Bella mendengar keheningan dari pihak Steve. Dia menguatkan tekad, membesarkan harapan, agar kakaknya bersedia mencari jalan keluar lain. Jika bukan Steve, mungkin Dad memiliki cara lain untuk menyembunyikan Bella selain di kediaman Mic. Di mana pun itu, selama bukan di rumah ini. Bella akan sangat bersyukur jika dia bisa segera pergi dari sini. Tak peduli ke mana itu.
"Arabella Shancez," panggil Mic, suaranya tenang, tetapi membawa aura menakutkan. Hanya ada satu keadaan saat Steve memilih memanggil nama lengkap adiknya. Yaitu saat ia sedang marah dan kesal.
Tampaknya kali ini menjadi salah satu momen itu.
"Kapan kau akan belajar dewasa? Kau seharusnya tahu aku hanya akan menempatkanmu pada orang yang kupercayai! Kau masih meragukan keputusanku?" Steve mengetuk-ngetuk jarinya secara ritmis di permukaan meja ruang tengah, rahangnya kaku karena menahan amarah. Meragukan Mic sama saja meragukan Steve.
Bella adalah anak paling bungsu, sekaligus satu-satunya anak gadis yang dimiliki Mum. Meskipun kepribadiannya menyenangkan dan tidak buruk, tapi anak itu dibesarkan dalam kemanjaan. Nilai akademisnya hanya berada sedikit di atas nilai minimum, dan selalu tertarik pada hal-hal yang terkait dengan kecantikan dan pamor. Itulah kenapa ia memilih menjadi model.
Tidak dipungkiri, karakter manja Bella sedikit banyak mempengaruhi sisi dewasanya. Ada jejak kekanak-kanakan, terutama setiap kali kemauannya tidak terpenuhi. Steve bukannya keberatan dengan karakter adiknya. Toh keluarga Shancez lebih dari mampu membesarkannya dan menopang semua kebutuhan hidup Bella. Bella bebas menjadi apa pun yang dia mau, melakukan hobi apa pun yang ia sukai selama tak melanggar hukum. Mum dan anggota keluarga lain selalu bersedia memanjakannya dengan baik.
Hanya saja, saat dihadapkan pada situasi rumit seperti ini, karakter manja yang dimiliki Bella semakin mempersulit situasi.
"Steve, aku tak pernah meragukanmu. Tapi percayalah padaku, Mic mungkin bukan orang baik. Dia tidak seperti yang kaupikirkan. Aku melihatnya berlumuran darah, jadi kupikir—"
"Cukup, Bella! Berlumuran darah bukan berarti dia pembunuh! Mungkin dia terluka—"
"Tidak! Dia tidak terluka, tapi dia berdarah! Darah yang sangat banyak, Steve!"
"—atau mungkin menolong teman yang terluka!" Steve melanjutkan kalimatnya.
"Tapi—" Bagaimana caranya Bella menjelaskan ada aura pembunuh yang sangat kuat dari Mic? Suatu aura yang pastinya berasal dari niat yang paling dalam dari hati seseorang.
"Cukup!"
"Aku memiliki firasat yang tak baik!"
"Belajarlah lebih dewasa, oke? Aku berusaha mencari peneror itu sekarang dan semuanya semakin rumit. Ini bukan kasus yang sederhana. Mungkin ini berkembang jadi kasus pembunuhan berantai. Tinggallah di sana dengan baik! Tidak ada tempat yang lebih aman dari tempat Mic! Percyalah, Bella!"
"Steve, dengarka aku!"
Tut tut.
"Steve! Sialan!" Bella membanting ponsel ke atas ranjang, tak tahu lagi harus bagaimana.
Di tempat lain, Steve menekan keningnya dengan kekuatan yang cukup keras. Situasi ini benar-benar membuatnya kesal.
"Ada apa, Steve?" Lyana, sang istri, memijat bahu suaminya, berusaha mengendurkan otot-ototnya yang kaku.
"Bella masih belum cukup dewasa! Dia ingin pergi dari tempat yang kutentukan!" Padahal Steve telah mempertimbangkan segalanya, dan tempat yang Mic miliki adalah perlindungan yang paling potensial.
"Mungkin dia memiliki alasan tertentu kenapa dia ingin pergi! Sudahkah kau berkomunikasi dengannya dengan baik?" Lyana tahu betul bagaimana karakter suaminya. Steve dominan, keras kepala, dan sering kali keputusannya sulit ditentang. Hal-hal inilah yang membuat seseorang merasa dikendalikan olehnya, yang pastinya tidak terlalu nyaman.
"Dia terlalu manja! Tidak tahu apa yang baik dan buruk!" Steve bersandar dengan santai, menikmati pijatan istrinya dengan sepenuh hati. Suatu keberuntungan dia memiliki istri sebaik Lyana. Dengan karakternya yang keras kepala dan suka mendominasi, Lyana cukup kuat menghadapi dan mengimbangi Steve.
"Bella sebenarnya cukup masuk akal. Mungkin kau hanya kurang berkomunikasi. Cobalah berkompromi dengan adikmu sekali-kali! Mungkin jika Bella dibujuk dengan lebih halus, dia bersedia menerima dengan baik, tidak lagi memberontak dan memprotesmu!" Lyana mengingatkan, merasa sedikit bersimpati dengan adik iparnya.
"Biarkan saja Bella untuk saat ini! Aku tak memiliki banyak waktu mengkhawatirkan kepribadiannya. Sekarang aku sedang fokus menyelidiki seseorang dengan inisial L ini!" Steve mengerutkan kening, tampak tak nyaman setiap kali membahas si peneror.
"Belum ada perkembangan masalah ini?" tanya Lyana, wajahnya menunjukkan ekspresi khawatir yang nyata.
Gosip si L sudah merebak ke mana-mana. Tapi tampaknya orang itu seperti belut. Jejak dan gerakannya sangat licin, sulit ditangkap. Polisi telah bergerak. Steve bahkan menyewa detektif swasta dan beberapa tenaga profesional untuk menyelidiki. Bukannya petunjuk keberadan L ditemukan, malah korban lain yang diduga terkait Si L muncul lagi. Ini seperti sengaja memancing amarah masyarakat dan lembaga hukum.
Mungkinkah si L ini memiliki semacam dendam juga pada pihak polisi sehingga sengaja mempermainkannya? Seperti seekor kucing yang menggoda tikus untuk main-main.
"Belum. Tapi dengan besarnya sumber daya yang polisi dan badan hukum kerahkan untuk mencari keberadaannya, pasti hanya masalah waktu saja pelaku itu ditemukan! Kita memiliki kekuatan hukum yang baik. Seharusnya kasus seperti ini bisa dituntaskan!" Steve berspekulasi.
"Ya. Aku tahu hukum kita termasuk kuat dan bertindak cepat. Apalagi ini sudah masuk dalam sorotan pemerintah pusat! Hanya saja, Steve, dalam beberapa kasus, meskipun kepolisian kita kuat, selalu ada satu atau dua tersangka yang mampu mengelabui bukti dan lolos dengan baik! Kita harus tetap waspada!"
Lamanya proses pencarian si L membuktikan jika orang itu memiliki kemampuan yang baik untuk menutupi jejak dan mengaburkan bukti. Orang-orang seperti itu biasanya masuk dalam kategori penjahat profesional.
Steve dan Bella tak boleh melonggarkan kewaspadaan.
Di tempat lain, Bella yang baru saja gagal membujuk kakaknya untuk pindah tempat tinggal, berbaring nelangsa di atas ranjang, ingin menangis tanpa air mata.
Tidak ada hal yang lebih menyakitkan dari seorang adik kecuali mendapati kakak yang paling ia andalkan ternyata tak cukup mempercayainya. Dengan cara apalagi Bella mampu meyakinkan Steve? Apakah jika Bella benar-benar menjadi korban pembunuhan Sreve baru percaya? Sial sekali hidup Bella.
Bella menatap langit melalui kaca jendela, mengagumi bulan yang berbentuk setengah lingkaran dengan cahaya kelembutan samar. Mungkinkah nasibnya sekarang seperti bulan? Memiliki sinar untuk berharap pada diri sendiri, tanpa satu pun bintang yang berusaha menemani.
"Menyedihkan!" Bella merutuki nasibnya sendiri. Teringat dengan bayangan Mic yang menakutkan, Bella bergidik ngeri, ketakutan dan kecemasannya semakin menjadi-jadi.
Bella menutup tirai jendela, menambahkan kembali kursi kayu di belakang pintu sebagai penahan di belakang meja, dan membaringkan tubuhnya di ranjang lagi, masih tak bisa menghilangkan rasa was-wasnya yang mengganggu.
Malam ini adalah malam paling lama yang Bella jalani sepanjang hidupnya. Dia hampir tak tertidur sama sekali. Hanya sesekali memejamkan mata sekilas saat tak bisa menahan kantuk yang terlalu kuat. Lagi pula, kekhawatiran dan kecemasan yang ia rasakan terlalu besar menghadapi hasrat kantuknya.
Hasilnya, pagi hari, Bella memiliki lingkaran besar di kedua matanya. Bella menatap bayangannya di cermin, bertanya-tanya apakah dia berubah menjadi zombie yang mengerikan dalam semalam. Matanya kuyu, wajahnya pucat, bibirnya tak memiliki warna sama sekali.
Lenyap sudah kecantikan dan kesempurnaan yang ia puja-puja. Jika Cindy dan Cinthya melihat penampilannya saat ini, bisa dipastikan mereka akan pingsan di tempat.
Terdengar ketukan mendadak di pintu. Bella menyipitkan mata, punggungnya tegang dalam sekejap.
"Bella!" Suara Mic memanggilnya dari balik pintu.
…