“Enggak Neng. Enggak ada yang aneh. Non Ani sama Pak Andi enggak pernah ribut, enggak ada hal apa pun. Enggak kok enggak ada apa-apa.”
“Makan pagi biasa, makan malam biasa, siang juga masih rajin telepon, enggak kok Neng, saya sih lihat enggak ada yang aneh,” bik Asih bicara sambil melihat ke atas, mengingat apa yang dirasa janggal.
“Sikapnya kak Ani atau sikap Mas Andi?”
“Kalau non Ani sudah beberapa hari ini diam saja. Sering diam begitu sih. Sudah satu bulan lalu dia sering pergi keluar. Padahal kan sejak berhenti kerja dia jarang keluar, tapi sebulan lalu itu dia mulai keluar kayak bawa berkas apa gitu loh. Saya juga enggak tahu.”
“Dia suka keluar setengah hari tapi selalu Pak Andi tahu, non Ani selalu lapor, entah lapornya ke mana pokoknya sudah 1 bulan ini seperti itu.”
“Soalnya kalau habis pergi selalu bawa oleh-oleh, dan lapor, Mas tadi aku beli ini waktu keluar, begitu.”
“Jadi pasti dong perginya ketahuan sama Pak Andi, enggak ngumpet-ngumpet.”
“Tapi ya itu, seminggu ini lebih banyak diam.”
“Dua hari lalu dia pergi pas Pak Andi baru berangkat. Pak Andi berangkat subuh karena pesawat jam 08.00 atau jam 09.00 ke Semarang, enggak lama Non Ani pergi, tapi cepat sih, jam 11.00 sudah sampai rumah lagi.”
Hanna terdiam dia bingung apa alasan kakaknya bunvh diri, sedangkan kakaknya sedang hamil anak lelaki yang diharapkan oleh keluarga Mas Andi mau pun keluarga Hanna. Terlebih bayinya sehat. Kak Ani juga selalu bercerita bahagia tentang bayinya. Bayi laki-laki yang dia tunggu selama ini.
Ani juga tak pernah bercerita tentang ada masalah. Tidak mungkin kan dia tertekan sehingga memutuskan bunvh diri seperti ini?
Dan biasanya sekecil apa pun sebuah masalah Kak Ani pasti akan menceritakan padanya. Mereka bukan hanya sekedar adik kakak mereka seperti soulmate. Mereka sering sharing apa pun. Kebahagiaan atau duka pasti mereka bagi. Jadi Hanna merasa aneh kalau kakaknya sampai depresi dan memutuskan bunvh diri disaat kakaknya sedang bahagia karena hamil anak lelaki.
“Siapa ya yang menekan Kak Ani sampai Kak Ani bunvh diri, kalau hubungannya dengan Mas Andi kayaknya enggak ada hambatan?”
Hanna memutuskan menghubungi polisi agar masalah kematian kak Ani bisa segera ditangani.
“Benar Pak, jalan Cendana nomor 17. Kami belum berani mengutak-atik. Kami juga tidak tahu botol obat apa yang tergeletak di sebelah may4t. Ada dua botol dan kami enggak berani memastikan itu obat tidur atau obat apa.”
“Itu saja laporan kami Pak, mohon segera ditindaklanjuti,” ucap Hanna ketika menghubungi Polsek melalui ponselnya.
Hanna meletakkan ponsel di meja dia bingung mau menghubungi orang tuanya. Hanna takut, amangnya punya penyakit jantung, kalau diberitahu sekarang pasti fatal. Kalau dia kasih tahu Inang, Inang pasti histeris dan membuat Amang kena dampaknya.
Hanna semakin bingung mau lapor ke siapa.
‘Nanti sajalah aku beritahu Amang dan Inang setelah ada kepastian dari polisi,’ itu pikiran Hanna.
“Neng kenapa enggak lapor atau telepon dokter saja?” tanya bik Asih lugu.
“Enggaklah Bik, biarin saja polisi yang menentukan. Pasti polisi sudah mengerti itu. Ini kan bukan kasus biasa, kita enggak boleh menyentuh apa pun. Biarin saja polisi yang menyelidiki dan menentukan. Pasti mereka sudah siap dokter dan segala macamnya,” jelas Hanna.
“Oh begitu ya Neng, enggak perlu telepon dokter saja.”
“Enggak Bik, biar polisi saja,” ucap Hanna putus asa. Dia bingung, akhirnya dia berjalan ke ruang tengah lalu Hanna ke depan dia menunggu polisi datang.
Jarak Polsek dengan rumah Kak Ani tidak terlalu jauh sebenarnya. Kalau siap 10 menit juga tiba. Tapi mungkin polisi perlu mempersiapkan segala hal terkait penanganan kasus bunvh diri.
Hanna merasa berabad-abad menunggu kepastian kedatangan dari polisi.
‘Polisi?’ pikir Hanna.
‘Kenapa aku enggak telepon abang Hafidz?’
Hanna mengambil ponselnya dan dia cari nomor abangnya. Abang Hafidz adalah anak kedua, satu-satunya lelaki anak Amang.
‘Tapi Abang pasti sibuk, enggak enak ganggu dia,’ Hanna ragu, akhirnya Hanna kembali menaruh ponselnya di meja.
‘Tapi kalau bukan bang Hafidz, siapa lagi yang urus? Enggak mungkin mas Akbar kan?’
‘Aduh aku bingung banget, bagaimana ya?’
‘Aku hubungi Bang Hafidz atau tidak ya?’
Hafidz adalah seorang perwira tinggi. Dia dosen di PTIK. Dia pasti tahu apa yang harus dilakukan. Akhirnya dengan memberanikan diri Hanna mencoba menghubungi abangnya, karena ini berita bukan main-main.
Mengganggu atau tidak, dimarahin atau tidak Hanna akan menerima konsekuensinya.
Paling tidak dia ada teman berbagi kehilangan saudara mereka. Ani adalah kakak paling tua.
‘Kalau aku tidak memberitahu Abang pasti dia akan marah besar. Apalagi kalau aku mencoba mengurai benang ini sendirian. Abang lebih tahu. Aku harus menghubunginya. Aku enggak peduli kalau ini mengganggu pekerjaannya. Aku enggak peduli,’ pikir Hanna.
Rasa takut dan serba salah itu seperti menarik-narik hatinya ke arah yang berbeda. Mengabari berarti membagi beban duka yang berat ini, berbagi kebingungan yang tak bisa ia tanggung sendiri. Bang Hafidz pasti bisa membimbingnya, memberinya saran yang tepat. Namun, ada keraguan besar.
‘Aku takut dia marah karena aku tidak segera memberitahunya.’
‘Tapi aku lebih takut jika ini mengganggu pekerjaannya, apalagi jika menyangkut institusi kepolisian. Aku tidak mau membuat masalah untuknya.’
Hanna menarik napas panjang. Dia menunduk, melihat bayangan dirinya sendiri di layar ponsel yang gelap. Wajahnya tampak lelah, matanya sembab.
Hanna tahu, tidak ada pilihan yang benar-benar baik saat ini. Mengabari atau tidak mengabari, dua-duanya terasa salah.
‘Tapi ini soal kak Ani. Aku harus memberitahunya. Dia berhak tahu.’
Akhirnya, Hanna memutuskan untuk menghubungi Bang Hafidz.
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia menekan tombol panggil.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Mata Hafidz membelalak saat mendengar suara isakan Hanna di ujung telepon. Napasnya tercekat, seketika itu juga otaknya bekerja cepat.
Hafidz bangkit dari kursi kerjanya, dan dengan suara yang berubah serius, ia menghubungi Kapolsek Pondok Kopi.
"Saya brigjen pol Hafidz, PTIK. Anda kenal saya, kan?" suaranya tegas, tanpa basa-basi.
Di seberang telepon, Kapolsek yang baru saja menerima laporan dari anak buahnya mengenai kasus bunvh diri langsung terkejut.
"Siap, Komandan! Ada yang bisa kami bantu?"
"Rumah di Jalan Cendana nomor 17. Itu rumah kakak saya. Ada laporan dugaan bunvh diri di sana," kata Hafidz.
"Saya minta, jangan ada satu pun yang disentuh sampai tim forensik datang. Amankan lokasi. Periksa semuanya dengan teliti, dari sidik jari, jejak kaki, sampai hal terkecil. Saya akan ke sana sekarang."
"Siap, Komandan! Tim sudah meluncur ke TKP. Saya akan pastikan prosedur dijalankan dengan benar," jawab Kapolsek.