Hafidz mengeluarkan ponselnya lagi. Ia menghubungi seorang dokter terbaik yang ia kenal. Ia menjelaskan situasinya, meminta dokter tersebut untuk segera datang ke rumah orang tuanya dengan tim medis lengkap.
"Ini demi ayah saya. Saya tidak mau ambil risiko," kata Hafidz kepada sang dokter.
Hafidz, dengan segala jabatannya, mengambil alih semua urusan, mulai dari investigasi hingga mengurus jenazah kakaknya. Ia ingin memastikan semuanya berjalan dengan lancar, tanpa ada pihak lain yang ikut campur.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Di dalam mobilnya, Brigjen Pol Hafidz menatap kosong ke jalan tol, meskipun mata fisiknya melihat ke depan, pikirannya berkelana. Ia tahu langkah selanjutnya harus sangat hati-hati. Ia mengangkat ponselnya, menghubungi Kapolsek Pondok Kopi lagi.
"Kapolsek Pondok Kopi, Komandan," terdengar suara di seberang sana.
"Pak Kapolsek, saya sedang di jalan menuju rumah orang tua saya. Bagaimana kondisi di TKP sekarang?" tanya Hafidz, suaranya tenang namun menuntut.
"Siap, Komandan! TKP sudah kami segel penuh. Garis polisi sudah kami pasang dengan ketat. Tidak ada satu pun yang kami biarkan masuk, termasuk wartawan yang tadi sempat datang. Saya juga sudah perintahkan tim untuk tetap berada di lokasi," lapor Kapolsek dengan suara hormat, menunjukkan bahwa ia mematuhi perintah Hafidz.
Hafidz menghela napas lega. "Terima kasih, Pak Kapolsek. Sekarang tugas Bapak di sana hanya sebagai tuan rumah. Tim dari pusat akan datang untuk mengambil alih penyelidikan. Saya butuh Bapak memegang kunci rumah itu, dan hanya memberikan akses kepada mereka yang saya tunjuk dari pusat. Selain itu, pastikan tidak ada peran lain lagi."
"Siap, Komandan! Perintah dilaksanakan!" jawab Kapolsek. Ia mengerti. Perannya kini hanya sebagai penjaga pintu, bukan lagi sebagai penyidik utama.
Hafidz menutup telepon. Ia menoleh ke belakang, memastikan mobil Hanna masih berada di belakangnya. Ia tahu, tugas beratnya sekarang adalah menghadapi orang tuanya dan menyampaikan berita yang akan menghancurkan hati mereka.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Pukul sebelas siang, sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan rumah orang tua Hafidz dan Hanna.
Di belakangnya, mobil Hanna ikut berhenti. Bik Asih, yang sejak tadi terisak di samping Hanna, menundukkan kepalanya. Hafidz dan Hanna keluar dari mobil, wajah mereka pucat dan mata mereka sembab.
Di teras rumah, Amang dan Inang sudah berdiri, terkejut melihat kedatangan dua anak mereka yang tidak diumumkan.
"Hafidz? Hanna? Ada apa ini? Kok mendadak sekali?" tanya Inang, menyambut mereka dengan senyum.
"Kenapa kalian berdua saja? Mana istri dan suami kalian?"
Hafidz dan Hanna saling pandang. Mereka berusaha menutupi kesedihan mereka di depan orang tua.
"Kami hanya ingin berkunjung saja, Inang," kata Hafidz, berusaha menenangkan.
"Tadi kami ada urusan di dekat sini. Kebetulan Hanna juga ikut." Hafidz melanjutkan,
"Tiur akan menyusul nanti, Inang. Dia sedang mengurus si kembar yang baru pulang sekolah."
Inang beralih menatap Hanna. "Akbar tidak ikut?"
"Tidak, Inang. Mas Akbar sedang ada pekerjaan, jadi tidak bisa ikut," jawab Hanna, berbohong.
Inang menatap wajah Hafidz dan Hanna dengan penuh perhatian.
"Kalian kok pucat sekali? Ada apa? Apa ada masalah?"
"Tidak, Inang. Kami hanya lelah saja. Mungkin karena belum sarapan," jawab Hafidz, berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Bagaimana kabar Inang dan Amang? Sehat?"
Amang dan Inang mengangguk, senyum mereka masih terlihat, meski pun sudah ada keraguan di hati mereka. Mereka tidak tahu bahwa di balik senyum itu, anak-anak mereka sedang berusaha mencari cara untuk menyampaikan berita duka yang akan menghancurkan hati mereka.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Ponsel Hafidz bergetar. Sebuah pesan masuk dari dokter yang dia hubungi.
‘Kami sudah di depan, Komandan,’ bunyi pesan itu.
Hafidz menghela napas panjang. Ia menoleh ke arah Hanna yang duduk di hadapannya, tatapan mata mereka bertemu. Tanpa kata, Hafidz memberikan kode. Ia sedikit menganggukkan kepala ke arah pintu depan, lalu matanya melirik ke luar jendela.
Hanna mengerti. Tim medis sudah siaga. Itu artinya, saat yang ditakutkan telah tiba. Bahu Hanna merosot, isak tangis yang sejak tadi ia tahan kini mulai terasa menyesakkan berontak ingin keluar.
Hafidz kemudian menatap ponselnya lagi. Ia mengirim pesan kepada Tiur.
‘Kamu sudah sampai mana? Segera ke sini. Kita butuh kamu. Jangan beri tahu orang lain tentang ini. Abang butuh bantuanmu,’ tulisnya.
‘Aku sudah di jalan, Bang. Aku akan tiba sebentar lagi.’ Tak lama kemudian, balasan dari Tiur masuk.
Hafidz menghela napas. Dia tahu, dia harus kuat. Dia harus menjadi tumpuan bagi adik dan keluarganya. Hafidz tahu, begitu berita itu disampaikan, dunia orang tuanya akan runtuh.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Di ruang keluarga yang hening, Hafidz menatap Hanna yang terdiam, duduk dengan bahu merosot.
Hafidz tahu, dari semua anak, Hanna dan Ani-lah yang paling dekat. Mereka bukan hanya kakak-adik, tapi juga belahan jiwa.
Kematian Ani pasti akan menghancurkan Hanna.
Hafidz berusaha tegar, meski pun hatinya pun remuk. Ia hanya bisa berdoa dalam hati agar Hanna tak terlalu larut dalam kesedihan.
Hafidz meraih ponselnya. Ia menghela napas panjang sebelum mengirimkan instruksi pada timnya.
‘Siapkan tenda duka, kursi, dan sound system untuk di rumah Ayah dan Ibu saya,’ tulisnya.
‘Pastikan semua siap sebelum jenazah tiba. Makanan dan minuman juga harus tersedia untuk para tamu takziah.’
Tak lama kemudian, balasan dari salah satu anggota timnya masuk. ‘Siap, Komandan. Semua akan kami siapkan.’
Hafidz kemudian menatap Hanna, yang masih menunduk. Ia tahu, ia harus menyampaikan berita duka ini, seberat apa pun itu. Namun, ia akan menunggu Tiur, sang istri, tiba.
Setidaknya, dengan adanya Tiur, dia punya satu orang lagi yang bisa membantunya menopang keluarga, khususnya Hanna.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Hallo Inang, maaf baru datang, inang sehat kan?” Tiur tiba dengan tergesa-gesa.
“Inang, kenalkan ini rekan di sekolah anak-anak,” Tiur istri Hafidz seperti biasa terlihat cantik, dia memperkenalkan seorang wanita dengan kemeja rapi dan pembawaan tenang.
‘Teman’ Tiur ini sebenarnya adalah dokter perempuan dari polri yang sejak tadi sudah standby di depan.
Tiur segera menghampiri Hafidz, memberikan anggukan singkat penuh pengertian. Hafidz membalasnya dengan isyarat mata, "semua sudah siap."
Tiur duduk di antara Hafidz dan Hanna. Ia merangkul Hanna yang gemetar, seolah menyalurkan kekuatan. Posisi mereka sekarang, dengan Hafidz dan Tiur mengapit Hanna, membuat Inang dan Amang semakin merasa ada yang tidak beres.
"Tiur, kenapa? Wajahmu tegang sekali," tanya Inang, matanya menatap menantunya penuh kecemasan.
Inang dan Amang saling pandang. Mereka melihat wajah lesu ketiga anak mereka dan kehadiran tamu tak terduga yang terlihat begitu formal. Senyum yang tadi mereka paksakan kini menghilang. Suasana di ruang keluarga berubah total, dari kehangatan keluarga menjadi ketegangan yang menyesakkan.