Hana yang sedang makan mie instan miliknya terkejut mendapati siapa sosok yang sekarang sedang berada di depannya. Ini libur, dan Hana jelas tidak punya kerjaan yang dia tinggalkan. Hana menatap Rita yang begitu rapi dari atas sampai bawah. Hanya otaknya saja yang tidak rapi. Hana menyingkirkan tubuh Rita yang menghalangi jalannya, dan segera lesehan di atas lantai. Menyalakan kipas angin, mahlum, Hana masih tidak punya niat untuk beli AC dan memasangnya. Punya uang tapi tidak punya niat, sama saja bohong.
“HANA, ANJIR! GUE DICUEKIN DONG!” seru Rita histeris
Hana yang sudah hampir memasukkan mie itu ke dalam mulutnya, kembali meletakkannya. Lalu menatap Rita dari atas sampai bawah, “APA!?” seru Hana, ngegas juga.
“Anjirlah, bagi mie lo!”
“Ogah!” Hana lekas mengambil piringnya dan menatap Rita dengan garang. Bisa-bisanya biang kerok itu datang kerumahnya hanya untuk berbagai mie instan? Oh jelas tidak boleh dong, setelah aktivitas semalam. Hana begitu kelelahan, dia hanya tidur 1 jam, demi war dengan para orang-orang nya.
“Jiyan Hanna!”
Hana yang dipanggil dengan nama lengkap itu menatap Rita dengan kesal, Hana tidak suka dipanggil dengan nama depannya. Dan kali ini Rita benar-benar membuatnya kesal. Tapi, bukannya minta maaf. Rita malah menarik tangan Hana, membuat mie instan yang tidak punya kaki itu langsung terjun bebas ke lantai dengan bebas. Semantara Hana meminta penjelasan, Rita sama-sekali tidak peduli. Bahkan tanpa menutup pintu rumahnya, Rita sudah memasukkan Hana ke dalam mobil gadis itu dan pergi dari pekarangan kos Hana.
Hana menatap miris ke belakang, mie instannya.
“Lo kenapa sih?”
Rita yang sedang menyetir sama-sekali tidak peduli, gadis itu hanya mencari ponselnya dan memberikannya pada Hana. Gadis yang masih menatapnya kesal itu mengambil alih ponsel itu dan menatap apa saja yang berada di dalamnya.
Ini adalah ponsel pemberiannya dulu pada Rita, Hana menatap Rita, sama-sekali tidak tahu kenapa gadis itu masih tidak memberinya jawaban. Memilih untuk diam, Hana akhirnya duduk dengan tenang sembari mengeluarkan apa saja makanan yang ada di dalam mobil Rita. Hanya ada kuaci setelah mencari dimana-mana, tidak peduli, Hana lekas mengambil kuaci itu dan memakannya. Seperti kelinci. Hana juga tidak peduli dengan wajahnya yang masih berminyak dan rambutnya yang masih acak-acakan. Yang hanya dia pedulikan saat ini adalah perutnya yang terasa keroncongan.
Mobil Rita berhenti di sebuah salon mewah, namun, masih dengan keterkejutannya, tangannya sudah ditarik lagi dari dalam mobil. Hana tidak melawan, dia menurut saja dimasukkan ke dalam ruangan itu. Semua perhatian tertuju pada Hana.
“Hana, listen to me. Gue butuh bantuan lo jadi Bridesmaid gue. Pliss, gue gak tahu kalo gue ternyata nikahnya sekarang!”
“ANJING!”
Hana spontan mengatakan nama makhluk paling famous itu, dia lalu menatap Rita dan lekas berdiri. Beberapa orang yang ada di dalam salon itu menatap ke arah mereka. Hana tidak peduli, kenapa Rita nikah dadakan? Siapa lelaki yang berhasil membuat sahabat nafsunya itu akhirnya menurut? Hana tahu kelakukan Rita yang sering bermain pria di klub-klub. Bahkan tidak hanya bermain, tapi sudah sampai pada tahap sèx bebes. Rita dengan pendiriannya tidak ingin takluk pada satu lelaki, kenapa tiba-tiba ingin menikah. Apa jangan-jangan Rita berhasil mengandung anak dari V BTS?! Yang benar saja, kalau begini, Hana ketinggalan jauh dong. Ini tidak bisa dibiarkan.
“Han, orang tua gue pergokin gue sering séx bebas. Itu dua minggu lalu, dan gak tahu kenapa, papa gue ngancem gue harus nikah sama cowok pilihannya. Kalau tidak, semua fasilitas yang gue dapat bakal di cabut. Gimana dong, mana gaji dari kantor cuman cukup buat biaya hidup 5 hari, sisanya kan gue masih pake uang ortu Han. Daripada jadi gèmbel, mending gue nikah aja. Tenang aja, gue masih tetap kerja kok nantinya!”
“GILĂ!” seru Hana, mendorong Rita menjauh dari depannya. Dia terlihat legah, ternyata Rita tidak menikahi Oppanya.
Tapi mengenai permintaan gile Rita kali ini, Hana tidak ingin menjadi bridesmaid. Jelas tidak mau, dia bahkan tidak pernah memakai make-up sejak 5 tahun lalu.
“Ya Han, pliss!”
Hana terkejut ketika Rita tiba-tiba berjongkok di hadapannya. Hal itu membuat gadis dengan mata panda itu memutar bola matanya malas. “Yodah gue mau!”
“Ya Ampun, makasih Hana! Gue bakal beliin apa yang lo mau. Gue janji, lo bisa megang ATM gue sebagai jaminan!”
Mendengar kata beliin apapun, membuat Hana tersenyum miring. Kebetulan sekali ya, ternyata rezeki itu tidak jauh-jauh. Tanpa berpikir dua kali, Hana lekas mengambil ATM itu dan berlari keluar. Rita yang ditinggal begitu saja terdiam di tempat. Namun dia tidak mengejar Hana, karena Rita kemana Hana akan pergi. Palingan gadis itu akan kembali beberapa….
“Oke, gue terima!”
Rita menatap Hana yang sudah kembali, gadis itu hanya menggelengkan kepalanya. Bisa-bisanya Hana mencari mesin ATM mininya untuk mengecek isinya. Rita sudah tahu hal itu, Hana tidak akan pernah menerima sesuatu tanpa kepastian.
“Oke, bang, tolong dandanin dia make make-up bridesmaid ya. Pakaiannya yang aku kasih kemarin, bisa dalam waktu 15 menit lagi kan? Acara nikahan gue sekitar 2 jam lagi!”
“Bisa neng!”
Sosok lelaki dengan tampang-tampang banci lekas mendekati Hana. Menekan bahu Hana untuk duduk dengan baik di atas kursi. Beberapa tim profesional sudah datang, mahlum, Rita pasti menyewa salon terbaik. Lengkap dengan orangnya yang tidak pernah diragukan lagi. Sementara Hana mulai dirias dan rambutnya dicuci, Rita juga duduk di meja sebelah Hana. Beberapa pelayan juga sudah mulai menyalon Rita.
“Eh anjir, rambut gue bang. Gak usah diapa-apain, cukup dibersihkan aja, gue gak mau repot nanti!”
Pemilik salon itu menatap Rita, yang hanya diberi anggukan saja. Hana yang malah jelas sudah sangat baik membantunya menjadi bridesmaid. Beberapa menit berlalu, Rita sudah lebih dulu selesai didandan. Gadis itu memasuki fitting room. Dan beberapa menit kemudian, gadis itu sudah muncul dengan gaun putih panjang dengan model atasnya model sabrina. Hana terpana, untuk pertama kali dia melihat Rita seanggun sekarang ini. Ditambah dengan rambut Rita yang disanggul tinggi, gadis itu sangat mirip dengan cinderella in white. Sungguh indah.
“Gila, suami lo pasti nanti malam pengen mantap-mantap deh Rit sama lo. Orang lo cantik banget!”
Omongan vulgar Hana membuat beberapa pelayan wanita itu tersipu, tidak hanya mereka, tapi juga dengan perias yang menangani Hana. Rita berdecak kesal, bisa-bisanya Hana memancing jiwa-jiwa hot nya di saat yang tidak tepat ini.
Rita tidak menjawab, karena Hana sudah lebih dulu memasuki fitting room. Beberapa menit kemudian, Hana keluar dengan gaun biru muda dengan nuansa laut yang melekat di tubuhnya. Gaun yang tidak terlalu panjang dan sederhana namun sangat memikat ketika sudah berada di tubuh Hana. Rita bahkan sampai menjatuhkan ponselnya, saking terpana melihat Hana dengan pakain pilihannya. Bisa-bisa nanti Hana yang dipikir jadi bridenya.
“Ya Ampun Hana, lo ternyata cantik banget. Ya Ampun….”
Setuju dengan perkataan Rita barusan, perias Hana itu menganggukkan kepalanya setuju sembari memberikan sentuhan terakhir pada rambut Hana yang tergerai indah. Rita mengambil beberapa foto dengan Hana, tidak lama, pintu salon terbuka dan Serena menatap Hana dan juga Rita tidak berkedip.
“Ya Ampun, cantik sekali wanita ini!” puji Serena
“Nona, mari!”
Sosok lelaki berjas hitam dengan kacamata hitam menjemput mereka. Rita dan Hana lekas keluar dari dalam salon, dengan perhatian yang tidak terlepas dari mereka. Serena mengenakan gaun dan juga riasan yang sama dengan Hana.
“Gue gak nyangka, kalo lo cantik banget Han!” seru Serena ketika mereka sudah berada di dalam mobil mereka alphard itu.
Hana menaikkan bahunya, tidak peduli dengan pujian itu, karena nyatanya. Hana sudah bosan dan terlalu sering dengan pujian itu. Sayangnya, pujian dari ayahnya itu berakhir karena hal bodoh itu. Hana menghela nafas, ia jadi teringat dengan moment berat dalam hidupnya itu.
“Tapi Rit, lo tau gak dijodohin sama siapa? Pernah ketemuan gak lo?” seru Hana, yang tiba-tiba teringat bahwa keberadaan mereka saat ini adalah sebagai bridesmaidnya Rita.
Rita menggeleng canggung, sekaligus gugup. Sekaligus dia mengatakan bahwa tidak peduli dengan pernikahan ini, tetap saja dia merasa ini sedikit menyedihkan. Pasalnya dia menikahi lelaki yang tidak dia tahu. Rita hampir saja meneteskan air matanya, namun Serena lebih dulu membawa gadis itu ke dalam pelukannya dan menepuk-nepuk punggung Rita.
“Udah Rit, lo masih punya kita. Gak usah dipikirin, kalo suami lo nantinya gak ada baik-baiknya, ada Hana kok!”
Hana yang ikutan menepuk punggung Rita menatap Serena dengan kesal, “gue gak mau jadi beban ya. Pliss, hidup gue udah banyak beban. Masa mantan suami Rita nanti jadi sama gue, ya apa, gue gak mau nikah!”
Rita yang mendengar jawaban ngawur Hana cukup terhibur. Dia menguatkan hatinya, yang memang sejak 2 minggu lalu khawatir. Mobil mewah itu memasuki salah satu hotel. Pernikahan mereka akan dilakukan di outdoor. Salah satu hotel bintang 5, dengan lapangan langsung ke laut menjadi pilihan dari calon suami Rita. Sebelum melangkah masuk, Rita memegang tangan Hana dan Serena.
“Yok, bisa yok Rit. Kalo lo gak mau, gue kasih waktu berpikir 1 menit. Lo gak jadi, gue bawa lo kabur. Tapi gak ngidupin lo juga ya, najis gue, orang gaji gue juga cukup gue hidup beberapa hari!” bisik Hana pelan, agar sosok lelaki yang berdiri di belakang mereka tidak mendengar.
Rita memaksakan senyumnya, lalu menggeleng. “Gue nikah aja, siapa tahu kalo gue gak punya duit buat main cowok. Dia bisa jadi pelampiasaan gue, anggap aja sekali lewat!” seru Rita, menghibur diri sendiri
Hana dan Serena hanya mengangguk, lalu mereka mulai berjalan memasuki lapangan. Semua perhatian tertuju pada mereka. Suara iringan music romantis terdengar mengalun, lagi marry your daughter berkumandang menyambut kehadiran mereka. Serena mencolek lengan Hana, perhatian Hana yang tadi tertuju pada sudut pojok yang berisi makanan itu lekas teralih. Dan tersenyum kikuk pada Serena yang hanya menggelengkan kepala.
Hana dan makanan memang tidak bisa disatukan.
Setelah mereka hampir berada di depan altar, sosok lelaki dengan beberapa pengawalnya muncul dari arah samping. Mata Hana membulat, anjir, calon suami Rita sangat-sangat tampan. Tidak berbeda jauh dari ekspresi Hana, Rita dan juga Serena bahkan sampai berhenti melihat sosok itu tidak berkedip. Ini mah namanya bukan terpaksa menikah. Di pikiran Hana, calon suami Rita itu adalah om-om berkumis dengan anak satu. Padahal, ini mah bujangan panas era sekarang. Kulit putih, hidung mancung dan tatapan mata tajam. Hana yang tidak suka lelaki selain V BTS pun terpana dibuatnya. Benar-benar menarik, batin Rita yang tidak sadar bahwa kakinya membawa dirinya sendiri melangkah mendekati sosok itu.
Begitu Rita tiba di altar dan berdiri dekat dengan lelaki itu, acara lekas dimulai. Hana dan Serena duduk di depan. Acara dimulai. Rita terlihat begitu senang, Hana berdecak dalam Hari. Ia yakin Rita tidak akan mengizinkan calon suaminya itu keluar beberapa hari ini. Rita memang paling mantap jika sudah urusan ranjang.
Beberapa menit acara berlangsung, kursi kosong di sebelah Hana terisi. Ia tidak peduli, mungkin itu adalah sosok asing yang ikutan. Namun mencium aroma parfum ini, membuat Hana merasa familiar. Pemilik parfum ini, jika ia tidak salah.
“kamu cantik sekali, Hana!”
Begitu nama itu muncul di pikiran Hana, gadis itu lekas mengalihkan perhatiannya dan menatap sosok lelaki dengan setelah yang hampir senada dengannya. Hana tidak mengalihkan perhatiannya dari Dhava. Bosnya itu kenapa bisa ada di acara pernikahan Rita? Apa mungkin Rita sendiri yang mengundang pak Dhava? Gimana caranya coba, kenapa siluman satu ini mengacaukan Hana?
Hana mengangguk kikuk, dia masih kesal dengannya karena bentakannya.
Acara nikahan Rita sudah usai, tanpa ada acara salam-salam pada pengantin. Rita dan sosok suaminya itu sudah menghilang. Membuat Hana dan Serena memikirkan apa yang kiranya sudah diperbuat Rita pada suami tampannya itu.
Hana dan Serena berakhir di stan makanan, mulut Hana sejak tadi sudah mengunyah. Ia kepikiran dengan Christian, apa yang akan Christ lakuakn melihat dia tidak di rumah. Tapi Hana juga masih tidak ingin pergi dari sini, dia masih menikmati beberapa makanan yang ada di stan. Mumpung gratis dan enak gitu.
Beberapa lelaki mendekati mereka, Hana yang cuek-cuek saja tidak menanggapi mereka. Hanya Serena yang memberikan jawaban ala kadarnya.
“Teman kami itu udah punya pacar gak, Ser?”
Hana sedikit melirik, dia menatap sosok lelaki dengan rambut pirang menatapnya dari tadi. Hanya menghela nafas, menatap Serena yang juga bingung mau jawab apa.
“Dia pacar saya!”
Uhuk—Hana yang tadi sedang minum terkejut melihat ada yang tiba-tiba memeluk pinggangnya. Tatapannya tertuju ke samping, mata hanya membulat menatap siapa gerangan yang berani melakukan itu padanya. Dan tatapan Hana terpaku pada rahang tegas Dhava. Lelaki itu tersenyum manis pada Hana, lalu menarik Hana menjauh. Tanpa memberikan penjelasan apapun.
Setelah cukup jauh dan mereka berakhir di depan pantai. Hana lekas melepaskan tangan Dhava.
“K—kenapa bapak ada di sini?”
“Panggil Dhava saja, atau mas, atau suami, atau sayang juga boleh!”
Bukannya menjawab, Dhava malah memberikan koreksi. Hal itu membuat Hana kesal sendiri. Dia menatap Dhava dari atas sampai bawah. Baju putih kebiruan, sangat serasi sekali dengan miliknya. Apa mungkin….
“Suami Rita adalah sepupu saya, pakaian ini pilihan darinya. Tidak usah berpikir aneh-aneh, saya sudah membantu kami tadi. Sekarang kamu yang membantu saya, tidak banyak bantahan dan tidak ada penolakan. Sekarang ikut saya!”
Hana pasrah, tangannya sudah berada di dalam genggaman tangan Dhava lagi. Entah kemana sosok itu akan membawanya, dan anehnya, Hana juga diam-diam saja. Ia masih memikirkan, kenapa bisa jantungnya berpacu dua kali lebih cepat saat tangan Dhava menyentuh pinggangnya.
Tidak, ini jelas tidak boleh.