“Tante, baso tahu tulen sama loteknya satu, ya. Dae kamu udah?”
Dae masih sibuk memindai daftar menu. Dae menggigiti belah bibir bagian bawahnya, begitu menyadari olahan yang tersaji semuanya mengandung kacang-kacangan. Sesungguhnya Dae teramat ingin mencicipinya, tetapi dia tidak mau berakhir menyedihkan. Lantaran kacang mampu membuat paru-parunya bagai menciut ke ukuran jempol alias sesak. Pasrah, Dae pun memilih satu-satunya hidangan tanpa kacang yang terjual di sana.
“Rujak cuka,” sahut Dae sambil menegakkan punggung.
“Itu aja? Nggak mau mesen makan?”
Dae menggeleng. “Nggak Bang. Makanannya ada kacangnya semua.”
Aroo mengangguk singkat lantas menyampaikan tambahan termasuk minuman es teh bagi ketiganya. Waktu urusan pesan-memesan selesai, mereka berdua duduk di satu meja yang telah diisi Kenji. Kenji tak ikut memesan tadi.
“Kamu kaum anti kacang-kacangan gara-gara takut jerawatan atau—“
“Alergi,” sambung Dae. “Buruk banget, dikit aja bisa langsung bikin aku bengep. Padahal kacang itu enak banget.”
Dae menceritakan salah satu kisah bagaimana ia nyaris mati karena kebodohannya memakan kacang sebab penasaran akan rasanya, Aroo tertawa. “Kamu memang berani banget,” candanya di sela-sela tawa. “Berani ngelawan maut cuma gara-gara rasa penasaran.”
Dae nyengir tiga jari. Cengirannya lalu dirobohkan oleh komentar seseorang yang duduk di seberang meja, berhadapan dengan Aroo. “Lebih tepatnya bego,” katanya. Garis matanya yang setajam elang menyorot lurus pada iris si gadis. “Kamu tahu hal itu bisa aja ngebunuh kamu, tapi kamu tetap lakuin. Kayak yang dulu pernah saya bilang, curiosity killed the cat. Kamu benar-benar cerminan nyata perumpamaan itu.”
Kemudian Dae menopangkan dagunya di atas kedua talapak tangannya yang dia satukan bagai bunga kembang. Sembari menyematkan senyum tipis Dae membalas, “Kayak yang pernah aku bilang juga. I'm not a cat. I'm a lion and it won't be easy to kill a lion.” Dae melebarkan senyum, menatap Kenji yang tetap bergeming di sana. “Buktinya, aku masih bernapas, kakiku masih napak di bumi yang artinya aku bukan hantu dan aku masih hidup.”
“Kamu cuma beruntung,” bantahnya. “Setiap manusia punya stok keberuntungan masing-masing. Kalau stok itu habis, maka habis. Nggak bisa diisi ulang kayak kacang di toples. Kalau kamu ngelakuin hal bodoh lagi setelah itu, nobody could help you, except yourself. Dan kita nggak akan pernah tahu kapan stok keberuntungan itu habis.”
Dae terdiam sejenak, mencerna penuturan pemuda itu. Lantas mendadak dia menegakkan tubuhnya sambil memukul meja setengah heboh. “Oh ngerti sekarang.” Senyumnya bertransformasi menjadi seringai kejahilan. “Jadi gini cara Kak Kenji bilang khawatir?”
Kenji menjengit tercengang. Bibirnya terpilin lantas tertarik ke dalam garis lurus. Bahunya terkedik. “Terserah kamu mau nganggepnya gimana.” Lalu pemuda itu memalingkan muka.
Dae cengengesan sedangkan Aroo terbahak keras. Barangkali akan masih begitu apabila wanita paruh baya pemilik kedai tidak datang menginterupsi, mengantarkan pesanan ketiganya sekaligus. Mengucapkan terima kasih, Dae, Kenji, dan Aroo pun memulai acara makan-makan.
Dae menyantap rujak cukanya dengan lahap. Sudah lama dia tak menikmati jajanan khas Bandung ini. Rasa kuah cuka yang asam dipadukan dengan rasa pedas serta manis teresap pada lidahnya dengan apik. Ditambah segarnya buah-buahan yang dipotong kecil-kecil membuatnya tak bisa berhenti mengunyah. Tidak sampai rungunya menangkap lontaran kalimat Aroo.
“Tapi kalau dilihat-lihat, kalian berdua cocok tahu.”
Dae kontan menoleh ke samping kirinya. Kunyahannya berhenti, dan kelopak matanya mengedip-ngedip cepat. Menelan sisa buah di mulutnya, Dae menyurakan tanya, “Cocok? Maksudnya cocok apa?”
“Cocok pacaran lah.”
Dae tercengang. Memelototkan bola mata.
“Cocok bukan jaminan bisa bersama.”
Dae langsung tersedak kala kalimat berikutnya datang dari Kenji, melintasi gendang telingannya. Rasanya perih sekali sebab ada cairan yang terasa pedas memasuki hidungnya lalu tenggorokan, membuatnya sedikit sukar menghirup oksigen. Dae buru-buru menyedot es tehnya heboh, berharap itu manjur untuk melegakan organ dalamnya. Selama itu Dae memerhatikan Kenji. Pemuda itu tampak kalem bin tenang menikmati baso tahu tulennya.
“Pelan-pelan Dae.” Dae menoleh pada Aroo yang cuma tersenyum.
Dae mengangguk singkat. Dalam hatinya mengerang kesal. Apa coba maksud Kak Kenji ngomong gitu?!
*
Behind the scripts
Ketika Aroo dan Dae sedang sibuk memesan makanan. Kenji mencari tempat duduk, setelah sebelumnya menitip pesanan ke Aroo. Manik mata si pemuda memaku pada gadis itu. Gadis yang mengenakan kemeja berukuran oversize miliknya. Kenji dan dia tak memiliki perbedaan tinggi yang begitu jauh. Barangkali hanya terpaut sepuluh sentimeter. Namun tetap saja, kemeja itu adalah ukuran bagi laki-laki apalagi ditambah postur tubuh mereka yang jauh berbeda. Bahu Kenji lebar sementara si gadis berbahu kecil, seperti perempuan asia kebanyakan. Lengan Kenji berotot padat sementara si gadis, Kenji yakin hanya seluas genggam tangannya. Jangan tanya lagi bagian perut. Walaupun Kenji tak buncit, tetapi perutnya jelas tidak lansing bak cekungan pada badan gitar seperti si gadis. Semua hal tersebut membuat gadis itu tampak tenggelam dalam kemeja itu. Bukan sesuatu yang buruk, sebab di penglihatan Kenji, gadis itu persis layaknya bocah yang memakai baju ayahnya.
Gemes. Benaknya diam-diam berbisik.
Kemudian, begitu Aroo dan Dae berbalik. Melenggang mendekat. Kenji buru-buru mengalihkan pandangan.