Suara binatang malam yang bersautan, sinar bulan yang menembus masuk melalui celah celah jendela, pepohonan yang menjulang tinggi itu, ah rasanya Amara juga sangat malu dengan mereka.
Mereka sudah menjadi saksi semalam. Dimana dirinya dan Mycle menyatukan cinta mereka yang di iringi dengan gejolak hasrat hingga mencapai puncak yang luar biasa.
Membayangkan hal itu membuat Amara memanas. Darahnya mengalir hangat, dan perutnya merasakan sesuatu yang menggelitik.
"Apa kau siap untuk kutandai Amara??"
Oh, Tuhan, bahkan suara sexy pria di samping nya ini masih terdengar sangat jelas di telinganya. Bukan hanya suara itu, bahkan nafas nya yang lembut, kulitnya yang hangat saat bersentuhan dengan kulitnya. Dan sentuhannya yang sangat hati hati. Itu semua masih Amara rasakan dengan sangat nyata.
Dan pagi ini, Amara merasa tidak berani untuk menatap Mycle sebelumnya. Niatnya saat membuka mata adalah menghindari pria itu. Tapi siapa sangka, ternyata saat dirinya membuka mata. Pria itulah yang justru sudah menatapnya lebih dulu. Menyambutnya dengan wajah tampan nya itu, mata biru nya yang indah menatapnya lembut.
"Ah Mycle!! Kau membuatku malu!!" Batin Amara berteriak.
Saat ini dirinya sedang terduduk, masih di atas kasur king size milik Mycle. Hari sudah sangat siang. Bahkan matahari di luar sana sudah bersinar panas, menusuk tajam pintu balkon dengan sinarnya. Membuat keadaan kamar jadi terang.
Amara menolehkan kepalanya saat mendengar suara pintu yang terbuka. Ia yakin itu pasti Mycle! Kenapa? Karena sebelumnya pria itulah yang memberitahu dirinya, bahwa dia akan menyiapkan sarapan untuknya.
Berlebihan memang, padahal Amara msih bisa berjalan sendiri. Tetapi jujur saja perlakuan manis Mycle, membuatnya senang.
Pria itu sudah terlihat. Masih menggunakan kaos polos hitamnya. Berjalan mendekatinya dengan sebuah nampan besar ditangannya, berisikan selembar roti dan selai kacang kemudian segelas s**u.
Mycle meletakan makanan itu di nakas samping kasur nya. Kemudian ia mulai menaiki kasur kembali dan duduk di samping Amara.
"Apa kau masih sakit?? Kegiatan semalam-"
"Aku tidak apa apa Mycle!" Potong Amara cepat, sebelum Mycle menyelesaikan kalimatnya. Mycle tersenyum geli. Terlebih saat ini ia melihat wajah wanitanya itu memerah.
"Aku melakukannya tidak lembut. Mungkin saja kau merasa-"
"Mycle!!" Omel Amara dengan sedikit meninggikan suaranya. Mata abu nya menatap Mycle tajam. Mycle terkekeh.
"Baiklah baiklah. Kau memang terlihat baik baik saja," Ucap Mycle kemudian. Tangan pria itu bergerak mengambil nampan berisi sarapannya.
"Makanlah dulu. Setelah itu baru kau bisa membersihkan diri," Ucap Mycle melipat roti berisi selai itu dan memberikannya pada Amara. Amara menerimanya, dan mulai memakannya perlahan.
"Hari ini kau mempunyai jadwal untuk kembali ke rumah sakit. Kau harus-"
"Rumah sakit??" Potong Amara untuk kesekian kali. Mycle mengangguk. "Jangan melupakan jika dirimu kemarin sekarat bahkan kau hampir kehilangan nyawamu, sayang!" Jawab Mycle dengan nada serius.
Amara terdiam, kemudian dia mengangguk kecil. Mycle tersenyum tipis, mengelus rambut panjang Amara lembut. "Kau sangat cantik!" Mycle mengecup pundaknya sekilas.
Saat ini Amara memang masih tidak menggunakan apapun. Hanya selimut tebal yang menutupi tubuhnya sampai d**a, sehingga menyisakan pundaknya yang terbebas. Dengan itu membuat Amara sangat terlihat cantik dimata Mycle.
Terlebih sinar matahari menyorotnya. Membuat mata abu nya menyala, rambut coklat gelapnya bersinar, dan kulit halus nya mengkilat. Amara benar benar sexy!
Amara menelan ludahnya susah payah. Tatapan Mycle begitu intens. Bahkan mata nya sama sekali tidak berkedip, ya Tuhan! Pria ini ingin membuatnya mati??
Amara bergerak mengambil segelas s**u di atas nampan itu. Kemudian meneguk nya hingga setengah. Mycle rupanya menyadari itu. "Habiskan terlebih dahulu roti mu, Amara!" Ucap Mycle mengingatkan sebelum s**u itu sudah habis lebih dulu.
"Roti ini menghambat tenggorokan ku!!" Jawab Amara. Mycle mendengar itu terkekeh.
"Baiklah, minumlah sepuasmu. Kalau habis, aku akan meminta maid untuk membawakan nya lagi," Ucap Mycle kemudian bangkit berdiri. Amara menatap Mycle bingung. Dan matanya membulat saat melihat pria itu membuka baju nya.
Amara meletakan gelas s**u itu. Tangannya merapatkan selimut di tubuhnya. Mycle saat ini kembali menatap Amara. Bahkan terlihat lebih intens dibanding sebelumnya. Amara mengatur detak jantungnya yang tidak normal. Matanya tidak mau menatap Mycle balik. Ia berusaha terlihat tenang dan biasa saja.
Tetapi ternyata itu tidak bisa saat kini Mycle sudah merangkak kembali menaiki kasur. Mendekatinya-lebih tepatnya. Mendekati wajahnya.
Amara mundur. Matanya beberapa kali berkedip. Hening, Mycle tidak melakukan apapun selain menatapi nya dengan jarak sedekat ini. Bahkan nafas pria itu dapat dirasakan oleh wajahnya.
Amara terkejut saat tiba tiba saja Mycle mengigit rotinya. Ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang pria ini lakukan!
"Jika saja hari ini kau tidak memiliki jadwal rumah sakit itu! Aku jamin saat ini kau masih berada di bawah ku dengan tubuh kita yang menyatu, Amara!!" Ucap Mycle tiba tiba. Dan kemudian pria itu kembali bangkit berdiri.
Amara mematung kaku. Otaknya masih berusaha mencerna kata kata Mycle barusan. Dan saat sudah mengerti, Amara menatap Mycle yang saat ini sedang menyeringai menyebalkan.
"Aku akan mandi lebih dulu," Ucap pria itu kemudian melangkah cepat menuju kamar mandi. Setelah kepergian Mycle Amara membuang nafasnya lega. Seakan saat ada pria itu pasokan udara menipis sehingga membuat pernafasan nya tidak sehat.
"Jika terus menerus seperti ini. Maka dia akan membunuhku perlahan!!" Batin Amara berbicara.
»»——⍟——««
Setelah Mycle menyuruhnya bersiap siap dan menyusulnya kebawah Amara dengan cepat membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaian nya dengan yang lebih rapih seperti sekarang ini. Sebuah dress putih tulang dan sedikit campuran caramel sudah membalut tubuhnya. Sangat pas.
Saat ini wanita itu sedang berjalan menuruni anak tangga satu persatu. Dari sini Amara sudah bisa melihat keadaan di lantai bawah yang ramai. Seperti biasa, istana ini akan ramai oleh para maid yang berlalu lalang.
Amara sudah menginjakan lantai dasar. Dan kini ia melangkah menuju ruang keluarga, dimana sebelumnya Mycle memberitahu bahwa pria itu akan menunggunya di sana.
Amara sudah sampai, matanya menangkap Bov yang juga bertepatan sedang melihatnya.
"Pagi Amara," Sapa Bov lebih dulu menyambutnya. Mendengar itu membuat yang lainnya menoleh. Di ruang keluarga ini sudah ada Clora, Mycle dan Bov.
Amara tersenyum. "Pagi juga Ayah," Jawab Amara ramah. Ia kembali melangkah lebih dekat. Dan mendudukkan bokongnya di samping Clora, karena Bov dan Mycle menduduki single sofa.
"Cantiknya, kau pagi ini Amara!" Ucap Clora tersenyum. Tangannya mengelus lembut rambut panjang Amara. Amara tersenyum senang menanggapi itu.
"Kau juga cantik ibu," Jawab Amara memuji balik kecantikan Clora. Mendengar itu Clora terkekeh. "Kau ini!"
"Apa kau sudah makan pagi, sayang??" Tanya Clora menaikan alisnya. Amara mengangguk cepat. "Sudah ibu. Mycle menyiapkannya untukku tadi," Jawab Amara jujur. Clora tersenyum senang. Matanya mengarah ada Mycle. "Kau memang anakku!" Mycle mendengar itu terkekeh.
"Aku yang mengajarkannya, sayang," Timpal Bov tiba tiba. Clora menoleh, kemudian wajahnya berubah menjadi datar. "Kau bisa mengajarkan nya tetapi kau sendiri tidak pernah melakukannya!" Ucap Clora kesal.
"Oh, ayolah! Sebelum ini aku sering melakukannya. Apa kau lupa itu??!"
"Iya aku lupa!!" Jawab Clora ketus. Bov menghela nafasnya gusar. Ia sudah mengerti kenapa Clora seperti ini, itu pasti karena pertengkaran kecil mereka semalam. Memang akan seperti ini setelahnya.
Mycle hanya memutar bola matanya malas menyaksikan pertengkaran ibu dan ayahnya itu. Sedangkan Amara terkekeh. Menurutnya Clora dan Bov benar benar lucu, mereka pasangan yang terlihat romantis.
Mereka semua menoleh serempak saat sosok seseorang tiba tiba saja datang. Sangat tiba tiba, disusul dengan suaranya yang membuat mereka terkejut.
"Selamat pagi Ibu, Ayah!!!" Pekik suara itu keras. Bov dan Clora menoleh terkejut. Tetapi kemudian mereka menghela nafas panjang. Mendengar suara itu membuat mereka dapat mengenalinya.
Wanita berambut pirang yang sama persis dengan Clora. Menggunakan dress panjang berwarna hitam dipadukan dengan jaket kulit berwarna senada. Dan bahkan wajah wanita itu mirip dengan Clora. Melihat itu membuat Amara menebak bahwa wanita cantik ini adalah. Kaka Mycle??
"Diana??!" Tegur Bov membuat wanita itu terkekeh. Clora tersenyum. "Dasar kau! Selalu saja seperti itu, padahal kau ini yang paling tua Diana!" Ucap Clora mengomeli kecil.
"Maafkan aku, ibu. Kau sangat mengenaliku bukan??" Ucap Diana tersenyum menampilkan deretan giginya. Wanita itu kini sudah mendekat. Dan mata hijaunya melirik Mycle dan Amara bergantian. Wajahnya datar, sampai beberapa saat kemudian wanita itu tersenyum lebar.
"Ah-"
"Dia mate ku!!" Jawab Mycle cepat sebelum kakaknya yang cerewet itu membuka suara. Diana terkekeh. Kemudian ia mendudukkan bokongnya tepat di samping Amara dengan gerakan semangat.
"Jangan membuatnya takut, Diana!" Tukas Mycle tiba tiba. Mendengar itu Diana menoleh tajam. Tangannya mengambil cepat bantal sofa dan melempar Mycle keras. "Dasar anak nakal! Kau fikir aku ini monster sehingga membuatnya takut, huh??!" Omel Diana kesal. Amara terkekeh melihat itu. Mycle membuang asal bantal sofa itu dengan wajah kusut.
Diana kembali menoleh kearah Amara. Dan wajahnya kembali tersenyum. "Kau cantik sekali!" Ucap Diana tiba tiba. Amara sedikit terkejut, tetapi kemudian ia tersenyum ramah. "Terimakasih, nona," Jawab Amara. Diana menggeleng cepat.
"Jangan panggil aku seperti itu. Panggil aku Diana juga! Oke??" Ucap Diana memperbaiki. Amara sempat sedikit ragu, karena ia merasa tidak enak. Terlebih sepertinya Diana lebih tua darinya. Tetapi kemudian ia menganggukkan kepala pelan.
"Good!!"
"Siapa namamu, sayang??" Tanya Diana kemudian. "Nama ku Amara," Jawab Amara tanpa ragu. Diana menaikan alisnya, kemudian tersenyum.
"Nama yang indah, persis seperti yang memiliki namanya!" Puji Diana jujur. Amara terkekeh kecil. "Kau sudah sangat banyak memuji ku," Diana terkekeh.
"Aku hanya berkata jujur."
Clora, Bov dan Mycle sejak tadi hanya memperhatikan percakapan pertama kali Diana dan Amara. Terlihat sangat menggemaskan, terlebih Amara yang selalu tersenyum malu. Membuat wanita itu terlihat lucu.
Mereka kembali berbincang bersama. Sampai suara langkah kaki yang memasuki ruangan kembali terdengar. Membuat mereka kembali menoleh kompak.
"Ah, aku sampai lupa memberitahu. Aku datang bersama, Malik!" Ucap Diana tiba tiba. Bersamaan dengan itu seseorang muncul. Seorang pria kali ini. Dengan tinggi tubuh yang sedikit lebih pendek dari Mycle. Tetapi ia mempunyai bentuk tubuh dan wajah yang hampir mendekati Mycle.
Seperti Diana sebelumnya. Pria ini menggunakan semua setelan bewarna hitam.
Pria itu berjalan mendekati Clora. Mencium lama kedua pipi kanan dan kiri ibunya itu. "Pagi ibu," Suara dinginnya terdengar. Clora tersenyum hangat. "Pagi, nak! "
Kemudian dia beralih pada Bov. Memeluk ayahnya itu erat. Bov menepuk beberapa kali punggung Malik pelan. Kemudian pelukan mereka selesai.
"Jadi kau kesini dengan Diana??" Tanya Clora. Malik menjawabnya dengan anggukan.
"Dia memaksaku!" Ucap Malik asal membuat Diana menoleh dengan wajah protes. "Aku tidak memaksa!! Aku hanya bilang padanya bahwa besok adalah acara special Mycle. Dan dia harus menghadirinya, jadi-"
"Kau mengarang cerita!" Potong Malik cepat. Sebelum Diana melanjutkan suaranya. Malik mengarahkan tatapannya pada wanita cantik di samping Diana. Mata biru nya menatap Amara lekat. Diana yang menyadari itu, tersenyum.
"Dia adalah mate Mycle. Cantik, bukan??" Ucap Diana tiba tiba. "Namanya adalah, Amara," Lanjut Diana memperjelas.
"Kau harus berkenalan, nak." Ucap Clora menimpali. Tetapi dengan cepat Mycle mengambil gerakan berdiri. Merapihkan kemejanya yang berantakan. Dan menarik lembut tangan Amara berdiri.
"Tidak sekarang, ibu. Aku harus cepat membawa Amara ke rumah sakit," Ucap Mycle cepat. Belum sempat Clora membuka suara. Mycle sudah lebih dulu menarik Amara, membawa wanita itu meninggalkan ruang keluarga.
»»——⍟——««
Saat ini Mycle dan Amara sudah di dalam mobil. Mereka berdua duduk di kursi penumpang, sedangkan supir yang membawa mobil Mycle. Amara menyenderkan kepalanya nyaman pada d**a bidang Mycle, matanya menatap pohon pohon yang menjulang tinggi dari kaca jendela.
Fikiran nya melayang, kemana mana. Dan saat ini yang sedang mendominasi adalah ibunya. Amara kembali mengingat Bella, berfikir keras ada di mana sekarang ibunya itu. Bahkan sepertinya ia sudah terlalu banyak bertanya pada Mycle. Tetapi tetap saja, Mycle masih berkata bahwa belum ada kabar lebih mengenai kehilangan Bella saat ini.
Amara menghela nafasnya panjang. Matanya terpejam, menikmati aroma harum tubuh Mycle. Sinar matahari berseliweran dari balik kelopak matanya yang tertutup.
"Dia benar benar sangat berani sekali dengan menunjukan wajahnya padaku!!"
Amara membuka matanya. Berkedip beberapa saat. Kepalanya mendongak menatap Mycle. "Siapa yang menunjukkan wajahnya padamu??" Tanya Amara tiba tiba. Memecah keheningan di mobil ini.
Mycle menunduk, menatap Amara dengan kening mengkerut. "Kau membahas siapa??" Tanya Mycle balik. Amara menegakan tubuhnya. "Aku seperti mendengar kau berbicara, " Jawab Amara membuat Mycle memicingkan matanya.
"Kau mendengar suaraku??" Tanya Mycle bingung. Amara mengangguk cepat. Mycle nampak berfikir, tetapi kemudian pria itu terdiam. Tangannya kembali menarik kepala Amara untuk menyender di dadanya.
"Sejak tadi aku hanya diam saja, sayang, " Ucap Mycle. Amara menggeleng. "Aku mendengar suaramu dengan jelas Mycle."
"Tapi aku tidak berkata apapun, Amara!" Jawab Mycle masih menentang.
"Mycle?!! Aku mendengarnya-"
"Ssssttt, kau tidur saja ya. Perjalanan masih jauh, jika nanti sudah sampai aku akan membangunkan mu, " Ucap Mycle tiba tiba. "Aku tidak ingin tidur Mycle!" Jawab Amara lagi. Mycle menghela nafasnya. Memikirkan sesuatu yang mungkin saja bisa mengalihkan topik saat ini.
"Kau besok harus kelihatan sangat cantik ya," Ucap Mycle tiba tiba. Ia berusaha untuk menjauhkan Amara dari pembahasan mengenai wanita itu mendengar suaranya. Dan berhasil.
"Apa benar besok adalah hari special mu??" Tanya Amara mendongak. Mycle mengangguk. "Sangat special! Dan bukan hanya untukku, tetapi juga untukmu!"
"Aku??!"
"Tentu saja, Amara. Kau adalah pasanganku. Jelas sekali besok juga adalah acara yang special untukk mu. Oleh karena itu aku menyuruhmu terlihat cantik besok, aku ingin memamerkan ke seluruh dunia, bahwa pasanganku ini sangat cantik!!"
Amara menegak. "Kalau begitu aku tidak mau tampil cantik!" Mycle menaikan kedua alisnya. "Kenapa??" Tanya nya bingung. "Aku malu!" Mendengar alasan Amara seketika membuat Mycle tertawa. Amara rupanya benar benar pemalu. Astaga, menggemaskan sekali!
Cupp
Mycle mengecup bibir lembut Amara sekilas. Kemudian menatap wajah cantik itu serius. "Walaupun besok kau tidak make up atau memakai gaun pun. Aku akan tetap mengenalkan mu sayang. Karena itu sangat wajib!!" Ucap Mycle menjelaskan. Amara terdiam.
"Aku masih tidak percaya diri," Ucap wanita itu dengan nada pelan. Mycle tersenyum manis. "Kau akan menjadi Luna ku, kau akan menjadi pendamping ku, kau akan menjadi ratu! Biasakan dirimu, sayang!" Jelas Mycle lagi. Amara akan membuka suaranya untuk menjawab tetapi dengan cepat Mycle menarik tubuh itu kembali menyender padanya.
"Sekarang tidurlah Amara. Perjalanan sungguh masih jauh, aku tidak ingin kau mengantuk nantinya. Saat sudah sampai aku pasti akan membangunkan mu, " Ucap Mycle lagi lembut. Tangannya mendekap tubuh Amara erat, berusaha membuat wanita itu nyaman dalam pelukannya.
Dan berhasil! Saat ini Amara sudah memejamkan matanya Damai. Melihat itu membuat Mycle menghela nafas lega.
»»——⍟——««
"Amara, kau mendengarku??"
"Amara??" Panggil seseorang dari jauh, suaranya sangat amat kecil seperti orang itu sedang berteriak jauh diujung sana.
"Siapa di sana??!!"
"Amara, kau mendengarkan aku, kan??"
"Tunjukan wujud mu!"
"Syukurlah, akhirnya aku bisa bebas, terimakasih dewi bulan!!" Ucap wanita itu, suaranya terdengar sangat bahagia seperti baru saja mendapatkan hadiah istimewa.
"Kau siapa?? Mengapa kamu memanggil namaku?? Apa aku mengenalmu?!"
"Tentu saja aku mengenalmu, Amara! Kau satu tubuh denganku!" Suara itu mengomeli. Amara semakin merasa bingung.
"Satu tubuh denganku, bagaimana??! Aku saja tidak mengenalmu!!"
"Aku wolf mu Amara, aku berada di tubuhmu saat ini!!"
Wolf?? Aku mempunyai wolf?? Apa aku seorang werewolf sekarang??!!
»»——⍟——««
TBC