TIGA PULUH DUA

1194 Words
Mobil milik Kenji berhenti di pekarang rumah seseorang. Dae tak mampu meneliti lebih jauh bagaimana keadaan pekarang tersebut, lantaran gelap yang pekat serta guyuran hujan deras yang membatasi penglihatan. Hanya kondisi bangunan di depannya yang bisa Dae telaah. Entah siapa yang menempati rumah tersebut, tetapi bangunannya terlihat agak seram. Bohlam lampu yang menyirami teras, memancarkan cahaya kuning yang telah redup. Cat putih yang melapisi dinding tampak terkelupas di beberapa bagian, serta beberapa bagian yang lainnya di coraki oleh retakan-retakan. Sedangkan daun pintunya yang terbuat dari kayu tertutup rapat. Berdiri kaku dengan engsel bagian bawah yang terlihat nyaris lepas dari kejauhan.   Dae masih memaku terduduk sendirian di dalam mobil yang telah padam, tanpa mengetahui apa yang harus dia lakukan. Kenji meninggalkannya di sana, tanpa aba-aba langsung meloncat turun menerjang deraian hujan. Memasuki bangunan tersebut tepat setelah mereka tiba. Dari posisinya berada, walau pun samar-samar. Si gadis dapat mendengar suara jeritan seorang perempuan dari dalam sana. Sesuatu yang sukses membikin bulu kuduknya meremang seketika.    Duh. Kak Kenji jahat banget sih. Masa aku di tinggal sendirian begini....   Beriringan dengan hela napas Dae yang terbuang untuk yang ke sekian kalinya, Dae mengusap-ngusap lengan yang di telusupi hawa dingin. Sama sekali tak berani berkutik, atau menoleh ke mana pun. Takut-takut apa bila dia melakukan hal tersebut, malah sosok yang tak di inginkan yang menyambut netranya.   Setelah menimang-nimang sejenak, Dae lantas memutuskan menyusul Kenji. Dae berlari secepat kilat membelah hujaman air dari langit. Sempat berdiri ragu-ragu di depan daun pintu, Dae lantas buru-buru membukanya kala rungu menangkap bunyi aduan benda kaca samar-samar di tengah-tengah berisiknya tembakan air serta gemuruh petir yang terasa berada di atas kepala.   Dae memacu langkah cepat-cepat menuju sumber suara. Begitu dia tiba di depan sebuah kamar yang daun pintunya agak terbuka, Dae mengintip apakah gerangan yang terjadi di dalam sana.   "Di mana putri ku! Bawa ke mari putri ku!"    Di sana, seorang wanita paruh baya berdiri di sudut dinding, sembari menggenggam beling erat. Sesuatu yang membuat telapak tangannya di lumuri cairan merah kental. Air mukanya pucat di rembesi deraian buliran bening. Matanya yang memerah menatap nyalang dua insan yang berdiri tak jauh darinya. Kendati demikian, Dae dapat merasakan kekosongan serta kegamangan yang membayangi bola matanya.   "Bu... Manik pasti pulang. Nggak lama lagi dia akan pulang. Ibu, Kenji mohon jangan kayak gini."   "Pembohong! Aku mau putri ku! Bawa ke mari putri ku sekarang juga! Putri ku anak yang baik... putri ku nggak mungkin ngelakuin itu. Jangan sakiti dia seperti ini...."   Wanita paruh baya itu meluruh, pandangannya mengosong. Kenji mendekatinya, tepat setelah itu si wanita paruh baya mengangkat kepala. Seakan-akan menyadari keberadaan Dae yang sedari tadi mengintip. Seketika bola matanya membeliak lebar ke arah Dae terpaku. Dae kontan di bikin terperanjat karenanya.   "Manik," panggilnya lirih. Spontan Kenji mengikuti arah pandang wanita tersebut. "Manik. Sini, sayang. Ibu di sini."   Tubuh ringkih yang di baluti sweater rajut berwarna krem, bergerak membunuh spasi antara dirinya dan Dae. "Manik... kamu ke mana aja, sayang...." Segala bentuk kesedihan yang tadinya menggelayuti wajah penuh keriput, mendadak sirna begitu saja kala dia menatap ke dalam iris Dae. Kedua telapak tangan terangkat tremor menangkup pipi Dae. Mengelus lembut mulai dari kening hingga ke pipi. "Ibu, kangen, sayang...."   Si wanita memberikan Dae rengkuhan erat di iringi isakan tangis sarat sedu sedan. Amat erat seakan-akan, si gadis akan lebur apa bila rengkuhannya melonggar walau barang sedetik. Sementara di sisi lain Dae masih membeku. Terlampau bingung akan situasi asing yang terjadi di depan matanya saat ini. Namun perlahan-lahan ada sesuatu yang melelehkan jiwanya, membuat hatinya mencelos seketika kala rungunya menerima bisikan-bisikan yang di selaputi duka. "Manik, sayang. Ibu kangen. Kamu jangan pergi lagi, ya sayang." Wanita itu berucap di tengah-tengah sesegukan. "Jangan pergi."   Dae menggulirkan tatapan ke arah Kenji. Si pemuda tampak berdiri kaku, dengan pandangan yang kuyu. Mimik wajahnya di rambati sesuatu yang elusif. Pandangan keduanya beradu dalam diam. Detik itu pula Dae mengangkat tangannya untuk membalas rengkuhan, mengirim usapan-usapan lembut pada punggung kecil yang bergetar hebat.   Untuk beberapa menit, indra pendengaran empat insan yang berada di sana hanya di sesaki oleh sedu sedan wanita paruh baya yang masih betah memeluk Dae. Enggan melepaskan. Sedu sedan yang menyayat hati siapa pun yang mendengar. Sedu sedan yang di iringi oleh suara gemerisik derai hujan di luar sana.   Dae menarik napas dalam-dalam. Mencoba mentetralkan degup jantung yang mendadak berdetak berkali-kali lipat lebih cepat dari ritme seharusnya. Dengan iris mata yang masih memaku iris segelap bubuk kopi Kenji, Dae membuka mulutnya pelan.   "Manik, di sini, Bu. Manik, di sini. Manik nggak akan pergi ke mana-mana."   *   Wanita paruh baya tersebut tetap enggan melepaskan Dae.   Dia bahkan hampir kembali histeris kala Dae lepas sedetik dari genggamannya. Semua hal itu membuat Dae berakhir mesti menunggu si wanita terlelap agar dia bisa terlepas. Alhasil Dae terbaring  miring di atas ranjang kecil di temani sosok wanita paruh baya itu di balik punggung. Hingga akhirnya detik berikutnya, benar-benar senyap. Dae menoleh ke belakang, menemukan sosok itu telah memejam.   Di tengah-tengah kesunyian tersebut, suara apa pun yang tercipat akan terdengar mengusik di rungu. Begitu pula dengan bunyi hentak-hentak kaki di atas ubin abu-abu, walau Dae yakin orang itu telah berusaha membuat langkahnya sepelan mungkin.   Tatkala Dae memalingkan muka, manik matanya menemukan presensi Kenji yang sedang mendekat seraya memegang nampan berisi dua cangkir minuman. Dia berjongkok di samping kepala Dae yang masih tersangga oleh tumpukan telapak tangannya sendiri. "Makasih," ujar Kenji, bersama sorot lembut yang tak pernah Dae lihat sebelumnya ada di dalam iris matanya. "Makasih karena udah mau bekerja sama buat Ibu tenang."   Dae mengunci mulut. Menunggu kata-kata lanjutan Kenji. Sebab si pemuda tampak belum selesai dengan kalimatnya.    "Maaf," sambungnya sekon berikutnya. "Maaf karena kamu harus ada di situasi seperti ini." Kenji lagi-lagi terdiam sejenak. Memandangi sosok wanita di belakang Dae sekilas. "Aku tahu setelah ini pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala mu akan makin banyak."   Tentu saja. Memang apa lagi yang akan menyerang Dae setelah semua hal tak terduga yang terjadi pada dirinya serta Kenji malam ini. Tentang siapa wanita yang memeluknya ini? Kenapa dia bisa sampai berakhir dalam kondisi yang menyakitkan seperti ini? Siapa Manik yang terus menerus wanita paruh baya itu sebut? Dan apa hubungan mereka dengan Kenji? Dae sungguh-sungguh inginkan jawaban.   "Betul. Kak Kenji betul sekali. Jadi, nggak masalah 'kan kalau aku mau tanya beberapa hal sekarang?"   Di luar ekspetasi, seutas lengkungan tipis terbit di bibirnya yang selama ini cuma tau caranya berbaring tegak. Sejenak Dae di bikin terperangah. Terperangah sebab senyum si pemuda kali ini terlihat jauh lebih tulus dari biasanya.    "Tergantung," tukas Kenji. Kemudian sebelah tangannya terangkat menyentuh kepala Dae, lebih tepatnya rambut Dae. "Kamu agah basah. Lebih baik kamu bersih-bersih dulu. Saya nggak mau buat pikiran tentang kutukan saya terasa makin nyata, kalau setelah ini kamu sampai sakit."   Kenji bangkit, sekaligus meminta Dae untuk turut bangun dari ranjang. Dengan sedikit bantuan dari Kenji guna melepaskan pelukan si wanita dari Dae secara hati-hati—berusaha agar wanita itu tak terbangun—Dae akhirnya bisa terlepas dari ranjang. Berakhir berdiri berhadap-hadapan dengan Kenji.   "Saya udah buatin teh hangat. Kamu bisa minum itu dulu sebelum mandi. Nanti kamu juga bisa pinjem baju di sini, buat gantiin pakaian mu yang basah."   Dae mengerjap-ngerjap lambat.   "Tenang. Saya juga udah siapin air hangat buat kamu mandi, kok."   Selepas berkata demikian, Kenji segera berlalu melenggang pergi tanpa mau repot-repot menunggu respon Dae.   Meninggalkan Dae yang masih stagnan pada kedua kakinya yang tegak terpaku, akibat letupan-letupan asing yang mendadak muncul di dalam rongga d**a.   Kak Kenji kenapa mendadak jadi lembut banget sih?  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD