DUA BELAS

932 Words
Kenji melangkah membawa novel, kembali ke mejanya. Saat mulai melanjutkan bacaan, terlebih dahulu dia simpan surat tadi ke dalam genggamannya supaya tak ada yang melihat. Lalu dahinya mengernyit menyadari Dae yang melongokkan kepala ke arah novelnya. "Kamu ngapain?" "Baca." Dae menjawab tanpa memandang Kenji. Matanya fokus bergulir mengikuti aksara. "Kenapa nggak cari buku lain?" "Maunya baca ini." Kenji mengembuskan napas panjang, lantas sebelah tangannya bergerak mendorong kepala si gadis. “Awas. Kepala mu ngehalangin saya.” Dae menampilkan cengiran, kembali ikut fokus pada bacaan. Sementara Kenji bersusah payah mencoba tak menghiraukan presensi Dae. Namun aroma  buah stroberi yang berasal dari rambut Dae, yang berada di bawah hidungnya membuatnya merasa tak karuan dan sukar untuk fokus. Beruntung hal tersebut tidak berlangsung lama, sebab dae sudah menarik kepalanya lagi di menit kedua. "Kayaknya aku memang nggak ditakdirkan buat punya hobi baca novel deh." Kenji meliriknya sedetik. Gadis itu tampak mengerjap-ngerjapkan mata lantas memijat pelan kelopak matanya yang terpejam menggunakan telunjuk. "Baca tulisan tok sebanyak itu. Nggak ada gambar apa pun bikin kepalaku puyeng. Bener-bener acungan jempol buat orang-orang yang bisa mantengin itu seharian. Aku mungkin memang cuma bakalan bisa baca buku cerita bergambar si kancil." Dae mendongak menatapi Kenji. Diamati sedemikian rupa, mau tak mau Kenji menoleh. Membuatnya matanya menubruk manik yang tampak jernih itu. "Lain kali, aku pinjemin Kak Kenji bukunya, deh. Ada gambar kancilnya, lucu-lucu imut gitu. Gemesin kayak, Kakak." "Kamu jauh lebih imut daripada saya." Tiba-tiba suara batuk kering terdengar tepat setelah Kenji berkata demikian, di susul celetukan. “Ohok. Aa nggak salah bilang dia imut? Yang ada dia tuh lebih mirip Mak Lampir. Nggak ada imut-imutnya sama sekali.” Dae langsung melayangkan delikan pada Randu. “Apa sih. Nggak usah ikut-ikutan. Kera dilarang bicara. Batas suci.” Kemudian Dae melintangkan tangan antara Kenji dan Randu. Seakan-akan tengah mencipta sekat imjiner di sana. Sedangkan di sisi lain, Kenji mengamati si gadis. “Menurut Aa dia imut.” Kenji mengedikkan bahu. Mengabaikan bagaimana Dae seketika membeku di buatnya. Randu melongo, dan Aroo yang diam-diam memerhatikan tersenyum tipis. “Dari dulu selera mu memang payah, Randu.” Dae cuma tersenyum lebar menanggapinya. Tidak tahu harus bagaimana lagi. Dia yakin kini pipinya pasti sudah di jalari sapuan-sapuan merah muda. Sejurus kemudian si gadis bangkit. Berpamitan pergi. Entah mengapa rasa-rasanya Dae tidak tahan lagi kalau harus berlama-lama berdiam diri di sana. Yang ada nanti dia bisa matang seketika. Melenggang menjauh. Pandangan Kenji mengikuti gadis itu tanpa di perintah, hingga matanya menemukan sesuatu yang sedikit menganggu penglihatannya. "Dae?" Dae berbalik. "Iya, Kak? Kenapa?" "Kayaknya kamu tembus." Atas rangkaian kata yang Kenji lontarkan. Dae membatu. Pelan-pelan pipinya di rambati hawa panas. Sementara Randu dan Aroo yang juga ikut mendengarnya, memelototi Kenji. "O-oh." Dae meraih jaket di atas meja. "Randu aku pinjem jaket mu yah?" "Eh. Tapi—" "Tenang aja. Aku janji jaket mu bakalan aku cuci pakai kembang tujuh rupa. Oke makasih." Dia ikatkan lengan jaket ke pinggulnya, terburu-buru. Kemudian berlalu sembari menyeret temannya. "A—" "Nggak apa-apa. Dia lebih butuh jaketnya sekarang." "Bukan itu." Randu berujar menahan geram. "Aa seharusnya nggak bilang hal itu keras-keras tadi." "Kenapa? Aku cuma mau ngasih tau." "Aa ku sayang. Bagi kebanyakan cewek, ketahuan tembus itu bisa bikin mereka malu banget. Apalagi ketahuannya sama lawan jenis. Cara Aa ngasih tahu tadi, secara nggak sengaja bikin dia jadi pusat perhatian dan bikin dia tambah malu." Kenji mengedikkan bahu, tampak tak peduli. Walaupun diam-diam benaknya mengulang rentetan frasa yang adiknya lontarkan. "Aku cuma ngasih tau," tukasnya, lagi. "Hadeh. Gubrak." Sedangkan Aroo tertawa tanpa suara menyaksikannya, seraya geleng-geleng kepala. Kenji mengabaikan semua itu, ia membuka kepalan tangannya yang menyimpan sebuah kertas yang ia temukan di dalam lipatan novel yang dipinjamnya. Dear, Darling  Hama pengganggu itu sudah menjauhi mu bukan? Pekerjaan ku tidak sia sia  Ingat. Jaga diri mu dari sentuhan hama-hama lainnya, Darling. Kamu tidak bisa melakukannya? Tenang saja, aku akan melakukannya untuk mu seperti biasanya.  Bersabarlah, Darling. Tidak lama lagi aku akan menjemput mu untuk hidup bersama di keabadian. Hanya kita berdua. * Tanpa membuang-buang waktu, Dae langsung pulang selepas kejadian yang membuat dirinya ingin menenggelamkan diri ke dasar palung paling dalam. Saking malunya. Padahal tidak lama dari itu, Dae masih memiliki kelas yang akan segera mulai. Persetan dengan kelas, dia sudah kepalang malu. Rumah dalam keadaan sepi begitu Dae sampai. Gadis itu segera membersihkan diri, dan setelah semua urusan kewanitaannya selesai. Dia cepat-cepat memasuki kamar, membanting tubuhnya ke atas kasur. Berguling-guling acak, sampai-sampai seprainya berantakan dan bantalnya terlempar ke ubin. Dae mengutuk kebodohannya. "Ih. Mama malu banget! Kepergok tembus sama kating!" teriaknya frustrasi. Suaranya teredam sebab kepalanya terbenam ke kasur. Hingga kemudian denting notifikasi dari ponselnya menyita perhatiannya. Dengan tampang masam menahan malu, Dae meraih benda elektronik tersebut. Tidak tanggung-tanggung Dia langsung terlonjak diikuti bukaan maksimal bola matanya, begitu melihat nama yang tertera di layar pratinjau. Kenji Dae hanya mengenal satu orang dengan nama tersebut. Tidak lain tidak bukan adalah si kakak senior mapala yang tadi baru bertemu dengannya di perpustakaan kampus. Dae membuka pesan tersebut. Kenji : Ini saya. Kenji Cettrasena, anak mapala  Kenji : Bener ini linenya Daedalion Ranjani? Dae baru saja hendak mengetikan balasan, kala pesan berikutnya muncul. Kenji : Kayaknya memang bener. Foto profilnya mirip.  Kenji : Lusa kamu ada waktu luang? Dae melongo membacanya. Serta merta gawainya merosot dramatis dari genggamannya. • Catatan Penulis. Hai kawan-kawan. Jangan lupa tap love, komen, dan share cerita ini ke teman-teman kalian, ya. Aku bakal sangat mengapresiasi itu^^ Oiya. Kenji memang begitu orangnya. Kalau mau ngehina atau muji memang selalu seblak-blakan itu. Makanya nggak dikit orang yang gedeg sama dia sekaligus baper.wkwk. Kalau kalian ada di posisi Dae di puji begitu, apa yang bakal kalian lakuin? Apa lagi abis di puji eh, langsung ketahuan tembus. Share dong pendapat kalian^^  Nantikan terus update an cerita ini ya. Ceriooooo next^^
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD