DUA PULUH SATU

1421 Words
Randa Tapak. Itu adalah dirinya. Nama yang biasa dia cantumkan di setiap karya-karya yang telah Dae hasilkan. Dae selalu mecantumkan nama tersebut. Meskipun karya seni tersebut hanya hasil corat-coret tanpa makna belaka. Dae ingat lukisannya yang satu itu menghilang beberapa minggu yang lalu. Dae memiliki banyak binder yang memuat karya-karyanya. Sejujurnya, tadi setelah melihatnya, Dae ingin sekali menanyakan bagaimana prosesnya lukisannya tersebut bisa sampai berada di sana. Namun kedatangan Rasistha keburu membuat Dae lupa segalanya. Dua jam berlangsung itu pula, sesekali Mama-Mami Kenji akan menghampirinya. Mengamati Dae melukis sesaat, sembari menguntaikan pujian demi pujian. Mereka juga membawakan Dae cemilan-cemilan lengkap dengan pasangannya, yaitu minuman segar. Saking fokusnya Dae dia sampai-sampai tak menyadari ada sosok lain yang kini membungkuk menelaah lukisannya. Saat Dae menunduk guna mencolekan kuas pada cat, tiba-tiba sosok itu bersuara tepat di sebelah telinganya. "Cantik." Kontan saja membuat Dae tersentak dan langsung menoleh ke sumber suara. Namun ternyata oh ternyata, jaraknya dengan sosok itu cukup dekat. Maka jadi lah, hidung Dae hampir-hampir bersinggungan dengan pipi tirus sosok di sebelahnya itu. Sontak hal tersebut membuat Dae langsung memelotokan mata, serta-merta melipat bibir ke dalam. Menahan napas. Dae memundurkan kepala terlebih dahulu, baru kemudian berkata, "Kak Kenji," panggilnya. "Hm." Cuma sepatah gumaman itu respon si pemuda. Dia masih fokus menelaah lukisan hasil karya Dae. Dae meneguk ludah susah payah. Dalam jarak sedekat ini, dia bisa mencium aroma kopi yang memabukan menguar dari napas seniornya itu. "Kak Kenji," panggil Dae sekali lagi. Namun kali ini dengan nada yang lebih keras. "Apa?" Bersama tanya itu, Kenji memalingkan wajah ke arahnya. Jarak mereka masih sedekat itu, sesuatu yang membuat hidung mancung bagai papan perosotan milik Kenji, hampir-hampir bersentuhan dengan hidung mungil mancung Dae. Dae bahkan mampu melihat cerminan dirinya sendiri di dalam manik mata segelap bubuk kopi Kenji. Menyadari kedekatan mereka. Mata setajam elang Kenji sedikit mendelik, sebelum dia menegakan tubuh. Dae menggigiti bibir bagian dalamnya. Tanpa sadar dia mencengkram kuas kayu miliknya lebih kuat dari yang seharusnya. Dae tak mengerti kenapa, tubunya memberi reaksi demikian. Lagi pula, kenapa pula Kenji harus memerhatikan lukisannya dengan jarak sedekat itu. Memangnya mata dia minus?Mengembuskan napas pelan, Dae mencoba tak membesarkan insiden barusan. Sudah cukup hari ini dia diserbu oleh insiden-insiden tak terduga memalukan. Dae tak mau menambahnya lagi. Mengangkat kuas ke udara. Dae mulai menggores-goreskan rambut-rambut kuas ke bidang lukis.  "Ini lukisanmu. Saya kembaliin. Saya nggak sengaja nemu itu di lantasi ruang sekretariat Mapala. Awalnya saya nggak tahu kalau itu punyamu, Randu ngasih tahu saya tadi." Dae sesungguhnya agak sangsi bahwa Kenji tak tahu bahwa lukisan tersebut miliknya. Secara notabenenya, hampir seluruh anggota Mapala bahawa Randa Tapak adalah dirinya, lantaran Dae sering membuat ilustrasi-ilustrasi mengenai organisasi tersebut untuk kemudian di pajang di mading kampus. Dae memutar tubuh agar menghadap Kenji. "Kak Kenji tahu nggak kalau ini bisa disebut tindakan pencurian karya seni." "Nggak." Dae berdecak. "Aku bisa aja laporin Kak Kenji ke polisi loh." Dae tersenyum. Sejujurnya dia cuma berniat mengerjai pemuda itu. "Tapi tenang, aku nggak akan lakuin itu kalau Kak Kenji mau...." Dae bangkit dari duduknya, menjelajahi wajah Kenji. Berusaha mencari setitik ekspresi, tetapi yang ada di sana cuma raut datar. "Kalau Kak Kenji mau cium aku." Kenji terdiam. Selama seperkian detik tadi, Dae dapat menangkap raut keterkejutan dari wajah cowok itu. Dae lantas terkekeh, hendak kembali duduk dan melanjutkan pekerjaannya, tetapi Kenji menahan bahunya. Kemudian secepat kedipan mata, belah bibir Kenji sudah mendarat di pipi kanan Dae. Seketika Dae dibikin membeku, dibarengi dengan adrenalin yang terpacu gila-gilaan. Bola matanya mendelik. Ia tak serius dengan ucapannya, tak menyangka Kenji akan betul-betul menciumnya. Lima detik kemudian Kenji menarik dirinya, sambil berujar, "Udah 'kan? Sekarang kamu nggak punya alasan buat laporin saya ke polisi." Tanpa menunggu respon Dae, Kenji pergi begitu saja meninggalkan Dae yang masih setia membatu di sana. Dae meraba pipinya, sembari matanya mengekori punggung Kenji. "Ya, tapi 'kan aku nggak serius...." * Bentangan cakrawala di atas sana telah berangsur-angsur mengubah warna menjadi perpaduan antara kuning serta merah. Dae masih betah berada di kediaman Kenji. Tanpa di duga-duga, lukisannya pun bisa dia selesaikan hari itu juga. Lalu ketika Dae menunjukan hasilnya itu kepada Mama-Mami Kenji, dua-duanya langsung heboh. Memuji Dae dengan segala bentuk pujian, yang telak sukses membikin semburat merah merambati kedua belah pipi tembamnya. "Oh my to the God. This is so so so so so pretty. Nggak salah Kakak mercayain kamu buat ngerjain lukisan keluarga ini. Uhhh. Puas banget sama hasilnya. Kakak jadi dua puluh tahun lebih muda di sini, iya kan, Pa," tanyanya meminta persetujuan pada sang suami. Barend tak langsung menjawab. Laki-laki bule itu tampak berpikir sejenak, mengelus-elus jenggotnya dengan jari telunjuk serta jempol. Mata besarnya memicing, menelaah lamat-lamat hasil karya Dae. Kontan hal tersebut membuat Dae ikut-ikutan deg-deg an. Takut kalau andai kata sosok tambun itu tidak puas dengan lukisannya.  Akan tetapi detik berikutnya Dae seketika bisa bernapas lega begitu tawa yang menggelegar itu menyembur ke luar dari pita suara Barend. "Iya. Dua puluh tahun lebih muda. Tapi sayang, apa peduli ku. Mau kamu kelihatan enam puluh tahun lebih tua pun, aku akan tetap selalu mencintai dan berada di sisi mu." Uttari mesem-mesem, salah tinggkah. Kemudian pukulan manjanya jatuh di lengan suami tercinta. "Ah. Papa. Tau aja cara bikin istri seneng." "Tentu saja aku tahu sayang. Karena aku suami mu. Dan kamu istri ku tercinta." Mayang cuma geleng-geleng kepala melihatnya, sambil menyemat senyum semanis madu. Ekor matanya melirik-lirik sang suami. Pun suaminya juga melakukan hal yang serupa. Mereka persis seperti dua sejoli yang baru menjalani hubungan di hari pertama. Malu-malu tapi mau. Dae kemudian di seret menuju ruang makan oleh Mama-Mami Kenji. Mereka memaksa Dae agar mau ikut makan malam bersama mereka. Acara makan malan pun berlangsung dengan hikmat serta damai. Sambil sesekali di selingi obrolan yang di lakukan antar anggota keluarga. Dae memerhatikan, akan ikut bergabung dalam konversasi bila dia mengetahui sesuatu tentang topik yang di bicarakan. Pun Dae amat menikmati hidangan makan malamnya. "Gimana pretty, kamu mau kan ikut kemah minggu depan?" "Mau. Mau banget." "Bagus. Jadi fix. Minggu depan kita kemah. Peralatannya biar Kenji sama Dae yang urus. Kalian bisa kan? Kan anak pecinta alam sering kemah juga. Pasti bisa lah ya, iya kan, sweetheart?" "Bisa. Aku sendiri aja bisa kok, Ma." "Jangan." Mayang oposisi pada pernyataan Kenji. "Ajak Dae juga sekalian. Biar dia bisa milih-milih peralatan yang nyaman juga buat dia pakai." Seketika Kenji melirik Dae, yang si gadis balas dengan senyuman kecil. Entah mengapa saat ini Dae merasa agak panas pada rongga dadanya. Rasanya sungguh tak nyaman, tetapi Dae enggan menunjukkannya. "Iya, Mi." Selepas acara makan malam. Dae membantu Uttari serta Mayang untuk mencuci alat makan. Rasistha juga ikut membantu. Mereka mengobrol ngalur ngidul di sana. Sementara Dae hanya menimpali sesekali. Sebab panas yang menjalari rongga dadanya mulai berubah menjadi sesak yang samar-samar. Sampai akhirnya kegiatan cuci mencuci selesai, See masih bisa menahan itu. Akan tetapi dua wanita paruh baya itu rupa-rupanya menyadari perubahan dalam diri Dae. Mereka pun berbondong-bondong menanyai kondisinya. Dae mengakatakan kalau barangkali dia cuma kelelahan, dia tak mau membuat satu keluarga ini sampai panik hanya karenanya. Oleh karena itu, Uttari serta Mayang segera menyuruh Kenji untuk mengantarnya pulang, yang langsung di setujui pemuda itu. Dae kemudian berpamitan pada mereka. Beranjak ke garasi mengikuti langkah si pemuda. Dae masih bisa mencoba mengatur napasnya, tetapi semua usahanya itu sia-sia. Semakin Dae berusaha menarik oksigen, tetapi rasa cekikan panas yang justru dia dapatkan. Dae mencengkram erat bagian kaos di d**a. Paru-parunya seakan tengah di tusuki ribuan jarum. Perih serta nyeri di saat bersamaan. Ingin melontarkan sepatah aksara, tetapi Dae tiada daya. Napasnya yang tersengal-sengal tidak memberi Dae kesempatan melakukan hal tersebut. Dae tetap tak bisa menarik oksigen ketika bahkan mulutnya sudah ikut terbuka lebar berkontribusi. Dae berjongkok sebab tak kuasa berdiri Mendengar dengih aneh di belakang tubuhnya, Kenji pun berbalik dan langsung dibikin syok ketika melihat kondisi Dae. Saat itu pula, sebuah memori menghantam benaknya. Menyerbunya dengan kecemasan."s**t. Kamu pasti nggak sengaja makan kacang tadi." Dae mendengar Kenji mengumpat frustasi. "Tahan sebentar, oke. Kita ke rumah sakit sekarang." Dae masih berusaha mati-matian meraup oksigen sebanyak mungkin. Namun tetap tak bisa. Peluh telah membanjiri kening serta lehernya, membuat kaos yang dia kenakan juga ikut basah. Sementara air mata mengaliri pipinya sedikit demi sedikit. Lambat laun si gadis mulai kepayahan dengan usahanya yang tak membuahkan hasil. Tanpa tedeng aling-aling Kenji langsung menggendong Dae, dan berlari menuju mobil. Waktu seolah melambat, dalam usaha terakhir Dae menarik secuil udara, dia dapat mendengar seruan Kenji yang terdengar panik bukan main. "Dae! Saya mohon jaga kesadaranmu."  Dia ingin menuruti kata-kata Kenji, tetapi tubuhnya justru melemas. Pun pandangannya mulai mengabur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD