"Kenapa bisa sampai kayak gini sih, sayang?"
Warna suara Duta di rambati kecemasan saat dia melontarkan sebuah tanya. Kakak nomor duanya langsung bertanya demikian pada Dae, sedetik setelah netranya menemukan persensi sang adik bungu terbaring di brankar salah satu ruang perawatan. Tentu saja, dia tak datang sendirian. Damunta sebagai kakak pertamanya juga ikut. Air muka dua pasang pemuda di hadapan Dae tak jauh berbeda, gurat-gurat wajah mereka sama-sama di selimuti kegelisahan serta merta kegamangan yang pekat membayangi kedua pasang manik-manik mata.
"Tadi... aku numpang makan malam di rumah temen. Salah ku karena nggak nanya makanannya ada bahan kacang-kacangan atau nggak." Dae memajukan bibirnya, menyerupai paruh bebek. "Aa. Jangan marah, ya... janji nggak bakal ceroboh kayak gini lagi."
Damunta dan Duta mengadu pandangan selama beberapa saat, sebelum akhirnya kompak sekali mengembuskan napas berat. Lima belas menit yang lalu, saat mereka mendapat jawaban di panggilan—yang entah telah mencapai angka ke berapa, yang pasti hitungannya ratusan. Dua kakak dan adik itu makin-makin di buat kalang kabut begitu mendengar suara si bungsu yang menjawab terdengar serak nan lemah pun bengek. Pikiran mereka yang dari berjam-jam sebelumnya yang memang telah keruh sebab Dae yang tak jua kunjung menampakan batang hidung di rumah, di bikin bertambah kerus juga kacau, tatkala Dae menginfokan bahwa dirinya tengah berada di rumah sakit.
"Terus siapa yang nganter kamu ke sini? Mana temen kamu itu? Kenapa nggak ada di sini?" Kali ini giliran Damunta yang menyeruakan tanya.
Dae menarik saliva ke dalam empedu lambat, begitu mendengar pertanyaan tersebut. Si gadis tentunya sudah memprediksi bahwa kakak-kakaknya akan menanyakan hal tersebut. Sebab saat ini, dia hanya sendirian di sana. Tanpa seorang pun yang menemani. Semua itu di karenakan, Dae telah meminta Kenji pulang tepat setelah panggilannya bersama Duta dan Damunta, di telepon berakhir.
Ingatan Dae jadi di lempar ke detik itu, ketika dia mengeluarkan usaha extra untuk menyuruh Kenji pulang, dan meninggalkannya saja.
"Kak Kenji sekarang pulang aja. Aa-aa ku mau ke sini kok. Jadi nggak apa-apa kalau Kak Kenji pulang sekarang. Keluarga Kak Kenji juga pasti khawatir kalau sampai semalam ini Kak Kenji belum pulang," Begitu Dae mengawali. Pikir Dae, Kenji akan langsung menuruti kata-katanya.
Akan tetapi ternyata si pemuda membantah mentah-mentah. "Nggak apa-apa. Saya mau tunggu sampai Kakak-kakak mu datang. Biar sekalian jelasin semuanya."
Dae menepuk dahi. "Nggak usah, Kak Kenji. Nggak apa-apa kok. Masalah jelasin, nanti biar aku sendiri. Aku bisa, kok. Toh kakak-kakak ku ini. Kak Kenji pulang aja, yah?"
Kenji tetap menolak tegas. "Nggak bisa. Bagaimana pun saya harus tanggung jawab. Saya harus mastiin kamu baik-baik aja selama kakak-kakak mu dalam perjalanan ke sini. Gimana kalau seandainya kamu kumat lagi waktu saya pulang dan kakak-kakak mu belum dateng?"
Dae mengerang gemas. Merasa kekeras kepalaan Kenji benar-benar muncul tidak tepat waktu. Pokoknya bagaimana pun caranya, dia harus bisa mendorong Kenji pergi dari sana sebelum Damunta dan Duta tiba. "Kak Kenji ini rumah sakit. Ada suster di sini yang akan sigap kalau seandainya aku kambuh. Lagian aku udah baik-baik aja sekarang. Aku berani jamin satu juta persen kalau aku nggak akan kambuh lagi. Jadi mending Kak Kenji pulang aja sekarang. Keluarga Kak Kenji pasti khawatir sama Kak Kenji sekarang."
Si pemuda tetap pada pendirian, sama sekali tak menggubris perkataan si gadis yang saat ini sudah hampir di dera frustasi. "Masalah keluarga saya, mereka nggak akan khawatir. Saya laki-laki. Saya bisa jaga diri. Lagi pula saya nggak jarang pulang lebih malam dari ini. Saya tinggal jelasin sekarang pun, mereka akan ngerti."
Dae berdecak gemas. Bangkit mendudukan diri, sehingga kini dia lebih tinggi dari Kenji. Lantaran si pemuda masih duduk tenang di tempatnya. "Kak Kenji. Pliss Kak Kenji pulang aja, yah? Masalahnya aa-aa ku itu, rada-rada. Aku takut Kak Kenji malah di apa-apain. Kak Kenji pulang, yah." Dae menampilkan cengiran memohon sembari mengatupkan kepalan tangan di depan d**a.
Kenji menilisik ke dalam iris mata sehitam jelaga milik si gadis lamat-lamat. Ekspresi nya sukar di definisikan. Entah mengapa tatapan itu membuat debar jantung Dae gugup. Dinding bibirnya pun menjadi pelampiasan, dia gigiti. "Saya ngerti. Kamu sekarang lagi ngusir saya secara halus." Kenji mengangguk-ngangguk kan kepala sok paham. Sementara Dae sontak memelotokan bola mata, kemudian menggeleng brutal.
Tatkala mulutnya terbuka hendak menjelaskan bahwa bukan begitu maksud Dae, dan Kenji salah paham. Kerja pita suaranya terlebih dahulu terinterupsi oleh, Kenji yang bangkit. Berdiri tegak di atas ke dua kakinya. Kini justru Dae yang mesti di buat mendongak guna memandangi raut yang masih tampak lempeng itu. Kenji mengadu pandangan dengan Dae sebentar, sebelum melarikan iris mata ke sisi lain sembari berucap, "Saya pulang," pamitnya. Langsung melenggang pergi ke luar ruangan tanpa menunggu jawaban dari Dae.
Mulut Dae ternganga lebar. Kemudian sepasang tangannya bergerak mengacak-acak rambutnya sebal. Kenapa semuanya malah jadi rumit begini. Dae cuma tidak mau, Duta serta Damunta melihat Dae berada di rumah sakit di temani Kenji. Dia tak mau kedua kakaknya itu justru salah paham, dan mengait-ngaitkan segalanya ke rumor-rumor kutukan yang mengisi nama belakang pemuda itu.
Dae mengembuskan napas kasar. Perasaan bersalah mulai menggerayanginya.
"Sayang. Ditanya malah bengong."
Dae tersentak dari lamunan. "Kenapa? Masih ada yang sakit? Sesak?"
Dae mengulas senyum menenangkan. "Nggak kok. Nggak apa-apa. Aku baik." Dae mengacungkan dua jari membentuk huruf V. "Suer, deh. Nggak bohong."
Damunta mengangguk. Memasang senyum selembut beledu andalannya. "Bagus lah kalau gitu." Telapak tangan besarnya terangkat mengusap rambut Dae. "Lain kali, jangan kayak gini lagi, ya? Aa nggak bisa lihat kamu sakit begini."
Hati Dae langsung terenyuh mendengarnya. Sisa sesak yang di rasakannya, telah sempurna sirna hanya dengan mendengar untaian kalimat Damunta.
"Jadi. Siapa yang bawa kamu ke sini?" Mendadak suasana hati Dae berubah secepat tanya itu di lontarkan. Dae memandangi Duta yang mengulang pertanyaan yang telah Damunta lupakan.
Kenapa nanyain itu lagi sih? Sanubari Dae berdesis dongkol.
Hari itu Dae berakhir menginap di rumah sakit atas paksaan Damunta serta Duta yang ingin memastikan kalau dia sudah baik-baik saja.
Hari itu Dae pun tak tahu. Jikalau tatkala Kenji pergi dari ruang perawatannya, si pemuda berambut gondrong itu tak benar-benar pergi. Dia duduk menunggu di depan pintu ruang perawatan. Sampai akhirnya Duta dan Damunta melesat di hadapannya, melangkah tergesa-gesa sampai-sampai tak menyadari eksistensinya. Pada detik itu baru lah dia benar-benar pergi.
Akan tetapi sebelum itu, dia menyempatkan diri mengintip ke dalam. Melalui kaca kecil persegi panjang yang tertempel di pintu. Dan di dalam sana Dae sama sekali tak menyadari sepasang mata elang Kenji memandanginya dengan sorotan teduh.
“Saya harap, setelah apa yang terjadi hari ini, kamu bisa berhenti deketin saya.”