Amang mengalihkan pandangannya dari jendela, menatap Hafidz. Wajahnya tetap datar, namun sorot matanya yang tidak lagi kosong menunjukkan ia mendengarkan.
Hafidz menoleh ke arah Hanna yang duduk di sebelahnya. Hanna memegang tangan Tiur, tangannya dingin. Mereka sudah siap. Pembicaraan yang akan mengubah segalanya akan segera dimulai.
Hafidz duduk di antara Hanna dan Tiur. Ia menatap lekat kedua orang tuanya yang duduk diam di hadapannya. Ia tahu, tidak ada cara mudah untuk menyampaikan berita ini.
"Amang, Inang," Hafidz memulai, suaranya dalam dan tenang.
"Dua hari lalu kami menemukan sebab mengapa Ani bunvh diri. Harap Amang dan Inang tabah mendengar kisahku."
Inang menatap Hafidz, tangannya mencengkeram lututnya. Amang tidak bereaksi, tetapi matanya yang kosong tampak lebih waspada.
Hafidz kemudian mulai bercerita, membeberkan fakta yang mereka temui dalam surat dan foto-foto Ani. Ia menceritakan bagaimana Ani mengetahui tentang hubungan gelap antara Andi, suaminya, dan Akbar, keduanyamenantu mereka. Hafidz berbicara dengan tenang, seolah membacakan laporan investigasi.
"Ani menemukan bukti bahwa Andi dan Akbar adalah pasangan sej3nis," kata Hafidz, kata-katanya menusuk keheningan.
"Dan ia mengetahui ini sudah berlangsung sejak lama."
Wajah Inang memucat, tangannya terangkat ke mulut, tak percaya.
Amang, untuk pertama kalinya sejak Ani meninggal, bereaksi. Tangannya mengepal, wajahnya memerah.
Hafidz melanjutkan, memberikan pukulan yang paling menyakitkan.
"Namun, itu bukan alasan Ani mengakhiri hidupnya. Ia rela menelan semua rasa sakit itu."
Hanna, yang duduk di samping Hafidz, mulai terisak pelan, air matanya menetes.
"NamunAni tak sanggup melihat Hanna terluka," kata Hafidz, menahan emosinya.
"Di dalam suratnya, Ani mengatakan bahwa ia mengetahui fakta bahwa Akbar menikahi Hanna hanya demi bisa selalu dekat dengan Andi, kekasih sejatinya."
Ucapan Hafidz seperti bom yang meledak di tengah ruangan. Inang menjerit, tidak percaya.
"Tidak! Itu tidak mungkin! Anakku, menantuku, kenapa?"
Air mata mengalir deras dari wajahnya. Ia berdiri, berteriak, menunjuk-nunjuk ke arah Hanna, "Hanna, kenapa? Kenapa kamu tidak tahu? Kenapa Ani tidak cerita?"
Namun, semua perhatian tertuju pada Amang. Tubuhnya bergetar hebat. Wajahnya yang semula merah kini pucat pasi, dan air mata akhirnya mengalir dari matanya.
Amang tidak bersuara, tetapi tangisnya jauh lebih pilu daripada jeritan Inang. Tangan yang tadi mengepal kini terbuka, seolah-olah ia baru saja kehilangan semua yang ia miliki. Pria yang selama ini membeku, akhirnya mencair dalam duka yang tak terperikan.
Amang menatap Hafidz, matanya penuh pertanyaan, seolah berkata, "Mengapa? Mengapa ini harus terjadi pada anak-anakku?"
Akhirnya, setelah satu minggu yang penuh keheningan, Amang membuka mulutnya.
Amang duduk di sofa, matanya yang tadi kosong kini berkaca-kaca.
Semua orang yang hadir, termasuk Hafidz, Hanna, dan Inang, terdiam. Mereka menahan napas, menunggu.
"Satu hari sebelum Ani meninggal," kata Amang, suaranya serak dan bergetar, memecah keheningan.
"Ani datang menemui Amang. Hanya kami berdua."
Inang menutup mulutnya dengan tangan, terkejut. Hafidz menatap ayahnya, menunggu kelanjutan cerita.
"Dia minta maaf," lanjut Amang, air mata mengalir di pipinya.
"Dia bilang, Amang adalah cinta pertama seorang perempuan."
Sebuah isakan pelan terdengar dari Inang.
"Dia minta maaf atas semua kesalahannya," kata Amang, suaranya bergetar menahan tangis.
"Ani minta maaf karena dulu terus-menerus mendesak Amang agar diizinkan menikah dengan Andi. Amang menolak karena Andi bukan dari suku Batak."
Amang menundukkan kepalanya, tangisnya pecah.
"Ani bilang, dia sangat mencintai Amang. Dan dia pergi, dia pergi, setelah itu …."
Hafidz, Hanna, dan Inang menatap Amang, hancur. Mereka tahu, kata-kata terakhir Ani bukanlah sekadar permintaan maaf. Itu adalah ucapan selamat tinggal, sebuah perpisahan yang tak bisa Amang pahami maknanya saat itu.
Sekarang, dengan semua kebenaran yang terungkap, kata-kata itu terasa seperti pisau yang menusuk jantung mereka semua.
“Lalu bagaimana denganmu Butet?” Tanya amang yang ketakutan Hanna yang juga terluka akan mengambil jalan seperti Ani
Hanna menatap satu per satu wajah yang mengelilinginya. Ia melihat air mata di mata Amang dan Inang, bukan lagi air mata kebingungan, melainkan air mata duka yang dipahami. Ia melihat kelegaan di wajah Hafidz dan Tiur, yang kini tidak lagi harus menyembunyikan kebenaran. Sebuah kehangatan yang tak terlukiskan merayap di dadanya.
"Aku tidak sendirian seperti Eda Ani," bisik Hanna, suaranya dipenuhi rasa haru.
"Aku kuat karena aku punya Ito Hafidz dan Eda Tiur yang menopangku."
Hafidz, yang selama ini terlihat begitu tegar dan penuh perhitungan, kini merangkul Hanna ke dalam pelukannya. Tangannya mengusap kepala adiknya dengan lembut, kehangatan yang tak pernah ia tunjukkan di depan orang lain.
"Kita selalu bersamamu, Na," bisiknya.
Tiur, di sisi lain, ikut memeluk, air matanya menetes di bahu Hanna. Dalam pelukan kedua kakaknya, Hanna merasa semua beban yang ia pikul perlahan menguap. Ia tidak lagi merasa hancur, melainkan utuh.
Namun, yang paling mengharukan adalah reaksi Amang dan Inang.
Inang, yang tadi menjerit histeris, kini mendekat dan memeluk Hanna dengan erat.
"Anakku, sejak sekarang, kami tidak akan membiarkanmu menangis sendirian."
Amang, yang selama ini membeku dalam dukanya, kini menggerakkan tangannya. Ia mengulurkan tangannya, membelai pipi Hanna. Meski tak ada kata yang terucap, sentuhan itu sudah cukup. Sentuhan itu adalah permintaan maaf, pengakuan atas kesalahannya, dan janji untuk selalu ada di sana.
Di tengah pelukan hangat itu, mereka semua menangis bersama. Tangisan itu bukan lagi tangisan karena kebingungan, melainkan tangisan karena kelegaan.
Mereka telah kehilangan satu orang yang mereka cintai, tetapi mereka telah menemukan kembali satu sama lain.
"Kami sudah berembuk dan memutuskan sesuatu, Mang," lanjut Hafidz, matanya beralih ke Amang.
"Ini tentang Hanna."
Hanna, yang duduk di samping Hafidz, memegang tangannya erat. Ia menatap kedua orang tuanya dengan mata berkaca-kaca. Ia mencoba menelan setiap kata yang diucapkan Hafidz.
Amang hanya menatap kosong ke depan. Namun, Hafidz tahu, Amang mendengarkan. Ia menatap mata ayahnya dan merasakan ada percikan di sana, seolah-olah ia sedang menunggu.
"Inang," Hafidz memulai lagi,
"Hanna butuh waktu untuk sembuh. Dia butuh waktu untuk mengurus dirinya sendiri, untuk menjauh dari semua ini."
Hanna menunduk. Dia tahu, kata-kata ini akan menjadi awal dari perpisahannya dengan keluarga.
"Kami, Hanna, dan saya, sudah memutuskan untuk menjalani hidup yang baru," Hafidz melanjutkan.
"Tanpa bayangan masa lalu."
Amang mengalihkan pandangannya dari Hafidz, menatap Hanna. Sorot matanya menunjukkan kebingungan.
"Bagaimana dengan Akbar?" Inang bertanya, suaranya pelan.
"Kalian kenapa kalian tidak tinggal bersama?"
Hafidz mengambil napas dalam-dalam.
"Ada hal-hal yang tidak bisa kami ceritakan, Inang. Ini adalah keputusan kami."
"Hanna akan pergi," lanjut Hafidz.
"Untuk menenangkan dirinya, untuk mencari ketenangan di tempat yang jauh dari sini."
Inang menatap Hafidz, lalu menatap Hanna. Air matanya kembali mengalir.
Hafidz tahu, ia harus memberikan jawaban yang bisa diterima.
"Ini adalah hal yang Ani inginkan, Inang. Kami ingin menghargai permintaan terakhirnya."