Mendengar nama Ani, Amang menghela napas panjang. Ia menatap Hanna dengan tatapan kosong, seolah mencoba memahami apa yang terjadi.
"Kami akan kembali, Mang," Hanna berkata, suaranya serak.
"Kami akan kembali. Dan kami akan baik-baik saja."
Amang hanya bisa mengangguk, seolah-olah ia mengerti. Ia tidak tahu, di balik kata-kata itu, ada rahasia besar yang tersembunyi.
Hafidz, Hanna, dan Tiur bangkit. Mereka memeluk Amang dan Inang. Itu adalah perpisahan yang terasa seperti perpisahan untuk selamanya. Mereka tidak tahu kapan mereka akan bertemu lagi, atau jika mereka akan bertemu lagi.
Hafidz tahu, ia telah melakukan hal yang benar. Ia telah melindungi adiknya, dan ia telah memberikan orang tuanya sebuah alasan untuk tetap hidup.
Di tengah kehangatan pelukan keluarga, Hanna perlahan melepaskan diri. Ia menatap wajah-wajah yang sangat ia cintai, matanya penuh air mata, namun juga sebuah tekad baru.
"Aku akan pergi, Mang, Inang," ucapnya, suaranya pelan namun mantap.
"Aku akan pergi jauh dari sini. Aku tidak akan menunggu sampai surat cerai itu selesai diurus Abang Hafidz."
Keluarga itu terdiam, mencoba mencerna keputusan mendadak Hanna. Ini terasa terlalu cepat, terlalu final. Namun, tatapan mata Hanna tidak goyah.
"Ada satu hal lagi yang harus kalian tahu," lanjut Hanna.
"Satu hal yang aku bawa pergi. Alasan terbesar mengapa aku harus pergi sekarang."
Hanna menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberaniannya. Ia mengusap perutnya yang masih rata.
"Aku, aku hamil," bisiknya, suaranya bergetar.
Kata-kata itu bagai petir di siang bolong. Inang menutup mulutnya, air matanya kembali mengalir. Amang menatap kosong ke perut putrinya. Tiur terisak, dan Hafidz menelan ludah, wajahnya mengeras.
Mereka semua memproses fakta bahwa di balik kepergian Ani dan hancurnya pernikahan Hanna, ada sebuah kehidupan baru yang kini tumbuh. Kehidupan yang merupakan konsekuensi dari sebuah pengkhianatan kejam.
"Ini adalah hasil dari cintaku yang tulus," ucap Hanna, kini air matanya mengalir deras.
"Tapi ini juga adalah bagian dari kebohongan Akbar. Aku harus membawa dia pergi, jauh dari semua ini. Agar anakku tidak pernah tahu siapa ayahnya. Agar dia tidak pernah tahu bahwa pernikahanku adalah sebuah sandiwara."
Hanna menatap keluarganya, memohon pengertian.
"Aku tidak ingin dia terluka. Aku tidak ingin dia seperti Kak Ani."
Hafidz, yang selama ini menjadi sosok paling tegar, kini mendekat dan memeluk Hanna. Ia tahu, keputusan adiknya adalah satu-satunya jalan.
"Abang dukung penuh, Na," bisiknya.
"Kamu tidak akan sendirian. Abang akan menugaskan seorang ibu pengganti untuk menemanimu. Seseorang yang Abang percaya penuh."
Hanna mendongak, matanya berkaca-kaca.
Hafidz kemudian menoleh pada Amang dan Inang, suaranya kini kembali tegas, penuh perhitungan.
"Aku sudah mengatur jadwal keberangkatan Hanna. Satu minggu dari sekarang."
Inang menangis, menatap Hafidz.
"Terlalu cepat, Bang."
"Tidak, Inang," potong Hafidz.
"Ini waktu yang terbaik. Semakin cepat Hanna pergi, semakin cepat ia bisa memulai hidup baru. Dan semakin cepat ia bisa melupakan semua ini."
"Abang akan urus semua dokumen dan segala kebutuhanmu, Na," lanjut Hafidz.
"Satu minggu dari sekarang, atau tepatnya dua minggu setelah kepergian Kak Ani, kamu akan terbang."
Hanna mengangguk, ia tahu ini bukan hanya demi dirinya, tetapi juga demi buah hatinya yang baru akan ia lahirkan. Sebuah kehidupan baru yang harus ia lindungi, sebuah takdir baru yang harus ia mulai.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Dua minggu telah berlalu sejak kepergian Ani. Di area keberangkatan bandara, semua anggota keluarga berkumpul, wajah mereka campur aduk antara kesedihan dan kelegaan. Mereka mengantar Hanna, yang kini berdiri dengan tegar, siap memulai hidup baru.
Hanna memeluk satu per satu keluarganya. Ia memeluk Inang dan Amang erat, mengucapkan janji untuk selalu menghubungi mereka. Ia memeluk Hafidz dan Tiur, berterima kasih atas semua yang telah mereka lakukan untuknya. Setiap pelukan adalah perpisahan, sebuah babak yang ditutup.
Di sampingnya, seorang wanita paruh baya berdiri dengan tenang. Rambutnya disanggul rapi, sorot matanya tajam namun penuh kehangatan. Itulah Bu Husna, seorang pensiunan perwira menengah dari kepolisian dan juga seorang pengacara. Dia bukan pembantu, bukan pengasuh. Dia adalah ibu pengganti yang ditugaskan Hafidz, seseorang yang akan mendampingi Hanna melewati masa-masa sulitnya.
Saat panggilan terakhir untuk penerbangan Hanna terdengar, Hanna menatap keluarganya untuk terakhir kalinya. Ia mengangguk, isyarat bahwa ia siap. Bersama Bu Husna di sisinya, Hanna melangkah maju, menjauh dari luka dan masa lalunya.
Di depan mereka terbentang sebuah kehidupan baru. Sebuah rahasia besar yang akan tumbuh bersama sang buah hati, dan sebuah awal yang baru, jauh dari bayang-bayang kebohongan yang telah menghancurkan keluarganya.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Bu Husna duduk di kursi ruang tunggu rumah sakit, matanya menatap pintu yang tertutup rapat. Di tangannya, ia memegang tas kecil Hanna. Wajahnya tegang, namun ia berusaha tetap tenang. Di sebelahnya, putranya, Hatta duduk gelisah, mencoba menenangkan ibunya.
"Bagaimana, Ta?" tanya Bu Husna, suaranya pelan dan bergetar.
"Belum ada kabar dari Pak Jenderal?"
Hatta menghela napas. Ia baru saja selesai menelepon.
"Belum, Ma. Barusan beliau bilang baru turun di bandara."
Hatta, adalah seorang pengusaha tambang batu bara yang sukses, tetapi di hadapan ibunya dan situasi ini, ia hanyalah seorang anak yang khawatir. Ia tahu, ibunya ada di sini untuk menjalankan tugas dari Jenderal, sebuah tugas yang jauh lebih besar dari sekadar mendampingi.
"Baiklah kalau begitu," kata Bu Husna.
Hatta mengangguk. Ia tahu, ibunya tidak pernah berbicara seserius ini tanpa alasan yang kuat. Di balik pintu itu, ada sebuah kehidupan baru yang akan lahir. Di luar sana, ada seorang jenderal yang sedang dalam perjalanan. Hatta hanya bisa menunggu, dan bertanya-tanya, apa yang akan terjadi selanjutnya.
Bu Husna berdiri gelisah di luar pintu ruang bersalin. Wajahnya tegang, mendengarkan isakan dan teriakan Hanna dari balik pintu yang tertutup rapat. Hanna mengalami kontraksi yang jauh lebih cepat dari hari perkiraan lahir ( HPL ).
Di sisinya, putranya, Hatta, sedang berbicara di telepon.
"Pak Jenderal," kata Hatta, suaranya berusaha terdengar tenang, meskipun ada nada tegang di dalamnya.
"Maaf mengganggu. Tapi Bu Hanna sudah di ruang bersalin. Kontraksinya lebih cepat dari perkiraan."
Di seberang sana, terdengar suara Hafidz yang langsung berubah serius.
"Apa katamu, Hatta? Secepat itukah?"
"Iya, Pak," jawab Hatta.
"Kami tidak menduga ini terjadi lebih cepat."
Bu Husna menatap Hatta, hatinya diliputi kekhawatiran. Ia tahu, tugasnya adalah menjaga Hanna. Tapi di saat genting seperti ini, ia berharap keluarga Hanna bisa hadir.
"Tolong beritahu saya setiap perkembangannya," kata Hafidz, suaranya penuh kekhawatiran.
"Katakan padanya, saya dan yang lainnya akan segera tiba. Tolong katakan padanya, dia harus kuat."
Hatta mengangguk. Ia mengakhiri panggilan dan menatap ibunya. Ia hanya bisa berdiri di sana, di antara kegelisahan ibunya dan penderitaan Hanna, menanti akhir dari drama yang sedang berlangsung.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈