Dae belum memakan sesuap nasi sejak siang tadi. Karenanya begitu menemukan semangkuk mi kuah yang masih mengepul panas tanpa tuan. Teronggok sendirian di atas meja yang tersusun dari bambu-bambu. Dae seketika langsung kalap di buatnya. Bermenit-menit berlalu, Dae terfokus pada santapan yang hampir habis. Bola mata Dae tak sengaja bergulir ke ke depan. Seketika bola mata Dae melebar, bersinergi dengan cairan yang merangkak ke saluran pernapasan. Sehingga sukses membuat Dae tersedak. Dae terbatuk-batuk heboh, merasakan perih yang menjalari tenggorokan serta hidung bagian dalamnya.
Sedangkan oknum yang menyebabkan Dae demikian, malahan tertawa terpingkal-pingkal. Seakan-akan menyaksikan Dae begitu merupakan kepuasan tersendiri baginya. Dae cukup tercengang sesungguhnya mendapati Kenji tertawa selepas itu. Namun dia tak ada waktu memikirkannya ketika dirinya sibuk terbatuk-batuk, serta-merta rasa panas yang menyekat tenggorokan.
Segera Dae meraih minuman dan meneguknya cepat-cepat. Membasuh tenggorokan yang seolah-olah berapi-api. "Kak Kenji sejak kapan di situ? Kenapa nggak ada suaranya?"
"Dari tadi. Kamunya aja yang nggak nyadar. Lagian ya, gimana mau nyadar kalau makannya udah kayak orang yang nggak makan berbulan-bulan."
Dae cemberut. "Namanya juga laper."
"Itu mi saya by the way."
Dae kontan meringis. "Ya ampun. Ternyata punya Kak Kenji. Kenapa tadi nggak di isi label nama gitu, kan nggak bakal aku makan. Gimana dong, udah masuk perut.."
"Kamu pikir seragam smp pakai di isi label nama—"
Belum lagi rampung kata-kata Kenji, tetapi bunyi gemuruh mendadak terdengar menginterupsi. Praktis kedua alis bak celurit Kenji terangkat. Sedangkan di sisi lain kedua belah pipi tembam Dae sudah bersemu menyerupai warna kepiting rebus. "Kamu masih lapar?"
Dae memilin bibir, mendecap-decap sisa-sisa micin yang tertinggal di mulut. Pelan kepalanya terangguk-angguk. "Kak Kenji tahu? Makan satu mi itu kurang, tapi kalau dua itu kelebihan. Jadi serba salah."
Detik berikutnya Kenji bangkit. "Ya udah. Ayok."
"Ayok, ke mana?"
"Ya buat mi lah. Apa lagi."
Keduanya pun ke dapur, dan Dae mulai masak mie. "Bajunya masih terlalu ketat, ya?"
"Eh?" Dae menoleh, urung memasukan mi kering ke air mendidih. "Iya. Ketat banget."
Kenji mengangguk singkat, lalu berlalu pergi. Dae kembali pada kegiatan masak-memasaknya. Tak ada semenit, Kenji datang lagi dengan selembar kain di tangan. Si pemuda tanpa tedeng aling-aling langsung menyodorkan kain tersebut pada Dae yang memandangi bingung, silih berganti antara kain dan Kenji.
"Pakai."
"Kenapa aku harus makai gituan?" Dae terdiam sejenak. "Bentar. Jangan bilang kalau Kak Kenji masuk golongan orang yang nyalahin cara berpakaian cewek kalau ada kasus pemerkosaan? Waduh. Kalau gitu aku nggak terima. Denger nih, ya, Kak kasus—"
"Kamu suka banget kayaknya ngambil kesimpulan sepihak begitu." Dae kontan cemberut. Kenji menyambung. "Celana bagian belakang yang kamu pakai robek. Daleman mu kelihatan. Makanya saya kasih itu. Kenapa? Nggak mau di pake? Ya udah. Siniin."
Dae melongo. Mendadak Dae jadi malu. Lebih-lebih kala sebuah kesadaran menghantam benaknya, kalau celana dalamnya telah terekspos pada kakak seniornya.
Memilin bibir menahan malu, Dae buru-buru melingkarkan kain pemberian Kenji pada pinggangnya. Kain tersebut panjang menutupi mata kaki. Tanpa berbicara apa-apa lagi, si gadis melanjutkan pekerjaan memasak mi. Sementara Kenji lanjut mengawasi. Sesuatu yang membuat Dae agak risih. "Kak Kenji sana gih. Nanti kalau mi nya udah jadi aku bawain. Udah nggak lama kok."
Kenji malah menggeleng. "Saya di sini aja. Ngawasin kamu. Siapa tahu kamu masukin bahan yang aneh-aneh ke makanan saya."
Dae refleks menoleh dengan mulut yang membuka lebar. "Bahkan kepikiran pun nggak ada," desis Dae tak terima.
Kenji mengedikkan bahu tak acuh. "Siapa tahu."
Dae mencebikkan bibir kesal. Lantas, kala dia hendak menuangkan mi dalam panci yang telah mendidih serta lunak, mendadak suara petir terdengar begitu kencang dan nyaring seakan-akan siap membelah angkasa. Hal tersebut membuat Dae terkejut bukan main, kontan melepaskan pegangannya pada gagang teflon. Sehingga air mendidih serta merta mi dan lempengan besi itu, menimpa kakinya. Spontan Dae memekik sembari meloncat mundur. Rasa perih, panas dan nyeri seketika menyebar di area punggung kakinya.
Dae mengubah posisi menjadi jongkok dalam hitungan detik. Mendesis menahan nyeri sembari memegangi pergelangan kakinya.
"Sakit banget?"
Dae kemudian memandang silih berganti antara Kenji dan mi yang berceceran di lantai. Perlahan-lahan bibir si gadis bergetar, mengiringi debar jantungnya yang masih berdentum kencang sejak mendengar ledakan petir tadi. Detik berikutnya pelupuk matanya berembun, siap untuk meloloskan sebulir cairan bening.
"Loh. Kenapa nangis? Sakit banget?" Kepanikan mewarnai nada suara si pemuda. Matanya berpendar cemas, memandangi bergantian antara punggung kaki si gadis yang mulai memunculkan ruam merah, dengan wajah yang kini telah di rembesi air mata dengan bibir bergetar melengkung ke bawah.
"Huweee," tangisan Dae seketika pecah. "Kak Kenji maaf...."
Kenji sontak saja berubah bingung. "Kenapa malah minta maaf."
"Itu." Dae menunjuk kekacauan yang telah dia ciptakan. "Gara-gara aku mi nya jadi kebuang."
"Astaga. Masih sempet-sempetnya mikirin makanan. Itu bisa di urus nanti. Sekarang yang terpenting kaki mu. Harus segera di obatin." Kenji mengusap wajahnya. "Bisa jalan?"
Dae menggingit bibir bagian dalamnya, ketika Dae hendak melangkah kan sebelah kakinya lagi, Kenji menghentikannya dengan berjongkok di depannya secara tiba-tiba. "Naik." Begitu katanya. "Biar saya gendong."
"Aku masih bisa jalan, kok," tolak Dae.
Kenji berdecak, menolehkan kepala ke samping. Sehingga Dae bisa melihat side profile-nya. "Kamu memang bisa jalan. Tapi nyampe di ruang tamunya bisa seminggu kemudian kalau jalannya selambat itu. Lama. Cepet naik."
"Tapi aku berat," cicit Dae.
Tanpa di duga-duga, Kenji justru terkekeh. "Siapa bilang kamu ringan." Dae spontan mendelik, mulutnya menganga. Refleks, si gadis memukul punggung lebar si pemuda. "Kenapa malah mukul? Cepet naik. Kamu kira nggak capek lama-lama jongkok kayak gini?"
Dae mencebikkan bibir, memilih menurut dengan bergerak mengalungkan lengannya di leher Kenji. Detik berikutnya, si gadis telah menggelayut di punggung si pemuda. Bertepatan dengan itu, Kenji berkata, "Saya tahu kamu berat, tapi nggak nyangka bakal seberat ini."
"Ini tuh tandanya aku dapat asupan nutrisi yang cukup tahu."
"Cukup atau kelebihan?"
"Kak Kenji pengen aku gigit, ya?"
"Kamu bukan anjing."
"Emang cuma anjing yang bisa gigit? Nih aku juga bisa." Begitu saja Dae mengigiti leher Kenji. Seketika tubuh serta leher si pemuda menegang. Kepalanya dia adukan dengan kepala Dae, agar si gadis menghentikan aksi berbahayanya itu.
"Kamu gila ya?!" geram Kenji. "Jangan coba-coba gigit leher saya lagi."
"Biarin. Kak Kenji duluan sih. Nakal lagi bakal aku gigit lagi."
Kenji mengembuskan napas kasar. Menghentikan tarikan tungkai kaki. Kemudian dengan suara bernada rendah, si pemuda menguntai serentetan kata. "Jangan berani-berani lakuin itu lagi. Saya nggak yakin kalau saya nggak akan lepas kendali kalau kamu lakuin itu lagi."
Kelopak mata Dae mengerjap-ngerjap pelan. Begitu sebuah kesadaran menghantam benaknya, Dae spontan merutuki kebodohannya. Cepat-cepat Dae mengangguk-nganggukan kepalanya. "Siap, Kak. Nggak gigit lagi."
"Bagus. Gadis pintar."
Duh, Daedalion gimana bisa kamu hampir nyerahin diri ke mulut singa! Dasar bego!