Dhava mengumpat dalam tidurnya, semakin malam, bukannya semakin mengantuk. Dia malah semakin tidak bisa tidur, suhu kamarnya saat ini sudah sangat-sangat dingin. Namun Dhava masih tetap merasakan panas yang menyeráng seluruh tubuhnya. Hal itu membuat lelaki itu lekas bangkit dari kasurnya, badannya sudah lemas. Dia sudah menghabiskan dua gelas kopi, berharap dia akan mengantuk. Karena biasanya, jika Dhava minum kopi. Bukannya tidak bisa tidur, dia malah akan mudah terlelap. Mungkin tubuh Dhava memiliki kelainan kali ya.
Lelaki itu menatap kamar mandi, haruskan dia mengguyur tubuhnya di bawah shower, subuh-subuh gini? Sumpah, Dhava tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Namun meskipun tidak pernah mengalami hal ini, Dhava tahu solusi untuk meredakan kemauan adik kecilnya. Namun dari berbagai cara yang sudah dia lakukan, tak satupun yang berhasil untuk menenangkan adiknya.
“Sialan kamu Hana, kamu sepertinya harus benar-benar mengandung benihku dan menjadi nyonya Subhan.”
Dhava menutup pintu kamar mandi itu dengan keras. Mungkin, jika ada perampok di kantornya saat ini, mereka akan terkejut dengan benturan keras yang Dhava lakukan. Sosok itu merebahkan dirinya lagi di atas kasur, berusaha untuk memejamkan matanya, dia kembali menurunkan suhu AC. Sama-saja.
“Aku sepertinya tidak bisa tidur semalaman ini!” seru Dhava, lekas menanggalkan semua pakaiannya, menyisakan boxer bermerek calvin klein itu melekat sempurna di tubuhnya. Dhava duduk di atas meja kerjanya dan mulai menyalakan notebook mereka apel yang digigit sebagian itu. Mereka GOLD lagi ya kan, namanya juga sultan.
Drttt…Drttt
Dhava menatap ponsel berlogo apple yang tergeletak diatas kasur bergetar, membuat Dhava mengalihkan perhatiannya dari layar laptopnya itu dan lekas mengambil ponsel itu. Dia menatap pesan dari nomor yang tidak dikenal. Ia mengerutkan keningnya, sepertinya itu adalah pesan salah sambung. Dhava hendak berbalik, namun ponselnya lagi-lagi bergetar, hal itu membuat Dhava sedikit mawas diri. Dari dalam kamarnya, ia mendengar ada suara-suara di luar.
Dhava menatap pesan itu sekali lagi, ‘Jangan bergerak, jika tidak, nyawamu melayang’. Isi pesan itu membuat Dhava kembali mengerutkan nafas, tidak mungkinkan ada orang yang seiseng ini padanya. Lagipula selama ini, ia juga sering mendapatkan pesan salah kirim. Entah darimana orang-orang itu mendapatkan nomornya. Padahal, nomor Dhava adalah limited edition yang langsung dia pesan sendiri. Kadang pesan yang Dhava terima adalah total belanjaan, promosi, hadiah-hadiah dari toko s****e dan lainnya. Padahal, Dhava sama-sekali tidak pernah mengunjungi toko online itu. Lucunya, ada juga yang mengaku bahwa sosok itu hamil anaknya. Dhava sesekali merasa jijik, sejak kapan bisa spermanya bisa bertebaran di sembarang rahim? Oh no! Itu tidak akan pernah terjadi, karena Dhava selalu memiliki pendirian untuk menanamkan spermanya pada satu-satunya wanita yang nantinya sah menjadi pendamping hidupnya. Dhava tidak ingin melihat manusia menjadi seperti binatang yang sembarangan tancap.
Apa mungkin pesan ini juga sama?
Dhava mengedikkan bahunya, dan lekas meletakkan ponselnya. Dia berjalan ke arah mejanya, namun shut—Dhava memiliki reaksi yang cepat. Dia menatap darimana datangnya asal peluru itu. Dhava merangkak dan meraih ponselnya. Ia yakin bahwa kamarnya ini tidak pernah dimasuki oleh orang asing, kecuali dirinya dan juga Matthew. Keamanan di sini juga tidak pernah diragukan.
Dhava mencari nomor Christian, dan segera memanggilnya. Panggilannya tersambung, namun Dhava lekas mematikan ponselnya dan mengirimi Christian pesan. Hal yang sama juga ia lakukan pada Matthew. Dhava menatap peluru yang menembus tembok itu, sedetik saja dia telat menghindar, dia yakin peluru itu akan menembus isi kepalanya. Dan paginya, akan ada berita heboh.
Seorang CEO ditemukan tewas dengan keadaan naked di dalam kantornya sendiri. Mungkin CEO itu galau karena terlalu tampan, sehingga tidak ada wanita yang berani mendekatinya.
Dhava mengangguk, mungkin judul berita itu akan menjadi trending topik se dunia. Dan gadis-gadis cantik yang selama ini Dhava tolak dengan tajam akan memberinya umpana dan seluruh kebun binatang. Dhava mencari aplikasi kamera dan lekas menyalakannya. Menatap pantulan dirinya yang terlihat begitu gagah di dalam layar itu. “Aku memang tampan, mungkin ada yang iri!” seru Dhava, memuji dirinya sendiri.
Tidak lama, pintu ruangan Dhava diketuk sebanyak 3 kali. Dan pesan masuk di dalam ponselnya membuatnya lekas merangkak mendekati pintu. Begitu pintu kamarnya terbuka, sosok Christian dan juga Matthew sudah berada di sana.
“Lo baik-baik saja?” seru Christian, lekas memasuki kamar Dhava
Dhava mengangguk dan lekas mengambil beberapa pakaian dan mengenakannya. Dia menatap Christian yang memasuki kamarnya dengan alat pengaman. Matth tetap berdiri di luar, Dhava tahu, Matth juga seorang penakut. Terlebih saat melihat kantung matanya yang begitu hitam, mungkin dia sudah mengganggu waktu tidur mereka.
“Darimana arah datangnya peluru ini?”
Dhava menunjuk jendela kacanya yang sudah retak, Christian lekas mendekati kaca itu. Tatapan Christian tertuju pada gedung di depannya. Dia mengambil beberapa foto. Jika kejadiannya adalah beberapa menit yang lalu, pasti pelakunya masih berada di dalam gedung itu atau kemungkinan lainnya, sosok itu sedang berusaha untuk kabur. Christian menatap peluru yang tertanam di dalam tembok kamar Dhava, dia menatap peluru itu. Jenis peluru yang cukup memiliki kapasitas yang tinggi. Beruntung Dhava masih sempat untuk menghindar dan menyelamatkan dirinya. Christian juga mengambil beberapa gambar, dia masih tidak terlalu kenal dengan jenis-jenis peluru.
“Matt, lo bawa mobil?”
“Gue bawa motor!”
Christian menatap Dhava, “Lo….”
“Di bawah!”
Sebelum Christian bertanya, Dhava sudah menyerahkan kunci mobilnya lebih dulu pada Christian. “Anak buah gue sudah menuju kemari, sepertinya pelakukanya membidik lo dari gedung sebelah. Mungkin dia masih turun dari gedung!”
Mendengar Christian, membuat Dhava mengangguk dan lekas ikut turun. Matt dia perintahkan untuk berada di dalam kamarnya, untuk berjaga-jaga jika ada lagi penyerángan. Matth yang mendapatkan tugas itu tidak berhenti bersungut-sungut sejak tadi.
“Gue jadi kelinci percobaan lagi, sialan!” seru Matt, dia memasuki kamar Dhava. Tidak peduli apa yang akan terjadi nantinya. Dia memilih untuk mengambil bantal dan selimut Dhava, lalu lesehan di bawah kolong kasur Dhava.
Jelas tidak akan berada di kasur, bisa jadi nanti, ketika bangun Matt sudah tidak berada di ruangan Dhava. Tapi di surga.
Sementara itu, Christian dengan cepat menuruni lift dan tiba dibawah. Dhava lekas mengeluarkan mobilnya dan lekas menuju ke arah jalur dan segera memarkirkan mobilnya di gedung dekat dengan kantornya. Setahu Dhava, gedung ini adalah sebuah motel. Tidak banyak yang menginap di dalam motel ini setiap saatnya. Melihat Christian berbicara dengan beberapa orang, membuatnya memasuki motel itu lebih dulu. Tidak sengaja, matanya menangkap sosok dengan pakaian serba hitam baru keluar dari tangga darurat. Begitu tatapan mereka saling bertemu, sosok dengan jubah hitam itu terlihat terkejut dan lekas berlari menuju pintu keluar. Dhava mengumpat dan lekas mengejar sosok itu.
“Hey, berhenti kau bajingàn!”
Sementara Christian yang menatap Dhava berlari dari pintu belakang memilih untuk mengikuti lelaki itu. Teamnya—Max dan Jack memilih untuk memasuki motel itu dengan meminta izin masuk. Christian berlari dengan kencang, untuk mengejar lari Dhava yang sudah terpaut beberapa meter darinya. Christian menatap sosok yang sedang dikejar oleh Dhava. Ia mengambil pistolnyá dan lekas berhenti. Dor—peluru itu tepat melewati daun kuping sosok yang sedang mereka kejar. Hal itu membuat sosok itu terkejut dan terjauh, membentur jalanan. Dhava lekas menambah kecepatannya dan bruk—Dhava lekas menduduki tubuh sosok itu.
Nafas Dhava memburu, ia memang suka berolahraga dan biasanya dia tidak selemah ini. Mungkin ini adalah karena Dhava tidak tidur dan meminum dua gelas kopi dengan kadar kafein tinggi.
“Minggir Dhav, lo bisa buat dia mati!”
Dhava mengangguk dan lekas menyikir, Christian lekas menyekap kedua tangan sosok lelaki itu. Masker yang menutupi wajahnya lekas Dhava buka, selagi Christian memborgol tangan sosok itu. Tas yang tadi terjatuh lekas Chris bongkar, begitu mengeluarkan semua isinya. Membuat Christian dan Dhava saling menatap. Semua isi dari tas itu adalah produk-produk kecantikan, merek-mereka yang terkenal juga. Christian terus mencari tahu, dan sama-sekali tidak mendapatkan apa-apa di dalam tas itu. Hal terakhir yang ia temukan, adalah sebuah CD wanita?
“Kalian siapa sih? Kenapa ngejar-ngejar gue segala dan bongkar tas gue, pake tangan di borgol lagi!”
Sosok itu mengeluarkan protesnya setelah dia tenang dan bernafas dengan normal.
“Christ, kita salah kejar orang!” seru Dhava
Christian mengangguk, namun ia tidak ingin terlibat masalah lain, ia menatap sosok itu. “Jadi, kenapa lo lari pas kami masuk motel? Kami lagi ada tugas dari kepolisian, dan Anda termasuk salah satu orang yang mencurigakan. Kenapa di tas Anda sangat banyak perlengkapan kosmetik dan tiba-tiba lari?”
“Itu punya istri gue, dia lagi mau pergi ke bandara dan ketinggalan tas kosmetik sialan ini. Jadi saya berbalik ke motel dan mengambilnya, tapi kalian malah membuat saya ketinggalan. Sialan, ini sudah melebihi batas yang ditentukan. Aku pasti akan diceraikan olehnya!”
Christian menatap sosok itu lekas berlutut dan memasukkan peralatan kosmetik itu dengan segera. Sembari menatap teleponnya yang sejak tadi berbunyi. Dhava menatap ratusan pesan yang masuk. Christian segera melepaskan borgol pria itu dan melepaskannya.
“Jika dia menguji cintamu dengan hal seperti ini, maka dia bukan wanita yang tepat buat Anda. Jangan terlalu menjadi bodoh dan terobsesi dengan wanita. Kau paham!”
Christian menghela nafas, lalu segera pergi bersama dengan Dhava.
“Hey!”
Mendengar suara teriakan itu, Christian dan Dhava berbalik menatap sosok lelaki itu. Christian menaikkan alisnya.
“Kau benar, aku memang sudah lelah dengan semua ini. Wanita itu memang gila, dia hanya menjadikanku sebagai alat. SIALAN!” teriak sosok itu dan melemparkan tas itu. Dia berjalan ke arah Christian dan Dhava. Menjabat tangan Christian.
“Terima kasih sudah menyadarkanku! Aku akan mencari wanita yang lebih baik daripada dia!”
Begitu sosok itu selesai berbicara, dia lekas memeluk Christian dan segera pergi. Dhava dan Christian saling menatap. Dhava menatap jijik ke arah sosok tadi. Bisa-bisanya dia dibutakan oleh cinta seorang wanita? Yang benar saja.
Mereka kembali berjalan ke arah motel, begitu tiba di sana. Team yang tadi datang dan mencari tahu ke dalam sudah kembali dan lekas menghampiri Christian.
“Bagaimana?”
“Tidak ada jejak yang mencurigakan, semua CCTV juga hidup dan tidak ada pergerakan yang mencurigakan. Semua kamar juga udah kami periksa , Christ. Sepertinya dia sudah pergi lebih dulu, daripada kita!”
“Sialangan!” seru Dhava, lekas meninggalkan tempat itu dan memasuki mobilnya. Christian mengejar sosok itu ke dalam mobil.
“Sorrt Dhav, gue memang gak jamin bisa menangkap siapa pelakunya secepat itu. Tapi gue….”
“Gue tahu Christ, lo memang gak ada tanggung jawab buat ini. Untuk gaji lo, udah gue transfer ke rekening lo. Tangkap siapa yang menyeráng gue malam tadi, bonus lo bakal gue tambah juga. Sekarang gue mau pulang, ingat jangan sampai ada yang mengetahui hal ini. Christ, gue berharap banyak!”
Christian menghela nafas, lalu mengangguk. Dia lekas keluar dari dalam mobil Dhava. Bersamaan dengan Dhava yang lekas memajukan mobilnya. Jujur, dia memang tidak bisa melawan rasa takutnya. Jika dia sendiri sudah diteror seperti ini, bagaimana nantinya dengan nasib ayahnya dan ibunya? Tidak…tidak, sepertinya Dhava tidak boleh hanya mengandalkan Christian saja. Ia juga butuh sosok yang lebih kuat untuk membereskan hal ini semua.
Sementara itu, di tempat yang paling atas. Sosok dengan pakaian hitam menyeringai menatap apa yang baru saja terjadi. Sosok itu berbalik dan menutup layar laptopnya. Menatap sosok lelaki yang berdiri di belakangnya.
“Kerja bagus, tapi kau hampir saja ketahuan oleh merek. Aku sudah mengirim transfer biasa lahiran anakmu, dan kau tidak perlu lagi bekerja untukku!”
“Baik bos, aku paham!”
Sosok lelaki tadi, yang dikejar oleh Dhava dan Christian lekas berbalik dengan raut wajah senang. Dia juga sudah mendapat pemberitahuan bahwa uang 100 juta hanya untuk misi konyol itu sudah masuk ke dalam rekeningnya. Uang itu cukup untuk biaya hidupnya dan juga untuk membayar hutang judinya.
Namun, sebelum sosok itu sempat pergi dari hadapan sosok itu. Jleb—sosok tadi, yang memberikan uang itu menyerángnya dengan gerakan cepat. Menusuk leher sosok itu dan menekannya, sosok tadi menarik pisau itu dan menusuk tepat di jantung. Dua gerakan cepat itu tidak sanggup dilawan oleh sosok itu.
Bruk—tubuh besar itu terjatuh ke atas lantai dengan darah yang mengalir deras.
“Bereskan dia! Pastikan kau memberikan Dhava kejutan lagi, kali ini, kau sudah bisa memakai orang tua sialan itu, tapi tidak untuk minggu ini. Kau bisa memulainya lagi bulan depan, apa kau bisa?”
“Baik bos, saya akan melaksanakannya!”
Sosok itu mengangguk, lalu mengambil ranselnya. Mulai menuruni anak tangga dengan raut wajah yang tidak menunjukkan ekspresi apapun. Kantung mata panda tercetak jelas di matanya, menunjukkan bahwa gadis itu sepertinya tidak pernah tertidur. Sebuah mobil berhenti di depannya begitu dia tiba di lantai dasar, dengan segera, mobil itu membawanya menjauh.