"Kenapa pula saya harus sembunyi. Saya sudah terbiasa dan yang ini bukan apa-apa." Akhirnya setelah sekon bertambah, Kenji membuka suara bersama tercetanya seringai tipis.
"Bukannya yang harusnya sembunyi di sini kamu? Saran saya, kamu lebih baik cepet-cepet nyari lubang paling aman untuk sembunyi. Karena banyak kucing lapar yang lagi berkeliaran sekarang. Dan kamu adalah santapan yang menggiurkan bagi mereka." Si pemuda diam sejenak. Menelaah raut gadis di hadapannya yang tampak tak senang dengan perumpamaannya barusan. "Begini lah resikonya kalau kamu main-main sama kutukan. Saya udah beberapa kali peringatin kamu, dan sekarang kejadiannya begini. Ingat. Saya pernah bilang kan? Apa pun yang terjadi sama kamu, itu bukan urusan saya. Kalau kamu pintar, harusnya kamu bisa ngikutin saran saya tadi."
Di sana, Kenji dengan santainya menaruh buku ke celah yang tadi menjadi penghubung antara dua pemuda pemudi tersebut. Kemudian berlalu pergi dari sana seolah tak terjadi apa-apa. Dae buru-buru mengikutinya, ketika sampai di dekat Kenji, si pemuda telah duduk di bangku kayu. Dia tidak sendirian di sana, ada Aroo si kakak senior berkulit pucat menemani.
Dae mendekati mereka. Sebelum mengambil posisi di sana, tangan Dae meraih satu buku acak yang terdampar di atas meja tanpa tuan.
"Oh. Halo, Dae. Di sini juga?" Aroo langsung menyapa Dae dengan warna suara ramah nan senyum manis begitu Dae mengambil posisi untuk duduk di sebelah Kenji.
"Hehe. Iya, Bang. Lagi nyari-nyari buku referensi buat tugas minggu depan, sekalian ada janji sama temen. Aku boleh gabung di sini bentar ya, Bang."
Aroo terkekeh kecil tanpa suara. Deretan gigi besarnya yang putih bersih terpampang. Gusi merah mudanya yang ikut menyembul malu-malu, membuat kekehan Aroo tampak lebih manis. "Ya, boleh lah. Ini kan tempat umum buat para mahasiswa. Ngapain juga kamu pakai ijin segala sama aku. Perpustakaan ini kan bukan punya ku."
Dae memasang cengiran. "Omong-omong Bang Aroo sering banget main ke perpus, ya."
"Ngerjain tugas, Dae. Enak di sini. Gampang nyari buku, internet ada. Suasananya juga sepi sama adem. Jadi bisa konsen."
Kemudian obrolan kedua insan tersebut berlanjut ke hal-hal remeh temeh selama satu menit. Luar biasanya selama obrolan tersebut, Aroo tak sedikit pun tampak ada niatan membahas perihal foto yang tengah memuncaki trending topic.
Kenji mendadak berdecak, merebahkan buku tebal yang di pegangnya ke atas meja kayu panjang di depan mereka. Memalingkan muka sepenuhnya ke arah Dae. "Kamu sebenernya ke sini mau baca buku atau ngoceh? Kalau mau ngoceh, lebih baik kamu pergi dan jangan ganggu kita."
"Ya baca buku dong. Ini tuh lagi nyari buku referensi tugas."
Dae kemudian menunjukan buku yang dari tadi menempel ke dekapannya ke arah Kenji. Pandangan Kenji jatuh ke buku tersebut. Namun reaksinya yang tak biasa—di mana alisnya tampak menukik—membuat Dae heran. Lantas ketika Dae turut melihat ke buku yang di pegangnya, bola mata Dae nyaris meloncat kabur dari tempat tinggalnya.
Di sana, di sampul buku tersebut. Tercetak jelas sekali huruf-huruf yang membentuk serangkaian kalimat.
KEHAMILAN EKTOPIK
HAMIL DI LUAR KANDUNGAN
"Saya baru tahu anak seni rupa sekarang bacaannya buku kehamilan."
Mendengar komentar sarat akan nada sindiran tersebut, atensi Aroo terpancing. Pemuda itu mengalihkan pandangan dari layar laptop ke buku Dae. "Loh, nggak apa-apa kali, Ji. Malah bagus. Itu artinya pola pikir Dae berorientasi pada masa depan." Seketika Dae terbahak dalam hati. Berorientasi pada masa depan? Betul sekali. Bola mata Aroo melirik sekali lagi pada buku sebelum menyambung. "Kehamilan ektopik, ya? Bagus kalau kamu mau baca itu. Bisa hindari faktor-faktor penyebabnya yang bisa di hindari. Kehamilan di luar kandungan itu bahaya dan belum banyak yang ngerti, padahal kehamilan jenis ini umum banget terjadi. Kehamilan begitu kemungkinan besar bayinya harus terpaksa di gugurin supaya nggak membahayakan ibunya. Soalnya sel telur yang tumbuh di luar rahim nggak bisa hidup. Sel telur itu bakalan menempeli jaringan dan merusak jaringan tersebut. Kondisi kayak gitu bisa menimbulkan pendarahan internal dan infeksi yang bahaya buat nyawa sang ibu."
Mendapati Dae yang memampangkan ekspresi kebingungan. Kekehan Aroo mengudara, dia pun berkata, "Maaf. Kamu bingung ya sama penjelasana ku? Nggak apa-apa. Nanti setelah baca bukunya kamu bakal ngerti, kok."
Cengiran Dae kontan melebar. Kemudian
Dae menatap Kenji yang kembali fokus pada bacaannya. Gara-gara berbincang-bincang dengan Aroo, Dae jadi melupakan tujuannya menghampirin Kenji. Namun kini niatnya untuk menyerang Kenji dengan argumennya mengenai kutuk-perkutukan itu, telah menguap entah ke mana. Baik lah, hal tersebut bisa dia lakukan lain kali saja.
Sekarang ada urusan yang lebih penting untuk dia urus, Zee. Iya, benar juga. Sahabatnya itu tak ada muncul semenjak Dae mengiriminya pesan. Dae kemudian memutuskan untuk mengecek ponselnya, barangkali ada kabar dari gadis itu.
Akan tetapi ketika Dae hendak meraih ponsel dari dalam tas gendong kecilnya, netranya tak sengaja memerangkap selembar kertas persegi kecil berwarna merah muda terbang jatuh kala Kenji membalik lembar bukunya. Si pemuda tampak tak menyadari hal tersebut. Dae inisiatif memungut kertas tersebut, siapa tahu catatan penting milik Kenji.
Begitu kertas merah muda sudah berada di tangan. Kening Dae di buat berkerut kala tak sengaja membaca deretan frasa yang tertulis di sana.
Dear, Darling
Darling, siapa gadis dalam foto itu? Kenapa lancang sekali mencuri sesuatu yang seharusnya hanya menjadi milik ku seorang?
Foto? Ciuman? Apa yang di maksud dalam kertas adalah foto panas Dae bersama Kenji?
Satu per satu asumsi-asumsi mulai menyerang pikirannya. Belum lagi Dae selesai dengan pemikirannya. Kertas di tangannya telah di rampas oleh seseorang. Kala Dae mengangkat kepala, dia menemukan Kenji yang sedang membaca isi surat itu juga.
Detik berikutnya, Kenji melempar pandangan pada Dae. Detik itu pula Dae menemukan kilat asing yang menginvasi iris Kenji yang tengah beradu dengan iris hitam Dae.