Hatta menimang bayi itu dengan hati-hati. Ia lalu mendekatkan mulutnya dekat telinga baby, dan dengan suara yang serak, ia mulai mengumandangkan adzan.
"Allahu Akbar …. Allahu Akbar …."
Suaranya bergetar, bukan karena takut atau gugup, melainkan karena haru. Tangisan bayi itu mereda, seolah-olah mengerti. Di tengah ruang bersalin, di antara peralatan medis dan aroma antiseptik, sebuah ikatan baru tercipta. Bukan ikatan dΔrah, melainkan ikatan yang jauh lebih kuat, yang lahir dari pengorbanan, cinta, dan sebuah janji tak terucap.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Di ruang rawat inap yang hening, aroma bunga bercampur dengan bau obat-obatan. Hanna berbaring di ranjang, wajahnya tampak lelah namun damai. Di sisi ranjang, Bu Husna duduk dengan tenang, menemaninya.
Pintu terbuka, dan keluarga Lubis masuk. Amang, Inang, Hafidz, Tiur, dan kedua anak kembar, Adam dan Achsan, memenuhi ruangan.
Suasana seketika berubah. Tangisan haru Inang memecah keheningan, dan ia segera menghambur ke arah Hanna, memeluk putrinya erat-erat.
"Hanna, anakku, kau baik-baik saja," isak Inang, membelai wajah Hanna.
"Inang pikir, Inang pikir …."
Hanna membalas pelukan ibunya.
"Aku baik-baik saja, Inang. Aku baik-baik saja."
Amang melangkah mendekat, wajahnya yang kaku kini penuh dengan air mata. Ia menatap Hanna, lalu tatapannya beralih ke ranjang bayi kecil di sisi lain ruangan. Di sana, terbaring seorang bayi mungil yang damai dalam tidurnya. Amang menatap cucu barunya, dan senyum perlahan merekah di wajahnya.
Adam dan Achsan, si kembar, mencondongkan tubuh, penasaran.
"Ini adik kami?" tanya salah satu dari mereka, matanya berbinar.
Hafidz dan Tiur memeluk Hanna, lega melihat adiknya selamat. Hafidz menepuk bahu Hanna, bangga melihat kekuatan adiknya. Tiur memeluknya sambil menangis, menenangkan hatinya sendiri.
"Kamu hebat, Na," bisik Hafidz.
"Sangat hebat."
Keluarga Lubis sudah lengkap, kebahagiaan menyelimuti mereka semua. Namun, di tengah kehangatan itu, ada satu sosok yang tidak ada.
Hatta!
Keberadaannya, atau ketiadaannya, tidak disadari oleh keluarga yang baru tiba.
Mereka hanya melihat Bu Husna, sang ibu pengganti, yang duduk dengan tenang di sudut ruangan, membiarkan keluarga ini menikm@ti momen haru mereka.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Amang berdiri di sisi ranjang Hanna, memandangi cucu barunya yang terbaring damai dalam buaian. Senyumnya yang tadi merekah kini memudar, digantikan oleh kerut kesedihan. Matanya beralih ke Adam dan Achsan yang sedang mengintip penasaran.
Dengan suara pelan, seperti sebuah gumaman yang hanya ditujukan pada dirinya sendiri, Amang berbisik.
"Kalau Ani ada, cucu amang semua lelaki ya.”
Kata-kata itu bagai embusan angin dingin yang tiba-tiba menyapu ruangan. Inang menoleh, air mata yang sudah mengering di pipinya kembali mengalir. Tiur memeluk suaminya, Hafidz, yang hanya bisa menatap ayahnya tanpa kata. Momen kebahagiaan itu seketika diliputi oleh duka yang tak pernah benar-benar pergi.
Mereka semua tahu apa yang dimaksud Amang. Di antara semua cucu lelaki yang ada, seharusnya ada satu dari Ani, anak perempuannya yang paling ia cintai. Dan kini, anak itu tidak akan pernah ada. Kebahagiaan atas kelahiran cucu baru itu beriringan dengan kesedihan atas ketiadaan Ani. Luka lama yang bersemayam di hati mereka semua.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Setelah mengumandangkan adzan, Hatta menyerahkan bayi itu kembali pada perawat. Matanya tak lepas dari Hanna. Ia melihat senyum tipis di wajah Hanna dan kelegaan di mata wanita itu. Namun, di tengah kehangatan keluarga yang baru saja bersatu kembali, Hatta perlahan menjauh.
Saat melewati Bu Husna, Hatta membisikkan sesuatu. "Ma, Hatta pulang duluan."
Bu Husna mengangguk, memahami. Ia melihat putranya berjalan keluar ruangan, lalu keluar dari rumah sakit, langkahnya tergesa-gesa.
Namun, Hatta tidak pulang. Ia menepi di sebuah kafe terdekat, memilih meja di sudut yang paling sepi. Ia memesan secangkir kopi, tetapi tidak menyentuhnya. Pikirannya kacau.
Ia sadar, kata "sayang" yang keluar dari mulutnya, pelukan spontan, dan ciuman di kening Hanna, semua itu menunjukkan perasaannya. Perasaan yang ia coba sembunyikan selama berbulan-bulan.
Hatta sangat takut. Selama mendampingi Hanna, baik dari percakapan mereka secara langsung mau pun dari cerita Bu Husna, Hatta tahu betapa dalam kebencian Hanna terhadap laki-laki.
Hanna telah melihat pengkhianatan dari suaminya dan laki-laki yang dicintai suaminya. Luka itu begitu dalam.
Hatta tahu ia sudah melangkah terlalu jauh, terlalu cepat. Ia menyadari ia kini berada dalam posisi yang sangat rentan. Ia tidak siap untuk dibenci. Ia tidak siap melihat mata Hanna menatapnya dengan kebencian, seperti kebencian yang ia lihat ketika Hanna berbicara tentang Akbar dan Andi.
Hatta hanya bisa duduk di sana, dalam keheningan kafe, merenung, menanti takdir yang akan ia hadapi.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Penyesalan yang dalam menggerogoti hati Hatta. Duduk sendirian di kafe, ia merasa terperangkap oleh perasaannya sendiri. Dia tahu, dia sudah melangkah terlalu jauh, dan satu-satunya jalan keluar adalah melarikan diri.
Dengan tangan gemetar, dia mengambil ponselnya dan menelepon sang mama.
"Ma," kata Hatta, suaranya terdengar tegang.
"Maaf, Hatta harus pulang sekarang juga."
"Pulang? Ada apa, Dek? Kamu di mana? Bukankah kamu akan menemani Hanna?" Hatta adalah anak bungsu, dalam keluarga dia biasa dipanggil DEK.
Hatta memotongnya. "Maaf, Ma. Ada hal penting di tambang yang mengharuskan Hatta handle secara langsung. Ada masalah yang harus diselesaikan segera. Hatta sudah pesan tiket untuk penerbangan berikutnya."
"Baiklah, Dek," kata Bu Husna, nadanya penuh kekhawatiran.
"Hati-hati. Nanti Mama kabari perkembangan Hanna."
Hatta mengakhiri panggilan itu, hatinya dipenuhi penyesalan. Dia tahu dia berbohong.
Masalah di tambang hanyalah alasan. Alasan yang sesungguhnya adalah rasa takut yang begitu besar, rasa takut akan dibenci oleh wanita yang telah memikat hatinya. Dia pergi, memilih rasa sakit dari perpisahan daripada risiko dibenci olehnya.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Di tengah duka yang tiba-tiba kembali muncul, Hanna menatap ayahnya, Amang, yang begitu tulus menyampaikan penyesalannya. Hatinya teriris. Dia tahu, Amang tidak hanya kehilangan satu putri, tetapi juga seorang cucu yang tidak akan pernah ada.
Hanna memandangi bayinya yang tertidur pulas. Pria kecil itu begitu sempurna, begitu tidak berdosa. Dia memikirkan nama yang telah dia pilih. Axel Pratama.
Sebuah nama yang sederhana, namun penuh makna. Namun, ia ragu. Apakah ia harus menambahkan nama belakang ayahnya, Bachir? Rasa sakit atas pengkhianatan itu terlalu besar. Setiap kali nama itu terucap, ia akan teringat pada laki-laki yang telah menghancurkan hidupnya. Tapi, anak ini berhak memiliki nama ayahnya. Pergulatan batin itu terasa menyesakkan.
Namun, saat matanya kembali menatap Amang, sebuah tekad baru muncul. Ia harus kuat. Bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk ayahnya.
Hanna menarik napas dalam-dalam, mengulas senyum terbaiknya, senyum yang sengaja ia paksakan agar terlihat tulus. Sebuah rona bahagia coba ia tampilkan, berharap kepedihan Amang akan sirna karena melihat kebahagiaan itu.
"Ini cucu amang," bisik Hanna, suaranya dipenuhi kasih sayang.