BAGIAN 9

1593 Words
Hana mulai mengerjakan laporannya, seperti biasa. Tenang saja, untuk urusan kantor, dia masih memiliki niat untuk melakukannya. Tidak seperti kehidupan pribadinya yang amat-amat tidak memiliki gairah. Emang ya, kalo bicara soal duit, emang hati tidak bisa bohong. Poor kacung, batin Hana. Sesekali matanya yang hitam menatap ke arah ruangan yang pintunya sedikit terbuka itu. Mata Hana terpaku, menatap sosok ciptaan indah Tuhan yang satu itu. Dhava—sosok bos sekaligus pemilik perusahaan Hana bekerja sekarang. Lelaki itu terlihat sedang berbicara serius dengan Matt, dan rasa penasaran Hana tiba-tiba menggebu-gebu, ingin tahu. Lebih tepatnya, kepo. “Hayoloh, Han. Ngapain lihat-lihat ke arah ruangannya pak Malaikat maut? Jangan bilang lo udah pangling dari V BTS sama malaikat bermulut pedas itu. Hayoloh, ngaku!” Hana yang tadi masih memperhatikan jakun Dhava yang naik turun saat berbicara lekas mengalihkan perhatiannya pada Serena. Gadis itu menatapnya dengan tatapan meminta penjelasan. Memutar bola matanya malas, Hana lekas kembali menatap layar PC nya yang kosong. Tidak ada apa-apa, kecuali fotonya dan juga dua serangkai—Serena dan Rita—yang menjadi backgorund pcnya. “V BTS itu harga mati, Ser. Suami kis-able itu tidak ada bandingannya dengan siapapun. Gue cuman kepikiran, makanya gue sampe lihatin pak Dhava!” “Kepikiran spermanya sudah masuk ke rahim lo!” Hana berdecak kesal, menatap Rita yang ikut nimbrung dan malah makin ngawur. Rita, si pecinta film aliran panas itu benar-benar tidak tahu tempat. Omongan vulgar Rita, jika didengar orang lain, pasti bisa merusak citra Hana sebagai gadis polos bin imut yang tidak ada tandingannya. “Anjir, pantesan lo sampe tertarik lihat ke ruangannya pak Dhava. Jakunnya naik turun pas ngomong, buset!” Rita lagi-lagi menarik perhatian beberapa karyawan kantor yang satu ruangan dengan mereka. Melihat itu, Hana lekas mencubit perut Rita agar diam. “Kalo ngomong lihat tempatlah dodol, lagian bukan itu yang gue maksud. Jadi kan, tadi pagi, pas gue datang dan mangkir di bawah. Nunggu Mang Asep bawain samphonya, gue kan lihat kopi tuh. Nah gue pikir itu kopi gue, karna tiap pagikan mang Asep selalu buatin kopi. Tapi…tapi gue salah minum kopi anjir, yang gue minum kopinya pak Dhava.” Hening beberapa menit “WHAT?” Serena tiba-tiba berteriak keras, membuat beberapa karyawan lainnya menatap ke arah mereka dengan tatapan tajam. Ini masih jam kantor, dan di pintu masuk, lebih tepatnya di sebelahnya. Terdapat sebuah papan pengumuman yang berisi kaidah-kaidah kehidupan yang tidak boleh dilanggar. Salah satunya, tidak boleh berteriak di kantor selama masih jam kerja. Jika di luar jam kantor, tidak bebas juga, jangan harap bisa berteriak jika sudah berada di area kantor. Yang Hana pikir setelah membekap mulut Serena, semuanya akan baik-baik saja. Namun, nyatanya Matt sudah lebih dulu berdiri di depan meja kerja Hana, Serena dan Rita. “Kalian ini kerja apa ngegibahin orang! Kalau mau nge-gibah, jangan di sini. Di luar saja sana, sekalian ambil saja barang-barang kalian!” Mendengar makna tersirat itu, tiga serangkai itu lekas diam dan saling melirik dengan tajam. Serena yang merasa melakukan kesalahan hanya bisa diam, tidak berkutik sama-sekali. Dia menundukkan wajahnya, menatap pulpennya dan mencoret-coret kertas kerjanya. Matt menghela nafas, tiga manusia yang berada di depannya ini memang tidak pernah menaati aturan kantor ini. Sudah jelas ada larangan tidak boleh berteriak, ini malah makin menjadi-jadi. Matt memilih untuk lewat, namun melihat Hana. Dia lekas berhenti, tepat di sebelah meja kerja gadis itu. “Laporan lo udah siap, Han?” Hana menaikkan kepalanya dan menatap Matt, “Udah!” “Oke bagus, lo dipanggil sama pak Dhava!” “HAH?” seru Hana, kembali mengundang perhatian dari beberapa karyawan lainnya. “Kok Hah? Kalian ada masalah kah?” pancing Matthew sambil menaik turunkan alisnya. Hana yang melihat itu kesal abis, mungkinkan hari ini adalah hari terakhir dia bisa menumpang mandi di kantor? Lalu gajinya gimana dong, ini belum pertengahan bulan. Padahal, aturan di kantor ini, jika karyawan mengalami pemecatan tiba-tiba, maka gaji tidak akan turun sebelum pertengahan bulan. “Sudah, terima nasib aja Han, siapa tahu kamu terpilih menjadi pendamping hidup pak Dhava, kan tidak ada yang tahu juga!” kekeh Matt, memberikan semangat pada Hana. “Pendamping malaikat maut, seru juga tuh Han. Udah pergi aja sono!” Rita mendorong bahu Hana agar beranjak dari duduknya. “Anjir, lo suka ya gue dipecat.” “Eh, Han, kok dipecat sih?” seru Serena, masih tidak loading Sebelum Hana menjelaskan apa-apa, dia sudah lebih dulu melangkahkan kakinya dan mendekati kantor Dhava. Sekilas dia melihat, tadi pak Dhava juga menatapnya. Ya ampun, habislah riwayatnya kali ini. Hana memang ingin resign dari kantor ini, ingin sekali malah. Tapi, setidaknya dia resign jika lamaran pekerjaannya di tempat lain sudah ACC. Ini, malah belum sama-sekali. Apa mungkin Hana akan jadi pengangguran muda saat ini? Mana corona masih belum kelar-kelar lagi, cari kerja susah. Tok…tok…tok Hana masih punya etika, iya, tapi hanya untuk sosok setan satu itu saja. “Masuk!” Ya Ampun, Hana menjerit dalam hati. Dia membuka pintu itu lebar-lebar dan memasuki ruangan yang terasa dingin. Hana sampai melirik ke arah AC, pantas saja ruangan ini terasa begitu dingin, batin Hana dalam hati. Dhava menyetel AC sampai 18∘C. “Duduk!” “Duduk dimana pak?” seru Hana Dhava yang sedang fokus pada layar laptopnya menatap gadis di depannya saat ini dengan mata menyipit. Memikirkan apa yang sekiranya sedang dipikirkan oleh makhluk di depannya saat ini juga. “Maksud kamu, mau duduk dimana?” Dhava mengikuti permainan Hana. Dia sepertinya ingin sekali tahu seperti apa sifat asli dari sosok di depannya saat ini. Hana gugup, kepalanya saat ini sedang berpikir jernih. Dia menatap tatapan mata Dhava yang terlihat lurus padanya. “Ya, kali aja bapak nyuruh saya lesehan gitu pak. Atau di langit-langit, macam spiderman pak. Oh ya, apa bapak sudah nonton spiderman series ‘No Way Home?’ kebanjiran kali ya pak tempatnya, bisa terbang tapi gak dapat jalan ke rumah!” Speechless, Dhava yang tadi sudah berekspektasi tinggi, bahwa Hana akan menjawab, “duduk di pangkuan bapak” langsung dia buang jauh-jauh. Dengan langkah gontai, Dhava berbalik ke sofa dan meletakkan badannya di atas sofa empuk itu. Tatapannya tidak lepas dari sosok gadis yang masih berdiri di depannya. “Masyaallah, duduk di sofa Hana. Duduk di sini, di benda berbentuk bulat panjang ini!”Dhava menepuk sofa di depannya. Sementara Matth, yang mendengar semua percakapan bosnya itu dari dalam ruangannya sudah tertawa terpingkal-pingkal. Bisa-bisanya Hana memberikan jawaban seperti itu? Tapi, memangnya apa jawaban yang paling ditunggu oleh bosnya itu? Hana yang masih berdiri lekas duduk sambil menghela nafas legah, berdiri beberapa menit tadi itu membuat energinya terbuang percuma. Berdiri itu capek. Jadi, bagi seorang Hana yang kebiasaannya hanya duduk dan rebahan, berdiri membutuhkan energi yang banyak. “Kenapa menghela nafas? Gak suka lihat muka saya?” seru Dhava, ngegas. Dia terlihat tersinggung dengan helaan nafas Hana. “Saya cuman legah saja karena akhirnya bisa duduk loh pak, berdiri beberapa menit membuat kaki lemah saya semakin lemah. Apa bapak tidak melihat bahwa saya menghela nafas karena merasa legah?” “Kam….” Dhava mengatupkan bibirnya, menatap keluar jendela dan melonggarkan dasinya. Berbicara dengan gadis satu ini memang membutuhkan banyak energi. “Bapak mau ngusir saya ya? Kalau begitu, oke pak!” seru Hana, lekas berdiri dan kabur. Namun, tiba-tiba badan Hana tertarik dan gadis itu melotot saat merasakan bahwa bókongnya tidak mendarat di tempat yang empuk. Tapi sedikit keras dan tidak biasa. Hana perlahan memutar lehernya, dan tatapannya terkunci oleh tatapan datar yang berada di bawahnya. Turun ke bawah, Hana melihat jakun Dhava yang naik turun. Dan posisi mereka saat ini, Hana sedang duduk di atas pahan Dhava yang sedikit keras. Melihat itu, Hana lekas berdiri dan menatap Dhava yang membuang wajahnya. Itu bukan kesalahan Hana, jika saja lelaki itu tidak menarik Hana tiba-tiba, maka hal itu tidak akan terjadi. Hana lekas duduk di tempat semula. “KELUAR!” Hana terkejut, amat sangat terkejut begitu mendengar teriakan Dhava. Dia lekas berdiri dengan kaku, dia tidak terbiasa dibentak. Jujur. Hana lekas keluar dari ruangan Dhava, tanpa mengatakan satu katapun. Begitu keluar, dia dikejutkan oleh Serena dan Rita. Tidak hanya mereka, beberapa tatapan seniornya juga terlihat tertuju padanya. “Hana, ya ampun. Ser, bawa Hana ke bawah!” Bagai kehilangan jiwanya, Hana tidak sadar jika Rita sudah membawanya menuju ruangan bawah. Mengarahkan kipas padanya, dan juga memberinya minum. Hal itu mengundang beberapa perhatian daripada beberapa karyawan yang berlalu lalang. “Han…Hana!” Hana mengerjapkan matanya, lalu menatap wajah Serena dan juga Rita. Mereka berdua kelihatan lega begitu melihat Hana yang memberikan respon. Hana menatap dimana sekarang dia sedang berada. “Apa yang terjadi?” “Lo gimana dulu, udah baikan? Udah sadarkan?” seru Rita, meyakinkan bahwa temannya itu sudah benar-benar sadar. Hana kembali diam, dia baru saja sadar. Beberapa menit lalu, Hana memang tidak sadar, bahkan saat Hana keluar dari ruangan Dhava. Dia sama-sekali tidak menyadari hal itu. Hana menghela nafas lagi, dan menatap kedua sahabatnya itu. “Apa tadi gue, bengong lagi?” Rita mengangguk dan lekas memeluk Hana. “Maafin kita Han, kalau tadi kita gak ribut. Lo pasti gak bakal kena bentak!” Rita bahkan sampai meneteskan air matanya, Rita dan Serena tahu bahwa Hana paling tidak bisa dibentak. Saat masih kuliah, mereka terkejut begitu melihat Hana yang tidak sadar sesaat dosen killer mereka membentak Hana, hanya karena gadis itu terlambat. Sejak saat itu, Rita dan Serena selalu menjaga Hana. “Udah, gue gak papa Rit. Mungkin sudah saatnya….” “No…no…no, kita juga salah. Tapi, lo udah baikan kan?” seru Serena, menyela  ucapan Hana    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD