BAGIAN 8

1315 Words
 Plak—Christian menatap kertas yang tiba-tiba terlempar di depannya. Tatapannya beralih dari layar komputernya menuju wajah Hana. Adiknya yang penampakannya pagi ini sepertinya tidak sedang baik-baik saja. Kantung mata yang hitam semakin hitam, dan rambut serta wajah yang masih berminyak. “Itu data yang abang minta, gue udah rampungi semalam sampe ke akar-akarnya. Gue ada kerja hari ini, jangan ganggu gue. Plus, naikin uang jajan. Kalo mau data lebih, lihat di PC gue aja, di sana datanya udah lengkap. Gimana?” “U—udah?” seru Christian, lekas membuka lembaran yang tadi dilempar di atas meja. Tidak beretika memang, tapi apa boleh buat? Di dalam kamus Hana, jika bisa santuy, kenapa harus dibuat setegang itu? Christian tercengang, melihat Hana yang sudah berada di ambang pintu. Hana memang memberikan data-data sampai ke akar-akarnya, adiknya itu tidak berbohong, sama-sekali tidak. “Dek, tunggu!” Persis sebelum Hana meninggalkan daerah kos, Christian lebih dulu berdiri di depan Hana. Menatap adiknya itu, rambut Hana masih berminyak, wajahnya juga sama. Tapi entah apapun itu, Christian lekas menyerahkan sebuah kartu dari balik sakunya dan menatap Hana yang sepertinya pura-pura tidak paham. “Ini…ada sekitar 10 juta, bebas mau dipake buat be….” “Beh, mantapnya. Rezeki mana bisa ditolak ye kan? Udah minggir, gue mau pergi dulu!” Badan Christian menyingkir, dia menatap motor Hana sudah berada di lalu lintas bersama dengan kendaraan lainnya. “Buat Beli!” sambung Christian menatap tangannya. Kenapa? Kenapa dia bodoh lagi? Padahal, ATM tadi itu adalah sisa uang yang dia miliki. Jika sampai itu di tangan Hana, maka tidak ada lagi kata kembali. Christian menghela nafas, dia mungkin terlalu senang sehingga tidak sadar menyerahkan sumber kehidupannya pada Hana. Yang jelas-jelas tidak ada kata kembali lagi. Christian kembali ke dalam kos Hana, namun sebelum itu, perasaannya saja atau tidak. Tapi sepertinya tadi ada yang memperhatikan mereka. Hana memarkirkan motor maticnya itu di kantor, masih pagi memang, jadi belom banyak orang-orang. Hanya ada kang satpam, dan mang Masep—tukang bersih-bersih. Begitu Hana masuk, dia sudah disapa dengan ramah oleh mereka. “Kamar mandi di bawah lagi gak bisa dipake neng, make yang di atas saja!” Mang Kasep, yang sudah tahu dengan kebiasaan numpang mandi Hana lekas memberitahu sebelum Hana memasuki kamar mandi. Hana mengangguk, “Rusak kenapa Mang? Anyway, ada sampho gak mang? Lupa gue bawa tadi, keknya di loker gue juga gada samphoo lagi!” “Ada neng, tungguin bentar ya!” Sembari menunggu, Hana mengalihkan perhatiannya. Beberapa kendaraan mulai mengisi wilayah parkiran. Perhatian Hana lalu tertuju pada gelas kopi yang ada di atas meja. Dia memperhatikan dan mencium aroma kopi itu lebih dulu, lalu tanpa banyak tanya. Dia langsung meneguk kopi itu, sampai tandas. Bersamaan dengan mang Kasep yang sudah tiba dengan botol samphoo. “Neng, astafirullah. Kok diminum loh neng?” Hana mengerutkan keningnya, “Lah, emang dimasukin Sianida ya tadi? Atau tai kucing, atau upil?” seru Hana, dengan nada mulai cemas-cemas. Takut-takut jika di kopi tadi dimasukkan Sianida, kan tidak tahu toh. Hana masih tidak ingin pergi menuju akhirat, sampai hal yang sudah sejak lama ia ingin lakukan tersampaikan. “Bukan atuh neng, itu…itu kopi milik bapak, bukan saya!” “Bapak? Bapaknya Mang Kasep di sini? Sejak kapan? Ada penyakit menularkah?” seru Hana mulai panik, lebih panik dibandingkan dia mengira bahwa mang Kasep memasukkan sianida ke dalam kopi tadi. Kalo dimasukkan sianida, kan bisa langsung mati. Gak setengah-setengah. Tapi, kalo ada penyakit menular, bisa gawat nanti urusannya. “Bukan atuh neng, itu bapak Dhava. Itu punya pak Dhava….” Klik—begitu mang Kasep selesai berbicara, pintu ruangan belakang terbuka. Hana dan Mang Kasep bersamaan menatap ke arah tersebut. Terlebih Hana, yaapun, dia baru merutuki kebodohannya sendiri. Bisa-bisanya dia pikir kopi ini adalah kopi biasa yang sudah disediakan Mang Kasep? “Ada apa?” seru Dhava, dia mengerutkan kening ketika dua manusia di depannya sedang menatapnya. Terlebih sosok gadis dengan tampilan begitu gembel itu? Dhava menatap tampilan Hana dari atas sampai bawah, menilai kenapa sosok itu bisa seburiq yang ada di depannya saat ini. Rambut yang berminyak, wajah yang terlihat baru bangun pagi dan sandal yang berada di kaki gadis itu. Padahal, Dhava sudah memberikan peringatan bahwa di kantornya tidak boleh menggunakan sendal. Tapi pertanyaannya, kenapa Hana datang ke kantor dengan tampilan seperti itu? Paha gadis itu yang hanya ditutupi oleh training pendek juga membuat perhatian Dhava teralihkan. Bodoh, batin Dhava. Karena dia bisa-bisanya tertarik untuk melihat hal tidak senonoh seperti itu. “Kam….” “Oke Mang, makasih samponya!” seru Hana yang lebih dulu mengambil sampho dari tangan Mang Kasep dan berlari menuju lift. Dia menghilang di balik lift itu. Matthew, yang baru saja tiba dan tidak sengaja melihat penampakan Hana yang berlari memasuki lift, menggelengkan kepalanya. Hana lebih buriq daripada kali terakhir dia melihat gadis itu numpang mandi di kantor. Matth lekas menghampiri Dhava, dia baru saja mendapat sebuah kabar baik. Ternyata Dhava memang memiliki alasan tersendiri kenapa sampai-sampai memberikan ancaman itu untuk mendapatkan Christian. Lelaki itu bahkan sudah memberi mereka petunjuk, belum genap 24 jam. “Bos….” “Kopi saya mana?” Dhava yang hendak mengambil cangkir kopinya itu merasa aneh. Padahal ia baru saja meninggalkannya beberapa menit. “Diminum sama neng Hana tadi pak, dia tidak tahu jika itu kopi bapak. Hana memang biasanya suka minum kopi pagi-pagi!” “Hana?” ulang Dhava pelan. Pantas saja gadis itu tadi terlihat panik. Jadi kepanikan Hana bukan karena penampilannya yang sedang tidak senonoh itu.  Melainkan karena sudah menghabiskan kopinya. Tapi untuk alasan yang tidak Dhava tahu, dia tersenyum ketika dia tahu bahwa yang meminum kopinya itu adalah Hana. “Apa saya buatkan lagi buat bapak?” “Tidak perlu, dan bilang pada Hana. Pagi-pagi tidak baik minum kopi, belikan s**u coklat di kantor, jika dia ingin kopi. Gantikan dengan s**u tadi, siapapun bebas untuk meminumnya!” Dhava mengambil ponselnya yang berada di atas meja, dan memasuki lift bersama dengan Matt yang sejak tadi menatapnya dengan senyum-senyum menyebalkan. “Belikan s**u untuk Hana, kurang lebih perhatian apa lagi coba bos.” “Gue belikan untuk semua orang, bukan untuk Hana saja. Jangan memotong percakapan orang setengah-setengah!” “Padahal, gue mau bilang kalo Hana gak suka s**u bos!” Pintu lift terbuka, Dhava melangkah keluar dan menatap Matt. “Bilang sama Mang Kasep tidak usah beli lagi!” Begitu berkata demikian, Matt berhenti melangkah dan menatap punggung Dhava yang sudah menjauh. Jadi, tadi itu tidak termasuk dalam pengakuan, begitu? Padahal hal tadi itu sudah jelas. Tapi Matt tidak ingin mengambil resiko, dia lekas kembali turun kebawah dan memberitahu pada mang Asep hal tadi. Dhava menatap kamar mandi, dia mendengar ada percikan air di sana. Berarti Hana mandi di sini. Tangan Dhava yang hendak menuju ruangannya tertahan, dia berdiri tidak jauh dari kamar mandi. Memastikan bahwa tidak ada lelaki satu kerja Hana yang hidung belang dan mengintip gadis itu. Namun begitu ia mendengar pintu kamar mandi terbuka, Dhava lekas memasuki ruangannya. Dia mengintip dari jendela kaca hitamnya, itu memang adalah Hana. Gadis itu sudah mengenakan pakaian yang layak, paper bag berada di tangan lainnya. “Loh Han? Numpang mandi lagi?” Matt yang baru saja tiba menatap Hana yang rambutnya masih basah. “Gak, numpang berak. Udah tahu mana nanya lagi!” seru Hana yang baru saja meletakkan paper bagnya di atas mejanya. Rita dan Serena sudah tiba, kedua gadis itu menatap Hana dan Matt bergantian. Membuat Hana yang ditatap begituan mengerutkan keningnya. “Apa lihat-lihat lo pada? Lo bawa hairdrayer gak Rit? Buru nih, kerjaan gue juga belom kelar. Sini….” Seru Hana ngegas. Sementara Rita yang baru saja tiba hanya memutar bola matanya malas. Hana pasti numpang mandi lagi, seru Rita dalam Hati. Dia lekas beranjak mendekati mejanya dan memberikan Hana hair drayernya. Dia menatap Matt. Salah satu lelaki yang masuk dalam daftar list incaran Rita juga. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD