"gak mungkin!" "Gak mungkin, gak mungkin anak saya meninggal! Hiks, mam ayo bilang ke Valen kalo Eva masih hidup!" Tak ada yang berbicara, semua orang yang berada disana menundukkan kepala. Valen geram ia berjalan masuk ke ruangan, menggelengkan kepala berulang kali, air mata turun tiada henti, berkali-kali ia berharap ini semua hanya mimpi, ia berjalan lambat menuju seorang gadis yang tertidur di ranjang rumah sakit, selang infus dan alat medis yang sebelumnya menempel di tubuh sang gadis kini sudah dilepaskan. Kain putih menutupi wajah sang. Valen menyentuh kain tersebut menyingkirkan perlahan dari wajah snag gadis, dan saat kain terbuka dapat Valen lihat dengan jelas bahwa itu memang anaknya. Valen mendekap tubuh tak bernyawa tersebut, air mata semakin deras saat melihat e

