Kenji mematikan motornya begitu mereka sampai di depan rumahnya, Dae masih memeluknya erat dari belakang.
“Kita udah sampai.” Tepat setelah Kenji berkata demikian, barulah Dae melepaskan pelukannya. Ia segera turun dengan kikuk. Agak merasa malu dengan apa yang baru saja ia lakukan. Tak tahu harus mengatakan apa. Ia pun cuma mengekori Kenji memasuki sebuah bangunan minimalis sesudahnya. Keluarga Kenji menyambut Dae dengan hangat, membuat Dae bisa perlahan melupakan insiden beberapa saat yang lalu.
"Pretty, mau minum apa? Jangan sungkan-sungkan, anggap aja rumah sendiri. Mau minta makan juga boleh. Kenji jago masak loh. Nanti dia bisa masakin buat kamu. Tinggal request, makanan jadi,” tawar Uttari ketika mempersilakannya duduk.
"Iya. Kenji jago karena kecil dulu sering pisan, bantuin Tante di dapur."
Dae baru hendak menyahut, tetapi Uttari lebih cepat menyambar. "Nggak usah bangga, deh lo Mayang. Kenji juga sering bantuin gue masak dulu sebelum pindah ke sini."
"Iya, Teh Uut. Aku teu maksud apa-apa. Cuma mau ngasih tahu Dedel itu aja."
Dae seketika mengernyitkan dahi. Dedel? Dedel teh saha? Benaknya kebingungan. Saat yang bersamaan dengan penuturan Mayang, Kenji duduk di sofa tunggal. Sementara dirinya berada di sofa panjang diapit dua wanita paruh baya. Kemudian. Selama semenit Dae cuma mampu terduduk awkward bin canggung di antara dua wanita paruh baya yang tengah beradu argumen. Segalanya lantas terasa makin buruk sebab Kenji yang duduk di sana menyorot ke arahnya—entah Dae yang terlalu gede rasa dengan mengira bahwa Kenji menatapnya di saat justru memerhatikan Mama-Maminya.
"Ya... ya. Whatever apa kata lo lah, Mayang." Uttari kembali pada Dae dengan pandangan yang sepertinya coba dia buat seramah mungkin. Pun nada suaranya tak seketus yang tadi. Namun pada kenyataannya itu semua sia-sia. Dae sudah pernah bilang bukan, kalau Uttari termasuk jenis-jenis manusia pemilik resting b***h face."Jadi, pretty. Mau minum apa?"
"Es teh aja boleh, Kak." Bagus. Dae masih ingat untuk memanggil Uttari demikian.
"Mantap. Tante teh juga suka ngeteh."
Seperti biasa, Uttari mengomentari perkataan Mami tiri Kenji itu. "Lebay, deh lo Mayang. Semua orang juga suka kali minum teh."
"Bukannya Teh Uut pernah bilang waktu aku lagi minum teh mun teh itu nggak gaul." Resonansi suaranya cenderung mengejek.
"Memang. Terus kenapa? Nggak berarti gue nggak suka teh 'kan?" balasnya sewot. "Makanya Mayang dengerin nasehat gue. Sekali-sekali suruh si kaku ono buat ngajak lo piknik biar isi kepala lo nggak sempit-sempit amat. Jangan daleman orang lain doang yang diurusin."
"Teu nanaon, Teh. Eta kan memang kerjaannya Kang Daud."
Uttari berdecak. "Hadeh. Susah emang ngomong sama lo."
Tak menghiraukan kalimat Uttari barusan. Mayang berpindah mengonfirmasi pembuatan minuman. "Oke, Dedel. Tante buatin dulu es tehnya, ya."
"Makasih, Tante. Tapi itu, anu... namaku Dae. Daedalion. Bukan Dedel. Tapi kalau Tante mau panggil Dedel juga nggak apa-apa, kok." Dae buru-buru menambakan di akhir kalimat guna mencegah kesalah pahaman.
Mayang menepuk kening. "Walah. Maaf ya, sayang. Namamu susah banget di ingat. Bikin lidah keseleo." Tawa kecil malu-malu Mayang mengudara.
"Nggak apa-apa, kok Tante. Dedel juga boleh."
"Halah. Lo-nya aja yang kampungan. Namanya, pretty nggak susah tuh. Cuma Daa—siapa tadi, pretty?"
"Daedalion, Tan—eh, Kak."
"Iya, Daedalion. Gampang gitu."
"Teteh ngaku aja. Teteh juga nggak ingat 'kan? Makanya manggil Dedel 'pretty' terus."
"Nggak tuh. Gue manggil gitu karena emang sesuai buat si pretty."
"Iya deh. Apa kata, Teh Uut aja," tandasnya sebelum melenggang pergi.
Uttari membiarkan Mayang menjauh begitu saja. Dia berpaling pada Dae seperti hendak mengatakan sesuatu, tetapi terhenti sebab ekor matanya tak sengaja jatuh pada presensi Kenji yang duduk kalem di sofa tunggal. Uttari langsung menyimpul senyum, membuka mulut. "Kamu duduk dulu di sini, pretty. Kakak harus nyusulin si Mayang ke belakang." Uttari bangkit. "Kenji kamu temenin si pretty ya, sweetheart." Tanpa menunggu konfirmasi Kenji. Wanita itu langsung beranjak, mengikuti jejak Mayang.
Ada hening selama beberapa detik setelah Uttari menghilang dari tengah-tengah mereka. Dae memanfaatkannya guna menelusuri lemari kaca yang terdapat di ruang tamu, penuh dengan berbagai piala untuk Randu, serta Kenji. Dinding ruangan tersebut juga digantungi oleh beberapa piagam penghargaan untuk salah satu anggota keluarga. Semuanya didominasi oleh nama Randu. Dae tak heran sama sekali.
"Mama-Mami Kak Kenji memang tinggal satu rumah di sini?" Dae menjatuhkan pandangan pada Kenji yang saat itu juga tengah menatapnya.
"Mama di Jakarta. Kadang-kadang kita memang selalu luangin waktu untuk kumpul kayak gini."
"Keren." Mata Dae berbinar takjub. "Jakarta lumayan jauh loh. Padahal zaman sekarang nggak sedikit orang yang nukar waktunya sama keluarga buat kenikmatan pribadi."
"Setiap orang punya prioritasnya masing-masing."
Dae mengangguk-ngangguk. "Dan prioritas utama bagiku itu keluarga. Nggak ada yang tahu kapan waktu bisa bikin mustahil bagi kita supaya bisa kumpul sama keluarga yang utuh—ih, ya ampun. Itu Kak Kenji waktu kecil?" Dae langsung mengalihkan topik pembicaraan—sebab entah mengapa topik tadi membuat tenggorokkannya tercekat hanya untuk melontarkan sebaris frasa—dengan berseru setengah heboh. Menunjuk ke sebuah figura yang di dalamnya memuat sesosok bocah pendek ringkih berkulit gelap. Bocah laki-laki tersebut mengenakan setelan bergambar tokoh kartun Teletabies, tangannya berpose membentuk huruf V kaku. Hal itu membuatnya teringat akan Kenji waktu di mal tempo hari. Sama persis.
"Iya," sahutnya kalem. "Nggak usah diliatin terus."
Dae menampilkan cengiran. "Kenapa? Kan lucu." Dae beranjak mendekati meja yang tempat foto tersebut berada. Seperti dapat membaca pikiran Dae, pemuda itu bertindak lebih cepat meraih foto tersebut. "Kok diambil. Aku kan mau lihat."
Kenji kembali duduk di sofa. Menyembunyikan fotonya di balik punggung. "Saya nggak izinin kamu buat ngeliat lebih lama."
Dae cemberut sesaat sebelum sedetik kemudian seringai jahil terbit di bibirnya. Dia mendekati Kenji, sesuatu dalam dirinya terkikik geli melihat raut Kenji yang mendadak menegang tetapi coba dia kontrol.
"Kamu... ngapain?"
"Mau lihat foto."
"Saya udah bilang nggak boleh!" cegahnya sewot.
"Kenapa?"
"Masih tanya kenapa?"
"Yaudah." Dae mengedikkan bahu acuh. Detik berikutnya menerjang Kenji, berusaha merebut foto tersebut. Namun pemuda itu lihai berkelit serta bertahan. Jelas saja, tenaga Kenji lebih besar. Sejujurnya, ada banyak foto masa kanak-kanak Kenji terpampang di situ. Akan tetapi yang satu itu lah yang paling menarik perhatian Dae dari semuanya. Dalam foto tersebut Kenji tampak menggemaskan dengan setelan teletabis serta tubuh yang di penuhi lumpur.
Hingga kemudian pemuda itu menghentikan tangan Dae yang menggerayang hendak merebut foto tersebut dengan cara mencengkram pergelangan tangan Dae kuat—sesuatu yang lantas membuat tubuh Dae tersentak dan berakhir jatuh di d**a Kenji. Dae terkejut bukan kepalang, sampai-sampai jantungnya hampir mencelos ke perut. Tubuhnya membeku seketika dan pikiran abstrak, ditambah embusan napas Kenji yang memburu yang menerpa puncak kepalanya membuat segalanya bertambah buruk. Dalam posisi menempeli d**a Kenji bagai anak kera yang menggelayuti induknya, indra penciuman Dae di sesaki oleh aroma kayu cendana.
Lantas setelah beberapa saat tenggelam pada aroma memabukan tersebut, sebuah deham menarik paksa kesadarannya yang tadi melalang buana. Buru-buru Dae mencoba bangkit, tetapi ternyata cengkaraman Kenji pada pergelangan tangannya belum melemah. Sontak saja dirinya lagi-lagi terjatuh. Dae mendesis. “Kak lepasin.”
“Oh—maaf.”
Tak menunggu waktu lama dari melonggarnya cengkraman Kenji, Dae langsung bangkit. Tubuhnya oleng sesaat. Kala kepalanya terangkat, Dae menemukan berpasang-pasang mata menatapnya melalui berbagai macam ekspresi.
Bola mata Dae bergulir.
Ada Mama-Maminya Kak Kenji, Ayahnya. Randu juga ada. Astaga, kenapa mereka semua kumpul di sini?! Batinnya mengabsen orang-orang di sana. Dae menelan ludah, membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba saja mengering bak di padang pasir.
“Ehm—“ Dae ingin sekali mengatakan sesuatu. Namun seluruh kosa kata seakan-akan kabur begitu saja darinya, sehingga tak ada sepatah kata pun yang bermakna meluncur dari bibirnya.
“Nggak apa-apa kok, pretty. Nggak apa-apa. Kita ngerti, kita juga pernah muda.”
Bukannya tenang setelah mendengar perkataan Mamanya Kenji, perasaan Dae justru semakin menjadi-jadi tak karuannya.
Dae tak dapat membayangkan entah apa yang akan terjadi padanya setelah ini.