TIGA

762 Words
Kenji menghentikan tarikan tungkai kakinya menyusuri koridor Universitas Kudungga (UK), acap kali orang-orang menyebutnya serupa pelafalan dari singkatan UK untuk United Kingdom. Manik mata cokelat gelap layaknya bubuk kopi itu, menyusuri majalah dinding di hadapannya. Terpaku pada ilustrasi sebuah pohon ringkih nan kering yang hidup bagai monster, tertempel di pojok. Ilustrasi yang dibuat sedemikian rupa sehingga siapa pun yang melihatnya mampu dibikin bergidik ngeri. Itu merupakan ilustrasi karya salah satu anggota Mapala Mandara Giri—organisasi tempat Kenji bernaung—yang belakangan ini kerap kali menghiasi majalah dinding kampus. Di ciptakan dalam gaya yang segar guna menggalakkan program-program serta-merta mengajak mahasiswa dan mahasiswi di luar keanggotaan organisasi tersebut, agar bisa lebih menghargai alam.   "Besok aku tampil. Kamu pasti nonton, kan?"   Mendadak suara sopran Joana menyapa gendang telinga Kenji, mengikuti sebuah telunjuk yang telah mengarah ke selebaran di dalam mading yang mengumumkan bahwa besok akan ada persembahan dari anak-anak BSO Teater, singkatan dari Badan Semi Otonom.   "Aku nggak nonton." Kenji melenggang melewati perempuan jelita bertubuh semampai itu. Membiarkannya melangkah cepat menyamai laju jalan Kenji.   "Kenapa?" tanyanya kecewa. "Padahal kalau kamu nonton, aku bisa tambah semangat."   "Males." Berpasang-pasang mata mulai melirik penasaran. Kenji tidak asing lagi dengan tatapan-tatapan haus bahan gosip tersebut. Sebagian besar dari mereka tidak akan membiarkan Kenji terlepas dari bidikan mata apabila Kenji terlihat tengah dekat dengan perempuan. Itulah risiko yang harus dia tanggung akibat adanya kutukan tersebut. Namun ini belum seberapa, kala awal-awal rumor kutukannya merangkak ke udara, hampir seisi kampus menatapnya dengan sorot jeri seolah-olah dirinya adalah wabah virus menular berbahaya.   "Males?" Joana mencegat langkah pemuda itu, berdiri dengan mimik tersakiti. "Alasanmu nggak masuk akal."   Kenji menaikkan alisnya sangsi. "Kalau aku bilang aku ada perjamuan sama Patih Gajah Mada. Itu namanya nggak masuk akal."   Kenji melanjutkan langkahnya, betul-betul tak mengacuhkan Joana yang mengapit lengannya tanpa izin, dan bergelayutan serupa bayi kera. "Kenji... dateng dong, ya? Sebentar aja. Aku jamin kamu pasti bakal terpukau lihat penampilanku," rayunya dengan wajah memelas dibuat-buat.   Sayangnya, Kenji bukan tipe lelaki yang mudah luluh dengan bujuk rayu palsu seperti itu. "Aku males, Joana."   Joana menyandarkan kepalanya pada pundak Kenji. Bibirnya mencebik sebal. "Aku kurang apa lagi, Kenji?" Kenji meliriknya menahan risi. "Aku bahkan rela mengabaikan kutukan itu, demi kamu, Kenji."   Langkah pemuda itu lagi-lagi terhenti. Dilepaskannya lilitan tangan Joana dari lengannya. Sedikit sulit sebab Joana tampak tidak rela melepaskannya. Kemudian, dia melontarkan serentetan kalimat penuh ketegasan, yang seketika membungkam Joana dalam balutan rasa kesal. "Aku nggak pernah memintanya, Joana."   Kenji menyambung langkahnya menuju parkiran. Tidak sekali pun berbalik badan untuk sekadar menyaksikan bagaimana anggota BSO Teater itu menghentakan kakinya dengan tangan terkepal menahan emosi.     *     Aroma harum rempah-rempah langsung menyelinap ke dalam lubang hidung Kenji kala dia sampai di rumah minimalis bercat kuning gading. Alis tebal yang melengkung bagai celurit itu mengernyit keheranan, menengok jam kulit hitam yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Pukul setengah lima.  "Kenji, cuci tangan dulu. Mami teu bisa bayangin berapa juta kuman yang nempel di sana." Tangan Kenji yang hendak mencomot perkedel jangung yang tersaji di atas meja makan, harus rela menerima gaplokan sarat kasih sayang dari Mami.   Kenji lantas segera mencuci tangannya sesuai perintah sang Mami. Mencium aroma lezat makanan buatan tangan sosok ibu memang tidak pernah gagal mengaduk-aduk lambungnya mengundang rasa lapar. "Mami, tumbenan udah masak jam segini?" tanya Kenji sambil mengunyah.   "Iya, dong." Kulit wajah Kenji mengerut heran melihat Mami tampak sangat bahagia. "Kan, ada tamu spesial."   "Tamu spesial?" beo Kenji, tak paham.   "Nanti kamu juga tahu." Mami mengerlingkan mata. "Udah sana, kamu mandi dulu. Kamu habis ngobok-obok selokan? Bau badanmu luar biasa."   Pemuda itu berlalu menuju kamarnya sembari membaui ketiaknya sendiri. Nggak bau. Batinnya.   Menapaki satu per satu anak tangga, hingga tiba di depan pintu kayu bertempelkan stiker-stiker organisasi pecinta alam dan t***k bengeknya memenuhi kusen pintu tersebut. Tangannya menekan kenop pintu, membukanya. Tungkai kakinya yang bergerak masuk terpaksa berhenti di pijakan kedua, ketika manik mata cokelat bagai bubuk kopi itu menangkap celana dalam lengkap dengan kutang bercorak bunga-bunga seorang perempuan tergelatak di atas ranjangnya. Kenji memelotot, hampir-hampir rahangnya terjatuh begitu menyadari benda apa yang dia lihat itu. Tatkala bola matanya bergulir ke sisi lain kamarnya, pemuda sembilan belas tahun tersebut dibuat dua kali lipat tambah tercengang begitu mendapati sesosok perempuan berkulit putih pucat bersih—cuma memakai selembar handuk melilit tubuhnya serta handuk lain yang membentuk gunung di kepalanya—tengah berjongkok mencari-cari sesuatu dari dalam koper berwarna kuning emas.   Kenji belum lagi mengeluarkan suara guna menegurnya, sebab sosok perempuan itu terlebih dahulu mengangkat wajahnya. Sebelah sudut bibirnya tertarik ke atas berbarengan dengan lambaian tangan yang jarinya dipenuhi pewarna kuku tosca berhiaskan motif-motif yang tidak Kenji ketahui motif macam apa itu.   "Oh, Hai," sapanya antusias. Perempuan itu berdiri, sekonyong-konyong merentangkan kedua tangan. "Kejutan! Mulai hari ini aku akan tinggal di sini."   Namanya, Kenji Cettrasena dan sore itu, Kenji syok bukan kepalang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD