"Kamu hamil dan gak kasih tahu aku? Kebohongan apa lagi yang kamu sembunyiin Luna?" Luna menepis tangan Nathan lalu menutupi tubuhnya dengan handuk. "Maaf, aku gak bermaksud berbohong. Tapi, aku cuma ragu untuk mengatakannya." "Apa maksud kamu?" "Kamu pikir aku harus apa? Suamiku gak mencintai aku, dan mungkin gak menginginkan anakku." "Astaga, Luna. Dia anakku kan? Gimana mungkin aku gak menginginkannya?" Luna memalingkan wajahnya, enggan melihat Nathan, dia hanya takut melihat keraguan di wajah Nathan. "Aku benar-benar mencintai kamu," ucap Nathan dengan wajah frustasi. Ternyata dia masih belum bisa meyakinkan Luna tentang perasaannya. Luna menunduk. "Aku cuma takut. Takut kalau perasaan kamu hanya sesaat, atau kamu mengatakannya karena bayi ini?" Nathan meremas rambutnya frustasi

