"Sebenernya Kak Kenji mau ngajak aku ke mana? Kita udah satu jam muter-muter Bandung nggak jelas kayak gini."
Memerhatikan gerak-gerik aneh sosok di kursi penumpang, kerut-kerut di kening Kenji tercipta. Belah bibirnya bergerak membuka, setelah berpuluh-puluh menit betah merekat kuat. "Kenapa kamu? Kebelet pipis?"
Dae agar mengangguk. Kenji mengangguk singkat, lantas tak lama kemudian mobil yang Dae tumpangi melambat. Berhenti di depan sebuah mini market. Dae memandangi Kenji bingung, kala pemuda itu mematikan mesin mobil dan melepas sabuk pengaman.
"Kenapa malah diem? Katanya tadi kebelet pipis. Cepet ke luar. Pinjem toilet di sini dulu."
Dae mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya cepat. Detik berikutnya ketika dia telah mampu memahami situasi, buru-buru kepalanya terangguk keras. Saking kerasnya, kepala bagian belangkangnya sampai-sampai terantuk besi di dekat kepala. Dae meringis menahan nyeri yang segera menyergap kepala, sembari mengusap-ngusapnya sayang.
Sedangkan Kenji yang menyaksikan hal tersebut, spontan mendecak malas. "Saya memang bilang kalau kepala kamu lebih keras dari batu. Tapi kamu nggak perlu nguji kepala mu sama besi kayak gitu."
Bibir Dae kontan mengerucut. Kenji tak lagi menghiraukan reaksi Dae, si pemuda memilih langsung ke luar meninggalkan Dae begitu saja. Selepas Kenji menutup daun besi itu, beranjak menjauhi mobil menuju bangunan yang di penuhi produk jual di dalamnya. Dae buru-buru melepas sabuk pengamannya. Membuka pintu mobil tergesa-gesa, lantas langsung melompat ke luar.
Dae berniat kabur.
Akan tetapi keberuntungan rupa-rupanya tak mau berpihak padanya. Lantaran baru saja Dae mengambil tiga langkah menuju arah yang bertolak belakang dengan lokasi Maretmarket, pergelangan tangannya lebih cepat di cekal erat oleh seseorang.
"Mau ke mana?"
"Ke maretmarket lah. Ke mana lagi?"
Kenji mendengkus. "Kamu kira saya bodoh? Arah lari mu tadi jelas-jelas lawan arah sama Maretmarket. Lagian ngapain kamu pakai acara lari segala?"
"Kak Kenji nggak ada rencana mau bunuh aku, kan?"
"Kenapa kamu bisa sampai mikir gitu?"
Dae mencebik, di sisi lain sikapnya masih menunjukkan gerak defensif. "Siapa yang nggak akan mikir gitu, kalau di ajak muter-muter nggak jelas. Apa lagi pas di tanya nggak jawab apa pun."
"Memangnya muka saya ada muka-muka seorang pembunuh?"
Dae menyipitkan mata, menggerakan telunjuknya untuk menggambar sebuah lingkaran imajiner mengelilingi wajah oval Kenji. "Dari lubang hidung sampai pori-pori Kak Kenji, itu semua nunjukin muka-muka seorang pembunuh."
Tepat setelah Dae melontarkan balasan dari pertanyaan Kenji tersebut. Ekspresi si pemuda tampak menegang. Rahangnya mengeras, seirama dengan cengkramannya pada pergelangan tangan Dae yang turut mengetat.
"Kalau saya mau bunuh kamu. Saya nggak mungkin ajak kamu mampir ke sini. Itu cuma akan buat jejak saya mudah terdeteksi," tukas Kenji. Warna suaranya berat mencekam. Dia terdiam sejenak, mengamati raut gadis di hadapannya. Menyadari bagaimana ekspresi Dae yang menahan ringisan, Kenji buru-buru melepas cengkramannya tersebut.
Si pemuda tampak tercengang akan tindakan tak terduganya sendiri. Pandangannya turun menyoroti tangan kanan yang dia gunakan untuk menghentikan Dae. "Maaf... saya nggak sengaja," sesalnya kemudian.
Dae mengembuskan napas. "Kak Kenji sebenernya mau bawa aku ke mana sih? Jangan salahin aku kalau sampai mikir begitu. Kak Kenji sendiri yang tiba-tiba datang ngajak pergi tapi nggak bilang apa pun soal kita mau ke mana. Pas di tanya malah diem aja kayak bibirnya kejait."
Kenji mengangkat pandangan, melabuhkannya intens pada manik sehitam jelaga Dae. Dae menarik saliva ke dalam empedu. Membasahi bibir. Sebelah telapak tangannya bergerak menutup akses penglihatan Kenji yang jatuh ke perutnya yang tadi bergetar di iringi bunyi gemuruh yang tak bisa di bilang pendek.
"Tuh. Cacing-cacing di lambung ku bahkan ikutan protes gara-gara, Kak Kenji."
Garis miring terbentuk di bibir Kenji. "Kamu lapar?"
Dae mendesah pendek. Seketika dewi batinnya bergejolak, menjerit. ASTAGA! KAK KENJI GANTENG-GANTENG KENAPA BOLOT SIH?! SEGALA PAKE NANYA LAGI?! YA IYALAH LAPARRR
*
"Jadi, Kak Kenji, kita mau ke mana. Tolong kali ini di jawab kalau nggak mau aku mikir yang nggak-nggak lagi."
Kenji betul-betul tak segera menjawab. Ekor matanya melirik Dae singkat, lalu kembali fokus ke jalanan di depannya. Seketika Dae berdecak, menyaksikan tindak-tanduk si pemuda yang tampak ragu-ragu dalam melontarkan jawaban atas pertanyaan Dae yang notabennya kelewat sederhana. Dae kemudian meraih satu bungkus roti lagi, menyobeknya dan menyodorkannya ke depan mulut si pemuda. "Kayaknya susah banget Kak Kenji jawab pertanyaan ku yang super sederhana. Nih, makan dulu. Kali aja Kak Kenji laper jadi tenaganya buat ngomong ikut-ikutan ilang."
Tanpa terduga, Kenji langsung memakan roti yang Dae sodorkan. Mengunyah dalam tempo cepat. Dae pun terkekeh kecil. "Pelan-pelan, Kak. Tenang aja. Aku nggak akan minta rotinya, kok."
"Jangan ketawa. Nggak ada yang lucu."
Dae malah makin membesarkan gelegak tawa. "Nah, kan. Habis makan, tenaganya buat ngomong langsung pulih," ujar Dae sambil mengedip. "Jadi, Kak Kenji, kita mau ke mana sekarang?"
Laju mobil memelan, begitu lampu lalu lintas di depan mereka berubah menjadi warna merah. Bola matanya yang segelap bubuk kopi stagnan menelusup intens ke dalam iris Dae. "Saya mau dengar jawaban dari pertanyaan saya waktu di telpon tadi."
Di luar sana derai buliran hujan semakin membabi buta menyerang bumi. Menimbulkan bunyi gemelutuk yang berisik, tetapi menenangkan di saat yang sama. "Kak Kenji bawa aku muter-muter Kota Bandung hampir sejaman tanpa ada tujuan pasti, cuma ngabis-ngabisin bensin. Cuma karena pengen denger jawaban ku?" Frasa-frasa tersebut terbuang ke udara dingin di sesaki aksen tak habis pikir.
Kenji tetap menatap lurus ke dalam iris Dae. "Cuma karena pengen denger jawaban kamu," ulang Kenji. "Dan dari jawaban itu, saya bisa tahu apa saya bisa bawa kamu masuk ke kehidupan saya lebih jauh."
Masuk ke kehidupan Kak Kenji lebih jauh? Belum selesai kalimat tersebut terproses, bunyi lengkingan klakson menyudahi segalanya. Dae terkesiap, kembali memandang ke depan, mendapati hijau telah mengambil alih takhta. Sedangkan di sebelahnya, Kenji buru-buru menancap gas.
Tak lama dari itu, bunyi deringan ponsel turut serta menginterupsi keduanya. Dering tersebut berasal dari ponsel Kenji. Segera si pemuda meraih ponselnya, melirik sekilas ke arah layar yang menyala. Alisnya kontan menekuk tajam. Tak menunggu waktu lama baginya untuk segera menempelkan benda elektronik tersebut ke daun telinga. "Iya, Sus. Ada apa?"
Mendengar panggilan yang Kenji suarakan, kening Dae tak bisa untuk tak mengerut penasaran nan bingung. Sus? Maksudnya suster?
Detik berikutnya, kepanikan serta kegelisahan mewarnai air muka si pemuda. Membalas seseorang di seberang sana dengan nada suara yang sarat akan gamang. "Baik, Sus. Saya segera ke sana. Tolong tahan, Ibu, sebentar sebelum saya datang."
Secepat panggilan terputus, secepat itu pula Kenji melempar ponselnya ke dahsboard dan segera menekan pedal gas jauh lebih kuat dari sebelumnya. Dae refleks tersentak di buatnya, bersama napas yang tertahan seiring laju mobil yang tak kian melambat.
Dae berpaling pada Kenji yang tak menunjukan tanda-tanda akan mengembalikan kewarasan dengan mengemudi lebih normal. Raut si pemuda masih di penuhi kepanikan yang nyata, membuat Dae sangsi untuk meneriakinya. Namun bila dia tak melakukan hal tersebut, besar kemungkinan mereka berdua akan berakhir di rumah sakit. "KAK KENJI APA PUN YANG ORANG ITU BILANG DI TELPON. PEHLISS NYETIRNYA NYANTAI DIKIT. SALAH-SALAH KITA NYAMPENYA DI AKHERAT. AKU MASIH MAU IDUP!"
Dae mengutuk Kenji dalam hati keras-keras. Si pemuda sama sekali tak mengindahkan teriakan menggelegarnya yang hampir menyaingi sambaran petir di langit. Alih-alih si pemuda makin-makin mengebut.
Dae pasrah. Bibirnya komat-kamit merapal doa pada Yang Kuasa agar dia masih di berikan umur yang panjang.
Mama, Ayah... Dae memang rindu kalian. Tapi jangan jemput Dae sekarang, ya....