"Bang Aroo," panggil Dae saat itu. "Kak Kenji... punya pacar?"
Detik itu Aroo tak langsung menjawab, alih-alih memandangi Dae dengan kedua alis yang terangkat. "Setahu ku sih nggak. Memang menurut mu dengan adanya kutukan itu Kenji bisa punya pacar?"
Dae terdiam sejenak. "Bisa aja. Lagi pula di kampus ini aku pasti bukan satu-satunya orang yang nggak percaya sama kutukan itu. Siapa tahu juga pacarnya itu anak luar kampus yang nggak tahu apa-apa soal kutukan ini."
Mendengar opini Dae yang gadis itu lontarkan dengan warna suara nyaris menggebu-gebu, Aroo mengulas sebuah senyum. "Kenapa kamu tiba-tiba nanya begitu? Oh. Kamu patah hati?"
Dae mengernyit seketika. "Patah hati? Nggak lah, ngapain juga patah hati."
"Loh. Bukannya kamu suka sama Kenji?"
Dae kontan tertawa tanpa suara. "Siapa bilang aku suka sama Kak Kenji. Ya, emang sih dia tu gantengnya nggak ketulungan. Sampai bikin hampir seluruh cewek kampus kesemsem. Aku juga gitu sih. Tapi bukan berarti aku suka sama Kak Kenji. Kak Kenji."
"Jadi, misi pembuktian kalau kutukan Kenji itu omong kosong, gimana? Satu-satunya cara buat ngelakuin itu bukannya hanya dengan deketin Kenji?"
Dae mengangguk-ngangguk. "Memang. Tapi bukan berarti aku harus ngasih hati aku untuk, Kak Kenji 'kan, Bang?"
Aroo sontak tertawa sangat lebar sampai menyentuh matanya. Membuat matanya menyipit. Tawa tanpa suara, yang sungguh terlihat manis di mata Dae. "Saya kira kamu suka sama Kenji sampai rela-relain mau ngebuktiin kalau kutukan itu omong kosong. Supaya kamu bisa jalin hubungan sama Kenji?" Pertanyaan Aroo bersifat retoris. Kedua alisnya menjengit-jengit tanda menggoda. "Terus kenapa kamu nanya Kenji udah punya pacar atau nggak? Kamu belum jawab pertanyaan ku yang satu itu."
Dae memaku tatapan pada Aroo, memperlihatkan keseriusan. "Tadi aku nggak sengaja liat kertas jatuh dari novel yang di baca, Kak Kenji. Dan isinya, nunjukin seolah si pengirim surat punya hubungan khusus sama Kak Kenji. Nah, kalau seandainya bener dia pacar Kak Kenji, aku bisa cari dia dan minta buat go public. Nunjukin ke orang-orang kalau Kak Kenji punya pacar dan ceweknya itu baik-baik aja sampai sekarang."
Aroo lalu meloloskan sebuah argumen yang sukses menggelitik perut rata Dae. "Siapa tahu aja karena si pengirim surat yang kamu pikir pacarnya bukan perempuan. Tapi laki-laki."
Detik itu Dae sama sekali tiada mampu untuk menahan ledakan tawanya. Volume tawanya yang besar itu, telak mengundang desisan serta merta pelototan dari pengunjung lain. Memintanya untuk diam. Beruntung Dae tak di usir oleh ibu-ibu penjaga perpustakaan, yang garangnya minta ampun.
Ya. Benar juga. Tidak menutup kemungkinan kalau Kenji homo, bukan?
*
"Zee, kamu masih marah masalah kemarin?"
Dae mengimbangi langkah Zee yang berjalan cepat tanpa sedikit pun menoleh ke arah Dae. Raut wajahnya datar memandang lurus ke depan. Dae baru bisa bicara pada gadis itu ketika kelas kedua hari ini berakhir. ya perihal kejadian kemarin.
"Zee, kita perlu bicara."
"Ngomong apa?"
Dae menggulirkan bola matanya ke sekitar. Beberapa orang yang penasaran mencuri-curi pandang ke arahnya. Tidak sedikit jua yang menyorotinya secara terang-terangan. Tanpa bisa Dae cegah, bisik-bisik mereka terbang menuju telinga.
"Dia cewek yang di foto itu, kan? Yang sama si Kenji?"
"Gila. Itu cewek bener-bener nyari musibah. Berani banget deketin si Kenji. Sampai ciuman lagi."
"Kurang masalah kali hidupnya."
"Bisa jadi dia manfaatin Kenji supaya bisa kecipratan populernya."
Dae ingin sekali menyumpal seluruh mulut-mulut itu, tetapi semua akan terasa sia-sia saja. Kali ini Dae harus diam biarkan dirinya di bicarakan bahkan direndahkan. Nanti pada saatnya dia akan membungkan seluruh aksara mereka dengan aksi nyata. Yaitu pembuktian atas ketidak benaran keberadaan kutukan Kenji. "Kita bicara di tempat lain, ya. Tempat yang lebih sepi."
"Kenapa? Kenapa harus nyari tempat yang lebih sepi? Apa bedanya sama ngomong di sini?" Zee mengedarkan pandangan, detik berikutnya senyum tipisnya terulas. "Kamu takut sama mereka?"
Dae tak di beri kesempatan melempar kata-kata, sebab Zee terlebih dahulu berujar, "Dari dulu aku udah coba peringatin kamu soal Kak Kenji. Tapi kamu nggak pernah mau dengerin kata-kata ku sedikit pun. Keras kepala. Kamu nggak pernah mau terima saat argumen mu di kalahkan, padahal nyata-nyatanya argumen mu udah salah dari awal. Sekarang kejadian kayak gini, kamu mau apa?"
Dae tercengang sejenak. "Kalau kamu pikir aku akan mundur setelah rumor kacangan ini. Kamu salah Zee. Aku masih tetep sama pendirian ku. Aku nggak pernah ngelarang kamu buat percaya sama kutukan Kak Kenji. Begitu pun sebaliknya, kamu nggak bisa memaksa aku buat ikut-ikutan memercayai apa yang kamu percayai. Aku harap kamu ngerti yang satu itu, Zee. Tapi aku paham. Paham banget. Kalau kamu cuma nggak mau aku kenapa-kenapa. Makasi buat rasa khawatirnya, Zee. Tapi bukan itu yang mau aku omongin sekarang sama kamu." Dae menarik napas. "Soal kata-kata ku di kantin kemarin. Aku mau minta maaf soal itu. Mungkin aku nggak sengaja nyakitin kamu. Mungkin bagi mu pertemanan itu, kita harus tahu segalanya tentang teman kita, aku tahu maksud mu baik. Tapi bagi ku sendiri, ada beberapa hal yang memang nggak perlu aku bagi dan cukup aku simpan sendiri."
Gadis itu bungkam, tak mengatakan sepatah kata pun. Kemudian kesenyapan sementara itu, terinterupsi oleh getar ponsel yang berada di genggaman tangannya. Ketika mengangkat benda itu, alis Dae langsung menukik tak menyangka.
Kak Kenji
Is calling...
Entah ada angin apa yang membuat pemuda itu meneleponnya. Tanpa menunggu waktu lama, Dae pun segera menggeser ikon hijau. Sebuah pertanyaan langsung menjadi kata sambutan dari sosok itu.
"Sebenarnya apa yang kamu mau, Daedalion. Kenapa kamu sampai rela mempertaruhkan pertemanan mu sendiri demi saya?"
Dae diam. Bola matanya bergulir memindai sekitar. Detik berikutnya, netranya menangkap eksistensi Kenji tengah berdiri tak jauh dari tempatnya berada. Pemuda itu memegangi ponsel di telinga, stagnan di bawah pohon mangga yang lebat. Sementara tatapannya lurus mengintimidasi Dae.
"Saya menunggu jawaban mu, Daedalion."