Sial. Sial. Sial. Rutuk sang dewi batin berulang-ulang kali.
Sang ketua umum Mapala Mandara Giri—Panji—yang memimpin berlangsungnya rapat, melirik jam tangannya lantas memandang Dae dengan senyum maklum sebentar. "Telat dua menit ya, Dae. Sanksinya nanti aja pas sudah selesai rapat. Kamu bisa gabung sama yang lain sekarang," terangnya sebelum melanjutkan presentasi di hadapan semua anggota.
Dae mengangguk patuh. Buru-buru mencari posisi kosong. Salah satu rekan laki-laki yang duduk di sebelahnya, menyikut ringan lengannya dan tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Dae meringis dan mengacungkan dua jari berbentuk V di dekat telinganya.
Rapat kali ini membahasa tentang kegiatan yang akan dilakukan untuk perayaan HUT Mapala Mandara Giri yang ke dua puluh sebulan lagi. Sepanjang jalannya rapat, Dae dapat mengambil kesimpulan, bahwasannya perayaan tahun ini nantinya diselenggarakan dalam dua acara. Pertama, pengadaan lomba-lomba bagi siswa-siswi pecinta alam tingkat menengah atas, lazimnya disingkat Sispala. Teknis lomba ini bisa dikatakan sebelas-dua belas dengan Ninja Warior. Kedua, yaitu tepat pada hari jatuhnya HUT Mapala Mandara Giri—yang beruntungnya jatuh pada hari libur, minggu—seluruh anggota akan mengadakan kemah sekaligus penanaman seribu bibit pohon.
Pasti bakalan seru. Dewi batin gadis tujuh belas tahun tersebut memekik tidak sabaran.
Selesai rapat, sebagian anggota memilih membubarkan diri, dan sebagiannya lagi menetap untuk mengurus satu-dua hal. Dari sebagian orang yang menetap tersebut, perhatian Dae tersita pada sosok Kenji. Pemuda berkulit cokelat gelap akibat terbakar sinar matahari tersebut, tampak sibuk memeriksa perlengkapan-perlengkapan panjat tebing dan lainnya.
"Dae. Dua set push up, ya."
Dae mengalihkan pandangan pada Panji. Napasnya terhela lelah. "Nggak boleh ditawar ya, Kak?"
"Kamu tahu sendiri gimana peraturan kita." Panji tersenyum manis, menunjukan dua gigi gingsulnya. "Ayo ambil posisi. Aku yang ngitungin."
Berpasrah diri, meletakan tas dan binder yang sedari tadi dia tenteng ke atas meja di dekat jendela. Lantas mengambil posisi tengkurap di atas keramik. "Push up cewek 'kan, Kak?" tanyanya penuh binar harapan.
"Kamu mau push up cowok?"
Dae cepat-cepat menggeleng, yang benar saja. Dia masih belum terbiasa melakukan kegiatan fisik begini. Satu set push up yang terdiri dari dua belas kali push up perempuan saja sudah membuatnya ngos-ngosan. Apalagi dua set push up yang berarti dua puluh empat kali, ditambah posisi push up laki-laki. Dae yakin, belum-belum lengannya pasti sudah hampir copot rasanya di hitungan ketiga. Bagi yang belum tahu, bedanya push up perempuan dan laki-laki yaitu terletak di posisi tubuh. Jika push up laki-laki menggunakan ujung-ujung jari kaki serta telapak tangan sebagai tumpuan, sedangkan push up perempuan menggunakan bagian lutut serta telapak tangan sebagai tumpuan. Tentu saja hal itu lebih mudah untuk di lakukan.
"Yaudah. Tapi lain kali, kamu harus push up cowok loh, ya? Pasti bisa, sering-sering dilatih aja."
Dae mengangguk. Dalam hati mengucap syukur, beruntung dia hanya telat dua menit. Bayangkan berapa kali dia harus push up, jika gadis itu telat tiga puluh menit. Sebab setiap satu menit keterlambatan datang dalam kegiatan di organisasi tersebut tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, akan dikenakan satu set push up.
"Ken kamu udah lihat thread Joana di twitter?" Dae melirik gadis pendek bertubuh padat berisi, yang merupakan si Ibu wakil ketua—Wida.
"Aku nggak follow Joana di twitter."
"Teu waras ieu awewe mah." (Nggak waras nih cewek) Nada suaranya terdengar tak habis pikir. "Kamari hungkul getol pisan ngungudag didinya, nyarios teu percantos ka si you-know-what. Ayeuna si eta malah nyieun thread siga kieu.” (Kemarin aja getol banget ngejar-ngejar kamu, bilang nggak percaya sama you-know-what. Sekarang dia malah buat thread beginian)
You-know-what yang dimaksud adalah sebutan untuk kutukan Kenji, yang dibikin oleh anak-anak mapala. Lantaran mereka merasa canggung bin tidak enak, bila harus mengatakannya secara eksplisit. Ya, walaupun Dae tahu, Kenji tidak pernah benar-benar peduli.
"Maneh mau baca thread-nya, Ken?" (Maneh : kamu)
"Nggak. Males."
"Ck. Aku udah bisa tebak, kalau kamu bakal jawab begitu." Si ibu wakil ketua ini memang begitu. Suka sekali gonta-ganti bahasa ketika bicara. Awalnya dia akan berbicara menggunakan Bahasa Sunda dengan logat yang super kental. Tau-taunya detik selanjutnya dia akan menggunakan Bahasa Indonesia, tanpa ada logat-logat Sunda sedikit pun.
"Terus ngapain kamu buang-buang tenaga, nanyain hal yang udah kamu tahu sendiri jawabannya apa."
"Ya, karena aku berharap, respon mu bakalan beda. Aku nggak ngerti gimana caranya kamu bisa seapatis ini sama semua orang yang ngomongin you-know-what."
"Gampang. Tinggal nggak usah diladenin. Masalah selesai."
"Iya atuh, terserah we lah. Capek mun terus ngobrol jeung didinya." (Iya deh. Terserah kamu. Capek lama-lama ngomong sama kamu)
"Dua puluh empat." Dae langsung menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Lengannya bergetar kelelahan. "Salahmu sendiri, Wid. Kita semua tahu betapa apatisnya makhluk satu ini."
"Bawa minum, Dae?" tanya Panji kemudian.
Dae menggeleng. Wida pun mengulurkan sebotol minuman, yang langsung dia tegak rakus. "Makanya, Dek. Lain kali telat lagi, ya."
Dae meringis pelan. "Maaf, Kak. Janji, ini yang pertama dan terakhir kali." Dae mengulurkan kembali botol minum pada Wida. “Makasih banyak minumnya, Kak.”
“Makasihnya jangan ke aku. Tuh yang punya.” Wida mengedikkan kepala ke arah Kenji yang tampak masih sibuk dengan sesuatu, sebelum akhirnya mendekati Dae. Dae menelan ludahnya pelan saat Kenji berada tepat di depannya sembari meraih botol minuman Dae.
“Kamu mau minta sama botolnya juga?”
“Ha?” Seperti orang bloon. Dae lantas buru-buru melepas botol tersebut, dan Kenji langsung pergi begitu saja. Dae merutuki kebodohannya dalam hati.
Dalam langkah lambatnya, Dae memainkan gawainya, mencari-cari akun twitter Joana seraya memegangi bibirnya.
Kalau itu botol minum Kak Kenji, artinya aku baru aja indirect... kiss?!
Dae menggelengkan kepala brutal. Kembali fokus pada ponsel yang menunjukkan thread yang baru diunggah oleh gadis itu sekitar satu jam yang lalu.
Ana @JoanaMalik •1h
Pertamanya sih aku sama sekali nggak percaya sama rumor tentang seseorang (kita sebut aja pria terkutuk) yang nyebar di kampusku
Tapi setelah aku ngalaminnya sendiri. Aku percaya, kalau sesuatu ini memang nyata adanya
Kalian tahu kisah tentang Mpu Gandring yang dibunuh Ken Arok menggunakan keris tempaannya sendiri, kemudian Mpu Gandring mengutuk keris tersebut, bahwa keris tersebut akan memakan nyawa 7 keturunan Ken Arok yang memegangnya.
Kening Dae mengerut skeptis, membaca thread tersebut sampai di situ.
Nah, kisah si pria terkutuk di kampusku ini sedikit banyaknya hampir mirip sama kisah itu. Bedanya di sini keris itu adalah seorang laki-laki yang tadi aku sebut sebagai si pria terkutuk
Apa-apaan?! Dewi batin Dae mengerang emosi.
Jadi, dulu si pria terkutuk punya tunangan. Hubungan mereka nggak terlihat bagus. Dan aku nggak ngerti gimana caranya mereka bisa sampai tunangan. Rumornya, mereka dijodohin. Sampai suatu hari, si cewe tunangannya itu bunuh diri dengan lompat dari gedung fsrd. Dia meninggal di tempat. Lokasi itu sampai sekarang jadi rada-rada angker semenjak kejadian itu. Cuma beberapa orang yang berani lewat sana. Ada yang memang karena berani, ada juga yang karena terpaksa lewat sana.
Beberapa bulan pertama dari kejadian itu sih, nggak ada apa-apa yang terjadi. Sampai akhirnya ada seorang cewe yang deketin si pria terkutuk ini. Deketin dalam artian mau dijadiin pacar. Suatu ketika dia kena musibah, pas dia pulih dari musibah itu, dia deketin pria terkutuk lagi dan lagi-lagi dia kena musibah. Akhirnya dia nyerah karena pria terkutuk juga ga merespon
Terus ada cewe-cewe lainnya yang coba deketin si cowo itu, dan hal yang sama terjadi ke mereka sama seperti apa yang terjadi ke si cewe pertama. Lalu, muncul gosip-gosip kalau cowo itu udah kena kutukan dari tunangannya yang bunuh diri itu. Dari sana, nggak ada lagi cewe yang mau deketin dia.
Sampai beberapa hari lalu, aku coba pdkt sama dia. Karena kupikir itu semua omong kosong. Tapi satu kejadian kemarin, dikampus jam setengah7, aku masih dikampus karena harus geladi pementasan teater. Pas mau balik, aku jatuh dari tangga dan saat itu aku ngerasa ada orang yang ngedorong aku padahal aku yakin banget pas itu aku sendiri, dan memang nggak ada siapa pun di sana.
Well. Kalian mungkin pikir thread ini hiperbola banget. Tapi memang itu kenyataannya. Kalian bisa tanya sendiri ke cewe-cewe lainnya yang udah pernah ngerasain kutukan itu.
Kemudian di bawah thread tersebut, dia menyebutkan akun-akun twitter para perempuan yang katanya pernah merasakan kutukan tersebut. Kepala Dae sepertinya telah berapi-api saking kesalnya membaca thread Joana yang memang lah super hiperbola, bagi Dae. Malas membaca balasan-balasan thread Joana, Dae meninggalkan sebuah tweet balasan di sana, mengetik dengan menekan-nekan keyboard gawainya sekuat tenaga akibat emosinya yang mengawang-awang.
Dae @DaedalionRa •21s
Repliying to @JoanaMalik
Kutukan itu nggak benar adanya. Apa yang terjadi sama cewe-cewe itu, murni musibah yang bisa dialamin siapa aja. Itu cuma stigma yang mereka ciptakan dan percayai. Aku akan buktiin kalau kutukan itu benar-benar cuma omong kosong.
Dae mengembuskan napasnya kasar begitu selesai mengetikan isi kepalanya. Baru hendak memasukan gawainya, tetapi satu notifikasi yang muncul dari balasan tweet-nya barusan, menghentikan pergerakannya.
Aroo liked your reply