Dae menghempaskan tangan Randu dari bibirnya, langsung bergerak mundur dengan gestur waspada. Ketika Randu hendak mendekatinya, ia langsung berteriak, "Jangan mendekat! Randu kamu harus sadar, Randu! Apa yang mau kamu lakuin ini dosa besar! Tuhan Yesus bisa panggang kamu jadi kayu bakar di neraka sana. Lagian kalau sampai kamu ngelakuin itu, aku yakin para Aa ku ngga bakal tinggal diem kalau sampai tahu adik perempuan satu-satunya yang paling di sayang di ambil keperawanannya secara paksa!"
“Kamu ngomong apa sih aku nggak ngerti sama sekali.”
“Nggak usah pura-pura bego! Mentang-mentang aku ini gadis polos, kamu pikir kamu bisa bodohin aku gitu aja.” Dae memindai kilat seisi ruangan tersebut. “Kamu... kamu pasti mau nyoba lecehin aku kan?! Iya kan?!”
Randu cuma memandangnya dengan wajah bingung. Namun begitu Dae mengakhiri khotbah dadakannya, pemuda tersebut langsung tertawa terpingkal-pingkal. Kontan menutup mulutnya, saat di rasa tawanya terdengar kelewat keras. Kini justru Dae lah yang menatapnya bingung. Dae jadi prihatin pada Randu. Sepertinya pemuda itu sudah kehilangan kewarasannya, alias GILA!
"Kamu bilang apa tadi? Aku? Mau ambil paksa keperawanan kamu? Lecehin kamu?" Pemuda itu tertawa lagi. Sampai-sampai air mata merembes ke luar. Tubuhnya membungkuk-bungkuk sementara kedua tangannya dia gunakan untuk memegangi perutnya. “Dae, denger ya. Seandainya aku emang pengen ngelecehin cewek, aku pasti nggak bakal tanggung-tanggung sama cewek yang... bongsor kayak kamu. Standarku ini tinggi, kamu paham?”
Wajah Dae perlahan memerah. “Ya, kalau bukan begitu, ngapain kamu ngajak aku ke kamar diam-diam begini? Kalau kamu nggak mau ngelecehin aku, lalu apa?! Hah?!”
Daun pintu ruangan tersebut mendadak terjeblak terbuka. Menampilkan sosok Kenji tang berdiri di ambang pintu dengan tangan memegang erat kenop pintu, sedangkan air mukanya terlihat sama sekali tak bersahabat.
Seketika Dae menegang di tempat. Begitu juga dengan Randu yang langsung menghentikan tawanya, dan membalik badan ke arah pintu. Belah bibir Randu membuka, tetapi tidak sempat kata-kat terlempar dari sana. Kenji keburu mendahului dengan resonansi suara tajam nan mengerikan. Dae mampu di buat merinding hanya karena mendengarnya saja, di tambah dengan ekspresi yang mendukung. Lengkap lah sudah.
"Apa-apaan kamu Randu? Kamu mau perkosa anak orang di kamarku?!”
Randu refleks menggeleng-gelengkan kepala gelagapan. Sepasang tangannya melambai-lambai ke depan, gestur mengatakan tidak. Bersama mimik mukanya yang hampir memucat parno, si pemuda mengajukan sangkalan. "Nggak, A. Aa salah paham? Aku nggak mungkin perkosa nih anak singa. Yang ada aku yang di perkosa sama dia."
Mendengar kalimat terakhir yang ke luar dari belah bibir kurang ajar Randu. Bola mata Dae spontan hampir meloncat ke luar dari posisinya. Bisa-bisanya bocah tengik satu itu malahan memutar balikan fakta begitu. Karenanya tanpa pikir panjang, Dae langsung menendang tulang kering Randu dengan sepenuh hati. Sama sekali tidak tanggung-tanggung.
Refleks si pemuda yang mendapat tendangan mengaduh kesakitan. Meringis. "Aww. Aduh-aduh. Gila sakit banget." Meloncat-loncat kecil dengan satu kakinya yang menjadi sasaran, dia angkat dan pegangi. "Kamu tuh apa-apaan sih Dae. Main tendang aja, dikiranya kaki ku bola apa ya, kamu tendang-tendang. Mana sakit banget lagi."
Dae memasang wajah garang sambil berkacak pinggang. "Kamu tuh yang apa-apaan. Kamu penjahatnya malah sembunyi sok sok an jadi korban. Terus nuduh aku pula. Rasain tuh." Dae memalingkan muka ke arah Kenji. Pemuda bercepol itu masih berdiri kaku di ambang pintu. Kulit wajahnya mengerut tak ketara. Menandakan kebingungan. "Kak Kenji bukan aku yang mau ituin dia. Tapi Randu tuh, tadi dia maksa-maksa aku buat masuk ke sini, padahal aku udah nolak. Mana Randu bilang katanya ada kejutan. Eh taunya." Dae menjeda sejenak. Takut-takut kalau-kalau Kenji justru lebih memercayai perkataan Randu yang notabenenya adalah adiknya. Sementara dia hanya lah orang asing. Di mana-mana keluarga pasti akan lebih memercayai keluarga sendiri ketimbang orang asing bukan? "Kak Kenji percaya sama aku 'kan, Kak?"
"A. Aku bisa jelasin. Ini tuh nggak kayak yang Aa denger dan lihat."
Secepat kilat Dae menoleh pada Randu lagi. Memicingkan mata menatapnya setajam mata pisau.
Sedangkan di sisi seberang, Kenji belum mengucap sepatah kata pun semenjak kalimat pertamanya tadi. Dia terdiam menelaah silih berganti antara adik tiri dan adik organisasinya. Sekon-sekon berlalu, napasnya kemudian terembus pelan. Dia menarik tungkai kakinya, membawa tubuhnya masuk serta-merta menutup daun pintu. Kontan saja hal tersebut membuat Dae lagi-lagi melebarkan bola matanya. Segala pemikiran buruk lagi-lagi berkeliaran di dalam otak kecilnya. Bagaimana kalau Kenji juga ikut-ikutan Randu ingin melecehkannya? Bagaimana kalau ternyata Randu dan Kenji sudah merencanakan ini dan bersekongkol untuk melakukan sesuatu padanya.
Seketika Dae mengkeret. Berada di dalam satu ruangan yang sama bersama dua pemuda yang telah akil balig, tak bisa membuat otaknya untuk berpikiran positif. Akan tetapi meskipun dalam rongga d**a, jantungnya sudah berdebar-debar sangat kencang. Dae tak boleh menunjukkan ketakutannya. Dia harus tampil berani sehingga keduanya berpikir bahwa Dae bukan lag gadis gampangan. Oleh karena itu Dae susah payah, membuat kakinya berdiri tegak. Padahal rasa-rasanya bagian penopang tubuhnya itu sudah terasa lembek serupa jeli.
Dae menarik air liurnya memasuki empedu. Kemudian bertanya dengan getar suara yang susah payah dia sembunyikan, begitu menyaksikan Kenji yang terus-terusan membunuh jarak di antara mereka. "Kak Kenji mau ngapain?"
Kenji pun menghentikan gerakan kaki tepat satu langkah di depan Dae serta Randu. Manik matanya memindai bergantian penuh intimidasi. "Kalian harus di sidang."
"Hah?!"