"Karena saya juga peduli sama kamu."
Kenji meneguk ludah pelan. Begitu menyadari betapa dekat posisi mereka detik itu. Telapak tangannya yang diterpa embusan napas Dae, mengirim efek merinding bagi Kenji. Di tambah sensasi geli yang di timbulkan bibir kenyal Dae yang melekat di sana. Buru-buru Kenji melepaskan bekapannya. Tentunya dengan gaya sekasual mungkin. Sementara si gadis mengusap-usap wilayah yang tertempeli oleh telapak tangan Kenji, keningnya agak mengerut.
"Kak Kenji tadi di toilet nggak habis megang apa-apa, kan? Kalau megang tangannya udah di cuci, kan?"
Kenji terperangah dalam diam, mendengar pertanyaan tersebut. Benar-benar tak memprediksi kalimat seperti itu yang akan pertama kali si gadis ucapkan, kala Kenji melepas bekapan. Memilih tak menanggapi pertanyaan yang bagi Kenji tak penting. "Tujuan mu nyamperin saya ke sini udah selesai, kan? Kalau gitu saya pergi."
Kaki kanan Kenji mengayun ke depan, hendak menjauhi persensi si gadis. Namun lagia-lagi Dae mencegatnya. "Tunggu dulu, Kak," tahannya.
"Apa lagi? Belum puas juga dari tadi ngoceh ini itu?"
Bibir Dae maju lima senti. "Bukan itu," sangkal Dae. "Maksud Kak Kenji tadi bilang kalau Kak Kenji juga peduli sama aku juga, apa?"
Kenji tak langsung menjawab, melainkan mengikat tatapannya dengan iris sekelam jelaga itu. "Kamu memang bodoh atau gimana?" Dae mengangakan mulut mendengar tanya retoris Kenji. "Kalimat sesederhana itu aja kamu nggak bisa ngerti. Dulu SD kamu lulus hasil nyogok?"
Tanpa aba-aba Kenji menyambung langkah meninggalkan si gadis sendirian di sana. Bersama raut wajah yang masih kosong melompong, berusaha mencerna baik-baik rentetan kata yang si pemuda semburkan padanya.
Sementara Kenji menarik tungkai kakinya, di iringi hela napas panjang. Sudah terlampau bingung, harus dengan cara apa lagi dia membuat Dae agar menghentikan rencana konyol tersebut. Pertama, dia memilih memberikan izin—momen saat malam di mana Kenji mengantar Dae pulang, setelah pertemuan tak sengaja di mal—pada gadis itu untuk mendekatinya sebagai pembuktian bahwa kutukan Kenji tak benar adanya. Izin yang Kenji gabung dengan ancaman tersirat. Kedua, yaitu upaya Kenji bermenit-menit yang lalu. Ketika Kenji mencoba menyampaikan pada Dae perihal sangkut paut antara insiden yang menimpa si gadis kemarin malam, dengan kutukannya sendiri. Berharap Dae tak berani melanjutkan rencananya itu. Namun, alih-alih menangkap maksud ancaman tersirat Kenji. Si gadis sepertinya justru menganggapnya sebagai tantangan yang harus dia terima dan hadapi.
Kenji nyaris frustrasi di buatnya. Tak menyangka bila Dae mempunyai kadar kekeras kepalaan yang tinggi nan besar.
Kini Kenji tak tahu harus dengan cara apa lagi mencegah gadis itu. Lantaran Kenji hanya ingin Dae baik-baik saja. Sebab dia sendiri pun tak tahu, apakah kutukan tersebut benar adanya atau tidak. Jalan paling aman bagi Kenji lalui sekarang adalah, dengan tidak menyeret-nyeret Dae dalam kepelikan masalanya.
Akan tetapi, rupa-rupanya Kenji telah terlampau terlambat mengambil langkah.
*
Kala itu, jarum jam telah bertengger manis di angka sembilan malam. Namun tak satu pun batang hidung kakak-kakaknya menampakan diri. Dae baru hendak menekan tanda panggilan pada nomor si sulung, ketika mendadak layar ponselnya berubah menghitam dan detik berikutnya menampilkan nama si anak tengah di sana.
Sempat terkejut sejemang, Dae pun menggeser ikon hijau pada layar. Begitu panggilan tersambung, teriakan menggelegar Duta langsung menyerang dari seberang.
"SAYANG KAMU HARUS JELASIN SEMUANYA SAMA AA."
Dae mengernyitkan kening, sama sekali tak paham alasan di balik hebohnya Duta kali ini.
"Apaan sih, A. Nggak usah pake teriak-teriak di telpon. Kalau kuping aku mendadak tuli, pokoknya itu salah, Aa."
"Kamu yang apa-apaan!" Duta masih betah berteriak, tetapi kali ini volume teriakannya lebih beradab. "Kenapa bisa ada foto kamu sama si cowok terkutuk dan posenya kayak lagi ciuman kesebar di media sosial?! Pokoknya Aa nggak mau tahu kamu harus jelasin sejelas-jelasnya ke, Aa. Aa pulang sekarang."
Selepas selesai menyampaikan hal tersebut, Duta segera memutus sambungan tanpa aba-aba.
Sementara Dae masih membatu di tempatnya. Belasan aksara yang di dengarnya sekon yang lalu masih terproses di dalam mesin kepalanya, yang kali ini mesti bekerja lebih keras. Namun walau pun mesin-mesin di dalam sana sampai berasap saking kerasnya bekerja, Dae tetap tak bisa memahami maksud Duta barusan.
Apa katanya tadi? Fotoku sama Kak Kenji kesebar di media sosial? Posenya kayak lagi ciuman?! Seketika bola mata Dae terbeliak amat lebar, hampir-hampir kabur dari posisinya.
APA-APAAN YANG BARU SAJA AKU DENGAR ITU?!
*
From : Randu
Ini beneran kamu? Tuh foto lagi hebohin anak-anak kampus
Pesan tersebut datang bersamaan dengan sebuah foto. Foto yang lantas membuat Dae paham mengapa Duta sampai berkata demikian padanya di telepon. Sebuah foto yang membuat Dae syok bukan kepalang, sampai-sampai rasa-rasanya jantung yang menggantung di rongga dadanya akan terjun bebas ke jurang. Sebuah foto yang membuat Dae langsung berkata kasar di detik pertama dia melihatnya.
Tidak hanya dari Randu. Grup-grup yang Dae termasuk di dalamnya pun, mulai ramai dengan cuitan-cuitan mengenai foto tersebut.
Foto yang memuat dirinya serta Kenji, saat berada di koridor belakang gedung Fakultas Kehutanan berjam-jam yang lalu. Diambil ketika posisi Kenji tengah membekap mulut Dae, serta kepala si pemuda yang agak condong ke muka Dae.
Sudut pandang foto tersebut terambil dari arah belakang Dae, sehingga yang terlihat hanyalah punggung si gadis. Wajah Kenji terlihat setengah, cuma pada bagian mata ke atas. Lantaran terhalang kepala Dae. Siapa pun yang melihatnya dapat langsung menebak kalau si pemuda adalah Kenji. Karena visual Kenji terlalu mencolok dan mudah untuk di kenali. Apa lagi dengan model rambutnya yang khas dari laki-laki kebanyakan.
Duta pun datang dengan raut yang mengerikan. "Aa mau kamu jelasin. Tapi nanti dulu. Kita tunggu Damunta pulang biar sekalian." Kalimat tersebut meluncur tepat sebelum Duta memasuki kamarnya, membuat Dae seketika kicep. Tak tahu mau membalas bagaimana.
Tak berselang lama dari selesainya kegiatan Dae membikin jus. Damunta muncul, bersama raut wajah yang lebih bersahaja dari Duta. Kendati demikian, aura yang menguar darinya tak bisa di bilang serupa. Ada siratan emosi yang terpancar dari sana kala dia menatap si bungsu. Lantas melontarkan perintah bernada setenang danau yang dalam, yang entah makhluk menakutkan apa saja yang hidup di dalamnya. "Dae, kamu masuk kamar, ya. Aa sama Aa Duta mau ngomongin sesuatu."
Dae mengangguk kaku. Jantungnya berdebar-debar kencang, seakan-akan baru saja mendengar vonis mati atas dirinya. Si gadis lalu kembali memasuki kamarnya Detik berikutnya daun pintu terkuak oleh Damunta dan Duta.
Tanpa tedeng aling-aling, si nomor dua langsung menyodorkan ponsel ke tengah-tengah lingkaran, menghadap Dae. Tanpa melihat pun, Dae tahu apa yang ada di sana. "Sekarang kamu jelasin sedetail-detailnya soal foto ini. Jangan sampai ada yang kamu tutup-tutupi. Karena Aa bisa lebih marah dari ini kalau sampai terjadi," pinta Damunta, mengawali.
"Nggak ada sepeser pun kebohongan," tambah"
"Sebelum aku mulai jelasin. Aku minta Aa-Aa janji nggak nyela kata-kata sebelum aku bener-bener selesai ngomong. Janji?"
Dae menyodorkan kelingking yang tak langsung menerima respon. Duta dan Damunta justru memilih mengadu pandangan sesaat, seolah tengah berkomunikasi melaluinya. Sebelum akhirnya keduanya sama-sama mengangguk, mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Dae yang masih menggantung di udara.
"Janji," ucap dua pemuda itu kompak.
Dae menangguk, membuka mulut. "Apa yang foto itu tunjukin sama sekali nggak sesuai sama apa yang terjadi sebenarnya—Aa Duta tunggu, aku belum selesai ngomong. Jangan di selak Aa udah janji tadi." Dae segera memperingati Duta kala melihat gestur si pemuda yang hendak berbicara.
"Oke, bagus. Aku lanjutin." Dae membasahi belah bibirnya yang mendadak terasa kering, memandang silih berganti raut yang masih tak terbaca dari saudara kandungnya itu. "Aku klarifikasi secara tegas. Aku sama sekali nggak ciuman sama Kak Kenji, kayak apa yang di foto tunjukin. Waktu itu aku cuma lagi ngobrol biasa sama Kak Kenji di Fakultas Kehutanan. Kita bahas soal Mapala. Terus nggak sengaja mataku kelilipan dan Kak Kenji bantu tiupin. Udah selesai. Cuma segitu aja. Sama sekali nggak ada acara tempel-tempelan bibir. Foto itu di ambilnya dari angel yang buat orang-orang jadi salah paham. Intinya Aa, ini tuh kesalahan pengambilan angel foto."
Dae tentu saja menambah taburan kebohongan dalam klarifikasinya. Amat tidak mungkin bila dia berkata terang-terangan mengenai topik sesungguhnya, sebab Damunta serta Duta telah menyatakan ketidak setujuannya secara terbuka mengenai niatan pembuktian Dae itu. Dae tak mau usahanya di rusak begitu saja.
"Harus kalian ngomong di koridor belakang yang sepi begitu?" Duta bertanya skeptis.
Dae menggigiti bibir bagian dalam sebelum menjawab. "Ya. Ketemunya kan di sana. Mau gimana lagi."
"Emang nggak bisa lewat chat biasa?" serangnya lagi.
"Aa, ngomongin hal yang penting tuh nggak enak kalau lewat chat."
"Sepenting apa memangnya?" cecar Duta lagi. "Kenapa harus kamu, kenapa nggak minta orang lain aja. Dae Aa udah bilang kan sebelumnya, kalau kamu jangan deket-deket sama orang itu. Kamu tahu sendiri reputasinya gimana selama ini. Sekarang kamu lihat sendiri kan ujungnya gimana."
"Jadi Aa nggak percaya kalau aku bener-bener nggak ciuman sama Kak Kenji?"
"Bukan gitu, sayang," Kali ini Damunta buka suara. Warna suaranya lebih lembut menenangkan. "Kita percaya banget kok sama penjelasan mu barusan. Tapi yang Aa minta sekarang, kamu jangan pernah deket-deket sama Kenji lagi. Kalau ada hal yang memang mau kamu omongin soal organisasi, cukup lewat chat aja. Yang sekarang biarin aja, nasi udah jadi bubur. Tinggal kamunya sendiri yang mutusin mau di makan atau di buang."
"Unta lokal tolong bicara dengan bahasa yang dapat di pahami manusia. Jangan pakai bahasa maneh. Kita bukan hewan."
Damuntu menggetok kepala belakang Duta menggunakan kepalan tangan. Duta yang mendapat hadiah di perlakukan begitu langsung hendak menyalakan protesan, tetapi urung sebab Damunta mendelikinya serta memintanya untuk diam melalui gerak mulut.
"Maksud Aa, keputusan ada di kamu. Kamu mau coba jelasin ke mereka tentang kesalah pahaman itu atau mau biarin dan tutup telinga. Atau kamu mau Aa-Aa yang tutupin mulut mereka?"
"Jangan!" Dae spontan berseru. "Biarin aja, A. Di jelasin pun aku sendiri nggak yakin mereka bakal mau percaya. Jadi percuma. Buang-buang tenaga."
"Tapi kamu yakin, siap di nyinyirin satu kampus?"
"Tapi kayaknya Aa nggak bakal bisa nahan diri kalau sampe denger ada yang ngomongin kamu yang bukan-bukan." Dae belum lagi menyahut, tetapi Duta telah mendahului kesempatannya bicara.
"Betul." Damunta menyetujui.
"Pokoknya Aa-Aa jangan lakuin apa pun kalau denger masalah ini di kampus. Masalah kacangan kayak gini nggak akan bertahan lama. Aku yakin itu."
"Nggak akan bertahan lama kalau setelah ini kamu nggak kedapetan deket lagi sama si cowok itu. Tapi semuanya bakalan tambah panas, kalau kamu keliatan sekali aja ketemu sama cowok itu. Makanya sekali lagi Aa peringatin sama kamu buat jauh-jauh dari cowok itu." Duta tetap menyebut Kenji dengan sebutan 'cowok itu' seolah-olah benar-benar anti dengan Kenji.
Dae menghela napas. Membalas peringatan Duta dengan anggukan. Untuk saat ini itu lah opsi paling aman baginya, supaya masalah tak tambah pelik. Pura-pura menurut.
Kompak senyuman tercipta di kedua belah bibir Damunta dan Duta. Sesuatu yang akhirnya mampu membuat Dae bernapas lega.
"Anak pintar," puji Duta seraya mengelus-ngelus bagian bawah dagu Dae seakan-akan Dae adalah seekor kucing.
Selama percakapan tersebut, ada satu pesan yang memasuki ponsel si gadis, tanpa satu pun dari mereka yang menyadarinya.
From : Kak Kenji
Terbukti kan? Kalau berada di dekat saya itu berbahaya