"Ceritain ke aku. Kemarin kamu ke mana aja, sama siapa, dan ngapain. Kamu tahu nggak, Aa-aa mu kemarin nelponin aku. Mereka kira kamu di rumahku. Terus panik minta bantuan aku buat nyari tahu kamu di mana. Aku tanya temen-temen kelas lain, juga nggak ada yang lagi sama kamu. Terakhir kali Aa mu hubungin aku tengah malam. Tengah malam Daedalion. Kamu di mana sampai tengah malam nggak pulang-pulang juga nggak ngasih kabar."
Rentetan kalimat beragam penekanan di beberapa suku kata itu terucap dari belah bibir sahabat Dae. Zee langsung memberondong Dae dengan pertanyaan.
"Ck." Zee berdecak ketika tak satu pun untaian kata-katanya di gubris oleh gadis yang sibuk dengan penanya. Kemudian Zee mengambil tindakan, mencuri perhatian Dae dengan menutup contekan Dae. Membentangkan telapak tangan bersihnya di atas catatannya sendiri. Dae mengangkat kepala, terkejut dengan aksi sahabatnnya tersebut. "Jawab pertanyaan ku, Daedalion."
Dae menghela napas, mencoba menyingkirkan telapak tangan Zee. Namun justru dia di hadiahi pelototan garang. Dae seketika mengkeret, menyadari aura seram mulai menguar dari pori-pori Zee. "Dikit lagi aja, Zee. Biarin aku nyatet lagi dikit aja," tawar Dae.
Zee tak sedikit pun terpengaruh. Malah dia mempertajam pelototannya. "Sekarang atau aku nggak akan pernah mau ngasih catetan ku buat kamu salin lagi. Selamanya."
Baik lah. Dae menyerah. Kalau ancamannya sudah menyangkut catatan yang sayangnya sangat penting bagi kehidupan perkuliahan yang lancar, Dae tak mampu berkutik lagi.
Akan tetapi beruntungnya semesta tengah berbaik hati menyelamatkan Dae. Lantaran belum sempat mulut Dae membuka, bersiap menyemburkan beberapa frasa ke udara. Kedatangan Randu yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka sembari membawa semangkuk bakso dan meletakannya di atas meja panjang, berhasil merebut atensi Dae serta Zee. "Teman-teman, aku gabung sama kalian, ya. Meja lain udah penuh."
Ketika tatapannya beradu dengan Dae, ia bertanya, "Oh, iya. Kemarin kamu di ajak main ke mana sama Kenji. Hotel? Motel? Bungalow? Sampai-sampai, Kak Kenji baru balik pas hampir jam satu dini hari. Pasti seru, ya?"
Rahang Dae terjatuh akibat menyerap segala asumsi Randu. Di sebelahnya, Zee membulatkan mata memandang Dae penuh penuntutan. "Jadi semalem kamu sampai bikin Aa-aa kamu dan aku kelimpungan, cuma gara-gara ke luar sama Kak Kenji?" Zee cepat menyimpulkan. "Kamu ngapain aja? Pokoknya jelasin ke aku sejelas-jelasnya," pungkas Zee sarat ketegasan.
Seorang anak laki-laki mendadak menghampiri memberikan sebuah tote bag.
"Dari Kakak gondrong. Katanya ini punya Kakak cantik yang ketinggalan di mobilnya." Selepas bocah laki-laki itu berkata demikian, ia langsung pergi.
Sejurus kemudian Dae meraih tote bag pemberian si bocah, menjatuhkan pandangan ke dalam bungkusan tersebut. Di sana terdapat alat-alat lukis yang kemarin dia bawa serta gunakan untuk melukis potret keluarga di rumah Kenji.
Kemarin saat Kenji pergi dari rumah sakit, Dae lupa mengambil alat-alat lukisnya tersebut, dan baru teringat saat perjalanan pulang dari rumah sakit subuh tadi. Namun bukannya merasa lega kalau peralatannya telah kembali, justru ada sesuatu yang seakan menjanggal roda dadanya. Dae sadar betul bahwa perasaan menjanggal yang tumbuh tersebut adalah rasa resah. Resah memikirkan apa kah Kenji semarah itu padanya hanya karena insiden salah paham kemarin malam. Sampai-sampai si pemuda meminta orang lain yang memberikan barang tersebut dan bukan dirinya sendiri.
"By the way. Kakak gondrong yang anak tadi itu maksud Kakak gondrong siapa? Kenapa peralatan lukis kamu bisa ada di mobil dia? Kamu jelas nggak mungkin nggak tahu siapa Kakak gondrong yang di maksud, jadi jangan coba-coba bilang nggak tahu," tanya Zee sesaat setelah mengintip ke dalam tote bag milik Dae.
"Siapa lagi Kakak gondrong kalau bukan Aa ku alias Kenji. Kemarin dia tuh dianter pulang sama Kenji. Nah, aku sih sangsi Dae di ajak langsung pulang sama Kenji. Aku yakin rumah kamu nggak sejauh itu sampe-sampe Kenji baru balik ke rumah hampir jam satu dini hari."
Dae meremat-remat jari-jemarinya gemas. Penjelasan yang Randu lontarkan intinyan barangkali tak jauh berbeda dengan apa yang Dae lontarkan. Tetapi kalimat terakhirnya yang berupa asumsi tak berdasar itu berpotensi besar menimbulkan kesalahpahaman.
"Bentar-bentar. Kemarin kamu ke rumah Kak Kenji? Ngapain? Kenapa kamu nggak ada cerita apa pun ke aku?"
Dae mengembuskan napas lelah, memulai penjelasannya pada Zee. "Iya. Aku di minta Mamanya Kak Kenji buat lukisan keluarga mereka."
"Mamanya Kak Kenji? Kamu kenal Mamanya Kak Kenji? Gimana ceritanya? Kok bisa sih?"
Menyaksikan reaksi Zee yang tampak sedikit tak senang itu, Dae mendadak merasa gerah. Entah mengapa makin hari ke hari. Rasa sentimen Zee terhadap Kenji bertambah berkali-kali lipat.
"Kita nggak sengaja ketemu di mall. Akhirnya jalan bareng dan cerita banyak hal."
"Dan kamu nggak cerita apa pun soal itu!?"
Mendengar nada suara Zee yang meninggi. Bahkan Randu yang sedari tadi menyimak anteng sembari menikmati baksonya, turut tersentak karenanya. "Zee... kamu kenapa sih? Kenapa jadi marah banget kayak gini?"
"Aku nggak marah," ujarnya datar. "Aku cuma kecewa aja kamu nggak bilang apa pun soal pertemuan kamu sama Kak Kenji dan Mamanya bahkan kamu di minta ngelukis mereka."
Kebingungan semakin merajai Dae selepas mencerna frasa demi frasa yang sang sahabat semburkan padanya. "Zee kita memang teman. Tapi bukan berarti aku harus cerita semua yang aku alamin ke kamu kan? Itu hak ku buat cerita ke kamu atau nggak."
Zee bungkam. Air mukanya memaparkan sesuatu yang terbaca. Detik berikutnya sudut bibir gadis itu tertarik sebelah membentuk senyum miring. Tanpa aba-aba Zee bangkit. Dae dengan sigap menahan pergelangan tangan Zee kala gadis itu bersiap melangkah pergi. "Kamu mau ke mana?"
"Aku nggak harus bilang ke kamu ke mana pun aku mau pergi, kan?" Zee membalikan kalimat Dae. "Itu juga hak ku."
Sejurus kemudian Zee melepas cekalan tangan Dae dan langsung melenggang pergi begitu saja. Sementara Dae masih terdiam di tempatnya. Terlampau tercengang dengan hal yang baru saja terjadi. Embusan napas kasarnya lantas terlempar ke udara, diikuti usapan kasar pada wajah. Beberapa sekon setelahnya Dae menambatkan bola matanya ke arah Randu, yang ternyata juga tengah menatapnya. Pemuda itu tampak sama terkejutnya dengan Dae.
"Randu." Dae masih di liputi kebingungan besar. "Aku salah, ya?"
Tak seperti bersekon-sekon yang lalu, kali ini Randu tak banyak bicara. "Mungkin Zee lagi kedatengan tamu bulanan."
Geraman dari bibirnya pun lolos, lantas sekuat tenaga Dae melampiaskan kekesalannya dengan cara menginjak kaki Randu. Lagi.
"Adaw! Kok kaki ku malah diinjek lagi sih!" jerit Randu kesakitan dan tak terima.
"Ini tuh semua gara-gara kamu tahu nggak?" kelakar Dae penuh penekanan.
"Loh? Kenapa malah jadi aku? Dari tadi aku diem aja loh, nontonin kalian debat. Anteng mamam bakso."
Dae mendengkus jengkel. "Pokoknya ini semua salah kamu."
Randu tampak masih tak terima di salahkan. Namun dia memilih enggan meladeni kalau tidak mau Dae melakukan tindakan radikal lagi padanya.
*
Dae berniat meluruskan segala kesalah pahaman Kenji padanya.
Dae masih memiliki misi untuk mematahkan stigma-stigma konyol penghuni kampus mengenai kutukan itu. Sehingga dengan adanya kesalah pahaman yang merentangkan jarak antara Dae dan Kenji. Tentu saja itu bukanlah hal yang bagus untuk terjadi, bisa-bisa rencananya kacau balau hanya karena masalah yang baginya sepele itu.
Menurut informasi Randu, Kenji masih mengikuti kegiatan ajar-mengajar di kelas saat ini. Jika tidak molor, dia seharusnya selesai sekitar sepuluh menit lagi. Dae jadi teringat hal menjengkelkan lainnya yang dia lewati ketika mengorek informasi dari Randu.
"Jadi berapa ronde semalam?" Begitu tanyanya dengan menari-narikan sepasang alisnya.
Gila. Bahkan terlintas secuil saja dalam otak sucinya tak pernah.
Dae yang telah kepalang dongkol membalas dengan injakan di jari-jari kaki pemuda itu. Menyakitkan sekali tentu saja. "Makan tuh berapa ronde," sungut Dae. "Lagian kamu tuh, ya. Punya otak nggak usah kotor-kotor amat. Sesekali cuci. Kalau perlu pakai sunlight biar kinclong."
Dae menggelengkan kepala. Malas sekali mengingat-ngingat hal tersebut. Yang ada malah kepala Dae jadi di buat makin berputar karenanya.
Saat itu pula iris matanya menemukan punggung Kenji tengah berjalan di dampingi seorang dosen. Terlampau mudah mengenali si pemuda dari visual belakangnya saja, sebab tak banyak mahasiswa yang memiliki model rambut serupa dirinya. Bahkan dari sekian ribu mahasiswa di Universitas Kudungga, sepengetahuan Dae cuma Kenji satu-satunya pemuda berambut gondrong yang gemar dia cepol.
Dae memelankan langkah di belakang dua insan yang tengah membincangkan topik-topik yang sama sekali tak Dae mengerti. Begitu dosen pria berambut nyaris setiap helainya adalah uban, mengambil jalan lain. Berpisah dengan Kenji. Baru lah Dae memacu langkah, agar dapat menyamai langkah si pemuda.
"Kak Kenji," panggilan tersebut, berhasil mencuri atensi Kenji. Si pemuda menyorotinya penuh kebingungan. Dae menampilkan cengiran. "Aku mau ngomong sama, Kak Kenji."
"Ngomong aja." Kenji berkata tanpa melihat Dae, pandangannya lurus ke depan.
"Nyari tempat duduk dulu. Masa ngomongnya sambil jalan gini. Nggak enak."
"Saya males."
Dae mendesah pendek. "Kak Kenji marah, ya?"
"Kenapa saya harus marah?"
"Gara-gara kemarin, pas di rumah sakit waktu aku minta Kak Kenji pulang. Suer deh, Kak. Aku sama sekali nggak ada maksud ngusir, Kakak."
Kenji diam. Tarikan tungkai kakinya bergerak lebih cepat. "Berhenti ikutin saya."
Dae berdecak. Sama sekali tak menggubris perintah Kenji. Tetap mengekori si pemuda. Sampai Kenji memasuki suatu ruangan pun, Dae terus membuntuti. Dan kala Dae menyadari ruangan apa yang Kenji masuki, bola matanya refleks terbeliak. Lebih-lebih waktu Dae tak sengaja menangkap presensi seorang laki-laki yang tengah membuang air seni di toilet khas pria, di dekat pintu.
Pekikan gadis itu mengudara diikuti kedua telapak tangan yang terangkat menutup mata. Suaranya tersebut tentu saja memancing si laki-laki yang sibuk dengan urusannya, untuk turuk terkaget.
"Ngapain kamu masuk toilet cowok?!" seru laki-laki itu sembari terburu-buru menaikan resleting celana.
Dae tak menghiraukan. Sibuk menggumam pada dirinya sendiri. Masih menutup mata. "Aku nggak liat. Aku nggak liat. Aku nggak liat." Dae mengatakannya berulang-ulang kali, sampai dia merasa seseorang meraih pundaknya dan membalikan tubuhnya.
Kemudian suara berat itu menembus rungunya. "Saya kan udah bilang, Daedalion. Berhenti ngikutin saya. Salahmu nggak mendengarkan. Kupingmu di mana?"
Ya mana aku tahu kalau Kak Kenji mau masuki ke toilet. Harusnya bilang juga, dong! Dewi batin Dae mendesis jengkel.
Sialan. Mama tolong... huhu, malu banget. Rasanya pengen ganti muka aja....