“Jadi, mau ngapain Matt? Perasaan lo yang udah pintar-pintar amat kok belom bisa selesain ini sih? Malas banget gue, et dah, sekalian numpang wifi boleh gak?”
Begitu masuk ke ruangan pribadi Matt, gadis itu langsung mengutarakan pemikirannya. Matthew yang baru saja duduk, masih baru loh, belom juga ada semenit udah langsung di suguhi oleh cerewetan dari Hana. Lelaki itu, Mattew, sekretaris pribadi Dhava. Sosok yang masih bertahan bekerja dengan lelaki itu, menghela nafas. Sabar…sabar, udah ujian kali ya buat Matt harus di kelilingi orang-orang yang agak strèss, model-model mereka ini.
“Pasword wifi apa Matt? Pelit aman lo, padahal make duit kantor juga lo beli wifi. Dasar gak modal, udah makan juga di bayarin tadi!”
Uhuk—Matt yang sedang meminum spritenya tersendak, dia mengambil tissue dan membersihkan hidungnya yang kemasukan air. Gilá ya, sepertinya Hana ini memang tidak bisa menyesuaikan keadaan. Sabar Matt, ini lo lagi berhadapan dengan Hana, si genius yang gilá dan polos.
“Udah loh Hana, udah aku kasih passwordnya, lo juga gak modal banget sih? Beli kuota aja gak bisa!”
“Ck, bukannya gak bisa. Semua bisa kok Matt, cuman gaji gue aja yang udah habis sebelum bulan berlalu dan jadilah gue gelandangan yang tidak bermodal.”
Matt menarik nafasnya, dia menatap Hana dari atas sampai bawah. Rambut gadis itu berminyak, dia yakin Hana pasti tidak mandi. Matt bergidik ngeri, entah kenapa si Dhava bisa saja tertarik dengan bocah tengil dan malas seperti sosok satu ini. Lelaki itu memilih untuk diam, dan lekas memeriksa berkas yang akan di kerjakan sore ini.
“Han, filenya udah masuk gak? Gue udah kirim!”
Hana mengangguk saja, setelah wifi yang lancar jaya dan aman buat streaming vidio itu terhubung ke ponselnya. Bukannya mencari file yang dimaksud oleh Matt, Hana malah membuka aplikasi yutub dan langsung membuka chanel yutubnya Blackpink. Dan, begitu melihat si Lisa akan comeback, sangat-sangat membuat jantung Hana yang paling dalam bergetar. Selain fangirl oppa-oppa tampan, dia juga sangat menyukai aktris satu itu. Visualnya yang tidak ngotak membuat Hana selalu saja iri. Dan jika dia sudah mengiri.
Dia pasti akan menggumankan lagu, jangan iri..jangan dèngki, jangan iri sayang…lagu itu bagai jimat bagi Hana. Karena selalu saja berhasil mengesampingkan rasa iri déngkinya.
“Woi, ánjir, bukannya buka file makah streaming dong!”
“Allahkhuakbar!” seru Hana terkejut setengah máti, gak deng, masa setengah mati. Terlalu melebih-lebihkan sangat, seperti strategi pemasaran. Rasanya enak, sampai mau meninggàl, anjirr, strategi yang terlalu melebih-lebihkan.
“Eh, Lisa come back?”
Hening, Hana menatap wajah Matt yang tidak layak sebagai fan dari Lisa. “Matt, astagah, ponsel gue heh!” teriak Hana begitu benda pipih itu sudah berpindah tangan. Dia menatap Matt yang malah ikutan streaming, padahal masih testearnya Lisa loh. Aku menatap Matt yang terlihat ceria begitu melihat MV come back-nya Lisa itu.
“Matt, udah deh, yok ngerjain tugas tadi. Ntar malam gue mau nongkrong sama anak-anak!”
Mendengar kata anak-anak, mendadak Matt menghentikan kegiatannya yang sedang streaming itu. Dia menatap Hana, gadis di depannya saat ini masih sangat muda, jika tidak salah. Hana masih berusia 25 tahun, tapi Hana sudah punya anak? Sejak kapan gadis ini memiliki anak, wah, bisa gawat jika Dhava sampai jika gadis yang membuatnya tertarik itu ternyata bukanlah gadis lagi, tapi sudah emak-emak. Tidak, apa jangan-jangan Hana jánda lagi ya? Biasanyakan pesona jánda mengalahkan pesona gadis kembang tujuh rupa. Matt bergidik ngeri, pemikirannya lari lagi.
“Lo jandá Han?”
“Jánda?” ulang Hana, gadis yang hendak membuka laptopnya itu lekas menatap Matt dengan kening yang juga ikut berkerut.
“Iya?”
“Hah?”
“Hah?”
“Hah?”
“Hah, apa Matt?” kesal Hana
“K—kamu jan-jànda?”
“Ulangi lagi?”
“Jan-jánda muda?”
Bruk…begitu Matt selesai mengatakan kalimat itu, tubuhnya langsung terjungkal ke belakang. Hana baru saja melakukan tendangan freestyle yang pernah lewat dari beranda tiktoknya. Ternyata berguna juga ya main t****k. Buat menendang Matt yang asal bicara contohnya?!
“Katakan sekali lagi, gue bakal pisahin tuh badan dari áset lo. Gue gantung depan kantor biar Rita menggilá melihatnya, gimana?” tawar Hana dengan tatapan mata menyipit dan berjalan mendekati Matt yang merangkak mundur.
“Ya kali Han, ta—tapi lo kan tadi bilang nongkrong sama anak-anak, gue pikir lo udah nikah trus jadi jánda dan punya anak. Ya kan gue gak tahu loh, yang lo maksud anak-anak itu beda!” seru Matt sembari mengusap kepalanya yang terasa sakit. Dia baru sadar bahwa Hana selalu memakai celana di kantor, jadi ini adalah alasan gadis itu. Biar Hana bisa melakukan gaya Freestyle gitu kali ya?
“Dasar, badan aja udah gede. Otak masih góblok!” seru Hana, dia kembali duduk di depan meja kerja Matt dan mulai membuka laptopnya.
Matt dengan perasaan takut-takut duduk di atas kursinya dan menatap Hana dengan cibiran. Bisa-bisanya gadis yang yang jabatannya itu masih dibawahnya bertingkah tidak sopan padanya? Ada-ada saja ya memang. Sepertinya, di kantor ini, hanya Dhavalah yang begitu di takuti dan sangat disegani. Tidak ada orang yang ingin berhubungan dengan sosok itu.
“Eh Han, lo masih marah gak? Maaf dong, iya emang badan gue aja yang besar. Tapi kalo muka gue masih unyu-unyu kayak V BTS kan? Iya kan? Ya iyalah, masa enggak!”
Setelah itu, Matth tertawa sendiri sembari mengambil cermin dan melihat wajahnya. Dia bahkan masih sempat mengambil beberapa gambarnya dengan efek-efek i********:. Hana bergidik ngeri, sumpah, baru kali ini dia melihat seperti apa tabiat asli dari seorang Matt yang selama ini terkenal profesional.
“Gak kok, gue gak marah lagi, asal lo udah tutup mulut!” kesal Hana lalu kembali fokus pada layar laptopnya.
Hana memilih untuk memulai mengerjakan tugas laporan yang banyak itu, demi kuota dan fangirl. Hana pasti akan melakukannya, sekalipun dia masih saja terus merasakan bahwa pekerjaan yang dia kerjakan saat ini masih tidak sesuai dengan fassionnya. Hana selalu berandai-andai, jika saja ada pekerjaan yang tugasnya hanya rebahan, tidur dan menghayal saja. Hana pasti akan maju lebih dulu. Sejujurnya, Hana itu memang genius, namun dia itu sedikit malas dan terlalu menjunjungi tinggi sifat rakyat Indonesia yang terlalu santuy. Tidak ngegas, seperti Dhava.