Hari ini hari sabtu.
Semestinya Dae tidak memiliki kesibukan perkuliahan apa pun pada hari ini. Namun berhubung salah satu mata kuliahnya dipindah ke hari itu, mau tidak mau Dae harus berangkat ke kampus. Merelakan waktu luangnya yang lazimnya dia gunakan untuk bergerumul bersama alat-alat pewarna dan segala t***k bengeknya.
"Anak saya sebenarnya sudah tujuh orang. Tapi ya, begitu sudah pada dewasa. Sudah punya dunia masing-masing."
Dae menghela napas untuk yang keseratus kali.
"Rumah jadi sepi. Saya sama istri saya pun kesepian. Kangen sekali waktu anak-anak masih pada bocah bau kencur yang sering nyemplung ke got gara-gara kejar-kejaran." Pak Sukanta—nama dosen itu—tertawa sendiri. Menyelami lautan nostalgia.
"Makanya, saya sama istri saya putusin buat punya anak lagi. Untung istri saya masih kuat. Padahal umurnya lebih tua dari saya tiga tahun, loh. Luar biasa memang istri saya. Tidak salah dulu saya memilih menikahinya." Pak Sukanta mengelap busa-busa yang berkumpul di ujung bibirnya lantaran terlalu banyak bicara, menggunakan sapu tangan kotak-kotak merah yang selalu dia bawa. "Sekarang anak saya udah delapan. Kalau dibanding orang-orang zaman dulu itu mah belum seberapa. Masih normal delapan anak. Saya ini anak ketiga belas dari lima belas bersaudara. Ya memang begitu, banyak anak banyak rejeki."
Dae memutar bola mata hiperbolis. Ya kalau orangnya sultan, ekonomi mumpuni, punya anak tiga puluh juga nggak apa-apa. Terus, kalau ekonomi pas-pasan? Mau makan aja kudu banting tulang dari pagi ke pagi. Mau dikasih makan apa anak segitu? Yang ada malah mereka kekurangan gizi. Dewi batinnya berkomentar tak setuju.
"Jadi. Kalian mau punya anak berapa nanti kalau sudah menikah? Satu? Lima? Lima belas."
Pak Sukanta mengumandangkan tawa atas pertanyaannya sendiri. Sedangkan Dae mati-matian menahan diri agar tak mendengkus.
*
"Kang," panggil Dae ke seorang penual minuman dekat kampus.
Kang Centok yang sedang bersiap-siap di hadapan kamera ponselnya pun menoleh cepat sambil meletakan ponselnya. "Iya, Neng? Es cendol?"
"Satu ya, Kang." Kang Centok mulai meracik pesanan Dae. "Oiya, Kang. Dari tadi Randu ada mampir ke sini nggak, Kang."
Sejauh pengetahuan Dae, Randu adalah pelanggan nomor wahid warung Kang Centok. Jadi kemungkinan besar Kang Centok pasti tahu namanya, kan?
"Randu? Eta Randu yang rambutnya mirip Rhoma Irama?"
Dae tertawa. Tidak menyangkal sebab perkataan Kang Centok tidak salah. "Iya. Ada nggak, Kang?"
"Ohh...." Kang Centok meraih ponselnya sebentar. "Belum, Neng. Si Randu mah biasanya dateng... hmm... semenit lagi." Kang Centok memberikan es cendol pesanan Dae.
Dae tidak mengerti apakah Randu memang sesering itu datang ke warung Kang Centok. Sampai-sampai, tepat seperti informasi yang Keng Centok lontarkan tadi. Pemuda itu betul-betul muncul semenit setelahnya. Dae dibikin takjub karenanya.
"Kang, kayak biasa, ya."
"Siap, Mas." Kang Centok menyahut mantap.
"Oy, Rhoma Irama."
Randu menoleh pada Dae diikuti kernyitan. "Ngapain kamu di sini?"
"Lagi nyalon," tukas Dae asal. "Sok sibuk banget sih kamu. Dari kemarin chat ku nggak di bales."
Randu beralih meraih ponselnya. Mengecek apakah ucapan Dae barusan benar adanya. "Oh. Sorry. Ketimbun chat grup."
"Ye." Dae menyerahkan tote bag cokelat yang berisikan jaket kulit Randu pada empunya. "Nih. Aku mau balikin jaket yang kemarin. Untung aku tau kalau kamu tuh bocah pengabdi kampus, jadi nggak susah lah ya nemuin kamu." Dae mengedikkan dagu. "Tuh udah aku cuciin sampe kinclong. Dan ya, makasih."
Randu mengulas senyum jahil. "Wow. Jadi selama ini kamu merhatiin aku, sampe tau kalo aku pengabdi kampus."
"Idih." Dae bergidig. "Bukannya merhatiin. Nggak ada kerjaan banget aku merhatiin kamu. Kegiatan kamunya aja yang monoton. Gampang banget ditebak."
"Kegiatan sebanyak itu kamu bilang monoton?"
"Iya. Karena dari kegiatan sebanyak itu, kamu selalu nyempetin mampir beli es cendol Kang Centok. Garis bawahi selalu."
Randu meraih es cendol yang Kang Centok ulurkan. "Cendol tuh surga dunia."
"Dasar lebay."
Randu merengut tak terima. "Emang bener, kok." Randu menyeruput minumannya. "Nih ya. Nanti aku ada rencana bisnis es cendol sambil ngisi waktu luang."
Randu mengintip isi tote bag. Lantas berujuar, "By the way. Ini tuh bukan jaketku."
"Oh. Kalau gitu jaketnya Kang Centok?"
Randu menyentakkan kepala. "Bukan. Ini jaket Aa ku. Kemarin aku udah coba ngasih tau. Tapi kamu ngacir duluan."
Dae memicingkan mata, menatap Randu. "Aa kamu?"
"Iya."
"Aa kamu berarti Kak Kenji?"
"Secara terpaksa harus aku akui manusia nyebelin itu orangnya."
Dae ternganga. Lantas memukul keras pundak Randu. "Kok nggak bilang sih!"
"Adow. Sakit. Santai dong," ringis Randu sambil mengusap-usap hasil kekejaman Dae. "Salahmu sendiri pas aku mau ngasih tahu, udah ngacir duluan."
Dae memajukan bibir. "Kan kemarin kamu yang bawa jaketnya."
"Emang kalo aku yang bawa. Itu artinya punyaku gitu? Nggak, kan?"
Dae mendecak. Rasa malu yang kemarin sudah memudar akibat pesan tak terduga yang Kenji kirimkan. Kini malahan menyerangnya lagi, berlipat-lipat ganda. Sudah kepergok tembus olehnya dan sekarang Dae tahu kenyataan bahwa pemilik asli jaket tersebut adalah Kenji. Terlebih-lebih dia main menggunakannya saja tanpa ada konfirmasi pada Kenji, justru hal itu dia lakukan pada Randu. Ya, mau bagaimana lagi. Dae pikir jaket itu milik Randu lantaran sebelumnya Dae melihat Randu yang membawanya.
Baiklah. Sebagai gantinya Dae akan mengembalikan jaket itu melalui tangannya sendiri. Sambil menekan rasa malu, sebab Dae harus bertanggung jawab.
"Loh. Ngapa diambil lagi?"
Tak Dae hiraukan kebingungan Randu. "Kang, es cendolku di bayarin Randu, ya."
"Ett. Mana bisa kayak gitu."
"Bisa lah. Anggap aja itu upah karena aku udah nyuciin jaketmu yang ternyata bukan punyamu. Kamu pikir air di rumahku gratis? Maaf, tapi aku nggak tinggal di hutan yang sumber airnya bisa langsung ke sungai."
Setelah memuntahkan rentetan aksara tersebut. Dae melenggang pergi.
"Woy! Dae! Nggak bisa kayak gitu dong! Jaketnya 'kan bukan punyaku!"
Dae berbalik sejenak untuk memeletkan lidah tanda mengejek.
Biarin. Siapa suruh bikin aku tambah malu.
*
Prediksi Dae seratus persen terbukti benar.
Kenji sedang berada di lab anggrek Mapala Mandara Giri.
Beruntung lah Dae lantaran mengingat siapa saja hari ini yang bertugas untuk merawat belasan spesies anggrek di sana. Kenji adalah salah satunya. Kala Dae memasuki rumah lindung yang di kelilingi paranet tersebut, hanya ada dua orang dari total lima orang yang seharusnya bertugas. Yakni Kenji dan Aroo. Aroo tengah sibuk memberi pupuk anggrek sedangkan di sisi lain Kenji tengah menyiram bunga-bunga tersebut, menggunakan selang yang tersambung dengan keran di sudut rumah lindung.
Sejemang, Dae terpaku menyaksikan perawakan Kenji yang tegap dari belakang. Tubuhnya dibaluti kemeja hitam yang lengannya tergulung, tidak lupa rambutnya tercepol ke atas. Surai-surai pendeknya yang berlarian ditiup angin membuatnya dominan terlihat bagai aktor iklan ketimbang petani anggrek.
Dae menggeleng-geleng takzim. Bagaimana mungkin seseorang bisa tampak sangat menarik padahal dia hanya memegang selang dan mengarahkannya ke bebungaan? Tidak, bahkan Dae pikir frasa menarik terlampau sederhana bila digunakan untuk mendeskripsikan Kenji detik itu.
Menyampingkan perasaan terkesimanya. Dae menarik tungkai kakinya pelan mendekati Kenji. Begitu sampai di belakang Kenji, Dae hendak mengeluarkan suaranya tetapi pemuda itu terlebih dahulu berbalik secara mendadak. Apa yang terjadi setelahnya dapat tertebak. Dae sukses tersemprot air yang membuat bagian depan pakaiannya basah. Kenji terkejut bukan main, langsung mengarahkan moncong selang ke samping.
Tindakan pertama yang Dae lakukan yaitu, mengibas-ngibaskan tangannya pada pakaiannya. Berharap dengan demikian akan mengurangi kadar air di sana.
"Maaf. Saya nggak sengaja."
Dae mendongak. Otaknya tidak lagi bisa bekerja normal kala melihat Kenji melepaskan kemejanya sehingga kini cuma menyisakan kaos putih yang bertengger di tubuhnya. Lebih-lebih, pemuda itu kini justru menyodorkannya pada Dae.
"Pakai dulu kemeja saya. Beha polkadotmu keliatan."
Rasa-rasanya aliran darah Dae membeku seketika. Rungunya menggemakan setiap huruf yang melayang dan berbaris rapi membentuk satu kalimat.
Beha polkadotmu keliatan....
Dengarkan ini baik-baik. Dae rela membayar berapa pun—asalkan masih pas untuk kantong mahasisiwi seperti dirinya—bagi siapa pun yang mau memusnahkannya jadi serpihan partikel detik itu juga.
Dae lupa kalau dia mengenakan kemeja putih.
Kemudian sepertinya, Dae memerlukan sumbangan berton-ton urat malu.
Malangnya lagi. Kutang polkadot merahnya telah terekspos ke mata laki-laki yang bukan keluarganya.