“Saya ingin penanganan khusus. Jangan ada yang terlewat. Saya meluncur dari Jakarta Selatan, akan tiba di sana secepatnya," Hafidz mengakhiri percakapan.
Setelah menutup telepon, Kapolsek segera memanggil salah satu anak buahnya, seorang Kanit Reskrim.
"Saya mau kamu dan tim langsung ke TKP di Pondok Kopi. Rumah Jalan Cendana nomor 17. Ini kasus sensitif. Saudara kandung korban adalah Brigjen Pol Hafidz dari PTIK."
"Siap, Komandan!" jawab Kanit Reskrim.
"Saya tidak mau ada kesalahan sedikit pun. Periksa semua petunjuk, sekecil apa pun. Pastikan tidak ada yang terlewat. Jangan biarkan siapa pun masuk ke dalam sebelum tim forensik datang. Paham?" instruksi Kapolsek.
"Paham, Komandan!" jawab Kanit dengan mantap.
Ia tahu betul, ini bukan kasus biasa. Ini adalah kasus yang harus ditangani dengan sangat hati-hati, karena menyangkut petinggi Polri. Sebuah kesalahan kecil bisa berakibat fatal.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Terdengar deru sirine memecah kesunyian Jalan Tol dalam kota. sebuah mobil sedan hitam melaju kencang, dikawal oleh dua motor besar pengawal polisi disebut PATWAL atau VOORIJDER yang membuka jalan di depannya.
Brigjen Pol Hafidz duduk di kursi belakang, wajahnya tegang, matanya lurus menatap ke depan. Meskipun sudah ada pengawalan, ia merasa waktu berjalan lambat. Pikiran-pikiran buruk terus berkelebat di benaknya.
Sepanjang perjalanan, ia terus menghubungi Hanna.
"Bagaimana, Na? Sudah ada polisi?" tanyanya, suaranya berusaha tenang.
"Sudah, Bang. Aku tunggu di luar," jawab Hanna, isakannya masih terdengar.
"Bagus. Sekarang dengarkan Abang. Jangan sentuh apa pun. Jangan kasih tahu siapa pun sampai Abang datang. Amang dan inang biar Abang yang kabari. Abang yang akan telepon mereka nanti."
"Baik, Bang."
"Satu lagi," Hafidz melanjutkan, suaranya sedikit meninggi.
"Soal Andi, biar Abang yang kontak dia. Abang akan telepon dia nanti. Kamu fokus di sana saja. Abang sebentar lagi sampai."
Setelah mengakhiri panggilan dengan Hanna, Hafidz beralih menghubungi Kapolsek kembali.
"Kapolsek Pondok Kopi, Komandan," terdengar suara di seberang sana.
"Lapor, Komandan. Saya sudah di TKP. Saya sendiri yang memimpin. Anggota sudah memasang garis polisi, dan tim forensik sedang meluncur," lapor Kapolsek dengan suara hormat.
Hafidz merasa sedikit lega, tetapi tidak sepenuhnya.
"Bagus, Pak Kapolsek. Dengarkan baik-baik. Pasang garis polisi yang jelas. Jangan ada satu pun yang boleh masuk tanpa seizin saya. Bahkan, kalau nanti suaminya datang, Bapak tahan dulu. Jangan biarkan dia masuk ke dalam area garis polisi. Saya mau Bapak pastikan tidak ada satu pun bukti yang hilang. Saya akan sampai di sana dalam lima belas menit."
"Siap, Komandan! Perintah dilaksanakan!" jawab Kapolsek.
Kapolsek Pondok Kopi menutup telepon. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia tidak menyangka kasus dugaan bunvh diri yang dilaporkan warga biasa ini ternyata menyangkut keluarga petinggi Polri. Ia segera mengumpulkan anak buahnya.
"Semua, dengarkan! Rumah ini sudah diberi garis polisi. Tidak ada yang boleh masuk, siapa pun itu. Bahkan suaminya sekali pun “
“Komandan Brigjen Pol Hafidz yang langsung perintahkan. Jangan ada yang berani coba-coba, atau kalian akan berurusan dengan saya dan juga beliau!"
Para anggota mengangguk serempak. Mereka tahu, ini bukan kasus yang bisa dianggap remeh. Penanganan yang salah bisa berakibat fatal bagi karier mereka.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Hafidz tiba di TKP, banyak warga sekitar bergerombol ingin tahu, Hanna langsung tenggelam dalam pelukan abangnya.
“Kamu tenang, Abang mau bicara dengan semua team dsini,” bujuk Hafidz memapah Hanna agar duduk. Dia minta bik Asih memberi minum pada Hanna.
Hanna mengangguk, dia patuh pada abangnya.
Hafidz langsung memindai seluruh lokasi dengan matanya. Mata elang yang tak bisa ditipu siapa pun.
Hafidz banyak bertanya dan memberi instruksi.
Setelah mengakhiri percakapan dengan Kapolsek, Hafidz mengambil kunci gembok dan rantai dari tas drivernya. Matanya mengawasi saat anak buahnya mulai memasang selot tambahan di setiap pintu, mengunci rapat rumah duka itu.
"Ini kunci gemboknya ada tiga, Mir," kata Hafidz.
"Satu untuk kamu, satu untuk Abang, dan satu lagi Abang kasih ke Pak Kapolsek. Nanti setelah semuanya selesai, rumah ini akan Abang pastikan tidak ada yang bisa masuk. Mbok Asih nanti ikut kamu. Tolong siapkan sedikit pakaiannya."
Hanna mengangguk pelan, air matanya tak berhenti mengalir. Ia melihat Bik Asih, yang kini memeluk sebuah tas kain lusuh, dan menatapnya dengan tatapan kosong.
"Rumah duka nanti di rumah amang saja," putus Hafidz, suaranya mantap.
"Abang sudah atur semuanya. Kamu fokus untuk menenangkan diri."
Tak lama kemudian, ponsel Hanna berdering. Nama "Akbar" muncul di layarnya. Hanna melihatnya, lalu menoleh ke arah Hafidz.
"Angkat," kata Hafidz, suaranya pelan tapi tegas.
"Bilang saja kamu dipanggil inang. Jangan bilang apa-apa lagi."
"Halo, Mas?" Hanna mengangkat teleponnya, suaranya bergetar.
"Kamu di mana, Yank? Kok belum sampai kantor? Dari tadi Mas cariin," tanya Akbar, suaranya terdengar cemas.
"Aku, aku dipanggil Inang, Mas. Tadi habis sarapan, Inang telepon. Jadi aku ke sana dulu," jawab Hanna, berusaha sekuat tenaga agar suaranya terdengar normal.
"Oh ya sudah. Nanti kalau sudah selesai, kabari ya. Mas sudah sampai di kantor ini," jawab Akbar.
"Iya, Mas. Nanti aku telepon lagi," Hanna mengakhiri panggilan.
Hafidz menatap adiknya dengan tatapan prihatin.
Ia tahu, Hanna sedang berbohong pada suaminya sendiri. Tapi saat ini, menjaga keselamatan amang dan inang dari berita ini adalah yang terpenting.
Hafidz tidak ingin Akbar ikut campur, sebelum ia tahu duduk perkaranya.
Hafidz dan Hanna melepas jenazah Ani yang dibawa oleh team forensik ke rumah sakit. Tangis haru dan sedih bukan hanya dari Hanna dan Hafidz, tapi beberapa tetangga ikut berduka, merek tahu Ani sangat baik pada siapa pun.
Di Rumah Sakit nanti, jenazah Ani dimasukkan ke ruang forensik. Hafidz sudah menginstruksikan kepada pihak Rumah Sakit agar semua pemeriksaan dilakukan secara teliti.
Hafidz meminta semua data, foto, dan temuan dari TKP diserahkan kepadanya. Pihak Rumah Sakit mengangguk, mereka tahu siapa yang memberi perintah.
"Semua akan kami tangani dengan profesional, Brigjen Pol," kata dokter forensik di Rumah Sakit.
"Kami akan pastikan tidak ada yang terlewat."
Jenazah Ani akan diotopsi, dimandikan, lalu dikafani di rumah sakit. Semua dilakukan tanpa kehadiran Hafidz dan Hanna.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Hafidz bersiap meninggalkan rumah kakaknya yang sudah di kunci, ditambah dengan gembok, sebab Hafidz takut bila hanya dikunci, ada yang pegang kunci rumah bisa masuk.
“Kalian ikuti mobil Abang saja,” perintah Hafidz.
Hafidz memerintah agar patwal langsung mematikan sirine saat mendekati rumah orang tuanya agar orang sekitar tak menuduhnya arogan.