"Bu Hanna," kata dokter, suaranya tenang.
"Sudah waktunya."
Bu Husna melangkah mendekat, memegang tangan Hanna yang gemetar. Wajahnya tegang, namun ia berusaha tersenyum.
"Hanna maaf," bisik Bu Husna, suaranya terdengar tidak seperti seorang pensiunan perwira.
"Ibu sering melahirkan, dan tiap bulan juga mengalami menstruasi, tapi, ibu tak kuat bila menemanimu melahirkan. Ibu bisa pingsan melihat dΔrah orang lain, dan nanti malah tidak ada yang memberimu dukungan."
Hanna menatap mata Bu Husna. Ia melihat kejujuran dan rasa takut di sana. Bu Husna, sang pelindung yang tak kenal takut, kini menunjukkan sisi paling rapuh dari dirinya.
Bu Husna menoleh ke arah Hatta yang berdiri di samping mereka.
"Pak Jenderal baru turun dari pesawat, tiba di rumah sakit paling cepat dua jam lagi."
Bu Husna kembali menatap Hanna.
"Bagaimana bila Hatta yang menemanimu? Atau kamu mau sendiri saja?"
Sebuah keputusan penting kini berada di tangan Hanna. Di saat-saat paling genting dalam hidupnya, ia harus memilih siapa yang akan menemaninya.
Sejak kecil, Husna memiliki fobia aneh terhadap dΔrah dan luka. Bukan dΔrahnya sendiri, ia terbiasa dengan siklus menstruasinya, melainkan dΔrah dan luka orang lain. Melihat setetes dΔrah saja, Husna bisa merasa pusing dan mual, bahkan pingsan. Setiap kali ia melihat kecelakaan kecil, ia harus memalingkan wajahnya.
Dan kini, ia harus menghadapi salah satu momen menemani Hanna, tentu dia tak bisa.
Hanna menatap Bu Husna. Ia melihat kelembutan dan pengertian di mata wanita itu.
"Bu," bisik Hanna, suaranya lemah, "Aku tidak bisa sendiri. Aku takut."
Bu Husna mengangguk, ia memahami.
"Ibu tahu, Nak. Ibu tahu," bisiknya.
Hanna kemudian mengalihkan tatapannya pada Hatta, yang berdiri diam, menatap mereka.
Di mata Hanna, Hatta bukanlah seorang pengusaha sukses, melainkan satu-satunya orang yang bisa ia andalkan saat ini.
"Hatta," kata Hanna, suaranya bergetar.
"Bisa minta tolong temani aku?"
Hatta, yang selama ini hanya menjadi penonton, mengangguk. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi, tetapi ia tahu, ia harus ada di sana untuk Hanna.
"Tentu. Aku akan menemanimu." Balas Hatta.
Hatta yang selama ini hanya menjadi penonton, mengangguk, menerima peran barunya. Bu Husna menghela napas lega, rasa syukur dan cinta terpancar di matanya. Ia mencium kening Hanna, mengucapkan selamat tinggal yang penuh janji. Hanna tidak sendirian.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Hatta memegang erat tangan Hanna, menemaninya berjuang. Di dalam ruang bersalin, jeritan Hanna adalah satu-satunya suara yang terdengar, bercampur dengan instruksi dokter dan perawat. Keringat membasahi wajah Hanna, dan setiap napas yang ia ambil terasa seperti perjuangan.
"Ayo, Bu Hanna! Satu dorongan lagi!" teriak dokter.
Hanna mencoba, seluruh tenaganya terkuras. Ia merasakan sakit yang luar biasa, namun ia tahu, ia harus bertahan.
Hatta melihat penderitaan Hanna. Tanpa sadar, ia meremas tangan Hanna lebih erat. Secara spontan, sebuah kalimat keluar dari mulutnya, seperti sebuah bisikan.
"Kamu kuat, SAYANG. Kamu kuat," ucapnya.
Kata itu terucap begitu saja, refleks. Sebuah kata yang seharusnya tidak pernah terucap.
Namun, Hanna mendengarnya. Di tengah pusaran rasa sakit dan perjuangan, kata itu menembus kabut di pikirannya. Kata "sayang" itu, begitu asing dan begitu tiba-tiba, memberinya dorongan. Rasa sakit fisik masih ada, tetapi sebuah kehangatan baru menyelimuti hatinya. Hanna tahu, ia tidak sendirian.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Tangisan bayi yang nyaring memecah keheningan yang tegang. Dokter mengumumkan kabar gembira itu. Dari rahim Hanna, seorang bayi lelaki besar dan sehat telah lahir, dengan berat 3,5 kg dan panjang 52 cm.
Hatta, yang selama ini hanya menjadi penopang, kini melihat keajaiban itu di depan matanya. Air mata spontan membasahi pipinya. Tanpa berpikir, ia melepaskan tangan Hanna, mencondongkan tubuh, dan memeluk Hanna erat-erat. Wajahnya menempel di kening Hanna, sebuah kecupan hangat mendarat di sana, penuh kelegaan dan kebahagiaan.
Gerakannya begitu alami, seolah-olah ia telah melakukan ini ribuan kali. Di matanya, Hanna bukan hanya wanita yang sedang melahirkan. Hanna adalah istrinya. Dan bayi yang baru lahir itu adalah anaknya. Selama tiga bulan terakhir, Hatta telah menunjukkan perasaannya dalam tindakan dan perhatiannya. Tapi, momen ini adalah momen puncaknya.
Hanna, yang lelah namun penuh kelegaan, merasakan hangatnya pelukan itu. Di tengah semua kegelapan yang ia alami, ia kini menemukan secercah cahaya, sebuah harapan baru. Di pelukan Hatta, ia merasa aman. Ia tahu, ia tidak sendirian lagi.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Empat bulan lalu, Hatta datang ke Paris hanya karena kerinduan pada sang mama, Bu Husna.
Ia tahu ibunya sedang menjalankan tugas penting dari seorang jenderal, mendampingi seorang wanita bernama Hanna.
Awalnya, Hatta hanya mengenal Hanna sebagai wanita yang pendiam, misterius, dan penuh duka. Tidak ada perasaan khusus, hanya rasa kasihan.
Hatta menghabiskan satu minggu di Paris, lalu kembali ke Indonesia.
Namun, saat berada di tanah air, Hatta menyadari ada sesuatu yang hilang. Ada sebuah kepingan hati yang tertinggal di Paris.
Kepingan itu adalah Hanna.
Satu bulan setelahnya, ia kembali ke Paris.
Kemudian, sebulan lagi, ia kembali lagi.
Pola itu terus berulang.
Hatta tidak bisa menampik bahwa ia datang bukan hanya untuk ibunya, tetapi juga untuk Hanna.
Setiap kali ia kembali, ia melihat Hanna perlahan pulih, dan di setiap senyum tipis Hanna, ia jatuh lebih dalam.
Kedatangan terakhirnya sepuluh hari lalu, bukan lagi sebuah kunjungan singkat. Ia memang sudah berencana untuk tinggal di Paris selama satu bulan, memastikan ia ada di sana saat Hanna melahirkan sesuai HPL yaitu satu minggu lagi.
Namun, takdir berkata lain. HPL itu meleset. Proses itu terjadi lebih cepat.
Semua yang terjadi siang ini, kehadirannya, kata "sayang" yang terucap spontan, pelukan, dan kecupan di kening bukanlah kebetulan. Itu adalah puncak dari perjalanan emosionalnya selama tiga bulan terakhir, sebuah perasaan yang perlahan tumbuh dan kini meledak dalam sebuah momen kebahagiaan yang tak terduga.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
"Pak, putranya diadzani dulu," kata sang dokter, seorang wanita muslim, suaranya lembut.
"Biar kami lanjutkan, menjahit Bu Hanna."
Dunia Hatta seolah berhenti. Ia menoleh, menatap sang dokter yang tersenyum, lalu menatap perawat yang baru saja selesai membersihkan bayi itu. Mereka semua menganggapnya sebagai ayah bayi yang baru Hanna lahirkan. Sebuah asumsi yang tidak salah, namun juga tidak sepenuhnya benar.
Hatta menatap Hanna. Hanna yang terbaring lemas, masih dibasahi keringat, membalas tatapannya. Ia tidak berbicara, hanya mengangguk. Anggukan yang samar, namun penuh makna. Sebuah izin. Sebuah penerimaan. Sebuah janji.
Dengan gemetar, Hatta melangkah mendekat. Ia menerima bayi mungil itu dari tangan perawat. Bayi itu hangat, beratnya terasa nyata di lengannya.