"Soal foto itu, beneran kamu?"
Dae baru tiba di kelas saat pertanyaan itu datang. Dae mengangguk singkat. Menyadari bagaimana diam-diam banyak kuping yang ikut mencuri dengar.
Bola mata Naya melebar bersama bibirnya. Lalu dia makin menipiskan jarak dengan Dae.
"Jadi bener, kamu ciuman sama Kak Kenji yang terkutuk itu?" lirih sekali suaranya saat mengucap tanya tersebut.
"Nggak."
"Beneran?"
"Bener."
Seketika wajah Naya mengerut penuh kebingungan. "Tapi foto itu asli Dae. Udah di cek photoshop atau bukan."
Dae mengembuskan napas lelah. Benarkan apa dugaannya. Dae berkata jujur pun, mereka yang telah termakan gosip akan menganggap kejujurannya adalah sebuah kebohongan. Percuma saja bila Dae jelaskan. "Tapi kenyataannya memang nggak, Nay. Terserah kamu mau percaya aku atau nggak."
Naya terdiam. Tepat semenit sebelum kelas benar-benar di mulai, Zee baru memunculkan batang hidungnya. Dae menyambutnya dengan lambaian serta cengiran, menyuruh gadis itu duduk di bangku sebelahnya yang sengaja dia kosongkan untuk sahabatnya itu. Alih-alih menuju tempat yang Dae tunjuk, Zee justru melengos dan memilih duduk jauh di deretan belakang.
Zee kenapa? Dia beneran marah gara-gara masalah kemarin? Dewi batinnya menguntai tanya berbalut selimut tipis kecemasan.
Dae pun membalikan badan, menatapi Zee yang sama sekali tak melihat ke arahnya. Sibuk mengeluarkan alat-alat tulis serta beralih memainkan ponsel. Ketika Dae hendak beranjak untuk menghampiri Zee, suara sapaan wanita paruh baya menginterupsi pergerakan Dae.
"Selamat pagi."
Dae refleks menurunkan bokongnya yang sempat terangkat. Saat dia baru hendak melempar pandangan ke arah dosen pengajar, colekan di bahu lagi-lagi dia terima.
"Aku nggak tahu mana yang benar antara kamu memang ciuman sama Kak Kenji atau nggak," bisikan Naya menerpa daun telinga Dae. "Tapi saranku, kamu jangan coba-coba deketin Kak Kenji Dae. Kita semua tahu, dia bahaya. Kamu nggak mau celaka, kan?"
Sudut-sudut bibir Dae melengkung ke atas, di ikuti kepalanya yang meneleng ke belakang.
"Kamu tahu, Nay," Dae memberi jeda sejemang. "Aku bohong. Aku sama Kak Kenji memang beneran ciuman."
*
To : Momi angkat
Zee
Kamu marah ya?
Mslh kmrin?
Kita omongin oke?
Jngn ngehindar kyk gini
Aku tunggu di perpus
Sekalian nyari referensi buat tugas Bu Martha tadi
Menunggu sebentar, menatapi pesan-pesan yang dia kirim tetapi tak kunjung di baca. Dae pun memilih menyimpan kembali ponselnya. Menarik tungkai kaki menuju perpustakaan Universitas Kudungga, beriringan dengan tatap berpasang-pasang mata di sepanjang koridor.
Baru setengah jalan, Dae di kejutkan oleh sebuah tepukan di bahu. Begitu menoleh, dia menemukan Randu yang berjalan di sebelahnya. "Kamu kenapa nggak ada bales chat ku sih," protesnya langsung tanpa tedeng aling-aling.
Dae mengerutkan kening. Oh, itu, dia sengaja. "Kamu kan bisa tanya ke Kakak mu itu. Tinggal serumah pula. Ngapain repot-repot nanya ke aku."
Randu berdecak. "Nanya sama dia tuh ribet. Bikin males duluan," tukas Randu sembari memindai ke sekeliling. "Zee mana? Tumben nggak bareng. Biasanya nempel mulu udah kaya kertas sama perangko."
Dae mendesah pendek. "Dia ngambek."
"Ngambek gimana?"
"Ya, masalah kemarin. Apa lagi."
Mendengarnya Randu terdiam. Tak memberi komentar apa-apa. Terus mengikuti langkah Dae yang setelahnya tak dihiasi obrolan apa pun. Sampai akhirnya mereka tiba di perpustakaan, yang lumayan banyak pengunjung hari itu.
"Kamu ngapain ngikut ke sini?"
"Kamu belum jawab pertanyaanku."
Dae menyipitkan mata, membuka mulut berdesis. "Kamu nggak ada bedanya ternyata sama orang-orang yang gampang banget kemakan gosip."
"Bukan gitu maksud ku." Dae tak menghiraukan Randu. Membuat si pemuda mendesah panjang. "Kamu nggak takut sama kutukan Kenji?"
Dae mengembuskan napas kasar, meletakan kembali buku yang sempat dia tarik. "Kamu percaya sama kutukan itu?"
Randu tak langsung menjawab. Beberapa sekon berlalu, Randu menggeleng lemah. "Aku nggak tahu," ujarnya pelan. "Bahkan Kenji sendiri setengah percaya sama kutukan itu. Terus aku harus apa, ketika orangnya sendiri naruh setengah kepercayaannya di sana."
Itu dia poin masalahnya. Kenji menaruh setengah kepercayaannya pada kutukannya sendiri. Kalau sudah begitu, bagaimana mungkin orang-orang bisa tak percaya pada kutukan tersebut. Dan Dae sama sekali tak paham bagaimana mungkin Kenji memercayai sesuatu yang bagi Dae sendiri sangat konyol untuk menjadi nyata. "Gimana sama keluarga kalian. Mereka percaya sama kutukan Kak Kenji."
Lagi-lagi Randu menggeleng. "Mereka bahkan nggak tahu apa pun soal ini."
Kening Dae mencipta lipatan-lipatan. "Mereka nggak tahu?"
Randu mengangguk sekali. "Iya. Dulunya sebelum masuk sini aku juga nggak tahu," imbuh Randu. "Terus pas tahu aku bakal kuliah di sini juga, Kak Kenji ngasih tahu aku soal itu sehari sebelum masa OSPEK. Dan dia peringatin aku buat nggak ngasih tahu apa pun ke orang rumah."
Dae menurunkan pandangan. Dia bisa memahami mengapa Kenji bertindak demikian. Pasti lah pemuda itu tak mau keluarganya khawatir akan dirinya.
"Kamu sendiri gimana? Percaya sama kutukan itu?"
"Bukannya aku pernah bilang. Kalau aku sama sekali nggak percaya sama lelucon kayak gitu."
"Bahkan setelah apa yang nimpa Joana?"
Dae memejamkan mata, memandang Randu lelah. "Bahkan setelah apa yang nimpa Joana," tegas Dae.
Dae kembali melanjutkan kegiatan menyusuri rak-rak buku. Saat itu pula sesuatu seakan menghantam pikirannya. Teringat pada thread twitter Joana kala itu. Dae lalu membalik badan. Menatap tepat di mata Randu, yang masih stagnan pada posisi.
"Randu. Bisa kamu ceritain gimana hubungan antara Kak Kenji sama tunangannya dulu?"
Randu terdiam, tampak sedikit terperanjat dengan permintaannya yang satu itu. Detik berikutnya, senyum tipis si pemuda tercetak. "Maaf. Aku nggak bisa," tolaknya. "Cuma Kenji sendiri yang bisa cerita tentang itu."
Dae mendesah kecewa. "Kenapa?"
"Bukan hak ku," pungkasnya pelan. "Kalau gitu aku pergi dulu."
Randu langsung melenggang pergi meninggalkan Dae sendirian di sana. Belum ada lima detik pemuda itu menghilang dari pandangan Dae, ketika mendadak suara bariton pemuda yang sangat khas menyapa gendang telinganya.
"Kepala mu ternyata jauh lebih keras dari batu, ya?"
Spontan Dae menoleh ke arah sumber suara, dan di sana matanya menemukan sepotong wajah seorang pemuda yang menjadi pasangannya dalam topik hangat kampus hari ini. Menyelinap di antara celah buku.
Dae terpana sejemang. Entah mengapa iris segelap bubuk kopi Kenji, tampak lebih memesona detik itu. Dae mengedipkan mata. Tidak. Bukan saatnya untuk mengagumi keindahan pahatan di depannya ini.
Dae menarik napas pelan. Mengadu matanya dengan sorot tajam Kenji. "Aku nggak nyangka," ujar Dae sembari menyemat senyum. "Setelah pesan yang Kak Kenji kirim kemarin. Kak Kenji masih berani muncul di dekat ku."
Raut di depannya tampak menyiratkan keterkejutan yang tak ketara. Melihat si pemuda tetap bungkam sampai sekon berlalu. Dae membuka mulutnya lagi.
"Aku pikir Kak Kenji bakal lebih memilih sembunyi kayak seekor tikus."