EMPAT

745 Words
"Kejutan! Mulai hari ini aku akan tinggal di sini."   Permasalahannya sekarang ialah, kenapa kakak tirinya bisa ada di kamarnya yang merupakan satu-satunya area privasi Kenji yang ada di rumah minimalis bertingkat dua tersebut? Terlebih-lebih seprai abu-abu yang tadi pagi seingat Kenji masih terpasang di ranjangnya, kini telah tergantikan oleh seprai merah muda penuh dengan motif bunga-bunga beraneka ragam bentuk pula warna—tidak perlu ditanya dua kali, seprai bunga-bunga tersebut jelas-jelas bukan kepunyaannya. Jangan lupakan celana dalam dan kutang yang pertama kali Kenji lihat saat memasuki kamarnya, masih teronggok eksis di sana. Kenji memejamkan matanya sejenak. Memiliki firasat buruk tentang itu, jangan bilang kalau....   "Kak Ra tinggal di sini, nggak make kamarku 'kan?"   Rasistha bangkit, mengeratkan handuk tosca yang melilit tubuhnya sambil melangkahkan kaki telanjangnya menghampiri Kenji. Rasistha berkacak pinggang. "Haduhh, adiku sayang. Kita baru ketemu loh, setelah sekian tahun. Masa disambutnya pakai pertanyaan, Kak Ra tinggal di sini, nggak make kamarku 'kan?" Kalimat terakhir Rasistha ucapkan meniru-niru gaya bicara Kenji. Lantas perempuan setinggi 180 sentimeter dengan kaki jenjang bak model victoria secrettersebut, membuka lengannya lebar-lebar dan menarik Kenji dalam sebuah pelukkan.   "Ya ampun adikku sudah segede ini ternyata." Rasistha menepuk-nepuk punggung Kenji. "Padahal seingatku dulu kamu itu masih sedadaku loh. Sampai-sampai kalo setiap pelukan harus ada jarak seenggaknya sesenti supaya kepalamu nggak kebentur buah dadaku. Kamu juga item, dekil banget udah kayak p****t panci kebakaran."   Kenji mengurai pelukan. "Itu namanya pertumbuhan ke atas. Makanya aku makin tinggi, kalau makin pendek namanya pertumbuhan ke bawah."   Rasistha tertawa tanpa suara, mengibas-ngibaskan tangan kanannya di depan wajah seakan-akan ada lalat yang beterbangan di sana. "Kegaringan memang bakat abadimu rupanya." Rasistha menelisik Kenji dari ujung kaki ke ujung kepala dengan pandangan menilai, lalu berujar, "Yah, kadar kehitaman dan kedekilanmu turut berkurang. Penampilanmu juga tambah oke loh sekarang. Yah, walaupun gaya rambut bikin kamu kelihatan kayak makhluk gua yang nggak kenal tukang cukur. Tapi overall oke. Aku suka."   Rasistha manggut-manggut sok paham sembari berbalik meraih dalaman dan pakaian dari dalam kopernya. "Kak Ra nggak make kamarku kan?" Kenji total abai akan komentar Rasistha yang baginya tidak penting, lebih memilih kembali melontarkan pertanyaan yang belum bertemu dengan jawabannya.   "Ah ya. Tentu saja jawabannya iya, Adikku. Kamar tamu yang tante tawarin nggak ada balkonnya. Aku nggak bisa nyebat dengan bebas kalau begitu caranya. Nggak usah cemberut begitu dong, Adik. Tenang saja, aku nggak tinggal di sini lama-lama, kok. Kalau aku sudah nemu apartemen yang pas, aku bakalan pindah. Yah, itu pun kalo tante ngizinin."   Kenji menghela napasnya pasrah. Mulai mengumpulkan barang-barangnya untuk dia bawa mengungsi.   "Adik, air conditioner-nya mati? Gerah banget, nih."   "Hmm. Udah dari kemarin. Belum sempet benerin." Kenji mendengar suara decakan disusul bunyi pintu yang terkunci. Kenji mengangkat kepala, menemukan Rasistha yang hanya menggunakan celana dalam dan kutang. Pemuda itu sudah tidak heran lagi, dulu sewaktu mereka sempat tinggal satu atap, Kenji sering melihatnya berbusana serupa.    Rasistha memiliki darah Belanda mengalir dalam nadinya yang dia dapatkan dari ayahnya. Itulah sebabnya Rasistha memiliki postur tubuh yang agak berbeda dari perempuan-perempuan Indonesia umumnya, dia banyak mengambil gen ayahnya. Pun hampir setengah hidupnya perempuan itu habiskan tinggal di negeri kincir angin tersebut. Maka dari itulah, budaya barat melekati kepribadiannya.   "Wear your clothes, Kak."   Rasistha menjatuhkan b****g padat berisinya di sebelah Kenji. "No. Gerah tahu."   "You better wear it before Mami comes. Mami bisa kena spot jantung kalau lihat Kak Ra keliling kamar yang ada aku di dalamnya cuman pakai daleman doang."   Rasistha bangkit, memperlihatkan punggung mulus serta lekuk tubuh yang melenggak-lenggok indah. Dapat Kenji lihat tato menjarah di pundak bagian belakang dekat leher, yang teramat kontras dengan warna kulit pucatnya. Tato yang menyerupai kepala serigala menyamping. "I know , Adik. I know." Rasistha menunjuk pintu, "that's why, I lock the door. Duh, I'm not bego."   Kenji mengedikkan bahu. "Lukisan siapa ini?" Kenji mendongak, menemukan Rasistha mengamati sebuah lukisan di atas selembar kertas gambar. "Yang pasti, bukan kamu yang buat 'kan, Adik? Dilihat-lihat, kamu itu jenis yang kalau di suruh gambar, mentok-mentok gambar dua gunung sama matahari senyum."   "Nah, I prefer drawing a stickman." Kenji beralih memerhatikan lukisan bernuansa merah gelap sarat kemuraman tersebut. Ada sekumpulan keluarga yang tengah makan bersama di meja makan. Namun mereka tidak makan selayaknya manusia, melainkan langsung menggunakan mulut tanpa perantara apa pun. "Randa Tapak."   "Randa Tapak?"   "Pelukisnya, Randa Tapak."   "Cewek atau cowok?"   "Cewek."   "Pacar?"   "Bukan."   Rasistha menyeringai jahil, merespon selentingan asumsi yang mendadak melintasi pikirannya."Yaelah, masih jaman pacaran diem-diem?" Kenji melirik Rasistha yang kini menghempaskan tubuhnya ke ranjang sembari memainkan ponsel. “Emang bukan pacar.” “Oh my god. Jangan bilang kamu jomblo?” Kenji mengedikkan bahu acuh. “Cupu banget sih. Nanti aku kenalin deh sama temen-temenku. Jangan khawatir mereka hot-hot, kok. Sesuai sama seleramu.” “Nggak usah sok tahu seleraku.” “Bukan sok tahu. Tapi semuanya keliatan jelas di muka kamu. Muka-muka sange.”  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD