"Loh Dae, kamu mau ke mana?"
Liptint baru saja terpoles pada belah bibir tipis Dae, ketika mendadak Damunta menyembulkan kepala dari balik dahan pintu.
"Mau ngemall."
"Sama siapa?"
"Sendiri." Dae meraih tas selempangnya dari atas ranjang, lantas beranjak mendekati Damunta. "Aa sendiri mau ke mana?"
"Jalan sama Kak Rada."
"Loh, Aa belum putus sama Teh Rada?"
Raut muka Damunta seketika langsung berubah keruh. "Kamu doain Aa putus?"
Dae menampilkan cengiran. "Hehe. Kok tahu?" tanyanya pura-pura terkejut. "Abisnya, Teh Rada kebagusan tahu, buat Aa."
Ada sejarah lucu di balik hubungan antara Damunta dan Rada, yang kini terjalin. Jadi dulu, Rada merupakan aktris pemeran utama yang sengaja Duta rekrut dalam proyek film pendeknya. Niat awalnya, ingin sekalian pendekatan alias PDKT, lantaran Duta memang sudah dari lama mengincar dan jatuh hati pada Rada. Namun beribu sayang, Rada justru lebih memilih Damunta ketimbang Duta. Dae tahu, pastilah hati kakaknya itu hancur berkeping-keping bagai piring kaca yang dibanting lalu dilindas truk pembawa pasir. Sakitnya dua kali lipat, tetapi dia tidak mau menunjukkannya. Padahal Dae sudah bersiap siaga, kalau-kalau pertumpahan darah antar saudara akan terjadi.
Sekali, Duta pernah berkata begini. "Nggak apa-apa. Rada cuma lagi tersesat ke jalan setan, nanti pada saatnya dia akan sadar mana jalan menuju nikmat surgawi."
Kendati begitu, setiap kali Duta melihat kebersamaan keduanya. Sorotan pemuda itu tidak bisa tidak sinis. Yah, Dunia pertikungan antar saudara memang teramat mengenaskan.
"Didi sayangnya Aa. Kok kamu sekarang jadi jahat begini sama Aa?"
"Ya abis, aku baru sadar, kalau muka Aa itu muka-muka enak buat dijahatin." Dae terkikik menyaksikan tampang Damunta yang seolah-olah tersakiti. "Nggak kok, aku bercanda."
Dae melenggang ke luar, diikuti Damunta di sebelahnya. "Kamu mau Aa anterin?"
"Nggak apa-apa? Kan nggak searah sama rumah Teh Rada."
"Ya, nggak apa-apa dong. Gitu doang mah kecil, mun buat kamu."
Dae tersenyum lebar, mengacungkan jempolnya. "Aa emang terbaik."
Butuh waktu kurang dari dua puluh menit bagi Dae, supaya sampai di pusat perbelanjaan modern yang dituju. Surya baru saja tenggelam ke peraduannya, kala Damunta meninggalkan Dae seorang diri di depan pintu masuk.
Dae menyusuri lorong-lorong mal, puluhan insan tua renta hingga yang bayi memadati penglihatannya. Sejurus kemudian, ketika dia melewati salah satu toko yang menjual pakaian-pakaian perempuan. Manik matanya tidak sengaja menangkap perawakan seseorang yang dia kenali. Diserbu rasa penasaran, Dae lantas memasuki toko tersebut. Kontan saja, Dae hampir mendelik tidak percaya kala satu nama yang tadi melintasi benaknya, tengah berada tidak jauh darinya.
Kenji tampak seperti biasa, rambut hitam tipis seatas bahunya tercepol ke atas sedikit berantakan. Beberapa anak rambutnya menjuntai di belakang leher, kulit cokelat eksotisnya tampak cemerlang di bawah siraman lampu. Dae menarik tungkai kakinya mendekati Kenji yang terduduk di depan ruang ganti, seperti tengah menunggu seseorang. Diam-diam Dae bertanya-tanya dalam hati, apa atau siapa gerangan yang membawa pemuda itu memasuki toko yang dipenuhi produk bagi kaum hawa.
"Kak Kenji?" Kenji mendongak, membuat pandangan mereka bersibobrok. Seperkian detik keterkejutan mengaliri air muka Kenji. "Kak Kenji kok bisa ada di sini?"
Kenji bangkit. Mulutnya terbuka hendak berkata-kata, tetapi dua panggilan berbeda yang berasal dari ruang ganti pakaian menginterupsinya.
"Sweetheart."
"Kenji."
Serempak dua insan berbeda gender tersebut menoleh. Di sana, di depan dua ruang ganti yang kini tirainya telah sama-sama terbuka, berdiri dua wanita dengan pakaian yang bertolak belakang satu sama lainnya.