13 September 2018
Ada seseorang yang mengungkung tubuh berbalut piama hitam bercorak polkadot merah, dari belakang. Dae menggeliat kecil di atas ranjang dengan balutan seprai halus merah miliknya, merasakan beban yang menimpa dirinya.
Ingin sekali Dae membuka mata, tetapi seolah-olah kelopaknya itu dilumuri lem perekat super kuat cap gajah, membuatnya sulit dilakukan. Ini semua pasti akibat begadang sampai jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari, hanya untuk menyelesaikan sebuah lukisan yang beberapa hari ke belakang memang telah mandek dalam penjara pikirannya. Jika saja tidak mengingat kalau dia memiliki kelas pagi nantinya, bisa dipastikan jam begadang gadis berambut panjang bergelombang itu akan bertambah sebab lukisan tersebut masih saja belum mencapai titik akhir.
Pergerakan di balik punggungnya kembali terasa, mempererat pelukan pada perut ramping Dae. Dapat gadis itu ketahui bahwa bagian atas seseorang yang memeluknya tidak terlapisi kain, sebab kulit lengannya bergesekan langsung dengan sebuah d**a bidang yang ditumbuhi rambut-rambut halus. Kemudian, embusan napas teratur menggelitik tengkuknya yang mau tak mau membuat Dae terpaksa membuka kelopak matanya pelan-pelan serta penuh perjuangan. Bulu mata lentiknya mengerjap-ngerjap, menyesuaikan cayaha mentari yang menembus retinanya dari celah-celah gorden.
"Sayang...." Kesadaran Dae belum lagi terkumpul dengan benar, kala panggilan yang teramat familiar itu menyapa gendang telinganya. Disusul suara kicauan ribut burung-burung. Dae memutar tubuhnya, menghadap sesosok pemuda dua puluh tahun yang tampak masih setia memejamkan mata. Dae pandangi segaris wajah oval itu, lalu sebelah alis Dae terangkat begitu menyadari terdapat jejak air mata mengering di pipi serta bulu mata lebat pemuda itu.
"Kenapa? Abis nangis, ya? Dih dasar cengeng," canda Dae dengan suara pelan sambil telunjuknya memain-mainkan bulu mata lebat yang masih terasa sedikit basah itu.
Sesosok di hadapannya menekan bibirnya dalam satu garis lurus. Menangkap pergelangan tangan Dae agar menghentikan kejahilannya. Lantas sepasang manik sehitam jelaga, yang sama persis dengan milik Dae pun akhirnya menunjukkan diri. "Aa ketemu Mama semalem." Hela napas lolos dari belah bibir si pemuda bernama Duta itu. Spontan, Dae melintangkan jari telunjuknya di bawah lubang hidungnya.
"Aa pikir napas Aa pas baru bangun tidur wangi?"
"Napas baru bangun tidur Aa adalah bau surgawi, sayang."
Dae mendecih. "Iya. Bau surgawi, bisa bikin orang yang nyium langsung semaput."
"Didi sayangnya Aa," panggilnya, mengabaikan komentaran Dae. "Kamu mau janji satu hal sama Aa?"
Dae mengernyitkan kening saat merasakan atmosfer yang mengelilinginya tiba-tiba saja berubah jadi serius. "Janji apa?"
"Janji, jangan pernah tinggalin Aa ke mana pun."
"Heh? Aa kenapa sih?" Dae menempelkan punggung tangannya pada kening Duta. "Nggak panas," gumamnya.
"Mama bilang suatu saat nanti dia mau ngajak kamu tinggal di sana, nemenin mereka."
"Kapan Mama bilang begitu?"
"Semalem."
"Di mana?"
"Di mimpi."
Dae mengedip pelan. Mati-matian dia menahan tawanya ketika otaknya telah mampu memproses segala perkataan Duta. Namun, tidak tega rasanya, begitu melihat bagaimana sorot kekhawatiran dan ketakutan akan kehilangan tersirat dalam manik Duta. "Jadi gara-gara itu Aa nangis?"
Duta memajukan bibirnya, cemberut. "Cieee, segitu sayangnya ya sama aku. Sampai nggak mau aku tinggalin."
"Aa serius, sayang."
Dae bangkit, mendudukan diri di atas ranjang. "Aa nggak usah mikirin itu, karena itu cuma bunga tidur. Nggak ada sangkut pautnya sama aku ninggalin Aa atau nggak, oke?"
"Sayang, Aa ngerti kalau kamu nggak pernah percaya sama yang beginian. Tapi beberapa mimpi memang bawa maknanya sendiri, kamu nggak bisa ngelak dari itu."
Dae memutar bola matanya hiperbolis. "Mimpi adalah bunga tidur, dan nggak akan pernah lebih dari itu. Semua hal yang orang-orang kaitin sama mimpi, cuma karena insting dan alam bawah sadar mereka yang menyambungkan segalanya sehingga seolah-olah arti-arti mimpi itu memang benar adanya." Jeda sejenak. "Lagian Aatenang aja. Aku nggak mungkin ninggalin Aa Duta atau Aa Damun dan biarin kalian jadi dua pemuda nggak terurus menyedihkan."
"Tapi—"
"Aa, semuanya bakalan baik-baik aja," tukas Dae, memotong perkataan Duta. "Jangan sampai cuma gara-gara mimpi, Aa bertindak berlebihan."
Duta mengangguk pasrah meski diam-diam hatinya masih diselimuti kegelisahan. Dae meraih ponselnya dari nakas samping tempat tidur, dan langsung disambut oleh ratusan notifikasi dari grup angkatannya. Mereka menggosipkan tentang foto salah satu senior perempuannya di kampus—yang belakangan ini memang telah mencuri perhatian seantero kampus, sebab terlihat dekat dengan Kenji—mengunggah foto bersama Kenji yang diambil diam-diam. Foto tersebut terlampau normal untuk digosipkan sesungguhnya. Hanya menampilkan si pemuda yang tengah duduk membaca buku, dan si perempuan yang duduk di sebelahnya sembari menyandarkan kepala di bahu Kenji. Normal. Bagi Dae itu adalah pose yang normal untuk pasangan pada umumnya bahkan teman pun bisa sedekat demikian. Kendati demikian siapa pun tahu, bahwa gadis di sebelah Kenji bukan lah teman apa lagi kekasih si pemuda.
Akan tetapi apa pun bisa berubah menjadi abnormal jika itu menyangkut Kenji dan perempuan. Karena konon katanya, pemuda itu seharusnya dihindari oleh kaum hawa bila tidak ingin mendapat petaka.
Hadeh. Ini lagi, ini lagi. Kenapa sih orang-orang? Nggak ada bosen-bosennya makanin bullshit? Sang Dewi batin si gadis menggeram tak habis pikir.
Dae baru hendak meletakan ponselnya, ketika mendadak pintunya terkuak.
"Wah, ini sih outside namanya. Oi, b***k youtube, ngapain kamu tidar di sini? Hari ini 'kan bukan jadwalmu tidur sama Didi."
Itu Damunte, si kakak sulung.