BAGIAN 3

660 Words
Hana sedang duduk di kubikelnya, seperti biasa. Kali ini dia sedikit gugup, dia baru menyadari bahwa tindakannya ketika berada di lift tadi cukup berani dan bodoh. Apa mungkin karena karena perutnya yang lapar atau memang karena di sedang PMS hari pertama makanya mudah emosian? Entahlah, karena pada dasarnya dan menurut undang-undang tata tertib kehidupan pribadi Hana, perlakuan atasannya tadi itu cukup salah. Sial, Hana mengumpat dalam hati begitu layar di depannya menunjukkan angka-angka yang membuat tangannya sedikit gemetar. Hana genius, saking jeniusnya dia bahkan memasukkan permasalahannya tadi pada sistem software yang dia buat sendiri. Dan, menurut softwarenya, tindakannya tadi salah. Hana menghela nafas, lalu hendak bangkit berdiri. Tapi begitu melihat pintu lift terbuka dan sosok yang sedang menghantuinya itu juga menatapnya. Hana tidak jadi berdiri, duduk dengan kaku dan tatapan yang tidak berani menatap ke arah Dhava lagi. Seperti yang tadi pagi dia lakukan. “Ah, Hana!” “YA PAK!,” seru Hana dengan suara tegas Hal itu membuat Dhava terkejut, kenapa gadis itu tiba-tiba saja kaku dan tidak seperti sebelumnya. Dhava menaikkan bahunya, lalu menatap Hana. “Tolong selesaikan laporan yang akan diberikan oleh Matt padamu. Aku membutuhkannya malam ini, karena itu adalah dokumen penting. Ah ingat, jangan biarkan kedua temanmu yang hobby menggosip itu mengetahui apa yang sedang kau kerjakan. Kau akan bekerja di ruangan Matt, untuk mengantisipasi hal itu terjadi!” “BAIK PAK DHAV!” Suara Hana yang lagi-lagi kaku membuat Dhava mengerutkan keningnya. Dia memilih untuk memajukan badannya dan menatap apa yang sedang dikerjakan oleh gadis itu. Mata Dhava tertuju pada angka-angka yang terus berjalan di layar itu. Hal yang membuat Dhava tertarik adalah ketika melihat tulisan ’anda salah’ di depan layar itu. Tulisan itu disusun oleh angka-angka yang sedang berjalan itu. Hana terlihat semakin gugup, bodohnya dia tidak sempat menutup apa yang tadi sedang dia kerjakan. “Maaf pak, mengenai tadi siang. Saya sudah lancang mengatakan hal itu pada Anda!” cicit Hana Dhava berhenti menatap tulisan-tulisan itu dan menatap sosok gadis di depannya. Jarak mereka hanya di pisahkan oleh kubikel meja kerja Hana. Dhava mundur dan menatap Hana dari atas sampai bawah. Otak jenius gadis itu sepertinya sudah mulai sadar bahwa apa yang dia lakukan tadi siang bisa berpengaruh untuk pekerjaan gadis itu.  Tapi, justru sikap Hana yang begini membuat Dhava tidak suka. Dia memang tidak suka jika ada orang yang menantang atau melawannya. Tapi khusus untuk gadis aneh bin polos satu ini, Dhava mengijinkannya. “Baiklah, jadi apa kau merasa bersalah?” seru Dhava dengan seringainya. “I—iya pak!” cicit Hana “Bagus, jika begitu, kau harus selesai mengerjakan tugas yang aku berikan padamu soren ini. Itu sebagai hukuman untukmu. Apa kau bisa?” “Sore ini pak?” suara Hana lagi-lagi meninggi dan matanya melotot Dhava terkekeh dengan nada suara gadis itu, dia masih ingin menjahilinya. Namun mendengar ada suara lain yang mendekat, membuat Dhava lekas mengubah ekspresi wajahnya dan menatap Hana dengan datar. “Ya, sore ini, jika tidak. Maka gajimu yang akan saya potong!” Rita dan Serena berhenti di depan pintu Lift, mereka terlihat terkejut dengan kata-kata memotong gaji. Dan begitu melihat siapa yang sedang kena semburan kata-kata pedas itu, membuat Rita dan Serena hanya bisa saling melihat. Setelah Dhava pergi, barulah mereka berdua berjalan mendekati meja kubikel Hana. “Apa yang terjadi, Han?” “Sialan, andaikan aku punya babi ngepet. Seriusan, udah resign dari dulu. Malas banget jadi kacung ginian!” seru Hana “Gue punya kok dukun sakti, Han. Mau nyoba gak?” seru Serena “Maksudmu mbak kunti?” “Iya, tuh lo tau!” kekeh Serena Hana menghela nafas, lalu menutup laptopnya dan segera mengikuti Matt yang sudah memberinya perintah. Sebagai kacungan dan seorang fangirl miskin seperti Hana, dia tidak punya kuasa untuk menolak pekerjaan yang jelas melenceng dari job desknya ini. Tapi apa boleh buat, jika dia tidak melakukan pekerjaan sialan ini. Gajinya yang akan jadi taruhan. Bisa tidak makan satu bulan nanti Hana jika gajinya di potong.        
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD