Jam sudah menunjukkan pukul 6 lewat seperempat, tapi Dhava masih tetap berada di ruangannya. Lelaki itu menatap lurus kedepan, menatap para karyawannya yang sudah mulai kembali ke rumah mereka. Dari semua pegawai yang terlihat di hadapannya, perhatian Dhava tertuju pada sosok gadis yang mulai mengemasi barang-barangnya. Dhava merutuki dirinya dalam hati, ia benar-benar bertindak bodoh tadi pagi. Bisa-bisanya ia membentak Hana karena adik kecilnya, tiba-tiba bereaksi karena gadis itu.
Dhava menyisir rambutnya yang masih basah dengan jari-jari tangannya. Untuk pertama kalinya, dia bereaksi karena sentuhan wanita. Padahal, sentuhan dari Hana juga biasa saja. Hanya terjadi kecelakaan kecil tadi pagi. Itupun sebenarnya, kecelakaan itu seratus persen adalah kesalahan Dhava. Dia hanya terlalu terkejut dengan miliknya yang tiba-tiba menegang karena gadis itu. Hal itu membuat Dhava harus membuatnya tidur kembali, dan itulah alasan kenapa rambut Dhava masih basah.
Shit—Dhava merutuk dalam hati ketika tiba-tiba miliknya di bawah sana kembali menegang karena mengingat bòkong Hana yang tidak sengaja berada di pangkuannya. Padahal, bókong Hana biasa saja. Tidak ada kata-kata remes-able, tapi kenapa bisa adiknya bereaksi sehebat ini? Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Dhava menurunkan suhu ruangannya, dan berusaha untuk membuat asetnya itu tidur. Rasanya sangat sesak, miliknya itu seolah meminta agar dikeluarkan. Dan jika bisa, diberi kepuasaan. Tapi, Dhava tidak ingin melakukan hal itu dengan sembarangan orang. Nafas Dhava kembali memburu, ia menatap Hana yang sudah beranjak pergi. Ingin sekali tangannya ia gunakan untuk menangkap gadis itu ke dalam pelukannya, meremas bókongnya yang sudah membuatnya begini. Dhava ingin Hana yang memuaskannya, tapi, dia jelas tidak bisa bertindak bodoh seperti ini. Ia harus mencari cara, biar bagaimanapun, ia tidak bisa terus-menerus menahan rasa sesak ini.
Sementara itu, Hana yang sudah berada di parkiran meraih kunci motor yang ada di dalam. Tidak ada? Seingat gadis itu, dia meletakkan kuncinya di dalam tas. Hana menghela nafas, apa mungkin tertinggal di atas ya? Batin Hana. Tapi untuk kembali ke atas, dia terlalu malas dan takut. Karena tadi, Hana adalah karyawan terakhir yang pulang dari ruangan mereka. Dan sepengetahuannya, Dhava masih berada di atas. Keadaan Hana memang sudah lebih baik, setelah Serena dan Rita membantunya. Tapi, Hana jelas masih merasa jengkel. Kenapa Dhava tiba-tiba saja membentaknya? Padahal kecelakaan tadi itu jelas bukan salahnya.
Hana meraih ponselnya, hendak memesan grab. Tapi ponselnya kehabisan batre, dan tidak sempat memesan grab. Entah sial atau apa, Hana hanya bisa menghela nafasnya lelah. Dia memilih untuk kembali ke dalam kantor. Mang Kasep masih membersihkan ruangan bawah.
“Loh neng, mau kemana lagi?”
“Kunci motor gue mang, gak tahu dimana. Kelupaan kali di atas, kalo Mang mau pulang, pulang aja, ntar pintu kantor aku yang kunci!”
“Baik neng, amang memang mau pulang. Istri saya lagi sakit, jadi butuh ada yang nemenin!”
Hana mengangguk dan lekas menaiki lift, begitu tiba di ruangannya. Hana lekas mencari dimana ia meletakkan kunci motornya tadi pagi. Seingatnya ia meletakkannya di dalam tasnya, namun. Ketemu, Hana berseru dalam hati ketika mendapatkan kunci itu ternyata berada di dalam laci-nya. Hana lekas bangkit berdiri dan berjalan menjauh. Namun matanya tidak sengaja melihat ruangan Dhava yang masih terbuka. Apa mungkin lelaki itu masih berada di sana? Batin Hana. Namun Hana lekas menggelengkan kepala, itu bukan urusannya. Dia tidak mau lagi dibentak seperti tadi dengan alasan yang tidak jelas.
Dhava memang setán, seru Hana kesal lalu lekas melangkahkan kakinya menjauh.
Bruk—Hana berhenti di depan pintu lift, dia menatap ke belakang. Ia tidak salah dengar, tadi memang seperti ada suara benda jatuh. Hana bimbang, apakah dia harus berjalan kembali dan mencari tahu. Atau pura-pura tidak tahu dan kembali saja?
Tapi, Hana adalah orangnya yang cukup kepo dengan hal-hal seperti ini. Dia pernah beberapa kali terjebak di dalam sebuah gedung lama, hanya karena penasaran. Rasa penasaran Hana membawa langkah kaki gadis itu kembali, dia menatap lampu ruangan yang sudah mati. Dengan pelan, dia mendekati ruangan Dhava, karena hanya dari ruangan itu yang terdengar suara itu.
Begitu berada di depan pintu Dhava, udara dingin langsung menyambut kulit Hana. Dia bergidik ngeri, kenapa Dhava selalu menyetel udara di dalam ruangannya sedingin ini? Hana mengintip, suara itu memang dari ruangan Dhava. Karena khawatir, Hana akhirnya lekas memasuki ruangan itu. Dia menatap tidak ada siapa-siapa, namun dari arah dalam. Ia mendengar ada suara ada suara aliran air.
Klik—pintu ruangan kamar mandi tiba-tiba terbuka, dan Hana yang melihat siapa yang keluar dari ruangan itu, membuatnya membantu. Di depannya, Dhava sedang berdiri dengan sama terkejutnya. Lelaki itu hanya mengenakan handuk untuk menutupi bagian bawahnya. Air menetes dari rambutnya, membuat Hana mengerjapkan matanya sekali. Bulu kuduknya tiba-tiba berdiri, ia merinding. Ia pernah menatap Christian—abangnya keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk dan Hana tidak merasakan apa-apa. Tapi ketika melihat Dhava, atasannya itu sedang berpenampilan seperti ini. Membuat Hana tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Roti sobek yang ditetesi air itu membuat Hana terpaku. Itu seperti milik appa nya—V BTS. Ya Ampun, Hana menjerit dalam hati. Ternyata bos mereka se-hot ini juga.
Hana lekas berbalik dan hendak kabur. Namun sebuah tarikan membuatnya terjauh dan bagian keras itu lekas menyambutnya. Hana ternyata terjatuh ke dalam dekapan Dhava. Sensasi dingin itu mengalir di bagian punggung Hana.
Hana lekas bangkit, namun tidak bisa. Bagian pinggangnya di pegang dengan erat, ia merasakan nafas Dhava yang berada di lehernya. Pintu di depannya otomatis tertutup karena Dhava yang mendorongnya. Badan Hana tiba-tiba terangkat, dia sudah berdiri dengan Dhava yang berada di depannya. Roti sobek itu membuat tangan Hana gatal, ingin meraba-rabanya.
“Hana!” seru Dhava
Sosok itu menatap Hana, yang berada di depannya. Dhava pikir, sudah tidak ada lagi yang berada di kantor. Dan ia memutuskan untuk mandi, setidaknya untuk membuat miliknya tidur. Namun, ia tidak tahu mengapa Hana seolah memberikan dirinya sendiri.
“Maaf pak, ta—tadi sa—saya ketinggalan kunci motor. Ja—jadi saya kembali buat ambil, tapi ta—tadi saya dengar bunyi jatuh dari ruangan bapak. Jadi, saya khawatir saja!”
Bodoh, hana merutuki dirinya sendiri di dalam hati. Ia ingin sekali kabur dari dalam ruangan ini. Tapi Dhava bukannya membiarkannya, ini malah menarik pinggangnya, membuat badan Hana menabrak roti sobek Dhava yang begitu keras itu. Wajah Hana sudah memerah, ia tidak pernah berada di dalam keadaan ini. Tapi, Hana juga tidak bodoh, ia jelas pernah menonton film-film dengan gendre hot, pemberian Rita. Gadis yang sudah merusak otaknya. Hana bergidik ngeri saat Dhava menurunkan kepalanya, nafas lelaki itu menerpa wajah Hana.
“J-jadi, apa kamu mau bertanggung jawab?” seru Dhava dengan suara serak
Hana menatap Dhava, tatapan matanya terlihat dipenuhi dengan hasrat yang menggebu-gebu. Hana membulatkan matanya saat Dhava tiba-tiba meremas bòkongnya dan mendorongnya ke depan. Membuat sesuatu yang keras menusuk celana Hana. Dia menatap Dhava, mengerutkan kening, sembari menatap ke bawah Dhava.
“Kenapa—kenapa kek keras ya pak?”
Dhava yang mendengar itu mengalihkan perhatiannya, dia mendorong punggung Hana hingga membentur tembok pintu. Menutup semua tirai jendelanya, menghindari jika saja ada orang yang akan menatap mereka saat ini dan menyebar gosip. Dhava merasa semakin sesak, saat miliknya bersentuhan dengan Hana. Padahal, masih dibatasi dengan celana gadis itu. Nafas Dhava semakin memburu, dengan pelan, ia menatap mata teduh Hana yang selalu saja bisa memabukkannya.
Ia menarik tengkuk gadis itu, dan lekas menyambar bibir merah muda itu. Tidak ada balasan dari Hana, dan Dhava tahu sepertinya gadis itu terkejut. Tapi Dhava sudah tidak sanggup jika harus menahannya, dia butuh seseorang, dan kebetulan Hana datang untuk menyerahkan dirinya. Apapun itu, Dhava tidak peduli. Jika nantinya mereka melakukannya, Dhava berani bertanggung jawab. Ia juga bersedia menikahi Hana. Asal gadis itu mau saja. Jika tidak mau, maka Dhava akan memaksanya. Karena hanya Hanalah yang Dhava inginkan.
Bruk—Dhava mendorong tubuh Hana di atas sofa, sepertinya tempat yang akan mereka pakai pertama adalah sofanya sendiri. Hana masih terlihat terkejut, dia bahkan tidak sadar jika sudah berbaring di atas sofa.
Belum sempat mencerna, Hana sudah kembali di serang. Dhava sudah menindih tubuhnya, namun tidak membuat Hana merasa berat, lelaki itu menahan bobot tubuhnya sendiri. Dhava kembali menghujani Hana dengan cumbuan ganas, dan liar. Semakin lama, ciuman sepihak Dhava mulai terbalaskan. Membuat lelaki itu menyeringai, Hana memberinya lampu hijau. Tidak ingin berlama-lama, Dhava lekas berdiri dan menarik tubuh Hana. Membawa gadis itu ke dalam kamar pribadinya.
“Pak!”
“Sttt….” Dhava menutup mulut Hana dengan jemarinya dan kembali menjatuhkan Hana di atas kasur yang lebih empuk itu. Entah sejak kapan, tapi handuk yang tadi menutupi aset Dhava sudah terlepas. Hana yang baru saja melihat ukuran milik Dhava tercengang. Dia benar-benar merinding dan tidak tahu harus melakukan apa. Tatapan teduh dan suara serak Dhava seolah menyihir Hana untuk melakukan apa yang lelaki itu perintahkan.
Dhava melirik miliknya yang sudah berdiri tegang, dia menatap Hana dan lekas menindih tubuh gadis itu. Dia kembali mencium bibir ranum itu dengan ganas. Tangan Dhava tidak tinggal diam, dia meremas dáda kecil Hana. Ternyata meskipun kecil, tapi sangat pas berada di dalam genggamannya. Dhava mulai melucuti atasan Hana, dan menemukan bra berwarna hitam, yang sangat kontras dengan kulit putih gadis itu. Dhava sempat diam, namun dia kembali mencumbu Hana, mengalihkan perhatian gadis itu. Hingga tidak sadar, bagian bawah Hana sudah dilucuti oleh Dhava.
Dhava mulai menggesek-gesek miliknya pada bagian Hana. Tangan nakal lelaki itu menelusuri bagian yang ternyata sudah basah itu.
“Pak!” seru Hana, masih tidak sadar dengan apa yang terjadi
“Aku akan bertanggung jawab, jika kamu mau, besok kita akan menikah!” seru Dhava, lalu tanpa persetujuan dari Hana. Lelaki itu lekas membuka CD yang menutup milik Hana. Beberapa menit, milik Hana sudah dipenuhi dengan milik Dhava.
Ah…ah…Hana mulai mendesah, membuat Dhava semakin menggila. Dia baru merasakan kenikmatan seperti ini. Masih dengan kenikmatan yang mereka berdua rasakan, tiba-tiba pintu ruangan kamar Dhava terbuka. Lelaki yang terkejut itu lekas membuka matanya dan menatap Matt. Ponsel yang tadi Dhava gunakan untuk menonton film panas itu segera melayang pada Matt. Beruntung lelaki itu menghindar dan membuat ponsel itu hancur, karena membentur tembok.
“Bos, ini sudah jam 8 malam. Lo gak pulang?”
Sialan, Dhava yang sedang berada di puncak imajinasinya itu terhenti. Ia menatap Matt dengan kesal. Baru saja film yang tadi ia toton masuk ke klimaks, dengan pemeran utama yang dia bayangkan adalah dia dan Hana.
“Lo kalo masuk ke raungan orang, bisa gak sih make etika?”
Matt yang menatap Dhava menutupi bagian bawahnya dengan bantal mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum jahil. “ Lo lagi nonton porno ya? Ngaku deh lo bos!”
“Anjing, pulang gak lo?” seru Dhava melempari Matt dengan barang-barang apa saja yang ada di dekatnya.
Matt yang lincah, bisa menghindar dengan cekatan. Senyuman jenaka lelaki itu tidak pudar, dan semakin membuat Dhava kesal.
“Oke-oke, gue pulang. Jadi lo mau nginap di kantor?”
“Itu urusna gue!”
“Gak di tanya marah, tiba giliran di tanya. Malah diginiin, ya Tuhan, Matt salah apa coba!” seru Matt dengan mendramatis sekali. Hal itu membuat Dhava lekas berbalik di ranjangnya dengan tangan yang menutupi wajahnya. “Tapi bos, lo keterlaluan banget gak sih? Hana itu sepertinya tidak bisa dibentak loh bos, si Serena sama Rita, tadi panik banget pas lihat Hana jalan sambil bengong. Mereka bawa Hana ke bawah, ngipas-ngipas sambil kasih air hangat. Gue juga ikutan panik tadi, dan baru tahu dari Rita. Kalau Hana itu semacam ada trauma masa lalu, jadi kalo dia dibentak, jadinya kek bengong gitu. Lain kali, jangan suka bentak-bentak orang sembarangan bos!”
“PERGI GAK, SIALAN!” kesal Dhava
“Iye-iye, dibilangin malah ngeyel. Nanti malah minta-minta. Oh ya bos, Christian dapat data baru lagi. Gue udah kirim ke email loh!”
“Hmmm!”
Melihat Dhava sepertinya tidak berminat, membuat Matth lekas menutup pintu ruangan itu. Lalu lekas keluar dari dalam ruangan Dhava yang sangat dingin.
Melihat Matt sudah pergi, Dhava lekas mengambil ponselnya yang tadi. Lalu merutuk dirinya. Dia tidak tahu jika Hana memiliki trauma masa lalu. Kenapa gadis itu tidak pernah mengatakan hal itu sebelumnya? Tidak, Dhava kali ini benar-benar bodoh. Kenapa juga Hana mau memberitahukan hal itu padanya?
Dhava memejamkan matanya, lalu berusaha untuk tidur sebentar.