"Sumpah ya, Zee. Rasanya aku pengen ulek-ulek mulut mereka jadi sambel terasi."
"Tenang, babe. Jangan gegabah. Bagaimana pun kita ini itungannya masih mahasiswa baru dan mereka kakak tingkat kita. Ibarat kata nih, ya. Kita cuma itik yang baru netas kemarin sore. Salah-salah, diinjek sekali langsung gepeng. Nah, mereka induk ayamnya. Boro-boro gepeng keinjek, belum-belum kaki kita udah dipatok duluan."
Dae berdecak sebal mendengar perumpaan temannya di seberang sana. "Zee mereka udah pergi," ujar Dae kala melihat tiga perempuan—kakak tingkatnya—keluar dari lift, dan seorang pemuda tinggi masuk.
Sedari tadi berada dalam satu kotak sempit bersama mereka, kuping Dae rasa-rasanya akan kebakaran saking panasnya mendengar gosip-gosip kacangan mereka. Gosip yang sudah menyebar dari kemarin malam, dan Dae begitu lelah mendapati setiap insan di kampus membicarakannya. Berita tentang Joana, si pemeran utama yang terpaksa digantikan dalam pementasan teater semalam lantaran kakinya cedera setelah terjatuh dari tangga. Dan bagian yang membuat Dae dongkol adalah, orang-orang mengaitkan kejadian tersebut dengan kutukan yang dimiliki salah satu seniornya di organisasi mahasiswa pecinta alam.
Kenji Cettrasena, namanya. Hampir seluruh isi kampus memercayai bahwasannya laki-laki itu membawa kutukan bagi kaum hawa. Katanya, siapa pun perempuan yang mendekatinya harus bersiap-siap menerima malapetaka. Tentunya, Dae tidak mau memercayai stigma yang baginya konyol tersebut. Lagipula ini zaman modern. Hal-hal semacam kutukan dan t***k bengeknya, hanya eksis di zaman-zaman baheula.
"Pokoknya ya, Zee. Aku akan cari tahu dan buktiin kalau kutukan itu nggak pernah ada."
"Tapi Dae, Joana udah jadi buktinya kalau kutukan itu nyata, dan banyak lagi cewek-cewek sebelum Joana."
Dae berdecak. "Itu cuma musibah. Bisa terjadi ke siapa saja. Mereka aja yang ngelebih-lebihin. Bilang itu kutukan lah, apa lah."
"Tapi, Dae—"
"Curiosity killed tha cat." Dae tersentak mendengar suara yang dia kenali tiba-tiba menerobos pendengarannya. Ketika gadis berambut panjang itu berbalik, bola matanya hampir-hampir melompat ke luar kala menemukan tokoh perbincangannya berdiri di sana.
"Hai, Kak Kenji," sapanya mengusir canggung sambil menurunkan ponsel dari telinganya, dan tidak menghiraukan Zee yang tengah mengoceh di sana.
"Kamu nggak perlu membuktikan apa pun. Sebaiknya urusi saja urusanmu," katanya, tanpa sedikit pun memandang ke lawan bicaranya.
Dae memberengut tak suka. "Curiosity killed the cat," ucapnya mengulang perkataan pemuda di hadapannya. "But I'm not a cat. I'm a lion and it won't be easy to kill a lion."
Kenji menunduk dan napas Dae seketika tertahan begitu tatapan mereka beradu. Sesuatu mengaduk-aduk perutnya sehingga berefek ke jantungnya yang kini sedang berdebar-debar tak karuan. Dae menarik ludah ke dalam empedunya, susah payah mempertahankan tatapan. Setelah berkata penuh keberanian seperti tadi, mana mungkin gadis bermanik mata sehitam jelaga itu melarikan pandangannya. Itu akan membuatnya terlihat konyol.
Lift terhenti, dan terbuka. Diam-diam Dae mengembuskan napas penuh rasa syukur. "Duluan ya, Kak Kenji." Dae berkata sambil mengembangkan senyum, lantas buru-buru melangkah lebar-lebar ke luar dari benda besi yang panas tersebut.
Dalam perjalanannya menyusuri koridor, Dae tiada hentinya merutuki dirinya sendiri sambil menepuk-nepuk bibirnya. "Bego. Bego. Bego." Dae menarik rambutnya frustasi, membuat beberapa orang yang melihatnya mengernyit bingung. "Bisa-bisanya kamu ngomong kayak begitu sama Kak Kenji, Daedalion."
Lantas detik berikutnya, napasnya terembus pasrah diikuti bahu yang terkedik. "Yaudahlah. Lagian yang aku bilang juga bener." Dae tersenyum pongah mengingat-ngingat ucapannya saat di lift bersama Kenji tadi, yang entah bagaimana bisa meluncur seperti itu.
"Yeah... I'm a lion."
*
"Tuh 'kan apa kubilang, Dae. Kamu memang harusnya nggak usahlah cari-cari masalah dengan cari bukti soal kutukan itu. Yang Kak Kenji saja nggak mau dibantuin, ngapain kamu repot-repotin diri bantuin dia bersihin nama." Zee meneguk soda hitam dalam botol, dan meletakannya kembali ke atas meja panjang di kantin FSRD. "Lagian ya, kalau seandainya kutukan itu bener adanya—ya aku sih percaya kutukan tentang Kak Kenji itu memang bener adanya—kamu sama saja nyumbangin nyawamu sendiri ke Dewa Thanatos."
Dae memakan seblak super pedasnya dengan anteng sambil sesekali melirikan mata memberi perhatian pada Zee. Zee yang merasa terkacangi, padahal sudah berkata sampai-sampai bibirnya terasa berbusa pun akhirnya mendengkus gemas dan menarik mangkuk seblak milik Dae.
"Eh. Kok punyaku diambil sih. Itu punyamu masih banyak, itu." Dae mengerucutkan bibirnya, lalu meraih mangkuk hendak menarik mangkuk tersebut mendekatinya, tetapi tangan Zee yang memang masih menempel di sana menahannya. "Ih, Zee. Siniin. Peternakan cacing di lambungku belum puas makannya."
Zee berdecak. "Kamu itu, dengerin nggak sih, dari tadi aku ngomong apaan?"
"Denger lah. Kan aku punya dua kuping, yang syukur-syukur belum dikutuk jadi budek sama arwah mendiang orang tuaku." Dae menimpali sarat sarkastik. Kembali berusaha menarik mangkuk seblaknya, tetapi lagi-lagi Zee menahannya. Sontak hal tersebut membuat kekesalan perlahan-lahan merambatinya. Dae melipat tangan di depan d**a, bibirnya menjepit sendok sedangkan tangan kirinya menggenggam badan garpu dengan kepala menghadap ke atas. Melihat tingkah Dae, Zee pun ikut-ikutan melipat tangan di depan d**a, dan memandang sesosok di hadapannya dengan pandangan yang seolah-olah mengatakan. Apa? Mau galak-galakkan? Ayo, siapa takut.
"Kalau kamu denger, coba ulang. Apa saja yang aku bilang tadi?"
"Kak Kenji itu bukan laki-laki yang kena kutukkan. Dia cuma korban dari stigma-stigma yang manusia-manusia berotak di universitas ini ciptakan, cuma karena tunangannya dulu meninggal bunuh diri. Dan setelah kejadian itu banyak cewek yang bernasib buruk pas mau deketin Kak Kenji."
Dae melirik pada mangkuk seblaknya yang lepas dari perhatian Zee. Dae bersorak girang dalam hati, jari-jemarinya pelan-pelan merayapi meja kayu mendekati mangkuk tersebut, dan menariknya secepat kilat. Cengiran lebar Dae terkembang membalas Zee yang hanya mampu mengembuskan napasnya akan tingkah sahabatnya itu.
"Lagian nih ya, Zee," ucapnya sambil menggoyang-goyangkan sendok di udara. "Nggak ada sama sekali yang namanya arwah orang meninggal bisa ngutuk manusia hidup. Itu tuh konyol banget, bangetnya sejuta kali kalo perlu. Jadi, stop being stupid kemakan omongan orang-orang."
Zee memukul meja, tidak begitu keras sampai mampu menyita perhatian mahasiswa serta mahasiswi lainnya, tetapi sukses membuat Dae berjengit kaget. "Aku nggak akan percaya kalau nggak ada bukti nyata, Dae." Zee mencondongkan tubuh ke arah Dae. "Kak Kenji selama ini juga diem aja tuh. Diamnya dia itu sudah memperkuat semuanya. Jadi Dae, pliss nggak usah buang-buang waktu buat ngurusin orang kayak dia.”
“Dia punya nama, Zee. Namanya Kenji.”