Para anggota Mapala Mandara Giri menyebutnya, lab anggrek.
Di atas tanah di belakang gedung fakultas seni rupa, berdiri rumah lindung seluas lapangan voli yang dikelilingi oleh paranet. Belasan meter tidak jauh dari sana, papan panjat tebing milik Mapala Mandara Giri yang baru mereka dapatkan lima tahun terakhir menjulang tinggi.
Maka dari itu, setiap harinya akan ada anggota Mapala yang merawat tanaman di sana. Jadwal tersebut akan berganti setiap bulannya. Dan hari sabtu ini adalah gilirannya, bersama Aroo. Sesungguhnya masih ada tiga orang lagi, tetapi mereka berhalangan hadir. Jadilah, hanya mereka berdua. Itu pula berarti sabtu minggu depan Kenji tidak perlu datang ke sana lagi sebab mereka yang tak hadir hari ini lah yang mengambil tanggung jawabnya. Begitu lah perjanjiannya.
Kenji meraih kunci lab anggrek ke kantong celananya. Tidak sengaja jari-jarinya menyentuh kertas, yang lalu ikut dia tarik ke luar. Kenji menatap kertas tersebut, teringat kemarin saat di perpustakaan dia mendapatkannya. Kertas itu masih di sana tentu saja, sebab Kenji mengenakan celana yang sama dengan yang kemarin. Kertas itu juga lecek, habis akibat remasannya.
“Surat iseng lagi?”
Kenji menoleh ke samping tempat Aroo berada. Kenji mengulum bibirnya lalu berujar sarat keraguan sambil menyerahkan surat itu pada Aroo, memintanya membaca isinya. “Menurut, Bang Aroo. Apa itu bener-bener cuma iseng aja?”
Aroo menelusuri kertas kecil di tangannya sebentar sebelum berkata, “Aku tahu kamu nggak suka topik ini. Soal rumor-rumor kutukanmu itu.” Aroo diam sebentar guna memerhatikan raut Kenji yang tak berubah sedikit pun. Satu hal yang membuat Kenji teramat nyaman berada di dekat Aroo adalah, Aroo tak pernah membahas apa pun perihal stigma kutukan tersebut. Dia berteman dengan Kenji seolah-olah segalanya memang senormal itu. Tak ada rumor dan t***k bengeknya. Kendati Kenji biasanya memang acuh terhadap desas-desus yang menyangkut dirinya, tetapi tetap saja sesuatu dalam diri Kenji pasti ada yang terusik. “Aku mikir, mungkin ada orang di luar sana yang manfaatin itu buat nakut-nakutin kamu pakai surat-surat begini. Yah entah itu iseng atau bukan.”
“Tapi kenapa?”
“Ada lebih dari seribu kemungkinan alasan, Ji. Kalau kita tahu, nggak mungkin kan kita berasumsi kayak gini.” Aroo menepuk bahu Kenji. “Udah. Kita pikirin itu nanti lagi. Sekarang kita punya kerjaan yang harus kita selesaiin.”
Aroo merebut kunci lab anggrek dari Kenji dan langsung membukanya. Mendahului Kenji yang masih tercenung di sana. Detik berikutnya, Kenji melemparkan surat itu ke dalam tong sampah di dekat pintu masuk. Enggan memusingkannya lebih jauh.
*
“Pakai dulu kemeja saya. Beha polkadotmu keliatan.”
Butuh kurang lebih semenitan lengan Kenji memgambang di udara. Menunggu si gadis meraih pemberiannya. Dae menerimanya dengan gerakan kaku, senyumnya terlihat dipaksakan. “Oh, i—ya. Makasih, Kak.”
Kenji mengangguk sekenanya. Kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda. Ekor matanya tanpa dia perintah bergulir memerhatikan setiap gerakan Dae yang tengah memakai kemejanya. Gerakan gadis itu sungguh kaku bagai mainan manusia kayu. Kemudian kala Dae memalingkan muka pada Kenji, buru-buru pemuda itu memfokuskan diri pada tanaman di hadapannya.
Dae mencolek lenga Kenji, maka dia menoleh. Senyuman Dae dia temukan, walaupun tak selebar biasanya. “Makasih loh, Kak. Kemejanya.” Dae menyodorkan sebuah tote bag cokelat. “Padahal niatnya aku mau ngembaliin jaket yang kemarin aku pinjem.”
Kenji meraih tote bag itu. “Maaf ya, Kak. Aku nggak tahu itu punya Kak Kenji. Aku kira itu punya Randu. Jadi main pake aja deh. Tapi tenang, jaketnya udah aku cuci, kok. Pake kembang. Jadi aman udah bersih cling kinclong seperti tanpa jaket.”
“Nggak apa-apa, kamu nggak tahu. Lagian kalau kamu minta izin minjem pun bakalan tetap saya kasih. Kamu lebih perlu. Seharusnya saya yang yang minta maaf. Udah bikin baju kamu basah.”
Dae meringis pelan. “Salahku juga sih. Dateng tiba-tiba. Kak Kenji kaget, ya?”
“Iya. Tiba-tiba ada di belakang saya. Kayak hantu.”
“Mana ada hantu secantik aku,” gurau Dae.
“Banyak kok hantu cantik,” tukas Kenji santai sambil kembali menyirami bunga.
“Jadi menurut Kak Kenji aku cantik?”
Kenji menoleh. Memandangi wajah oval si gadis beberapa saat. Ada bayangan hitam yang menghiasi kelopak bawah, mata Dae. “Kamu perempuan. Ya, kamu cantik.”
“Kak Kenji bisa aja. Kakak-kakak ku malah sering ngeledek kalau aku buluk.”
Kenji mengedikkan bahu tak acuh. “Artinya kakak-kakakmu bohong.”
Terdengar tawa kecil mengudara. Kenji menoleh lagi memerhatikan Dae yang tampaknya kegelian. Walaupun bingung, mengapa dia tertawa padahal baginya tak ada satu pun hal yang lucu. Kenji tak mempertanyakannya.
Lagi pula gadis itu memang mudah tertawa. Kenji beranggapan begitu, dan diam-diam sesuatu dalam dirinya menyukai hal tersebut.
“Dae? Di sini? Ngapain? Bukannya sekarang bukan jadwalmu?”
Kemunculan Aroo menghentikan alunan tawa itu. “Ngembaliin jaket Kak Kenji yang nggak sengaja kepinjem kemarin.”
Aroo menatapi Kenji dan Dae secara bergantian. Air mukanya kentara sekali tengah kebingungan sebab kemeja Kenji berpindah. “Itu kemejanya, Kenji ‘kan?”
“Iya. Dipinjemin Kak Kenji. Bajuku basah, tadi nggak sengaja kena semprot air.”
Sementara keduanya sibuk berbincang-bincang. Kenji menarik diri untuk menggulung kembali selang yang digunakannya setelah sebelumnya aliran air sudah dia matikan. Kendati demikian, rungunya tetap aktif mendengarkan setiap aksara yang saling terlontar antara Aroo dan Dae.
“Masih ada kelas?”
“Nggak kok, Bang. Hari ini cuma ada satu kelas pengganti.”
“Kalau gitu ikut kita aja. Habis ini kita mau nyari makan keluar. Mau nggak?”
“Boleh?”
“Boleh lah.” Aroo melarikan pandangan ke sudut tempat Kenji berjongkok menyimpan peralatan. “Gimana, Ji. Boleh ‘kan?”
Kenji menoleh sebentar. Menatap Dae sedetik yang matanya dipenuhi binar-binar harapan. Sunggingan di sudut bibirnya tercipta samar. Lantas kembali berpaling pada Aroo sembari mengangguk singkat diikuti gumaman persetujuan.
Begitu segala urusan Kenji dan Aroo dengan lab anggrek selesai. Mereka bertiga berjalan beriringan ke tempat tujuan. Selama perjalanan, Kenji selalu membuat langkahnya lebih lamban dua pijakan dari Aroo dan Dae. Sesekali matanya akan dia larikan ke punggung yang tertutupi rambut panjang bergelombang itu. Memerhatikan Aroo dan Dae yang tampak sangat akrab.
Kenji tahu ada jenis perasaan yang menumbuhi hatinya untuk si gadis. Namun setiap kali kesadaran selalu menyentaknya menuju penyesalan yang selama ini menggerogotinya.
Kenji tak bisa melangkah lebih jauh untuknya.