau sesali Mycle! Ini kehendak takdir. Entahlah, aku pun tidak mengerti. Tetapi kita hanya perlu menjalankannya. Dan sekarang aku sudah tidak merasa takut untuk menjalankan itu, kau sudah bersamaku," Ucap Amara membuat Mycle terkekeh. Ia kembali mencium lama puncak kepala Amara.
Mycle baru saja mendapatkan kabar dari Darvin diluar sana. Dikabarkan setelah kesadaran nya, kondisi tubuh Amara benar benar membaik. Bahkan 3 hari lagi wanita ini akan pulang.
°°°°°°°°
(Tiga hari kemudian) 08:25AM.LS, USA.
Mycle berjalan kearahnya dengan membawa sebuah dress mini berwarna kuning. Sebelumnya memang Amara meminta pria ini untuk membantunya mengambilkan dress.
"Apa yang ini, tida apa apa??" Tanya Mycle sambil menunjukan dress nya. Amara tersenyum, kemudian mengangguk. "Aku menyukainya, " Jawab Amara membuat Mycle tersenyum puas.
"Setelah ini aku akan menyiapkan sarapan untuk mu, " Ucap Mycle mengecup keningnya lembut. "Astaga, Mycle. Tidak perlu, pasti ada pelayan yang akan melakukan tugas itu. "
"Tidak ada bantahan Mrs. Culles. Aku ingin menyiapkannya sendiri semua pagi ini khusus untuk wanita ku," Amara tida bisa bohong jika ia merasa senang. Mycle benar benar begitu manis. Entah apa yang harus Amara katakan untuk berterimakasih pada pria ini.
Amara bergerak turun dari bangkar. Mycle membantunya pelan pelan, menuntunnya menuju kamar mandi. Sesampainya di pintu kamar mandi Amara menghentikan langkahnya.
"Sampai sini saja Mycle. Aku bisa melakukannya sendiri, " Ucap Amara mengingatkan. Mycle menatapnya ragu. "Apa kau yakin??"
"Seratus persen aku yakin, sir!" Ucap Amara membuat Mycle tersenyum senang. "Baiklah. Jangan berlama lama didalam seperti kau ini sedang sehat. Segera lah keluar jika tubuhmu sudah bersih."
Dan setelah itu Amara masuk kedalam kamar mandi. Menutup pintunya. Mycle berjalan pelan menuju sofa besar didalam ruangan ini, kemudian mendudukan bokongnya disana.
Selang 10 menit akhirnya Amara pun keluar dengan setelan rapih nya menggunakan dress yang sudah Mycle bawakan untuknya.
Saat keluar ia sudah melihat Mycle tersenyum kearahnya. Pria itu bangkit dari duduknya dan berjalan menghampirinya, mengecup puncak kepala Amara lama.
"Kau sangat cantik!" Puji Mycle lembut, Amara menghangat. Ia melingkarkan tangannya pada punggung Mycle. Mycle merengkuh tubuh kecil itu erat. Ya Tuhan. Amara tidak bisa mendeskripsikan rasa nyaman yang ia rasakan sekarang bersama pria di depannya ini.
Mycle melepaskan pelukan mereka. Menatap Amara lembut. "Setelah ini kau sarapan dulu, aku sudah menyiapkannya. Setelah itu kita pulang, " Ucapnya tersenyum. Amara terlihat sangat senang, ia mengangguk semangat.
°°°°°°°°°
Disinilah mereka sekarang, dalam perjalanan menuju istana. Mycle dan Amara berada di kursi penumpang. Sedangkan yang mengemudi mobil Mycle saat ini adalah supir.
Amara memandang keluar jendela, menampilkan pohon pohon yang menjulang tinggi. Terlihat sangat rimbun, terlebih ketika pohon pohon ini bergoyang an karena angin. Melihatnya membuat Amara merasa tenang.
Mycle menunduk, menatap Amara yang tersenyum, melihat itu membuat senyum nya pun mengembang. Diciumnya pipi Amara lembut. "Aku akan selalu di sisi mu mulai saat ini, " Bisik Mycle membuat Amara mendongak menatap pria itu dari bawah. Amara menatap teduh mata biru laut yang indah itu. Tangannya bergerak memegang rahang Mycle dan mengelus nya. "Entah sejak kapan-" Amara menghela nafasnya. Kemudian dia tersenyum manis. "Aku sudah mulai mencintaimu." Bisiknya lembut.
Mycle terdiam, menatap Amara intens. Memperhatikan wajah cantik itu, lagi lagi dalam hatinya ia memuji kecantikan Amara yang benar benar terlewat batas. Mycle bergerak mencium bibir manis itu lagi, melumat nya lembut. Kemudian dia tersenyum senang. "Aku jauh lebih mencintaimu Amara," Ucap nya serius.
"Kau harus tahu. Sejak kita belum bertemu pun, aku sudah mencintaimu. Wajah mu samar samar selalu datang dalam mimpiku. Dewi Bulan tidak salah memberikan ku mate seperti mu. Aku sangat bersyukur dengan itu," Amara senang mendengarnya. Dia menenggelamkan wajahnya pada d**a Mycle.
"Kalau begitu jangan pernah tinggalkan aku," Bisik Amara. Mycle mengangguk cepat. Ia mencium berkali kali kening Amara. "Tidak perlu kau minta! Aku tidak akan pernah meninggalkanmu!!"
°°°°°°°°°
Mobil mereka sudah mulai memasuki pekarangan istana yang luas. Amara yang melihat itu menatap kagum, ia benar benar baru melihatnya. Saat terakhir dirinya kesini, semua gelap. Terlihat sulit untuk menyaksikan kemegahan istana Mycle yang ternyata benar benar mengagumkan.
Mobil mereka berjalan menuju undakan lorong istana. Dan saat sudah sampai Mobil pun berhenti. Para warrior sudah membukakan pintu Mycle dan Amara. Mycle keluar dari sana lebih dulu. Warrior menunduk hormat padanya. Kemudian dengan cepat ia berjalan memutari mobil. Menuntun Amara untuk turun.
Kini mereka sudah melangkah menaiki undakan menuju lorong. Mycle tersenyum melihat Amara, ia benar benar merasa bahagia sekarang wanita nya ini sudah bisa tinggal bersama nya.
Dari sini Mycle dan Amara suda bisa melihat Clora dan Bov yang berdiri tepat di pintu utama istana. Mereka terlihat tersenyum kearahnya. Bov merengkuh erat pinggul Clora. Mereka terlihat sangat serasi, Amara tersenyum.
Mereka sudah dekat, Clora berjalan menghampiri Amara dengan tangan yang terbuka lebar. Amara tersenyum melihat itu.
"Astaga, aku benar benar tidak percaya kau kemari sayang, " Ucap Clora memeluk Amara erat. Amara membalas pelukan Clora tidak kalah erat, merasakan kenyamanan dari tubuh wanita ini yang hangat. "Terimakasih sudah menyambut ku ibu," Ucap Amara. Clora melepaskan pelukan mereka, kemudian menatap Amara memicing.
"Tentu saja aku menyambutmu, sayang. Kau ini anakku! " Amara terkekeh mendengarnya. Ia merasa senang dengan sifat hangat dan ramah Clora. Kemudian Bov muka mendekati mereka, bergerak memeluk Amara. Amara tersenyum senang. Ya Tuhan. Ia sudah lama sekali tidak merasakan pelukan seorang ayah seperti ini.
Tida bisa menahan air matanya. Bov melepaskan pelukan mereka, dan mengerutkan keningnya bingung saat melihat air mata Amara yang keluar. Ia begerak cepat menghapus air mata itu dengan ibu jarinya.
"Mengapa kau menangis, hmm??" Tanya Bov tidak suka. Amara menggeleng cepat sembari tersenyum. "Aku hanya terharu dengan kalian. Kalian benar benar sudah memerlukan ku seperti aku adalah anak kalian," Ucap Amara parau.
"Ya itu memang karena kau anak kami Amara," Ucap Bov lembut. Tidak bisa dipungkiri ia benar benar merasa sangat bahagia sekali.
°°°°°°°°
Sekarang Mycle dan Amara sudah berada dikamar mereka. Saat ini Amara sedang berdiri di balkon kamar Mycle, menatap pemandangan hutan didepan nya ini dengan tenang. Menikmati angin yang menerpa wajah dan rambutnya.
Mycle keluar dari kamar mandi. Pria itu hanya menggunakan handuk pitih yang melingkari pinggul hingga dengkul nya. Mycle menoleh bingung kearah ranjang nya yang kosong.
Tetapi kemudian ia tersenyum saat melihat pantulan bayangan seseorang dari balkon. Dengan cepat Mycle menghampiri Amara yang sedang memejamkan matanya. Rambut panjang nya yang indah terlihat berterbangan karena angin.
Amara terkejut saat ia merasa lengan besar melingkari perutnya dan mendekatnya erat. Tetapi kemudian ia tersenyum saat melihat wajah Mycle yang muncul dari balik lehernya.
"Apa kau sudah selesai mandi?? Tanya Amara. Mycle menciumi leher wanita itu lembut. "Menurutmu??" Tanya Mycle balik, dan Amara hanya merutuki dirinya sendiri. Benar juga, terlebih tubuh Mycle yang mendekap nya terasa begitu dingin, dan rambut pria ini pun masih basah.
"Sedang apa kau disini, hmm?? Masuk lah, kau ini masih harus beristirahat sayang," Amara menggeleng pelan. "Tidak Mycle, aku baik baik saja. Aku disini hanya sedang menikmati pemandangan nya. Melihat ini semua membuatku merasa tenang ketimbang berbaring di kasur yang hanya membuat otak ku berfikir negatif," Mycle terdiam. Ada benar nya juga, ia tidak ingin wanita nya ini ke Bali mengingat kejadian yang buruk itu.
Mycle membalik tubuh Amara menghadap nya. Dan Amara sedikit terkejut melihat tubuh polos Mova. Astaga! Mengapa Mycle harus membalik tubuhnya seperti ini.
Amara memalingkan wajahnya, Mycle yang melihat itu memicing bingung. "Ada apa??" Tanya Mycle polos. Amara rasanya ingin berteriak kesal ketika Mycle bertanya dengan polos nya seperti itu.
Walau bagaimanapun juga, ini kali pertama Amara melihat tubuh polos nya langsung. Terlebih dengan jarak sangat dekat seperti ini. Membuat dirinya tidak bernafas saja.
Detik selanjutnya Mycle tersenyum jahil saat ia baru menyadari jika Amara ternyata malu karena tubuh polos nya. Amara masih tidak ingin menatap Mycle.
"Kenapa kau jadi membuang wajahmu seperti itu, hmm?? Apa aku melakukan kesalahan??" Tanya Mycle lagi. Alih alih menjawab Amara malah membalik tubuhnya lagi.
"Ttt-tidak Mycle. Kau segeralah ber-pakaian, jika kau tidak menggunakan baju mu kau akan masuk angin," Ucap Amara dengan nada yang tergagap. Mycle tersenyum melihat itu. Mycle kembali memeluk Amara dari belakang.
Amara memekik terkejut, ia berteriak saat tiba tiba saja Mycle mengangkat tubuhnya alah bridal style. "Apa yang kau lakukan Mycle??! " Tanya Amara tidak suka. Mycle masih tersenyum menatap wajah cantik itu yang memerah. "Mengangkat mu, apa kau tida lihat??"
Mycle kemudian berjalan memasuki kamar mereka. Kemudian ia membaringkan tubuh Amara keatas ranjang. Amara menatap Mycle khawatir. Terlebih ketika pria itu sudah merangkak menaiki ranjang juga dan berposisi tepat diatas nya.
Amara tidak berkedip menatap wajah Mycle yang sangat dekat dengannya ini, tubuh mereka yang sudah bersentuhan membuat Amara gemetar. Mycle tidak perduli, ia hanya tersenyum geli melihat wajah Amara yang sangat merah, wanita nya ini benar benar menggemaskan.
Mova perlahan mendekatkan wajah mereka, Amara dapat merasakan tubuh Mycle yang bertambah dekat dengannya. Ya Tuhan! Ini tidak baik!! Terutama bagi jantung nya!!
Saat Mycle ingin menenggelamkan wajahnya pada lekukan leher Amara. Tanpa ia duga Amara bergeser menjauh dari dirinya. Wanita itu kini bergerak turun dari ranjang.
"Mm-Mycle, ss-eperti nya a-aku ingin menemui ibu, " Ucap Amara kemudian berjalan cepat keluar kamar. Mycle yang melihat itu terkekeh puas. Ian benar benar senang menjahili wanita itu. Sangat menggemaskan!!
°°°°°°°°°
TBC!