DUA PULUH

1077 Words
"Dae saya kasih kamu waktu bicara duluan." "A. Mending aku duluan, dia nih yang ada nanti melenceng ke sana-ke mari." Dae memberikan death glare pada pemuda di sebelahnya. Yang tentunya di acuhkan. Beruntungnya Kenji sepertinya berada di pihaknya. Dia langsung menolak mentah-mentah protesan adik tirinya. "Nggak ada bantahan Randu. Dae tetap duluan." Randu spontan melorotkan bahu sembari mencebik. Dae mengulas senyum miring, lantas memberikan peletan lidah padanya, sebelum memulai kesaksiannya. "Jadi gini, Kak Kenji. Tadi aku lagi ngelukis di halaman belakang terus tiba-tiba aja Randu nongol. Kak Kenji pasti lihat kan. Soalnya tadi aku sempet liat Kak Kenji ada di balkon kamar." Dae menarik oksigen. "Randu bilang dia punya kejutan buatku. Awalnya aku udah nolak, tapi dia aja maksa-maksa segala." Dae milirik Randu melalui ekor mata. "Yaudah aku ngalah. Tapi taunya ujung-ujungnya dia malah nyeret aku ke sini. Terus ngunci pintu. Setelahnya, Kak Kenji tahu sendiri gimana." Dae pun mengakhiri sesi menyatakan pernyataan dari sudut pandangnya, dengan embusan napas panjang. Kenji mengangguk-ngangguk menyimak. Lalu si pemuda paling tua, berpaling ke arah adiknya. "Giliran mu Randu." Randu mengawali gilirannya dengan embusan napas lelah. Seolah-olah dia lah korbannya di sini. Dae mendecih sinis melihatnya. "Apa yang di bilang sama Dae memang benar." Refleks Dae langsung bereaksi heboh. "Tuh kan! Bener kan, apa kataku. Kamu tuh—" Belum sempat Dae menyelesaikan kalimatnya Randu sudah memotongnya dengan resonansi suara setengah frustasi. "Kamu diam dulu. Ini giliran ku." Dae mencebikkan bibir. Namun tetap menuruti kata-kata pemuda itu. Randu pun menyambung penuturannya yang tadi Dae selak. "Tapi aku nggak ada niat sedikit pun untuk ngelakuin apa pun itu yang ada di kepala kalian sekarang. Aku masih waras oke? Memang aku segila itu ngelakuin itu di rumah sendiri? Yang ada aku langsung di jadiin daging cincang sama Mami." "Oh. Terus kamu berencana ngelakuin itu di luar rumah?" Kali ini Kenji buka suara. Randu spontan mengacak-ngacak surai kritingnya frustasi. "Nggak! A. Nggak! Ya ampun! Demi apa pun aku masih pengen perjaka sampai nikah nanti!" "Oh. Kalau emang nggak. Santai aja dong, nggak usah ngegas gitu ngomongnya," balas Kenji santai. "Emangnya ada cewek yang mau nikahin cowok kayak kamu." Ini celetukan Dae. "Gimana aku nggak ngegas kalau dari tadi kalian mojokin aku terus!" seru Randu kehabisan kesabaran, lalu berpaling pada Dae. "Dan ya. Jelas ada yang mau nikah sama aku. Malah banyak yang ngantre. Justru aku yang ragu kalau ada cowok yang mau nikahin cewek galak kayak kamu!" Dae barh hendak membuka mulut. Ingin membalas dengan kalimat-kalimat lebih pedas. Namun Randu lebih cepat menyalak galak padanya. "Diam." Dan entah mengapa Dae menurut begitu saja. Dia langsunh kicep. Sebagian dari dirinya merasa ngeri juga menyaksikan Randu marah begini. "Niat ku ngajak Dae ke sini memang mau ngasih kejutan buat dia—plis diam dulu. Kasih aku kesempatan ngomong tanpa di potong-potong. Kalau nggak kayaknya sebentar lagi aku bisa-bisa banting lemari kalau sekarang di potong lagi." Randu langsung berujar demikian begitu melihat Kenji yang hendak membuka mulut. "Oke. Bagus. Aku lanjut. Kejutannya memang ada di kamar Aa Kenji, tapi aku nggak mau kalau Aa sampai tahu. Makanya aku tutup pintu supaya nggak ketahuan. Tapi karena situasinya malah jadi ribet begini. Nggak apa-apa lah Aa tahu. Udah kepalang basah. Aku bodo amat." Entah bagaimana caranya, Dae dan Kenji kompak beradu pandangan bingung. Cuma sejemang, karena di detik berikutnya. Keduanya langsung melarikan tatapan ke arah lain. Dae melegakan tenggorokannya yang tiba-tiba terasa serat, lantas melontarkan tanya pada Randu yang tampaknya sudah selesai dengan pembelaannya. "Mana kejutannya? Dari tadi aku lihat di sini, nggak ada apa-apa tuh." Randu menatap Dae malas. "Aku mau nunjukin tadi, tapi kamu keburu heboh." Dae mengedikkan bahu. "Bukan salahku loh, ya. Cewek mana juga yang nggak bakal panik waktu cowok tiba-tiba tanpa ada alasan jelas ngajak dia masukin kamar plus pintu kamar di tutup." "Itu mah, kamu nya aja yang bego. Kalau pun iya aku mau perkosa. Aku nggak mungkin ngelakuin itu di rumah sendiri pas keadaan ramai-ramai begini." "Randu." Kenji langsung menyebut namanya penuh nada peneguran mendengar penuturan adiknya. Randu mengerang frustasi. "Aduh! Aa. Itu cuma perumpamaan. Aku nggak mungkin mgelakuin itu! Duh. Huhu. Lama-lama aku bisa gila ngomong sama kalian berdua." Dae terkikik kecil melihatnya. Entah mengapa merasa puas sekali melihat Randu begitu. "Jadi. Mana kejutan yang kamu bilang itu?" tanya Dae kemudian. Malas-malasan Randu menunjuk ke arah kiri mereka. Telunjuknya tertuju pada bentangan dinding yang banyak di hiasi berbagai macam ornamen yang alam. "Tuh. Ada di sana. Kalau kamu mau lihat. Cari aja sendiri di sana. Kalau mata mu masih sehat dan ingatan mu masih bagus. Kamu pasti bisa langsung nemuin kejutan apa yang aku maksud." Penasaran Dae pun bangkit, beranjak mendekati ornamen-ornamen itu. Dari sekian banyak ornamen. Pandangan Dae langsung tertancap pada satu kertas yang tertancap di tengah-tengah bidang. Bola matanya melebar begitu mengenali kertas gambar yang memuat lukisan tersebut. Dae masih menelisik lukisan tersebut. Memastikan kebenarannya. Saat itu pula, suara seorang perempuan mendadak menerobos gendang telinganya. "Hai! Kalian ngapain tiga-tigaan nutup pintu gini di dalam kamar? Mau threesome, ya?" Dae spontan tersedak ludahnya sendiri mendengar kata terakhir di sebutkan. Dia pun langsung memalingkan muka menuju sumber suara. Di sana perempuan yang tadi Dae lihat berada di balkon bersama Kenji, sudah berada di sini dengan kepala menyembul dari balik pintu. "ASTAGA TAU DEH BODO AMAT." Itu Randu yang mengerang frustasi. Tawanya menggelegar. "Gue becanda doang, kok. Nggak usah sampe segitunya juga kali. Gue ke sini di suruh Bu-Ibu. Di suruh nyari...." Iris abu-abu yang tampak begitu cantik di mata Dae, tertambat padanya. "Kamu." tunjuk Rasistha. "Kamu yang namanya... hng... pretty dedel?" Dae langsung mengangguk-ngangguk terpatah. Sejurus kemudian Rasistha segera menghampirinya, mengamit lengannya lembut dan mengajak Dae menuju halaman belakang. Menyisakan Randu dan Kenji di sana. “Apa? Kenapa Aa ngeliatin aku kayak gitu?” “Siapa yang izinin kamu masuk ditambah bawa orang asing ke kamar Aa?” Bola mata Randu berlari tak tentu arah, agak ngeri dengan tatapan datar Kenji. “Aa sendiri, kenapa nyimpen lukisannya Dae? Aku tahu kalian nggak sedeket itu sampe Dae harus ngasih lukisannya ke Aa, ditambah aku ada di sana waktu Dae lukis itu dan aku juga ingat banget dia bilang kalo lukisannya yang itu hilang. Kenapa bisa ada di Aa? Kenapa Aa nggak balikin ke Dae? Aa nggak mungkin nggak tahu ‘kan kalau Randa Tapak itu Dae? Secara Dae itu ilustratornya Mapala UK.” Kenji membisu sejenak mendengar celotehan Randu, sebelum berkata, “Menurutmu, kenapa Aa nyimpen lukisan dia?” Kenji menatap Randu tanpa ekspresi. “Kenapa Aa nyimpen lukisan itu ketika Aa bisa aja balikin lukisan itu di hari Aa nemuin lukisan itu secara nggak sengaja?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD