"Semuanya. Ini kecelakaan."
Sejurus kemudian, Dae langsung mengutuk dirinya sendiri. Sebab kalimat bernada gugup yang tadi dia lontarkan, entah bagaimana caranya terdengar sangat ambigu di telinganya. Dengan dongkolnya, gadis itu menyenggol pelan betis Kenji menggunakan kakinya. Pemuda itu mengangkat kepala. Dae langsung mendelik sedikit bersama senyum terpaksanya. Mencoba berkomunikasi dengan Kenji melalui tatapan.
Bila diterjemahkan, seperti inilah kira-kira arti tatapan Dae saat ini. Kak Kenji plisss. Ngomong sesuatu, kek. Jangan diem aja kayak gitu kayak patung selamat datang!
Harapan Dae mendapat pertolongan dari Kenji pupus begitu saja, kala Kenji tetap diam memandangnya dengan alis terangkat. Dae sudah hampir lega waktu melihat pemuda itu membuka mulut. Mengira dia akan menyampaikan sepatah-dua patah penjelasan terkait insiden yang baru saja terjadi, tetapi urung. Sebab dengan santainya Kenji berkata begini. "Kalian ngapain berdiri kayak patung begitu?"
Wajahnya tak di aliri ekspersi apa pun. Tetap lempeng mirip papan triplek. Dae sungguh-sungguh tak habis pikir, bagaimana mungkin pemuda itu bisa sesantai itu? Atau memang hanya dirinya saja yang berlebihan? Tidak. Tidak. Kenji lah yang terlalu santai di sini. Setelahnya, tanpa menunggu balasan apa pun dari pertanyaannya sendiri. Kenji melenggang pergi menaiki anak tangga. Melewati adiknya yang masih mematung setengah takzim di sana. Sementara Dae cuma mampu meringis, sudah bersiap-siap meluruskan segala kesalah pahaman yang mungkin saja terjadi. Namun, lagi-lagi urung karena Uttari mengambil alih kendali.
“Loh kalian ngapain masih berdiri di situ. Syuh-syuh. Tontonanya udah habis. Kembali ke asal kalian masing-masing. Bubar jalan!”
Seperginya ketiganya, Dae tentu saja masih merasa malu. Andai kata dia merupakan tokoh anime, tubuhnya pastilah sudah menciut bertransformasi menjadi seukuran semut.
Uttari dan Mayang pun mendekatinya. “Pretty, nggak apa-apa. Nggak usah tegang gitu. Kakak nggak bakal tuntut kamu ke pengadilan. Kakak juga nggak bakal nanya apa-apa. Kakak paham seumuran kalian ini memang masa-masanya penasaran dengan yang begitu.”
“Teh....” Mayang menyelak perkataan Mayang, yang langsung di balas gelak tawa. “Haha. Nggak, Kakak bercanda doang kok, pretty.”
Dae cuma mampu menampilkan cengiran meringis, sedangkan Mayang sudah menggeleng-gelengkan kepala. Si wanita ayu ini, Menyodorkan minuman pesanan Dae yang langsung Dae raih tanpa ba-bi-bu-be-bo.
“Neng Dedel sekarang langsung aja ke halaman belakang, ya. Kamu tunggu di sana biar Tante yang ambilin fotonya sekarang.”
Dae menarik napas dalam-dalam. Kemudian mengembuskannya melalui rongga hidung dan mulut. Sesudah merasa sedikit lebih tenang, dia lantas menarik tungkai kakinya menuju tempat yang Mama-Mami Kenji maksud.
Seraya berharap pada Sang Pemegang Kendali Semesta, agar harinya tidak akan bertambah buruk dari ini.
*
“Boleh juga lukisan mu.”
Dae tersentak. Hampir-hampir warna cat pada kanvas melenceng ke arah yang tidak seharusnya, kala suara Randu mendadak menerobos gendang telinganya. Dae langsung melirik tajam pemuda yang menampilkan wajah polos tak bersalah, sedang berdiri di sebelah bidang lukisnya sembari agak membungkukkan punggung.
“Bisa nggak datengnya lebih manusiawi dikit. Jangan kayak hantu begitu.” Dae mendengkuskan napas sebal.
Randu mengedikkan bahu. “Aku tuh udah manusiawi. Kamu nya aja yang terlalu fokus.”
Dae berdecak. Bola matanya terputar tak habis pikir mendengar penuturan si pemuda. “Namanya juga lagi ngelukis. Ya harus fokus lah, supaya bagus. Kayak nggak ngerti aja, padahal sendirinya anak seni rupa juga.”
“Ya. Tapi bidang ku lebih ke desain-desain. Bukan lukis jelema-jelemaan begini.”
Dae menoleh pada Randu sepenuhnya. Memutar-mutar kuas bernoda cat di udara, di depan muka si pemuda. Seraya menguntaikan rentetan kata setengah pedas. “Sama aja, tahu. Sama-sama perlu konsentrasi. Lagian kamu ngapain sih ke sini. Ganggu aja tahu nggak.”
Randu menyingkirkan kuas tersebut dari depan mukanya. Wajahnya menjengit. “Lah. Kan ini rumahku.” Dia memberi penekanan pada kata rumahku. “Wajar aku ada di sini.”
“Bukan. Ini bukan rumah mu. Tapi rumah orang tua kamu.”
Waktu berkata demikian, pandangan Dae yang mulanya tertuju pada Randu tak sengaja meleset ke satu sisi. Sisi di mana memperlihatkan presensi pemuda berambut tercepol tersebut. Siapa lagi kalau bukan Kenji. Pemuda itu tengah berdiri di balkon kamar lantai dua—yang entah kamar milik siapa, Dae tak tahu. Bola mata pemuda itu jatuh ke bawah, tepatnya ke halaman tempat Dae berada. Entah dia tengah memerhatikan keseruan dua pasang orang tua yang tengah bergulat di gazebo, atau justru tengah memerhatikan Dae. Tapi apa bila di tilik dari sudut pandang Dae, tatapan si pemuda memang jatuh pada satu-satunya gadis di halaman itu.
Oleh karena itu, Dae baru hendak mengambil inisiatif dengan melambaikan tangan menyapa. Mencoba melupakan insiden yang tak di inginkan berpuluh-puluh menit yang lalu. Akan tetapi belum sempat keinginan Dae terealisasi, sosok perempuan mendadak muncul. Perempuan tinggi semampai yang memiliki warna kulit putih pucat, mirip seperti suami Uttari. Wajahnya sangat cantik. Dae yang notabenenya segender dengan sosok itu pun, sampai di buat terkesima oleh kecantikan bak ilustrasi dewi-dewi yunani kuno itu.
Si sosok perempuan cantik melenggang anggun, mengambil posisi di sebelah Kenji. Memunggungi area halaman, sehingga kini Dae tak bisa lagi melihat wajahnya. Alih-alih hanya punggung ramping yang bersender pada pagar besi balkon, yang terpampang. Mereka sepertinya sedang membicangkan suatu topik, sebab belah bibir Kenji tampak terbuka komat-kamit beberapa kali.
Semakin lama diperhatikan, entah mengapa sorotan mata setajam elang Kenji terasa menusuk. Bukan menusuk dalam artian yang buruk. Malahan jenis tusukan yang membuat Dae merasakan sensasi debar aneh tetapi menyenangkan pada jantungnya.
Dae buru-buru melarikan tatapan ke arah kanvas lagi. Sedetik setelahnya, suara Randu lagi-lagi menginterupsinya. Kali ini sukses menimbulkan kerutan-kerutan di dahi Dae.
“Ikut aku sebentar, yuk. Aku punya kejutan yang pastinya bakal bikin kamu super terkejut. Aku jamin.”
Sepasang alis tebal Dae terangkat sangsi. Kejutan? Dewi batinnya menyuarakan keheranan.
*
Dae membuntuti Randu yang kini berhenti di sebuah kamar yang pintunya tertutup. Randu mengendap-ngendap, menengok sana-sini seperti seekor maling.
“Kamu ngapain sih? Mana kejutannya? Kenapa kita malah di sini?”
“Shhh.” Randu menempelkan telunjuk di depan bibirnya, selanjutnya membuka pintu tersebut. Ketika terbuka dia segera menarik tangan Dae agar turut memasuki ruangan tersebut.
Dae spontan dibikin mendelik. “Randu! Kamu mau—“
Perkataan Dae terpotong sebab Randu membekap bibirnya.