Takut

1216 Words
Saat seseorang jatuh dalam kepanikan, sering kali ia melakukan sesuatu yang tidak seharusnya. Emosi menjadi lebih kacau, tak terkontrol, di luar kendali. Begitu juga dengan Bella. Didasari keinginan untuk menjauh dan melarikan diri, Bella menggerakkan kaki dengan tak terkontrol, menabrak dinding dapur, dan nyaris jatuh di sisi pintu, berhasil membuat keributan besar di ruangan yang sebelumnya cukup stabil. Mic menoleh ke arah Bella, sebelah matanya memancarkan cahaya gelap yang suram, sementara tangannya masih sibuk membersihkan darah melalui pancuran air. "Hal bodoh apa yang kaulakukan di sini?" Mata Mic menyipit membentuk garis lurus, rahangnya yang keras tampak kaku karena menahan amarah atas gangguan Bella yang tak diharapkan. "Aku …." Bella kehilangan fokus untuk menjawab. Kali ini Mic telah selesai membersihkan tangan, sehingga ia bisa menghadap ke arah Bella secara penuh. Semua hal hilang dari pikiran Bella. Saat ini, yang ada dalam pikirannya hanyalah penampilan Mic yang berdarah, noda merah gelap di ujung kemeja dan celana denimnya yang tampak jelas. Tak ada luka sama sekali di tubuh Mic. Ini saja sudah menunjukkan noda darah yang Mic miliki berasal dari objek lain. Atau mungkin, orang lain. Hal kedua itulah yang sempat terlintas dalam pikiran Bella. "Aku tak terlalu suka melihat wajahmu. Tapi kau sering muncul di depanku. Apakah salah satu pekerjaanmu adalah membuatku semakin kesal dan marah?" Bella berusaha mundur lebih jauh, tapi langkahnya terhenti saat ia menyadari punggungnya sudah bersinggungan dengan dinding, tak bisa lagi bergerak ke mana-mana. Sebenarnya masih ada ruang untuk bergeser ke kanan atau ke kiri, tapi melihat d******i Mic, Bella merasa seluruh sendinya membeku dalam sekejap. "Jika kau tak suka, aku akan bersembunyi!" Bella bertekad akan sesedikit mungkin menampakkan dirinya di hadapan Michael. "Oh ya? Apakah janji dari wanita dangkal sepertimu bisa dipercaya? Kau hanya mengandalkan tubuhmu untuk merayu orang-orang di sekelilingmu, merayumu dengan sorot mata yang mengundang, kemudian menginjak harga diri laki-laki dengan angkuh! Wanita sepertimu seharusnya dibiarkan saja menghadapi bahaya!" Ada kebencian yang dalam yang terkandung dalam kata-kata Michael. Dari sini Bella mengambil kesimpulan Mic adalah lelaki paranoid. Amy bilang istrinya dulu adalah wanita kota yang sangat menawan dan modis. Entah bagaimana bisa wanita seperti itu jatuh dalam pesona Mic—mungkin EQ wanita itu perlu dipertanyakan—pernikahan mereka pasti telah memberikan semacam trauma bagi Mic. Di sinilah Bella hadir. Dia model, modis, cantik, dan berasal dari kota metropolitan. Bukankah penampilannya manifestasi dari mantan istri Mic? Mengingat bagaimana mantan istri Mic meninggal dalam pembunuhan yang dicurigai dilakukan oleh Mic, Bella mengambil kesimpulan Mic pasti sangat membenci wanita itu. Kini, Bella datang dengan identitas yang tak jauh berbeda dari mantan istrinya. Mudah bagi Mic mengalihkan kebencian yang terpendam pada mantan istrinya kepada Bella. Melihat Bella pasti membuat Mic diingatkan kembali dengan fase hidup yang paling ia benci. Kini, dihadapkan pada Bella, Mic pasti menyamakan diri melihat mantan istri yang tak diharapkan. Sevana telah meninggal, sehingga kebencian Mic mungkin tak tersalurkan. Atau jika Mic benar-benar membunuhnya, bisakah itu dianggap penyaluran emosi? Entahlah. Bella sendiri tak bisa menganalisis dengan baik. Yang jelas, saat ini Bella hidup, memiliki latar belakang yang pastinya tidak disukai Mic, dan tak memiliki kekuatan menolak kebencian Mic. Itu saja sudah membuat Bella seperti korban paling tepat sasaran. Nasib Bella seperti berdiri di atas seutas tali. Satu gerakan saja salah, dia akan jatuh. Mungkin dalam tragedi yang menakutkan. "Mic, aku Bella Shancez. Aku memiliki prinsipku sendiri dan memiliki batas moralitas!" Bella setengah putus asa meyakinkan Mic. Dia tak tahu lagi harus berkata apa. Dia ingin mengingatkan Mic jika ia adalah Bella Shancez, bukan mantan istri yang mendapat banyak kebencian. Dia tidaj sama dengan Sevana, oke? Wajah Bella pucat, napasnya tak teratur. Untuk seorang wanita yang tak pernah ditekan seseorang seperti ini, Bella merasa ketakutannya lebih besar dari amarahnya. Mungkin sebelumnya ia cukup berani meneriakkan bantahan dan kata-k********r pada Mic. Namun, setelah mendengar rumor buruk Mic dari Amy, logika Bella bekerja lebih baik. Dia memiliki semacam ketakutan dan rasa krisis dalam menghadapi Mic, sehingga tindakan dan kata-katanya cukup hati-hati. Mendengar ini, bukannya kemarahan Mic mereda, tapi justru semakin berapi-api. Tatapan pembunuh di matanya semakin kuat, membuat Bella tak berani menarik napas dengan bebas. Udara terasa lebih berat dari sebelumnya, seolah-olah ada beban berat tak kasat mata yang menimpa dadanya. Beberapa tahun yang lalu, Sevana, istri Mic, pernah mengatakan hal yang serupa. "Hentikan kecurigaanmu, Mic! Aku adalah orang yang memiliki prinsip dan integritas. Mustahil aku melakukan hal-hal menjijikkan!" Namun, takdir membalikkan kata-kata Sevana. Tak berapa lama kemudian, kalimat yang Sevana katakan tak ubahnya omong kosong belaka. Sekarang, mendengar kata-kata yang serupa dari Bella, berhasil membangkitkan kebencian Mic berkali-kali lipat. Wanita adalah makhluk yang diciptakan dengan tingkat kemunafikan yang tinggi. Melihat perubahan ekspresi Mic yang semakin suram, Bella seperti jatuh dalam danau es di musim dingin. Dia ingin membujuk Mic dengan hati-hati, tetapi tinju Mic memukul dinding di sisi Bella terlebih dahulu. Bella berteriak histeris. Dia menatap kepalan tangan Mic yang berdarah karena memukul dinding di sisinya, sementara tangan yang lain mengurung Bella dengan angkuh, seolah-olah menjadikan Bella target hidup yang menyedihkan. Detak jantung Bella berdegup lebih kencang, keringat dingin membasahi punggungnya yang tegang. Mata Bella melirik ke arah tangan Mic yang mengepal, kemudian mengalihkan pandangannya pada leher Mic yang sejajar dengan arah pandangnya. Otot-otot leher Mic mengencang, rahangnya kaku, dan giginya menggertak beberapa kali. Tanpa sadar, tangan Bella bergetar, menekan dinding kayu yang kini terasa dingin. Cahaya lampu dapur yang sebelumnya tampak lembut, terasa mengandung teror. "Wanita sepertimu adalah wanita munafik." Tuduhan itu disampaikan dengan lirih, terkontrol, tetapi mengandung kebencian yang dalam. Ujung jari Mic yang kapalan mengelus lembut rahang Bella, bergerak turun ke leher, persis di bagian paling vital di mana jalur pernapasan berada, seolah-olah siap menekan bagian itu kapan saja. Tubuh Bella semakin gemetar. Dia merasakan tempat yang disentuh Mic terasa dingin, seperti sentuhan malaikat maut yang bersiap menjemput sang korban. Wajah Bella yang selalu cerah dengan sentuhan kemerah-merahan, kini pucat pasi, tak ada warna sama sekali. Rambut pirang pendeknya tampak kusut, membingkai wajahnya yang berbentuk hati. Bella benar-benar menahan napas, mencoba menganggap apa yang sedang terjadi sekarang hanyalah adegan sekilas yang akan segera berlalu. Namun, semakin ia meyakinkan diri, semakin ia menyadari kebohongannya sendiri. Aura kejam dan hadsrat pembunuhan yang Mic bawa terkesan mencengkeram kuat, memenjarakannya. Bella memejamkan mata, tak lagi berani mempertahankan penglihatannya. Dia mengantisipasi rasa sakit yang sebentar lagi akan datang. Tapi setelah sekian lama berlalu dan rasa sakit yang ia antisipasi tak kunjung datang, Bella memberanikan diri membuka matanya kembali, langsung bersirobok dengan mata Mic yang kelam. "Merepotkan!" Mic berbalik pergi, meninggalkan Bella seorang diri. Setelah kepergian Mic, Bella mematung di tempatnya berdiri cukup lama, tanpa sedikit pun bergeser ke samping. Napas Bella yang sebelumnya sempat tertahan kini berkejar-kejaran seperti pelari maraton. Bella menatap dapur yang kosong, tak menyangka Mic akhirnya memilih untuk pergi melepaskannya. Setelah Bella mengumpulkan cukup tenaga, ia segera berjalan cepat ke kamar, mengunci pintu kamar, dan menambahkan meja berukuran satu meter di belakang pintu. Berharap ini mampu memberikan tambahan perlindungan untuknya. Tangan Bella gemetar. Tubuhnya masih shock karena menahan ketegangan menghadapi Mic. Sangking tegangnya Bella, dia bahkan lupa alasan awalnya datang ke dapur. Sepertinya ingin minum sesuatu, tetapi sekarang Bella tak lagi memiliki selera untuk apa pun. Setelah emosi Bella mulai normal, dia meraih ponsel, menghubungi kakaknya dengan gesit. Kali ini kondisi jaringan cukup baik sehingga panggilan ini langsung diterima Steve dalam hitungan detik. "Steve! Mic hampir membunuhku. Tolong aku, Steve!" …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD