Kabar dari Asisten

1228 Words
Malam ini Mic tidak pulang, entah dia ada di mana. Bella tak ingin tahu dan tidak berani mencari tahu. Namun, sebagai akibatnya, dia harus menasak sendiri untuk makan malam. Kebetulan hari ini Bella berbelanja banyak. Tidak sulit baginya untuk menghangatkan sarden dan membuat telur dadar. Setelah seperempat jam berlalu, Bella menatap dua telur dadar berwarna kehitaman di atas piring. Kening Bella berkerut. Dia meyakinkan dirinya sendiri, penampilan bukanlah segala-galanya. Banyak yang terlihat buruk tapi ternyata memiliki nilai tinggi, termasuk telur dadar buatannya. Setelah Bella mencoba satu suap dan langsung memuntahkannya ke tempat sampah, dia akhirnya menyadari penampilan adalah petunjuk utama dalam makanan. "Tidak apa-apa, ini hanya terlalu asin!" Bella mencoba menghibur diri sendiri. Dia hanya memasukkan sedikit garam, tetapi tampaknya yang ia pikir "sedikit" ini ternyata berubah menjadi sebaliknya saat disatukan bersama telur. Dengan enggan, Bella menggoreng lagi. Kali ini dia tidak memberikan garam sama sekali sebagai perlindungan diri. Dia tak terlalu yakin dengan ukurannya sendiri dalam menambahkan bumbu. Lebih baik tidak menggunakan saja. Hasilnya, dua telur dadar dengan penampilan hitam yang lebih parah dari sebelumnya tersaji di atas meja. Bella mencoba memaksa diri memakannya. Bisa dibilang pahit, tetapi ini lebih baik dari sebelumnya yang terlalu asin. Akhirnya, Bella menghabiskan dua telur dadar dan sedikit sarden sebagai pengganjal perut malam ini. Bella sekarang tahu apa artinya menderita karena makanan. Setelah makan, Bella berjalan menuju bak cuci piring, membasuh alat makan dengan canggung, mengulanginya lagi saat merasa ragu belum sepenuhnya bersih, dan mendesah lega saat akhirnya selesai dengan tugas ini. Yah, ini cukup merepotkan. Kenapa Mic sialan itu tidak menggunakan mesin cuci saja? Apakah dia sangat anti dengan perkembangan jaman? Dua kuku Bianca yang dipoles kutek berwarna merah tampak retak ujungnya, menunjukkan tanda-tanda rusak. Bella sakit hati. Beberapa hari saja di tempat ini sudah membuat standarnya akan penampilan tercerai berai. Dia kemudian menatap kakinya hati-hati, mendapati ujung kakinya mulai tampak pecah-pecah. "Sial!" Bella merutuk. Dia harus segera mencari cream pelembab kaki untuk menghilangkan gejala ini. Mungkin ini karena efek musim panas yang terlalu ekstrem di sini, sehingga kakiya kering dan pecah-pecah. Bella berjalan menuju kamar, mencari beberapa kosmetik dam cream perawatan khusus untuk merias wajah dan kulitnya. Dengan enggan, Bella memotong ujung kukunya yang retak, hati-hati menghaluskannya dengan permukaan lembut menggunakan bagian belakang alat pemotong kuku. Setelah itu dia juga mengoleskan cream khusus untuk kakinya, mengaplikasikan masker khusus wajah, kemudian berbaring di atas ranjang dengan santai. Bella melirik pintu kamar, memastikan telah terkunci dengan sempurna, kemudian menghela napas lega. Sejak ia mendengar rumor terkait Mic dari Amy siang tadi, Bella memiliki semacam kewaspadaan pada Mic. Hanya Tuhan yang tahu apakah rumor itu benar atau tidak. Namun, tidak ada salahnya untuk waspada. Sebagai orang yang berakal sehat, Bella perlu mengambil keputusan yang masuk akal. Saat Bella merasakan kantuk yang mulai datang perlahan, ada panggilan masuk dari Cinthya, sang asisten, yang merupakan sepupu Cindy. "Bella, bagaimana kabarmu? Aku berusaha menghubungimu tadi tapi gagal beberapa kali!" Cinthya mengeluh dengan nada sedikit manja. Cinthya sangat berbeda dengan sepupunya. Jika Cindy dikenal tegas dan keras, maka Cinthya kebalikannya. Lembut dan manja. "Mungkin gangguan jaringan. Di sini terkadang jaringannya tak terlalu baik!" Bella menjelaskan. "Ya Tuhan. Kau hidup di hutan mana sehingga jaringan saja mengalami kesulitan." Cinthya mengeluh dengan suara yang lemah dan tak berdaya. "Aku benar-benar merindukanmu, Sayang! Kau tahu, saat kau pergi, aku merasa berubah menjadi pengangguran yang tak berharga!" "Aku tak bisa menyebutkan tempat ini. Tapi bisa dikatakan ini sangat jauh berbeda dengan D.C." Tentu saja berbeda. Bella ada di kota kecil di mana penduduknya masih banyak mendandalkan mata pencaharian di peternakan dan ladang, sementara Cinthya berada di kota metropolitan di mana semua hal ada, tersia, dan mudah didapatkan. Bagaimana kedua hal tersebut bisa sama? "Baiklah baiklah. Aku tahu. Aku harap kau tak terlalu lama di sana!" Sebagai asisten Bella, Cinthya merasa seperti anak ayam kehilangan induk tanpa kehadiran Bella. "Bagaimana kabar si L? Apakah polisi telah menemukan perkembangan baru terkait kasus ini?" tanya Bella hati-hati. "Polisi masih bergerak, tapi belum ada perkembangan lebih jauh. Tampaknya si L ini memang sangat sulit ditemukan. Dia seperti tahu bagaimana langkah polisi selanjutnya sehingga ia membuat persiapan diri!" Cinthya mendesah panjang, tampak prihatin. "Berada di tempatmu sekarang adalah solusi yang terbaik!" Terbaik? Bella sendiri tak yakin. Selama ia berada satu atap dengan Mic, ia rasanya selalu was-was dan waspada setiap saat. Bukankah ini sama saja serangan mental? "Bella, ada satu lagi kasus pembunuhan. Ini juga seorang model." "Siapa? Apakah aku tahu?" "Luisa Martin!" Bukannkah dia model yang baru saja naik daun dan memiliki banyak daftar endorse di tangan? Bella tercengang, tak tahu harus berkata apa. "Hanya ada sedikit petunjuk tentang kematiannya Tapi aku mendengar bocoran dari beberapa orang tampaknya kematian Luisa ini terkait si L." Cinthya berkata dengan hati-hati. "Kapan kematiannya? Kenapa aku tidak melihat pembaruan berita?" "Kemarin siang. Keluarganya tampaknya menutupi hal ini, tapi beberapa media mulai mengendus hal ini. Beberapa media digital telah menerbitkan ulasan tentang kematiannya. Tapi pernyataan langsung dari keluarganya belum diadakan secara resmi sampai sekarang, jadi kabar ini belum meledak!" Lagi pula, keluarga mana yang suka mempublikasikan kematian orang tercinta yang diakibatkan pembunuhan? "Media adalah senjata tajam yang sulit dihindari. Mau tak mau sebentar lagi kabar tentang Luisa pasti akan viral dan diketahui publik. Lingkungan modelling sudah banyak yang tahu hal ini. Hanya masalah waktu saja semua ini akan terungkap sepenuhnya!" Bella mengangguk, kemudian menyadari gerakannya terlalu cepat sehingga menghancurkan masker wajahnya, dan membentuk retakan kecil. Bella mengusap lembut wajahnya, hati-hati dalam bergerak. "Informasi yang kaubawa benar-benar membuatku takut, Cin! Tahukah kau?" Bella menenangkan hatinya, dalam hati tak tahu bagaimana bisa si L ini sengaja membuat banyak riak di lingkungan modelling. Mungkinkah dia orang yang memiliki suatu dendam di masa lalu? "Aku mendapat bocoran informasi satu lagi. Kau bukan satu-satunya model yang mendapat ancaman dari si L. Aku dengar ada model lain asal Brazil yang mendapat hal serupa." "Siapa?" "Aku lupa namanya. Hehe. Tadi aku mendengar nama itu, tetapi sulit kuhapal!" Terdengar rasa bersalah dari Cinthya. "Yang jelas, aku dengar dia juga mengambil tindakan sepertimu. Pergi untuk bersembunyi sementara. Sebagian orang menebak dia kembali ke Brazil, sebagian lagi membuat spekulasi pergi ke tempat-tempat lain. Yah, siapa yang bisa menebak pasti di mana dia berada?" "Tampaknya si L ini semakin berani." "Itulah kenapa pihak polisi semakin mengerahkan sumber daya untuk mencari si L lebih serius lagi. Kau harus baik-baik di sana, Bella! Nikmatilah hari-harimu yang penuh dengan kebebasan! Ya Tuhan, aku lupa. Aku memiliki janji makan malam dengan sepupuku. Sudah dulu, Bella. Aku mencintaimu!" Sambungan berakhir. Bella menatap layar ponsel di hadapannya, tak tahu lagi harus bagaimana menyikapi kabar dari asistennya. Tampaknya Cinthya benar. Berada di tempat ini adalah hal baik untuk saat ini. Hanya saja, membayangkan Mic, jantung Bella rasanya mencelos dalam sekejap. Dunia tampaknya akan semakin indah tanpa orang-orang seperti Mic. Dan tanpa si L, tentunya. Setelah berbaring beberapa waktu di ranjang, Bella bangkit mencuci wajahnya, dan turun ke lantai bawah untuk membuat s**u untuk menghangatkan tubuhnya sebelum tidur. Langkah Bella berubah menjadi lebih berhati-hati saat melihat lampu dapur hidup dengan cahaya keemasan. Ada suara air menyala dari bak cuci. Semakin mendekati dapur, semakin Bella merasa tak nyaman. Saat ia akhirnya tiba di dapur, Bella melihat Mic berdiri membelakanginya, sibuk mencuci tangannya di bak cuci. Air yang mengalir berwarna merah. Di ujung kemeja dan celana denim Mic ada noda darah, dengan bau anyir yang kuat. Bella membeku, tanpa sadar menahan napas. Jantungnya seperti dipukul keras. Mic dan darah. …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD