Cerita dari Amy

1111 Words
"Bisakah kau menceritakan apa yang kauketahui padaku?" Bella menatap jarak antara tempatnya berdiri dengan kediaman Mic yang cukup jauh. Ia kini berdiri di dekat bangku besi di bawah pohon rindang, di sisi jalan yang lengang. Amy menyentuh leher Catty dengan lembut, menggodanya beberapa kali hingga kucing itu berguling-guling senang, kemudian menatap Bella dengan serius. "Aku mendengar beberapa hal di masa lalu, tapi aku sendiri tak bisa menjamin kebenaran dari apa yang kudengar! Kau tahu, bukan? Terkadang rumor bisa tidak objektif." Bella mengangguk, mencoba menyetujui, meskipun dalam hati berpikir kekuatan rumor biasanya dikaitkan dengan petunjuk yang ada. Dari situlah rumor memiliki peluang kebenaran yang cukup besar. "Amy, aku belum memperkenalkan diriku. Aku Bella Shancez, kau bisa memanggilku Bella." Tak ingin terkesan cuek, Bella mencoba menunjukkan identitasnya. "Bella. Nama yang bagus! Duduklah di sampingku, Bella. Biarkan orang tua ini menceritakanmu sesuatu!" Amy yang melihat Bella masih berdiri, menunjuk ke bangku di sisinya yang segera ditanggapi Bella dengan baik. Wanita itu duduk seperti murid teladan di sisi Amy, sepasang matanya yang besar menatap Amy dengan jejak keseriusan. "Rumahku berjarak sekitar lima puluh meter dari sini. Jadi bisa dibilang aku cukup dekat dengan kediaman Mr. Navaro!" Amy kemudian mendekat, setengah berbisik. "Itulah mengapa aku bisa tahu dengan cepat rumor yang beredar! Yah, sebenarnya ini juga bukan hal rahasia! Hampir semua orang tahu rumor ini! Tapi percayalah, info yang aku dengar cukup kredibel dan lebih banyak dari yang lain!" Lagi-lagi Bella mengangguk, mengagumi daya gosip wanita tua itu. Sebagai orang yang baru pertama kali bertemu, bisa dibilang Amy sangat terbuka. Dia adalah orang pertama yang bersedia membuka mulutnya tentang rumor Mic. Karena inilah Bella sangat menghargainya. "Katakan padaku, Amy!" "Ah kau ini terlalu tak sabar, Nak! Catty, bermainlah di sini sebentar. Biarkan aku berbincang dengan wanita cantik dulu!" Amy menepuk kepala Catty yang lembut. Kucing itu seolah tahu apa yang dikatakan Amy, sehingga ia segera berlari senang mengejar serangga di sisi jalan. "Mic pernah menikah dengan wanita bernama Sevana Cortlight. Dia wanita yang mengagumkan, kau tahu? Baik dari penampilan maupun karakter. Pernikahan mereka awalnya baik-baik saja, tapi kemudian mulai terjadi pertengkaran. Puncaknya tujuh tahun yang lalu, Sevana ditemukan meninggal. Orang terakhir yang berhubungan dengan Sevana adalah Mic!" Amy mulai bercerita. Bella yang memahami garis besar cerita, mengerutkan kening dalam-dalam. "Apakah itu artinya Mic yang melakukan tindakan kriminal menghabisi nyawa istrinya sendiri?" tanya Bella hati-hati. "Beberapa petunjuk mengarah ke Mic. Ada saksi juga yang mengatakan dia melihat Mic dan Sevana bertengkar malam itu. Posisi Mic saat itu hampir ditingkatkan dari status saksi menjadi tersangka. Tapi kemudian, kasus itu tidak selesai. Hakim bilang karena kurangnya bukti, Mic tak bisa diseret sebagai tersangka. Tapi hanya Tuhan yang tahu apa yang sebenarnya terjadi di belakang layar!" Dunia hukum dan politik itu terlalu rumit. Benar dan salah sering kali menjadi abu-abu. Semuanya tergantung kekuatan dan koneksi seseorang. Sekalipun statusnya kritis, jika seseorang mampu menyewa pengacara handal dan membawa banyak kekuatan di belakangnya, peluang untuk lolos dari jerat hukum sangat besar. Keadilan di dunia tidak sepenuhnya adil. Hukum di dunia tidak sepenuhnya terealisasi. Banyak hal yang hanya menjadi topeng saja. "Asal kau tahu, Sherif wilayah ini adalah teman dekat Mic. Dan hakim wilayah memiliki hubungan yang baik dengan Mic. Selain itu, Mic memiliki cukup kekuatan dan koneksi untuk … kau tahu sendiri, bukan, mengakali hukum. Itu istilahnya." Amy mengedipkan matanya, menunjukkan di belakang kasus Mic, ada variabel lain yang turut menggerakkan keputusan hakim saat itu. "Jadi meskipun beberapa petunjuk menyudutkan Mike, tapi ia dibebaskan. Dia tidak menanggung identitas kriminal, tetapi siapa yang dapat mempercayai hal itu dengan membabi buta? Jed, satu-satunya saksi yang memberatkan Mic, tiba-tiba ditemukan meninggal. Satu lagi mulut yang bungkam!" Dengan semua tanda-tanda itu, orang-orang membentuk opini sendiri. Meskipun Mic bersih secara hukum, tapi di mata masyarakat, mereka yang mampu berpikir rasional akan melabeli Mic sebagai tersangka. "Kita hidup di negara maju. Tapi hukum tidak selalu menjamin keadilan. Di mana pun itu, selama ada kekuasaan dan ambisi seseorang, hukum masih bisa dibeli dan ditransaksikan!" Amy mendesah prihatin, tak berdaya dengan keadilan yang menurutnya belum terealisasi seratus persen. Hidup memang seperti itu. Selama ada tujuan, kepentingan, dan kekuasaan, maka selalu ada konspirasi di dalamnya. Dalam hal apa pun. Bella yang mendengar penjelasan Mic menatap langit siang dengan sorot mata yang rumit. Ekspresi wajahnya sulit ditebak. Dia menggosokkan telapak tangannya secara ritmis, seolah-olah berusaha mengembalikan ketenangan diri. "Kau membuatku tak nyaman kembali ke rumah Mic, Amy!" Bella mendesah panjang, tak tahu apakah ia harus bersyukur atau menyesali penjelasan Amy. Pantas banyak orang yang menatapnya dengan ekspresi simpati dan empati setiap kali mereka tahu Bella berada di kediaman Mic. Orang-orang itu pasti teringat dengan kasus yang terjadi di masa lalu terkait kematian Sevana. "Ada penginapan lain yang cukup bagus. Atau jika kau mau, aku bisa menyewakan kamar untukmu selama beberapa waktu. Cucu dan anak-anakku jarang berkunjung. Sering kali aku sendirian di rumah!" Amy menawarkan keramahannya pada Bella. Di mata Amy, Bella tampak seperti wanita rapuh yang butuh perlindungan. "Tidak memungkinkan untuk saat ini!" Jika Bella pindah, Mic pasti menghubungi Steve. Bisa ditebak akhirnya akan seperti apa. Steve pasti akan murka karena dianggap tidak melakukan apa yang dia minta. Menurut Steve, Mic adalah orang yang paling mampu melindunginya saat ini. Satu-satunya cara untuk keluar dari kediaman Mic adalah membujuk Steve. Hanya saja dengan kepala batu kakaknya, Bella tak terlalu yakin kapan ia bisa berhasil. "Bagaimana bisa tidak mungkin? Mungkinkah kau kesulitan keuangan?" Amy bertanya prihatin. Di jaman yang serba mahal ini, banyak orang terjebak dalam masalah ekonomi yang berlarut-larut. "Tidak. Ada beberapa alasan lain untuk itu!" Bella tak siap untuk menceritakan segalanya saat ini. Tentang teror yang ia hadapi dalam karirnya, tentang perlindungan yang ia butuhkan, dan tentang identitas dirinya sebagai model. "Kau wanita yang baik, Bella. Aku hanya berharap kau cukup pintar mengambil keputusan. Jika kau butuh penginapan lain atau bantuan-bantuan kecil, datanglah ke tempatku!" Amy kemudian menjelaskan lokasi tempat tinggalnya lebih detail, untuk memudahkan Bella menemuinya. "Terimakasih, Amy. Kau sungguh wanita yang baik!" Keramahan wanita itu yang tercermin dari tindakannya membuat Bella tersentuh. Mereka baru pertama kali bertemu, tetapi Bella mampu menangkap ketulusan Amy yang lugas dan apa adanya. "Kau juga wanita baik. Itulah sebabnya aku memperingatkanmu! Kau bisa menilai sendiri apakah penjelasanku benar atau tidak. Tapi kusarankan, kau harus waspada sedini mungkin. Penyesalan selalu ada di belakang. Jangan sampai kau mengalaminya!" Amy mengingatkan. "Terimakasih, Amy. Kau sangat membantu dengan penjelasanmu!" "Ini bukan apa-apa. Ini sudah siang. Aku harus segera membawa Catty pulang! Jangan lupa, Bella! Datanglah ke tempatku jika kau bosan atau butuh bantuan!" Amy mengingatkan Bella lagi, sebelum akhirnya dia bergegas pergi bersama Catty yang kini ternoda debu di bulu-bulu lembutnya. "Sekali lagi, terimakasih, Amy." Bella tersenyum pada wanita itu, menatap punggung Amy yang semakin lama semakin jauh. …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD