Lama penerbangan Jakarta - Paris terasa seperti tak berujung bagi Hatta. Setiap detik yang berlalu adalah penantian untuk melihat Hanna dan baby Axel. Sejak Hanna melahirkan dua bulan lalu, gairah di hatinya tak tertahankan lagi. Hubungan mereka, meski awalnya didasari luka masa lalu yang sama, kini terasa sebagai takdir yang harus dia perjuangkan.
Di bandara Charles de Gaulle, Paris, Hatta tak menunda waktu. Dia segera memesan taksi menuju rumah di tepi pedesaan milik Hanna.
Koper besarnya penuh bukan dengan pakaian, melainkan harta karun yang dia kumpulkan dari seluruh penjuru Indonesia.
Setibanya di depan pintu, Hatta menarik napas panjang. Jemarinya mengetuk pelan.
Pintu terbuka. Sosok yang menyambutnya adalah Husna, mama kandungnya, yang memang bertugas menemani Hanna selama hidup di Paris.
"Assalamualaykum, Ma," sapa Hatta, berusaha terdengar santai meskipun jantungnya berdentum kencang. Hatta memberi salim dan mengecup pipi ibunda tercinta.
Husna tersenyum, matanya memancarkan kehangatan seorang ibu. Diantara ke-empat anak Husna, memang Hatta yang paling dekat, mungkin karena suami Husna menghilang sejak Hatta masuk SMA.
Ada yang lapor Chariri m3ninggal, tapi ada yang bilang Chariri Pamungkas sengaja memanfaatkan kebakaran kilang tempatnya bekerja guna menjauh dari Husna, sebab dia sudah punya istri lain. Entahlah.
"Waalaykumus salam, Dek. Astaga, kenapa nggak bilang mau datang? Mama pikir kamu masih sibuk di Jakarta."
"Mendadak, Ma. Tiba-tiba rindu mama dan, ingin tahu sudah seperti apa si kecil," kilah Hatta, tanpa memasukkan nama Hanna dalam daftar 'kerinduan' meski Husna tahu persis alasan utama kedatangan putranya.
"Masuk, masuk! Kenapa berdiri di luar? Biar Mama bantu bawa koper-koper ini. Ya ampun, berat sekali. Bawa apa saja kamu ini?" Husna meraih gagang koper, terkejut dengan bobotnya.
Hatta tertawa kecil, mengambil kembali koper terbesarnya. "Ini yang paling penting, Ma. Misi penyelamatan lidah namanya."
Mereka berdua masuk ke ruang tengah. Rumah kayu itu terasa hangat dan tenang. Di sofa, Hanna terlihat duduk sambil menyusui, wajahnya memancarkan ketenangan seorang ibu, meskipun samar-samar terlihat kelelahan.
Hanna mengangkat wajahnya, kaget melihat Hatta berdiri di ambang pintu.
"Hatta? Kamu di sini?" suaranya pelan dan ragu. Hanna langsung menutup bagian payudaranya dengan kain alas Axel, sebab dia tak bawa apron menyusui. Hanna pikir di dalam rumah, tak ada yang akan melihat dia sedang menyusui.
Hatta menatapnya, tatapan matanya melempar semua kerinduan yang dia simpan. "Ya, Han. Maaf, nggak sempat kasih kabar.” Balas Hatta sambil tersenyum.
“Aku cuma merasa harus ke sini sebab kangen Mama."
Hatta meletakkan koper-koper itu di sudut ruangan.
"Aku datang dengan alasan yang sangat penting," katanya sambil menoleh ke Husna dan Hanna.
Husna tersenyum penuh arti. "Alasan penting? Alasan apa Dek?"
Hatta berjalan mendekat, kini pandangannya tertuju pada Hanna dan bayinya. "Mama sudah mengurus Hanna dan cucu Mama selama dua bulan ini. Mama pasti sudah rindu masakan Indonesia yang benar-benar 'nendang', 'kan? Dan Hanna, kamu mungkin sudah bosan dengan menu rumah sakit atau makanan yang itu-itu saja untuk pemulihan."
Hatta berjongkok di depan koper besar berwarna hijau tentara.
"Aku bawa persediaan perang."
Dengan antusias, Hatta membuka koper itu. Isinya benar-benar memukau.
"Lihat ini, Ma, Han. Aku bawa lengkuas segar, daun salam yang masih hijau, terasi kualitas super, dan ini kemiri utuh! Semua yang sulit dicari di pasar Asia di sini."
Dia kemudian mengeluarkan beberapa bungkus bumbu instan.
"Dan ini untuk efisiensi waktu, Mama dan Hanna! Ada bumbu instan sayur asem, sayur lodeh, opor ayam, bahkan bumbu rendang yang tinggal cemplung. Jadi, malam ini atau besok pagi, kita bisa merasakan lagi cita rasa rumah yang sebenarnya."
Hanna, yang awalnya tegang, kini tersenyum tipis.
"Astaga, Hatta. Repot sekali kamu. Itu banyak sekali."
"Repot? Sama sekali tidak," balas Hatta, berdiri tegak dan menatap Hanna lurus di mata, menahan hasrat untuk menyentuhnya.
Husna menghela napas, tersentuh dengan kejujuran putranya. dia memutuskan memberi ruang.
"Baiklah, dua koki handal sudah berkumpul. Mama ke kamar dulu, si kecil sudah selesai menyusui atau belum. Kalian berdua, silakan bicarakan menu makan malam kita."
Husna berlalu, meninggalkan Hatta dan Hanna dalam keheningan yang penuh makna.
Hatta berbalik, mengambil satu bungkus bumbu rendang dan meletakkannya di meja. "Rendang. Aku tahu kamu suka rendang. Aku nggak bisa masak sebaik Mama. Tapi aku bisa bantu memotong dagingnya, bisa mencuci beras, dan aku bisa pastikan dapur ini wangi seperti di Padang malam ini."
"Hatta," Hanna memulai, suaranya tercekat.
“Kayaknya kita enggak punya santan instan dan daging, biar aku minta miss Jones belanja ke toko bahan makanan Asia,” balas Hanna.
Hatta mendongak, tatapannya lembut. dia membiarkan bungkusan bumbu rendang itu berbicara sebelum dia sendiri mengeluarkan suara.
Dia menggeser bungkusan bumbu rendang itu mendekat ke Hanna.
Hanna meminta miss Jones, maid yang datang pagi dan pulang seselesainya, tak perlu menunggu hingga sore untuk ke toko bahan masakan Asia untuk pergi berbelanja sebelum pulang hari ini.
Maid ini bukan baby sitter, baby sitter beda lagi, Hanna butuh sitter sebab dia berkerja merancang pakaian.
Hanna membawakan miss Jones banyak catatan sesuai dengan jenis bumbu, besok-besok dia tinggal masak saja.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Kamu merebus apa?” Husna melihat Hanna merebus sesuatu di panci presto.
“Aku suka rendang dengan kacang merah. Sambil menunggu miss Jones, kacang merah aku masak duluan biar sudah empuk saat daging datang,” balas Hanna.
“Wah enak itu. Ibu juga suka. Atau pakai kentang kecil juga enak ya,” balas Husna sambil menyimpan aneka bumbu yang Hatta bawa.
Hatta sedang tidur, terlalu lelah di pesawat.
Bu Husna dan Hanna senang banyak daun jeruk purut segar yang Hatta bawa, rencananya mereka akan membuat banyak peyek.
“Di sini dapat ikan asin peda, ikan asin gabus dan teri medan itu ibarat dapat emas segunung ya Bu,” ucap Hanna, semua dikemas kedap oleh Hatta sehingga tak mengganggu baunya juga lebih tahan lama.
10 bulan mereka menetap di Paris, tentu dapat aneka kiriman seperti itu mereka sangat bahagia. Rupanya Hatta terinspirasi dari cerita mamanya, ketika opung ( kakek atau nenek ) Arinauli Harahap ( inangnya Hanna ) datang, beliau banyak membawa bumbu segar dan Hanna bahagia. Jadi di kunjungan kali ini Hatta membawakannya lebih banyak dan lebih lengkap.
“Ya ampun kamu beli daun pisang?” Tanya Bu Husna melihat belanjaan yang miss Jones bawa.
“Iya, aku pengen bikin lontong saat makan opor besok, sesekali jangan pakai plastik lah,” balas Hanna ketika miss Jones pulang belanja dan Husna melihat bahan apa saja yang Hanna beli.
Selain daging, Hanna juga membeli ayam untuk bikin opor, tak lupa dia beli banyak ikan, udang, cumi juga aneka bakso.