Shocking Reality

2673 Words
Jam menunjukan pukul 07:00 pagi Amara membuka matanya perlahan, mengerjap kan matanya berkali kali agar cahaya tidak terlalu nusuk kemata nya ini. Amara menoleh kesampingnya dilihatnya Mycle masih memejamkan matanya Damai, membuat buku mata lentik itu terlihat sangat jelas. Amara tersenyum, ia bergerak mengecup kedua mata Mycle lembut. Wajah tampan Mycle saat tertidur seperti ini benar benar sangat polos dan menggemaskan. Cahaya matahari yang menembus masuk dari jendela menyorot wajah tampan ini, seperti cahaya itu tahu dengan pilihannya menyorot wajah sempurna ini. Itu membuat ketampanan Mycle tercetak jelas, rahang kokoh itu, alis tebal, juga bibir nya yang terbuka. Amara terkekeh melihat itu, pria ini begitu pulas. Amara hanya bersyukur dalam hati, entah mengapa Tuhan begitu baik padanya dengan mengirimkan pria ini dalam hidupnya sekarang. Amara sendiri berfikir, apa setelah Tuhan mengambil segalanya dari hidupnya, kemudian Tuhan menggantikan nya dengan mengirim Mycle. Amara mengecup rahang Mycle lembut, ia terkekeh kecil saat Mycle bergerak. Tetapi kemudian pria itu kembali tertidur. Amara menggeleng melihatnya. Tidak ingin mengganggu tidur pria ini Amara memutuskan untuk beranjak turun dari kasur. Amara berjalan cepat memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sebelumnya Mycle berkata padanya, jika semua kebutuhan dan keperluan nya mulai saat ini sudah sangat lengkap di istana. Dan mendengar itu sebenarnya membuat Amara merasa tidak enak, ia telah membuat pria itu kerepotan. Tetapi Mycle selalu marah dan tidak suka jika dirinya membahas itu. Mycle akan berkata 'kau ini sudah menjadi bagian keluargaku Amara. Jangan mrasa bersalah karena telah membuat kami repot untuk melakukan itu semua. Aku sama sekali tidak direpotkan! Itu tugasku!' Oke Amara menyerah, dia hanya bisa menurut pada Mycle. Saat ini Amara sudah keluar dari kamar mandi dengan setelan dress nya yang rapih. Wanita itu tidak berniat memolesmake uo pada wajahnya, karena ia rasa juga tidak perlu untuk itu. Matanya masih melihat Mycle yang tertidur lelap, sepertinya pria itu kelelahan. Karena Amara yakin, selama menunggu dirinya yang tidak sadarkan diri pria itu pasti mengurangi waktu tidurnya. Untuk itu Amara sama sekali tidak ingin mengganggu tidur Mycle. Amara berjalan keluar kamar dan menuruni anak tangga satu persatu menuju ruang bawah. Dari sini ia dapat melihat para maid yang berlalu lalang membawa banyak makanan untuk diletakkannya di meja makan besar itu. "Ah, Luna?? Selamat pagi. Apa anda membutuhkan n sesuatu??" Tanya salah satu maid yang menyadari kehadirannya. Maid itu menunduk hormat dan Amara merasa tidak enak untuk itu. "Oh, tidak. Aku tidak membutuhkan apapun, terimakasih bayak," Jawab Amara tersenyum. Maid itu juga tersenyum. "Apa aku boleh membantu kalian??" Tanya Amara tiba tiba. Maid itu nampak terkejut. "Maaf Luna, kau tidak perlu repot melakukan tugas ini. Ini adalah tanggung jawab kami. Kami para maid akan kena masalah bila Alpha mengetahuinya," Ucap maid itu. Amara mengangguk paham. Kemudian ia hanya tersenyum. "Amara?? Kau sudah bangun??" Amara menoleh saat mendengar suara itu, dan dilihatnya ternyata Clora. Wanita itu tersenyum kearahnya, paras nya sangat cantik pagi ini. "Ah, ibu??" Clora mendekat mengelus rambut pnjang Amara lembut. "Kau sedang apa disini? Kau sudah sangat lapar ya?? Atau kau membutuhkan sesuatu??" Tanya Clora membuat Amara menggeleng cepat. "Tidak ibu. Hanya saja aku merasa sedikit bosan dikamar. Untuk itu aku memutuskan untuk berkelok saja disini," Jawab Amara tersenyum. Clora mengernyit bingung. "Kemana Mycle?? Apa dia tidak ada bersama mu dikmas sehingga mmbuatmu merasa bosan??" Tanya Clora. Amara tersenyum. "Dia sedang tertidur ibu. Dan terlihatnya Mycle sangat kelelahan, aku tidak ingin mengganggunya," Jawab Amara. Clora terkekeh mendengarnya. "Baiklah kalau begitu. Rupanya menantu ku ini bosan yaa," Ucapan Clora membuat Amara tersipu saat wanita itu menyebutnya 'menantu'. "Apa kau ingin ikut aku?? Berkeliling istana ini, ada beberapa hal yang ingin aku tunjukan padamu." "Aku ingin ibu!" Jawab Amara semangat. Ia sangat tertarik mengetahui semua tentang istana ini. °°°°°°°°° Clora membuka pintu sebuah ruangan yang sangat besar, saat pintu terbuka Amara terkejut melihat banyak sekali barang barang indah didalamnya yang sangat berkilauan bak ratusan berlian yang menumpuk. Clora masuk kedalam disusul dengan Amara dibelakangnya, Amara mengedarkan pandanganya keseluruh penjuru ruangan, memandang takjub barang barang antik didalam ruangan ini. "Ini adalah koleksi beberapa barang keturunan dari masa ke masa kepala suku kami, " Clora membuka suaranya. Amara menoleh. "Barang keturunan??" "Iya sayang. Barang barang ini adalah barang yang sangat penting bagi suku kami, banyak sejarah yang tidak semua orang tahu tentang barang barang ini. Dan salah satunya cermin itu," Amara menoleh kearah benda yang Clora tunjuk. Itu adalah sbuah cermin. Cermin yang berkilau, terlebih saat pantulan cahaya matahari terarah pda kaca itu. Membuat nya menjadi bersinar terang. "Indah sekali!!" Puji Amara jujur. Ia mendekati cermin itu dan menatapi nya dengan mata berbinar. "Cermin apa ini, ibu??" "Itu adalah cermin GardenMoon, cermin itu adalah cermin keturunan dari dewi bulan yang sudah ratusan tahun lamanya hilang dan ketemu kembali saat perang antar suku kami 20 abad yang lalu Ucap Clora sambil berjalan menyusul Amara. Amara menoleh kesamping, menatap Clora ragu. Sebenarnya ada sangat banyak sekali pertanyaan dibenak nya. Semuanya. Dan itu membuat Amara benar benar pusing sendiri mencar tahu kebenarannya. "Ekhmmm, ibu?" Panggil Amara tiba tiba. Clora menoleh dengan kedua alis nya terangkat. "Ada apa sayang??" "Sebelumnya. Hmm, maaf jika aku benar benar lancang bertanya ini. Tetapi aku penasaran, dengan apa yang sudah ada disini sebenarnya??" "Apa kalian berasal dari dunia yang berbeda denganku??" Tanya Amara sedikit ragu. Wajah wanita itu terlihat takut untuk bertanya. Clora terdiam, cukup lama. Dan itu membuat Amara benar benar merasa tidak enak. Tetapi tiba tiba saja wanita itu kembali tersenyum. "Kau ingin tahu yang sebenarnya sayang?? Kau yakin??" "Tetapi jika itu bersifat sangat privasi maka aku tidak akan memaksanya ibu," Ucap Amara. Clora terkekeh. "Tidak privasi untuk dirimu sayang. Karena kau suah bagian dari kami, aku akan menjelaskannya padamu. Lagi pula kau harus tahu ini bagaimanapun juga." Amara terdiam, tetapi kemudian ia mengangguk setuju. "Dahulu, mitologi Yunani dari abad V SM, mengatakan pada + 2.400 tahun lalu terdapat penduduk di daerah yang sekarang bernama Lithuania dan Polandia, mereka mengaku beberapa penduduk merubah diri mereka menjadi seekor serigala dalam beberapa hari setahun," Ucap Clora mulai menceritakan. "Masa itu manusia serigala adalah manusia yang tergolong kuat untuk memangsa manusia lainnya, melalui sihir yang mereka punya untuk berubah menjadi serigala hitam yang sangat besar dan mulai mencari mangsa dimalam bulan purnama penuh." "Dan itu dikenal sebagai serigala pertama dalam sejarah suku kita, mereka biasa menyebutnya Proverius atau Verfous yaitu adalah kepala suku pertama dalam sejarah werewolf, dari masa kemasa mereka mulai mencari pasangan mereka untuk menurunkan kembali tahta mereka kepada keturunan selanjutnya, salah satu contohnya seperti ka, " Ucap Clora membuat Amara menaikan kedua alisnya bingung. "Aku??" "Iya sayang, kau adalah salah satu pasangan yang sudah ditakdirkan dewi bulan untuk mendampingi salah satu keturunan pemimpin kita yaitu Alpha, sebentar lagi Mycle akan menjadi Alpha dan kau akan menjadi Luna nya. Alpha dan Luna adalah sebutan bagi pasangan pemimpin werewolf. Bisa dikategorikan jika di dunia manusia mereka seperti Raja dan Ratu di sebuah kerajaan megah," Ucap Clora menjelaskan. Amara terdiam, mencerna dengan baik semua itu. "Apa maksud dari werewolf? Kalian itu adalah manusia serigala??" Tanya Amara dengan nada sedikit ngeri didalamnya. Clora dapat merasakan itu. Tetapi wanita itu tanpa ragu tersenyum dan mengangguk. "Walaupun kami werewolf. Tidak semua werewolf akan se mengerikan yang aku fikirkan. Kami juga sama layaknya seperti manusia biasa. Kami melakukan semuanya normal, hanya saja jika wolf kami kelaparan. Pada malam bulan purnama penuh lah kami akan berburu. Itupun hewan yang akan kami buru, tidak mungkin kami memangsa sesama manusia." Amara terdiam. Ia menelan saliva nya. Rasanya sangat sulit menerima cerita Clora barusan, dirinya seperti berada dalam dunia dongeng. "Mengapa dewi bulan memilihku untuk menjadi Luna, ibu??" Clora tersenyum. "Berbangga lah dengan itu, nak. Dewi bulan memilih mu karena ada sesuatu kekuatan didalam dirimu yang dimiliki oleh dewi bulan. Kekuatan yang sangat kuat, sehingga tidak ada sihir apapun yang bisa menandinginya." "Mungkin kau akan bertanya tanya, bagaimana bisa kekuatan itu ada pada dirimu, dan bagaimana menggunakan kekuatan itu. Jawabannya adalah setelah dewi bukan memberikanmu sebuah pelajaran, dimana nantinya kau akan mengeluarkan kekuatan itu sendiri tanpa kau sadari." Amara merasa bingung dengan semua yang baru saja diucapkan oleh Clora. Ia hanya terdiam, mengigit bibir bagian bawahnya. "Apa kau merasa terkejut dengan ceritaku Amara??" Tanya Clora sedikit khawatir. Memang Amara sedikit syok saat mendengar semua cerita yang baru saja keluar dari mulut Clora, terutama tentang serigala, memang menyeramkan, tapi Amara percaya, semua tidak seperti perasaan negatifnya rasakan. Karna orang orang yang dia kenal disini semua sangat menyayanginya terutama Mycle. "Hmmmm, mungkin. Sedikit bu," Jawab Amara membuat Clora terkekeh. Apa sekarang kau takut padaku??" Tanya Clora tiba tiba. Amara menggeleng cepat. "Tidak saat sekali ibu. Aku mengerti dengan semua yang kau ucapkan, dan mungkin saja aku bisa menerima itu. Aku sangat percaya pada kalian, entah mengapa aku merasa kalian begitu tulus padaku. Clora tersenyum senang mendengarnya. Ia memeluk Amara erat, kemudian melepaskannya. Menatap wajah cantik wanita itu lembut. "Percayalah sayang. Kau akan mengerti sebentar lagi," Ucap Clora. Amara mengangguk dengan senyum manisnya. BRAAKKK.. Pintu terbuka secara tiba tiba dengan sangat keras, membuat Amara dan Clora terkejut dan menoleh bingung kearah pintu dimana disana mereka melihat Mycle. "Astaga Mycle!! Kau ini kenapaa??!!" Clora membentak kesal. Ia melihat Mycle berjalan cepat menuju mereka. Dan pria itu kini menatap Amara serius. "Kau kemanaa saja huh?!! Mengapa kau keluar kamar tidak bilang dulu padaku??" Tanya Mycle sedikit keras dengan nada khawatir membuat Clora terkekeh. "Ya Tuhan, anak ini. Jadi karena itu ka datang kesini seperti kesetanan??!" Mycle menoleh kearah Clora. "Bagaimana tidak ibu. Jika aku bangun dari tidurku dan melihat wanita ku ini tidak ada disana. Terlebih aku sudah mengecek seluruh istana dan tidak menemukannya," Ucap Mycle kesal. "Memangnya kau fikir Amara kemana huh?? Apa dia bisa begitu saja pergi dari istana yang sangat terperosok seperti ini??" Mycle mendengus. "Itu bisa saja terjadi." Amaran terkekeh mendengarnya. Tangan nya menyentuh rahang Mycle lembut. "Aku disini Mycle," Mycle menoleh. Mengambil tangan Amara di rahangnya kemudian mengecup nya. "Aku tida akan memaafkan diriku sendiri bahkan orang orang jika kau pergi Amara!!" Amara tersenyum mendengarnya. Ia mengangguk kecil. Clora menggelengkan kepala melihatnya. Tetapi tidak dipungkiri, ia merasa senang dengan apa yang Mycle katakan. Itu membuatnya percaya pada anak nya ini jika ia tidak akan pernah menyakiti Mate nya. Dalam benaknya Amara menghangat, entah ia harus mendeskripsikan nya seperti apa jika ia merasa bahagia tiap kali Mycle mengeluarkan kata kata yang begitu manis di telinga nya. Itulah yang membuat Amara merasa pria di depannya ini begitu tulus. "Kalian mengobrol terlebih dahulu disini. Aku akan kembali kedalam untuk menemui Boven. Bisa bisa ia juga akan kesetanan seperti mu karena aku juga tidak mengabarinya," Amara dan Mycle terkekeh mendengar itu. Dan sekarang Clora sudah berjalan keluar ruangan. "Aku haya merasa bosan tadi Mycle. Untuk itu aku memutuskan untuk keluar kamar, dan sangat kebetulan sekali ibu berniat mengajakku kembali berkeliling. Dan dia membawaku ke ruangan ini, " Jelas Amara agar Mycle mengerti. Amara mengelus rambut Mova lembut. "Dan saat itu kau masih tertidur sangat pulas. Aku tidak ingin mengganggumu, kau terlihat sangat lelah, " Lanjut Amara lgi. Mycle tersenyum, ia mengecup bibir Amara sekilas. "Aku mengerti sayangku, " Jawab Mycle tersenyum. °°°°°°°°°° "Kau menunggu apa lagi untuk mengklaim nya Mike?? Amara jelas jelas sudah terlihat menerimamu. Kau hanya perlu melakukannya saja!!" Ucap Alex kesal. "Tidak semudah itu Alex! Kau tahu? Amara sama sekali belum mengetahui semua fakta tentang kita. Aku khawatir ia-" "Bodoh! Jika ka mengklaim nya tidak berhubungan sama sekali dengan kau manusia serigala!" Ucapan Alex membuat Mycle terdiam. Ada benarnya juga. "Aku akan memikirkannya lagi setelah ini, " Ucap Mycle kemudian memutuskan mdnlink mereka. Setelah srapan bersama tadi. Mycle meminta izin pada Amara bahwa ia ingin mengurus kembali semua pekerjaannya. Walau bagaimanapun ia tidak bisa meninggalkan semua tanggung jawabnya sebagai CEO, itu berpengaruh besar juga dalam hidupnya. Terlebih mendekati waktu dekat ini dirinya akan dinobatkan sebagai Alpha. Ketika sedang berkutik dengan laptopnya tiba tiba saja pintu ruangan terbuka. Mycle menoleh bingung, tetapi kemudian ia tersenyum tipis saat ia melihat figur Bov disana kemudian berjalan mendekat kearah Mycle. "Ayah?" "Apa kau masih mengurusi masalah proyek mu itu, Mike??" Tanya Bov. Yang memperhatikan kegiatan Mycle dengan laptopnya. Mycle mengangguk cepat. "Tidak mungkin aku melupakannya saja begitu. Walaupun seharusnya diwaktu waktu seperti ini aku bersama Amara. Karena ini masih sangat awal dirinya masuk kedalam hidup ku. Aku belum melakukan apapun untuknya," Ucap Mycle. Bov tersenyum mendengarnya. "Kau akan terbiasa Mycle. Terlebih saat dirimu menjadi Alpha nantinya. Segala tugas akan kau urus sendiri, sampai nanti kau memiliki seorang anak. Kau akan menyerahkan semua itu padanya, dan disaat itulah kau baru bisa beristirahat." "Sudahlah. Sekarang kau cepat temui Amara, membicarakan anakmu aku menjadi ingin cepat cepat memiliki cucu," Ucap Bov lagi membuat Mycle tertawa. "Ayolah ayah, tidak akan secepat itu!" Bov tersenyum. "Jika kau melakukannya sekarang tidak ada yang tidak mungkin jika cucuku cepat berada dalam perut Amara," Ucap Bov lagi. Mereka tertawa bersama. "Dan pekerjaanku??" "Aku akan urus semua!" Ucap Bov cepat. Mycle memicing. "Apa kau yakin??" "Tentu saja! Aku yang menginginkannya! Suah, cepatlah pergi! " Mycle terkekeh. Kemudian ia bangkit berdiri dari kursinya. Berjalan menuju pintu. Sebelum benar benar keluar Mycle kembali menoleh pada Bov. "Kau yang terbaik ayah!!" °°°°°°°° Amara terkejut saat ia merasa seseorang mendekap tubuhnya erat dari belakang. Tetapi kemudian ia menghela nafs saat aroma Mycle tercium oleh hidungnya. "Mengapa kau selalu datang dan membuatku terkejut, huh??! " Omel Amara. Mycle terkekeh. "Aku suka memberimu kejutan!" Jawab Mycle kemudian menciumi leher jenjang Amara lembut. "Apa kau sudah selesai dengan pekerjaan mu??" Tanya Amara bingung. "Iya aku sudah selesai, dan sekarang waktunya aku bersama mu!!" Amara terkekeh mendengarnya. "Kau senang sekali disini yaa," Ucap Mycle tiba tiba. Yang Mycle maksud disini adalah balkon kamar mereka ini. Amara mengangguk cepat. "Aku sangat menyukai keadaannya, terlebih ketika pohon-pohon ini berterbangan. Dan suara kicauan burung itu seperti bernyanyi di telingaku. Benar benar menenangkan!" Jawab Amara membuat Mycle tersenyum. Ia mencium pundak Amara dan mengisap nya disana. Amara terkejut. "Mycle!" Omel nya. Mycle terkekeh. "Aku menyukai kulitmu. Jika kau ini adalah makanan, kau sudah terlihat begitu lezat di mataku!!" Ucap Mycle. Amara tersenyum, ia merasa kupu kupi bertebangan di perutnya menimbulkan rasa geli. Mycle membalik tubuh Amara sehingga menghadapnya. Menatapi wajah cantik itu yang tidak akan pernah membuatnya merasa bosan. Amara pun begitu, ia menatap wajah Mycle lembut terlebih mata biru indah itu. Memperhatikan dengan serius semua bagian dari wajah itu. Dan semuanya benar benar selalu mengagumkan. Mycle menarik Amara semakin dekat. Pria itu mulai mendekatkan wajah mereka, semakin dekat. Sehingga kini Amara merasa bibir lembut Mycle sudah menyentuh bibirnya. Mycle melumat nya penuh, tangannya bergerak memegang kepala Amara. Membawa ciuman mereka semakin dalam. Mycle kemudian turun menuju leher Amara, dan memberikan banyak hisapan disana. Amara mengerang rendah, ia merasa tubuhnya seperti jelly sekarang. Amara sudah melingkarkan tangannya pada leher Mycle, guna mempertahankan tubuhnya. Mycle berhenti. Ia bergerak menyakat tubuh Amara cepat ala Bridal Style. "Sudah waktunya sayang," Bisik Mycle lembut di telinga Amara. Amara memejamkan matanya, merinding mendengar suara Mycle yang entah bagaimana terdengar sangat sexy dan ingin ketika mengatakan itu. Kini Mycle sudah menggendong Amara dan membawa wanita itu kedalam. Kemudian menutup cepat pintu balkon kamar mereka. Mycle meletakan Amara lembut diatas ranjangnya. Kemudian ia mengurung tubuh itu tepat dibawahnya. Mycle kembali menatapi Amara, terlebih ke mata abu yang indah itu. "Apa kau siap untuk ku tandai Amara??" Tanya Mycle tiba tiba. Amara menggigit bibir bawahnya. Melihat itu membuat Mycle mengecup sekilas bibir bengkak itu. "Jangan memancing ku seperti ini. Kau hanya perlu menjawab ya atau tidak," Ucap Mycle kesal. Mata pria itu sudah berkabut gairah. Amara terkekeh, ia melingkarkan tangannya lagi pada leher Mycle, membawa wajah itu mendekat. "Aku siap, sayang!" Bisik Amara lembut. Mycle tersenyum puas, senang, bahagia dan berbagai macam perasaan berbunga bunga. Detik selanjutnya Mycle sudah menjelajahi tubuh Amara semuanya tanpa terlewat satupun, malam ini akan menjadi malam panjang mereka. Hanya udara dingin, bulan dan juga mereka lah yang menjadi saksi nya. "Aku benar benar mencintamu Amara!!" Ucap Mycle di tengah tengah kegiatan mereka. Amara tersenyum. "Aku lebih mencintaimu Mycle." °°°°°°°°°°° TBC!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD